VocaWorld, chapter 150 - Cahaya Yang Enggan Bernyanyi
Dante berdiri dengan gagah di tepian pesawat memperhatikan kebawah. Disana dia melihat sekumpulan orang menatap ke arahnya yang ia yakini kalau salah satu dari mereka adalah Shiro Ray. Dante langsung melompat turun tanpa ragu.
"Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka kemudian menembakan beberapa pixie untuk menghalau Dante.
Tapi dengan bertumpu pada jendela gedung, dia menambah kecepatannya hingga pixie itu terlewat dan dia mendarat dengan keras sekali di jalanan. Hingga jalanan itu kini terlihat hancur dan membuat sebuah getaran yang kuat. Asap debunya pun sampai hingga ke tempat Miku dan kawan-kawan berdiri.
"Kalian kira serangan seperti itu bisa mengenaiku.." ucap Dante dari balik asap debu.
Pixie-pixie yang tadi ditembakan Luka mengarah lagi ke arah Dante dari atas. Namun ada api hitam yang dicambukan oleh Dante ke atas dan menghancurkan pixie-pixie tersebut dan menyingkirkan semua asap debu di sekitarnya.
"..kalian pasti bercanda." sambung Dante dengan mata bersinar kemerahan dan senyuman menyeramkan.
"Ini berbahaya, kita harus segera mengungsikan warga sekitar sini dengan segera." ujar Ray merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Devilish.. Slash!!!" ucap Dante mencambukkan sebuah api hitam ke arah Miku dan kawan-kawan.
Meiko dan Kaito melompat kedepan Miku dan berusaha menahan serangan Dante dengan gabungan serangan api mereka. Namun api Dante lebih kuat daripada yang mereka duga sehingga akhirnya mereka pun terkena cambukan api hitam raksasa itu hingga tertutup oleh api hitam dan meledak.
"Meiko-san! Kaito-senpai!" teriak Miku melihat mereka tampak meledak.
Dari samping kiri Dante, Gumi melesat dengan kecepatan tinggi menggunakan dance acceleration nya.
"Dance: Brutal.." ucap Dante dan membuat cahaya mirip api berwarna kemerahan menyelimuti dirinya.
Gumi melancarkan tendangan super cepatnya berkali-kali tapi mampu ditangkis oleh Dante tanpa kesulitan sedikitpun hanya menggunakan tangan kirinya. Gumi melompat dan berputar berniat menyerang Dante dengan tendangan ke kepalanya. Dan dengan senyuman di wajahnya, Dante melesakkan pukulannya di perut Gumi dengan sangat keras. Gumi terpental menghantam gedung dan menembusnya hingga ke gedung yang dibelakang gedung tersebut.
"Aku ini kidal, jadi mudah bagiku mengimbangi seranganmu itu, Angin Senja." ujar Dante.
Dante saat ini membelakangi Miku dan kawan-kawan. Miku memanfaatkan kesempatan itu dengan menyerangnya dari belakang. Dante menyadarinya, lalu menyambukkan api hitam ke arah Miku. Miku pun terbakar hidup-hidup oleh api itu. Setidaknya itu yang dikira oleh Dante. Karena nyatanya ternyata dia selamat dilindungi oleh para pixie nya Luka dan ditarik kembali mendekat ke Ray dan Luka.
"Jangan bertindak gegabah, Hatsune-san. Saat ini dia berada di tingkatan yang jauh diatasmu. Kecuali kamu menggunakan apa yang aku ajarkan waktu itu." kata Ray.
"Dance yang kamu ajarkan? Dance yang mana?" tanya Miku.
"Ya ampun.. jangan bilang kamu melupakannya." sahut Ray sambil menepuk jidatnya.
"Jadi benar kamu mengajarkan Dance yang mampu mengalahkanmu sewaktu di kuil itu?" tanya Luka.
"Ya, dan hasilnya sangat mengejutkan. Ini pertama kalinya aku melihat itu berhasil dengan sempurna." jawab Ray.
"Pertama kalinya berhasil dengan sempurna? Sepertinya sebelumnya kamu sudah menguji cobakannya pada orang lain." ujar Luka.
"Kalian sebaiknya pergi saja dari hadapanku. Kalian tidak lebih dari tikus pengganggu saat ini." usir Dante pada Miku dan yang lainnya.
Ray dan Luka saat ini sudah terpojok. Kaito dan Meiko tergeletak tak berdaya dihadapan mereka. Luka juga buka tipe penyerang jarak dekat. Dan Ray pun tak punya kekuatan untuk memberikan jeda waktu untuk Luka membuat jarak serangan.
Keadaan terlihat sangat tidak menguntungkan untuk pihak Miku dan yang lainnya. Para petarung terkuat mereka dikalahkan dengan mudahnya oleh Dante yang kini telah kembali menyandang nama Pangeran Kegelapan.
"Apa kamu punya sebuah rencana, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ada. Tapi aku tak yakin bisa membuat kita mengalahkannya. Kemungkinan hanya mengulur waktu untuk membuka jalan kita untuk mundur." jawab Ray.
"Begitu juga tidak apa-apa. Asalkan kita bisa membawa Miku-chan dan yang lainnya pergi dengan segera. Lalu apa rencananya?" sahut Luka.
"Naga akan membuka jalannya untuk kita." balas Ray.
Kemudian sosok keunguan melesat diantara Ray dan Luka dengan cepat. Sosok itu mengarah ke Dante dan menyerang Dante dengan serangan tebasan yang cepat. Namun Dante mampu menangkis menggunakan gitar nya. Dante pun mulai memukul mundur sosok keunguan itu yang ternyata adalah Kamui.
"Kamu terlambat, Angin Fajar." ujar Dante.
Kamui menatap tajam dengan kuda-kuda yang siap untuk melancarkan serangan lagi.
"Saya takkan memaafkan orang yang telah melukai Kaito-dono. Terima ini, Pangeran Kegelapan." ujar Kamui bersiap menyerang lagi.
"Dance: Samurai Warrior!" ucap Kamui kemudian melesat kedepan.
Dan terjadilah sebuah pertarungan yang hebat antara Kamui dan Dante dari jarak dekat. Dengan gitarnya, Dante mampu menangkis semua serangan Kamui. Merasa tebasannya yang biasa tidak berhasil, Kamui melompat kebelakang membuat jarak kemudian menyarungkan katana nya.
"Iai Technique: Batto Jutsu. Angin Sunyi Saat Bulan Purnama." ujar Kamui menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul lagi di belakang Dante.
Dante terkejut dengan teknik serangan Kamui itu. Dan kemudian Dante pun seperti terkena suatu serangan hingga melayang sambil bergerak kebelakang. Tapi ternyata saat itu Dante tersenyum, dan Kamui nampak terkejut. Dante mendarat lagi dengan mulus dan berbalik menyerang Kamui dengan gitarnya. Kamui juga berbalik dan menahan serangan Dante menggunakan katana nya.
"Tak kusangka kau punya kejutan seperti itu juga. Kita belum pernah berhadapan seperti ini sebelumnya kan. Beradu serangan denganmu cukup menghibur juga." ujar Dante.
"Terima kasih.." ucap Kamui.
Namun tenaga Dante sepertinya lebih kuat dan mampu melempar Kamui kebelakang karena tidak mampu menahan dorongan Dante.
"Dulu dia belum memiliki itu, sehingga aku pasti lebih unggul dalam serangan dekat. Namun sekarang, rasanya menggoresnya saja sangatlah sulit." gumam Kamui sambil melihat ke gitar Dante.
"Kenapa, Angin Fajar? Kau tertarik pada gitarku? Maaf ini tidak dijual. Silahkan cari gitarmu sendiri di FJB Kask*s." ujar Dante sambil memanggul gitarnya.
Tapi tiba-tiba Gumi datang dan menendang dagu Dante hingga terpelanting ke atas.
"Kau lengah!" ucap Gumi terlihat kesal.
Kemudian Gumi bergerak dan melakukan tendangan dari segala arah dengan kecepatan tinggi hingga tampak seperti dirinya jadi ada banyak. Kemudian Gumi menghilang dan muncul diatas Dante sambil bersalto.
"Usagi Drop Kick!!!" pekik Gumi kemudian menginjak Dante dengan kedua kakinya hingga menghantam tanah.
Kekuatan tendangan yang sanga besar membuat tanahnya retak dan terangkat. Saking kuatnya, beberapa kaca gedung disekitarnya pun pecah.
"Ayo cepat lakukan Masao." ucap Dante yang terdengar baik-baik saja dibalik asap debu.
Dan saat asap debu mulai menghilang terlihatlah ternyata Dante menerima serangan Gumi dengan sengaja. Kaki Gumi saat ini menginjak bertumpuan telapak kaki Dante.
"Scarlet Hurricane!" ucap Dante mendorongkan kakinya hingga Gumi terlempar ke atas.
Dante kembali berdiri kemudian melompat mengejar Gumi. Lalu Dante menangkap wajah Gumi dengan tangan kirinya dan mendorongnya kebelakang dengan sekuat tenaga. Beruntung Luka menangkap tubuh Gumi menggunakan pixie nya sebelum menghantam aspal jalanan.
"Megu!" teriak Kamui sambil melihat Gumi kemudian berusaha menebas Dante yang baru mendarat.
Tapi tubuh Dante yang ditebas Kamui berubah jadi sosok api hitam berbentuk manusia. Dante yang asli terlihat melayang dibelakang Kamui kemudian menendang punggung Kamui. Tidak puas dengan itu, Dante juga mencambukan api hitam ke arah Kamui. Kamui terpental, terguling-guling dan terseret ditanah hingga jauh dibelakang Ray dan Luka.
"Luka-tan kenapa tidak menangkap tubuh saya tadi?" tanya Kamui berdiri lagi.
"Oh maaf, aku lupa. Kupikir kamu sedang berpura-pura jadi sebuah roda barusan." sahut Luka.
"Gakupo-san! Gunakan teknik angin fajar mu!" perintah Ray.
"Hah? Apa maksud anda, The White Light-dono." tanya Kamui tidak mengerti.
Dante saat itu sudah mengangkat ujung gitarnya keatas.
"Devilish Slash." ucap Dante menyambukkan api hitam raksasa ke arah mereka.
Kamui yang melihat itu langsung berlari ke depan Ray dan Luka.
"Iai Technique: Batto Jutsu. Angin Pertama Yang Berhembus Saat Fajar." ucap Kamui melakukan tebasan vertikal kedepan.
Menembakan angin yang kuat di ujung katananya dan mampu menahan api hitam Dante. Api hitam itu menutup dan menyelimuti Miku dan kawan-kawan. Dan saat api hitam itu menghilang mereka pun menghilang. Dante tersenyum karena takjub Ray mampu memanfaatkan serangan musuhnya untuk melarikan diri.
Miku dan yang lainnya berkumpul di rumah keluarga Miku. Mereka membaringkan Kaito dan Meiko di futon yang disiapkan di ruang tengah.
"Meiko-san.. Kaito-senpai.. kalian tidak apa-apa?" tanya Miku terlihat khawatir.
"Te-tenang saja Miku-chan. Kami hanya mengalami luka bakar sedikit saja. Untung saja elemen kami sama-sama api." jawab Meiko.
"Syukurlah kalau Kaito-senpai tidak apa-apa." ucap Miku terlihat lega.
"Tunggu sebentar kenapa perkataan Miku-chan seperti hanya mengkhawatirkan si bodoh Kaito." ujar Meiko sambil menatap tajam ke arah Miku.
"Haha.. tentu saja aku juga mengkhawatirkan Meiko-san.." sahut Miku.
Meiko tetap cemberut karena tidak percaya dengan perkataan Miku.
"Tapi kalian jadi begini karena salahku. Seandainya aku tidak selemah ini, aku pasti bisa membantu kalian." ucap Miku terlihat sedih.
"Ini semua bukan salah Hatsune kok. Ini juga salahku. Seandainya aku juga tidak selemah ini, pasti aku takkan kalah dan bisa melindungi Hatsune." balas Kaito.
"Tidak-tidak, ini bukan salah Kaito-senpai. Kaito-senpai juga sudah berusaha tadi. Hanya saja.. dia terlalu kuat untuk kita." bantah Miku.
"Kalau begitu Miku juga begitu kan?" ujar Kaito.
Miku terkejut dengan perkataan Kaito. Dan akhirnya ia pun mengerti maksudnya.
"Nice strike!" ucap Ray yang duduk di sofa sambil memperhatikan mereka.
"Eh, apa maksudnya?" tanya Kaito tak mengerti maksud Ray.
"Dasar penggoda wanita.." ucap Meiko sambil menatap tajam ke arah Kaito.
"Meiko juga kenapa sih? Apa barusan aku mengatakan sesuatu yang aneh?" kata Kaito yang kebingungan.
"Terus masalah Dante-kun ini bagaimana, Ray-kun? Diantara kita tak ada satupun yang bisa mengimbangi kekuatannya." tanya Luka pada Ray.
"Ya, seandainya kamu masih punya kekuatan pasti kamu lah yang bisa mengalahkannya, Shiro Ray." tambah Gumi.
"Oh ya, kalau gitu kenapa Ray-kun tidak bernyanyi saja. Kita bisa membuat sebuah konser kecil-kecilan agar Ray-kun dapat mengisi energi earophoid nya." usul Luka.
"Benar juga, dengan begitu kekuatan Shiro Ray bisa kembali." sahut Gumi tampak setuju.
"Tapi.. aku belum pernah mendengar Shiro Ray bernyanyi. Dia berkali-kali dipanggil ke depan oleh guru pun dia tetap ngeles dengan beberapa alasan." ujar Miku.
"Iya sih, aku sampai mengira suaranya itu fals." kata Gumi sambil berpikir.
"Apa itu benar, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, suaraku itu buruk sekali. Bahkan bisa membuat gunung meletus hanya dengan dendanganku saja." jawab Ray tanpa ragu.
"Ah.. putus sudah harapan kita kalau memang begitu." ucap Miku.
"Kamu jangan berbohong! Aku tahu suaramu tidak seburuk itu." bentak Luka.
"Hah? Apa maksud Luka-oneesama?" tanya Gumi.
"Coba pikirkan lagi, kalau dia tidak bisa bernyanyi terus bagaimana dia bisa mendapatkan energi saat perang nada hitam bahkan sampai mampu menghadapi 10.000 pasukan sendirian." jawab Luka.
"Benar juga. Kenapa aku bisa melupakannya." ucap Gumi baru mengingatnya.
"Mu-mungkin saja dia itu lipsync kan?" ujar Miku.
"Kita sudah tahu, lipsync itu tidak bisa mengisi energi earophoid. Pura-pura bernyanyi itu tidak sama dengan bernyanyi. Tidak sedikitpun." jelas Luka.
"Terus kenapa dia segitu tidak maunya bernyanyi?" ucap Gumi menoleh ke arah Ray.
Yang lainnya pun ikut menoleh ke arah Ray.
"Kami pulang.." ucap Rin dan Len baru pulang.
"Eh ada apa ini?" ucap Len terkejut dengan suasana yang menyambut mereka.
Sementara itu didalam pesawat Dante.
"Kenapa tadi tuan Lucifer tidak menghabisi mereka? Padahal tuan Lucifer bisa mengalahkan mereka sekaligus." ujar June.
"Tidak seru jika kita langsung menghabisi mereka. Kita bermain-main dulu sedikit. Kamu lihat sendiri kan? Tidak ada satupun dari mereka yang mampu mengimbangi kekuatanku." balas Dante.
"Tapi bagaimana jika The White Light bernyanyi lagi? Kita bisa habis." sahut June terlihat khawatir.
"Tenang saja, JB. Aku yakin dia takkan bernyanyi lagi." jawab Dante dengan yakin.
Di rumah keluarga Miku pun terlihat Ray belum memberikan jawaban sedikitpun. Dia terdiam meski ditatap oleh orang-orang yang penasaran akan hal itu.
To be continued..
"Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka kemudian menembakan beberapa pixie untuk menghalau Dante.
Tapi dengan bertumpu pada jendela gedung, dia menambah kecepatannya hingga pixie itu terlewat dan dia mendarat dengan keras sekali di jalanan. Hingga jalanan itu kini terlihat hancur dan membuat sebuah getaran yang kuat. Asap debunya pun sampai hingga ke tempat Miku dan kawan-kawan berdiri.
"Kalian kira serangan seperti itu bisa mengenaiku.." ucap Dante dari balik asap debu.
Pixie-pixie yang tadi ditembakan Luka mengarah lagi ke arah Dante dari atas. Namun ada api hitam yang dicambukan oleh Dante ke atas dan menghancurkan pixie-pixie tersebut dan menyingkirkan semua asap debu di sekitarnya.
"..kalian pasti bercanda." sambung Dante dengan mata bersinar kemerahan dan senyuman menyeramkan.
"Ini berbahaya, kita harus segera mengungsikan warga sekitar sini dengan segera." ujar Ray merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Devilish.. Slash!!!" ucap Dante mencambukkan sebuah api hitam ke arah Miku dan kawan-kawan.
Meiko dan Kaito melompat kedepan Miku dan berusaha menahan serangan Dante dengan gabungan serangan api mereka. Namun api Dante lebih kuat daripada yang mereka duga sehingga akhirnya mereka pun terkena cambukan api hitam raksasa itu hingga tertutup oleh api hitam dan meledak.
"Meiko-san! Kaito-senpai!" teriak Miku melihat mereka tampak meledak.
Dari samping kiri Dante, Gumi melesat dengan kecepatan tinggi menggunakan dance acceleration nya.
"Dance: Brutal.." ucap Dante dan membuat cahaya mirip api berwarna kemerahan menyelimuti dirinya.
Gumi melancarkan tendangan super cepatnya berkali-kali tapi mampu ditangkis oleh Dante tanpa kesulitan sedikitpun hanya menggunakan tangan kirinya. Gumi melompat dan berputar berniat menyerang Dante dengan tendangan ke kepalanya. Dan dengan senyuman di wajahnya, Dante melesakkan pukulannya di perut Gumi dengan sangat keras. Gumi terpental menghantam gedung dan menembusnya hingga ke gedung yang dibelakang gedung tersebut.
"Aku ini kidal, jadi mudah bagiku mengimbangi seranganmu itu, Angin Senja." ujar Dante.
Dante saat ini membelakangi Miku dan kawan-kawan. Miku memanfaatkan kesempatan itu dengan menyerangnya dari belakang. Dante menyadarinya, lalu menyambukkan api hitam ke arah Miku. Miku pun terbakar hidup-hidup oleh api itu. Setidaknya itu yang dikira oleh Dante. Karena nyatanya ternyata dia selamat dilindungi oleh para pixie nya Luka dan ditarik kembali mendekat ke Ray dan Luka.
"Jangan bertindak gegabah, Hatsune-san. Saat ini dia berada di tingkatan yang jauh diatasmu. Kecuali kamu menggunakan apa yang aku ajarkan waktu itu." kata Ray.
"Dance yang kamu ajarkan? Dance yang mana?" tanya Miku.
"Ya ampun.. jangan bilang kamu melupakannya." sahut Ray sambil menepuk jidatnya.
"Jadi benar kamu mengajarkan Dance yang mampu mengalahkanmu sewaktu di kuil itu?" tanya Luka.
"Ya, dan hasilnya sangat mengejutkan. Ini pertama kalinya aku melihat itu berhasil dengan sempurna." jawab Ray.
"Pertama kalinya berhasil dengan sempurna? Sepertinya sebelumnya kamu sudah menguji cobakannya pada orang lain." ujar Luka.
"Kalian sebaiknya pergi saja dari hadapanku. Kalian tidak lebih dari tikus pengganggu saat ini." usir Dante pada Miku dan yang lainnya.
Ray dan Luka saat ini sudah terpojok. Kaito dan Meiko tergeletak tak berdaya dihadapan mereka. Luka juga buka tipe penyerang jarak dekat. Dan Ray pun tak punya kekuatan untuk memberikan jeda waktu untuk Luka membuat jarak serangan.
Keadaan terlihat sangat tidak menguntungkan untuk pihak Miku dan yang lainnya. Para petarung terkuat mereka dikalahkan dengan mudahnya oleh Dante yang kini telah kembali menyandang nama Pangeran Kegelapan.
"Apa kamu punya sebuah rencana, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ada. Tapi aku tak yakin bisa membuat kita mengalahkannya. Kemungkinan hanya mengulur waktu untuk membuka jalan kita untuk mundur." jawab Ray.
"Begitu juga tidak apa-apa. Asalkan kita bisa membawa Miku-chan dan yang lainnya pergi dengan segera. Lalu apa rencananya?" sahut Luka.
"Naga akan membuka jalannya untuk kita." balas Ray.
Kemudian sosok keunguan melesat diantara Ray dan Luka dengan cepat. Sosok itu mengarah ke Dante dan menyerang Dante dengan serangan tebasan yang cepat. Namun Dante mampu menangkis menggunakan gitar nya. Dante pun mulai memukul mundur sosok keunguan itu yang ternyata adalah Kamui.
"Kamu terlambat, Angin Fajar." ujar Dante.
Kamui menatap tajam dengan kuda-kuda yang siap untuk melancarkan serangan lagi.
"Saya takkan memaafkan orang yang telah melukai Kaito-dono. Terima ini, Pangeran Kegelapan." ujar Kamui bersiap menyerang lagi.
"Dance: Samurai Warrior!" ucap Kamui kemudian melesat kedepan.
Dan terjadilah sebuah pertarungan yang hebat antara Kamui dan Dante dari jarak dekat. Dengan gitarnya, Dante mampu menangkis semua serangan Kamui. Merasa tebasannya yang biasa tidak berhasil, Kamui melompat kebelakang membuat jarak kemudian menyarungkan katana nya.
"Iai Technique: Batto Jutsu. Angin Sunyi Saat Bulan Purnama." ujar Kamui menghilang dari tempatnya berdiri dan muncul lagi di belakang Dante.
Dante terkejut dengan teknik serangan Kamui itu. Dan kemudian Dante pun seperti terkena suatu serangan hingga melayang sambil bergerak kebelakang. Tapi ternyata saat itu Dante tersenyum, dan Kamui nampak terkejut. Dante mendarat lagi dengan mulus dan berbalik menyerang Kamui dengan gitarnya. Kamui juga berbalik dan menahan serangan Dante menggunakan katana nya.
"Tak kusangka kau punya kejutan seperti itu juga. Kita belum pernah berhadapan seperti ini sebelumnya kan. Beradu serangan denganmu cukup menghibur juga." ujar Dante.
"Terima kasih.." ucap Kamui.
Namun tenaga Dante sepertinya lebih kuat dan mampu melempar Kamui kebelakang karena tidak mampu menahan dorongan Dante.
"Dulu dia belum memiliki itu, sehingga aku pasti lebih unggul dalam serangan dekat. Namun sekarang, rasanya menggoresnya saja sangatlah sulit." gumam Kamui sambil melihat ke gitar Dante.
"Kenapa, Angin Fajar? Kau tertarik pada gitarku? Maaf ini tidak dijual. Silahkan cari gitarmu sendiri di FJB Kask*s." ujar Dante sambil memanggul gitarnya.
Tapi tiba-tiba Gumi datang dan menendang dagu Dante hingga terpelanting ke atas.
"Kau lengah!" ucap Gumi terlihat kesal.
Kemudian Gumi bergerak dan melakukan tendangan dari segala arah dengan kecepatan tinggi hingga tampak seperti dirinya jadi ada banyak. Kemudian Gumi menghilang dan muncul diatas Dante sambil bersalto.
"Usagi Drop Kick!!!" pekik Gumi kemudian menginjak Dante dengan kedua kakinya hingga menghantam tanah.
Kekuatan tendangan yang sanga besar membuat tanahnya retak dan terangkat. Saking kuatnya, beberapa kaca gedung disekitarnya pun pecah.
"Ayo cepat lakukan Masao." ucap Dante yang terdengar baik-baik saja dibalik asap debu.
Dan saat asap debu mulai menghilang terlihatlah ternyata Dante menerima serangan Gumi dengan sengaja. Kaki Gumi saat ini menginjak bertumpuan telapak kaki Dante.
"Scarlet Hurricane!" ucap Dante mendorongkan kakinya hingga Gumi terlempar ke atas.
Dante kembali berdiri kemudian melompat mengejar Gumi. Lalu Dante menangkap wajah Gumi dengan tangan kirinya dan mendorongnya kebelakang dengan sekuat tenaga. Beruntung Luka menangkap tubuh Gumi menggunakan pixie nya sebelum menghantam aspal jalanan.
"Megu!" teriak Kamui sambil melihat Gumi kemudian berusaha menebas Dante yang baru mendarat.
Tapi tubuh Dante yang ditebas Kamui berubah jadi sosok api hitam berbentuk manusia. Dante yang asli terlihat melayang dibelakang Kamui kemudian menendang punggung Kamui. Tidak puas dengan itu, Dante juga mencambukan api hitam ke arah Kamui. Kamui terpental, terguling-guling dan terseret ditanah hingga jauh dibelakang Ray dan Luka.
"Luka-tan kenapa tidak menangkap tubuh saya tadi?" tanya Kamui berdiri lagi.
"Oh maaf, aku lupa. Kupikir kamu sedang berpura-pura jadi sebuah roda barusan." sahut Luka.
"Gakupo-san! Gunakan teknik angin fajar mu!" perintah Ray.
"Hah? Apa maksud anda, The White Light-dono." tanya Kamui tidak mengerti.
Dante saat itu sudah mengangkat ujung gitarnya keatas.
"Devilish Slash." ucap Dante menyambukkan api hitam raksasa ke arah mereka.
Kamui yang melihat itu langsung berlari ke depan Ray dan Luka.
"Iai Technique: Batto Jutsu. Angin Pertama Yang Berhembus Saat Fajar." ucap Kamui melakukan tebasan vertikal kedepan.
Menembakan angin yang kuat di ujung katananya dan mampu menahan api hitam Dante. Api hitam itu menutup dan menyelimuti Miku dan kawan-kawan. Dan saat api hitam itu menghilang mereka pun menghilang. Dante tersenyum karena takjub Ray mampu memanfaatkan serangan musuhnya untuk melarikan diri.
Miku dan yang lainnya berkumpul di rumah keluarga Miku. Mereka membaringkan Kaito dan Meiko di futon yang disiapkan di ruang tengah.
"Meiko-san.. Kaito-senpai.. kalian tidak apa-apa?" tanya Miku terlihat khawatir.
"Te-tenang saja Miku-chan. Kami hanya mengalami luka bakar sedikit saja. Untung saja elemen kami sama-sama api." jawab Meiko.
"Syukurlah kalau Kaito-senpai tidak apa-apa." ucap Miku terlihat lega.
"Tunggu sebentar kenapa perkataan Miku-chan seperti hanya mengkhawatirkan si bodoh Kaito." ujar Meiko sambil menatap tajam ke arah Miku.
"Haha.. tentu saja aku juga mengkhawatirkan Meiko-san.." sahut Miku.
Meiko tetap cemberut karena tidak percaya dengan perkataan Miku.
"Tapi kalian jadi begini karena salahku. Seandainya aku tidak selemah ini, aku pasti bisa membantu kalian." ucap Miku terlihat sedih.
"Ini semua bukan salah Hatsune kok. Ini juga salahku. Seandainya aku juga tidak selemah ini, pasti aku takkan kalah dan bisa melindungi Hatsune." balas Kaito.
"Tidak-tidak, ini bukan salah Kaito-senpai. Kaito-senpai juga sudah berusaha tadi. Hanya saja.. dia terlalu kuat untuk kita." bantah Miku.
"Kalau begitu Miku juga begitu kan?" ujar Kaito.
Miku terkejut dengan perkataan Kaito. Dan akhirnya ia pun mengerti maksudnya.
"Nice strike!" ucap Ray yang duduk di sofa sambil memperhatikan mereka.
"Eh, apa maksudnya?" tanya Kaito tak mengerti maksud Ray.
"Dasar penggoda wanita.." ucap Meiko sambil menatap tajam ke arah Kaito.
"Meiko juga kenapa sih? Apa barusan aku mengatakan sesuatu yang aneh?" kata Kaito yang kebingungan.
"Terus masalah Dante-kun ini bagaimana, Ray-kun? Diantara kita tak ada satupun yang bisa mengimbangi kekuatannya." tanya Luka pada Ray.
"Ya, seandainya kamu masih punya kekuatan pasti kamu lah yang bisa mengalahkannya, Shiro Ray." tambah Gumi.
"Oh ya, kalau gitu kenapa Ray-kun tidak bernyanyi saja. Kita bisa membuat sebuah konser kecil-kecilan agar Ray-kun dapat mengisi energi earophoid nya." usul Luka.
"Benar juga, dengan begitu kekuatan Shiro Ray bisa kembali." sahut Gumi tampak setuju.
"Tapi.. aku belum pernah mendengar Shiro Ray bernyanyi. Dia berkali-kali dipanggil ke depan oleh guru pun dia tetap ngeles dengan beberapa alasan." ujar Miku.
"Iya sih, aku sampai mengira suaranya itu fals." kata Gumi sambil berpikir.
"Apa itu benar, Ray-kun?" tanya Luka.
"Ya, suaraku itu buruk sekali. Bahkan bisa membuat gunung meletus hanya dengan dendanganku saja." jawab Ray tanpa ragu.
"Ah.. putus sudah harapan kita kalau memang begitu." ucap Miku.
"Kamu jangan berbohong! Aku tahu suaramu tidak seburuk itu." bentak Luka.
"Hah? Apa maksud Luka-oneesama?" tanya Gumi.
"Coba pikirkan lagi, kalau dia tidak bisa bernyanyi terus bagaimana dia bisa mendapatkan energi saat perang nada hitam bahkan sampai mampu menghadapi 10.000 pasukan sendirian." jawab Luka.
"Benar juga. Kenapa aku bisa melupakannya." ucap Gumi baru mengingatnya.
"Mu-mungkin saja dia itu lipsync kan?" ujar Miku.
"Kita sudah tahu, lipsync itu tidak bisa mengisi energi earophoid. Pura-pura bernyanyi itu tidak sama dengan bernyanyi. Tidak sedikitpun." jelas Luka.
"Terus kenapa dia segitu tidak maunya bernyanyi?" ucap Gumi menoleh ke arah Ray.
Yang lainnya pun ikut menoleh ke arah Ray.
"Kami pulang.." ucap Rin dan Len baru pulang.
"Eh ada apa ini?" ucap Len terkejut dengan suasana yang menyambut mereka.
Sementara itu didalam pesawat Dante.
"Kenapa tadi tuan Lucifer tidak menghabisi mereka? Padahal tuan Lucifer bisa mengalahkan mereka sekaligus." ujar June.
"Tidak seru jika kita langsung menghabisi mereka. Kita bermain-main dulu sedikit. Kamu lihat sendiri kan? Tidak ada satupun dari mereka yang mampu mengimbangi kekuatanku." balas Dante.
"Tapi bagaimana jika The White Light bernyanyi lagi? Kita bisa habis." sahut June terlihat khawatir.
"Tenang saja, JB. Aku yakin dia takkan bernyanyi lagi." jawab Dante dengan yakin.
Di rumah keluarga Miku pun terlihat Ray belum memberikan jawaban sedikitpun. Dia terdiam meski ditatap oleh orang-orang yang penasaran akan hal itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.