VocaWorld, chapter 146 - Festival Budaya (Akhir Yang Gagal)

Acara Moonlight Opera sukses besar. Semua penonton terlihat puas menonton pertunjukkan opera tersebut.
"Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar ya." ujar ketua OSIS.
"Ya.. ceritanya juga hebat banget dah. Aku bisa berpasangan dengan Kaito-senpai." ucap Miku terlihat bahagia.
"Tapi aku kaget Ray-kun ternyata bisa menulis cerita sebagus itu." ujar Luka melirik ke arah Ray yang masih mengenakan kostum pelayan.
"Kalau aku tidak bisa menulis, maka aku takkan bisa jadi seorang planner seperti sekarang, Megurine-san." jawab Ray.
"Terus kenapa Aniki memperbolehkan dia untuk tetap disini?" tanya Dante melihat ke arah Gumi.
"Ya, Gumi-chan kan tidak punya peran." tambah Miku.
"Itu karena aku ingin meminta bantuannya saat ini. Merepotkan kalau aku harus memanggilnya jika ia jauh dariku." jawab Ray.
"Meminta bantuan apa?" tanya Luka.
"Untuk acara Ending Concert, aku akan butuh bantuan Megupo-san di belakang panggung. Soalnya dia itu gesit dan cekatan bukan." ujar Ray.
"Hah? Memang OSIS belum cukup untukmu, Shiro Ray?" tanya Gumi.
"Tentu saja mereka sudah cukup untukku. Tapi aku butuh seorang asisten. Karena Megurine-san akan sibuk sebagai pembawa acara di konser nanti." jelas Ray.
"Luka-oneesama akan menjadi MC?" ucap Gumi.
"Ya aku memang akan menjadi pembawa acaranya, tapi kenapa mesti Gumi-chan?" tanya Luka.
"Ya soalnya, diantara yang lainnya, bukankah hanya dia yang nganggur." sahut Ray
"Hmm.. benar juga. Kalau begini aku juga bisa menolak permintaan dari Gaku-Gaku." gumam Gumi.
"Tapi maaf Aniki, aku punya ini." ujar Dante sambil menunjukkan sebuah treasure key.
"Itu?! Jangan-jangan itu treasure key ending concert?" ucap Ray.
"Treasure key ending concert? Jadi Ray-kun menyebarkan buat ending concert juga?" tanya Luka.
"Bukankah ending concert sudah ditentukan siapa saja yang akan jadi pengisinya?" tambah ketua OSIS.
"Ya benar sekali. Tapi kita harus menambahkan sesuatu yang tak terduga biar semuanya jadi menarik bukan?" jawab Ray.
"Tapi bagaimana kalau yang menemukannya malah orang yang berbahaya yang hanya akan memanfaatkan situasi?" tanya ketua OSIS.
"Tenang saja. Aku bisa menjamin tak ada orang seperti itu yang bisa mendapatkannya." sahut Ray tampak yakin.
"Ada apa dengan keyakinannya itu. Dia seperti sudah mengatur setiap orang yang akan mendapatkan semua treasure key itu." gumam ketua OSIS.
"Jadi akankah kamu gunakan treasure key itu, Dante?" tanya Ray.
"Tentu saja. Aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ada didepan mata." jawab Dante.
"Oohh.. lalu kamu mau meminta siapa yang akan bernyanyi denganmu?" tanya Ray.
Dante tersenyum lembut dan kemudian menengok ke arah Gumi.
"Dia kah? Jadi karena itu kamu menyela perkataanku tadi." sambung Ray.
Gumi terlihat terkejut melihat Dante memintanya duet dengannya.
"Jadi bagaimana nona kelinci, apa kamu akan menerima tawaran pangeran ini?" tanya Ray pada Gumi
"A-aku.." sahut Gumi dengan wajah memerah.
"Gumi-chan?" ucap Miku tak mengerti apa yang terjadi.
"Aku.. ti-..", "Kamu tak perlu bernyanyi banyak kalau kamu tidak mau. Kamu hanya perlu menyanyikan bagian yang paling kamu inginkan saja." potong Dante pada perkataan Gumi.
Gumi sedikit terengah karena perkataan Dante.
"A-..Aku butuh waktu berpikir.." ucap Gumi lalu berlari keluar dari backstage.
"Apa aku terlalu berlebihan padanya, Aniki?" tanya Dante.
Ray tidak menjawab dan hanya memperhatikan ke arah tempat Gumi berlari.

Gumi berlari ke arah gedung auditorium. Kemudian dia masuk kedalam dan berjalan menuju ke panggung.
"Kenapa dia memilihku duet bersamanya? Aku adalah mantan musuhnya saat perang dahulu, tapi kenapa?" ucap Gumi sambil duduk di salah satu kursi.
Dia pun mengingat saat pertama bertemu dengan Dante di sekolah. Gumi tak mengenalinya saat itu, tapi sepertinya Dante mengingat Gumi dengan jelas. Semua itu nampak jelas dari senyumannya.
"Jadi kamu kesini, Angin Senja." ujar Dante duduk disebelah Gumi.
Gumi terkejut melihat kedatangan Dante. Dante tampak tenang saja duduk disebelah Gumi.
"Kenapa kamu begitu diam hari ini? Biasanya kamu selalu kesal dan menentangku? Tapi beberapa hari ini kamu seperti menghindar dariku." tanya Dante.
"Bukan urusanmu kan? Lagipula kenapa kamu memilihku untuk berduet denganmu?" tanya balik Gumi.
"Tentu saja jelas kan. Aku tak mungkin berduet dengan Aniki. Selain karena dia sekarang adalah panitia, dia memang selalu menolak kalau aku ajak bernyanyi." jawab Dante.
"Meskipun suaranya lebih bagus daripada aku.." sambung Dante dengan suara hampir terdengar.
"Tapi.. itu belum menjelaskan alasanmu memilihku?" tanya Gumi lagi.
"Aku sudah mengatakannya padamu kan? Kamu adalah satu-satunya orang yang paling aku kenal selain Aniki. Kita ini mantan musuh di perang nada hitam." jelas Dante sambil menoleh ke arah Gumi.
"Namun meskipun begitu, bukankah harusnya kamu benci padaku karena aku adalah mantan musuhmu?" ujar Gumi.
"Membencimu? Kenapa aku harus membenci gadis manis sepertimu?" sahut Dante.
"Ga-gadis manis? Maksudmu aku?" tanya Gumi.
"Ya tentu saja, memangnya aku lagi ngomong sama siapa?" jawab Dante.
"Huh! Dasar penggombal!" ucap Gumi memalingkan mukanya.
"Haha.. maaf deh.." balas Dante.
"Terus, apa kamu sudah putuskan akan berduet denganku atau tidak?" sambung Dante.
Gumi masih ragu untuk menjawabnya.Dan kepalanya menunduk kebawah dengan tatapan penuh dengan keraguan dan kebingungan.
"Jadi kamu tidak mau ya? Apa itu karena aku adalah mantan seorang penjahat? Karena aku pernah menjadi seorang Pangeran Kegelapan?" tanya Dante dengan wajah menggelap.
Gumi melirik ke arah Dante.
"Ah ya sudahlah.. sepertinya memang tidak ada tempat untuk orang sepertiku. Sekali seseorang salah, maka dia akan terus dianggap salah." tambah Dante sambil berdiri dari duduknya.
"Terima kasih karena telah bersedia berbicara denganku. Aku berjanji takkan mengganggumu lagi.." ujar Dante sambil berjalan menuju ke pintu.
"..selamanya." lanjut Dante saat berhenti dan membuka pintu.
Pintu ruang auditorium pun ditutup dan auditorium gelap itu pun hanya di isi oleh Gumi seorang. Dia sendirian dengan wajah sedih.

Ending Concert pun dimulai. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua dan wakil ketua OSIS yang kebetulan menjadi pembawa acara.
"Seandainya saya tidak salah menyebut nama Megu waktu itu, pasti saya sudah bisa berduet dengan Luka-tan saat ini." gerutu Kamui yang melihat dari barisan paling depan.
"Aku ingin melihat Ray-niichan bernyanyi, tapi sayangnya dia katanya tidak ikut klub manapun dan malah menjadi panitia." ujar Rin terlihat kecewa.
"Haha.. memangnya apa yang hebat dari Ray-nii. Paling juga dia jadi panitia karena suaranya fals." sahut Len.
"Tidak mungkin lah! Kalau Ray-niichan tidak bisa bernyanyi tak mungkin dia bisa menggunakan earophoid!" balas Rin.
"Hmm.. benar juga." kata Len.
Sementara saat itu Gumi dan Kaito terlihat bersiap-siap dibelakang panggung. Mereka sudah berubah dengan earophoidnya.
"Jadi kita akan menyanyikan lagu apa, Kaito-senpai?" tanya Miku.
"Cendrillion. Yang jadi theme song di opera tadi." jawab Kaito.
"Oohh.. ide bagus. Kaito-senpai memang jeniius!" puji Miku sambil mengangkat jempolnya.
Tak jauh dari situ masih dibelakang panggung, Dante dan band nya sudah siap untuk tampil.
"Jadi bagaimana? Apa dia bersedia?" tanya Ray.
"Ah.. Aniki sudah tahu jawabannya kan?" jawab Dante sambil mengeluarkan treasure key dari sakunya kemudian menyobeknya dan melemparnya ketempat sampah.
"Dante.." ucap Ray terlihat khawatir.
"Sudah, jangan campuri urusanku lagi, Aniki." kata Dante sambil berjalan melewati Ray.
"Anak itu.. kalau begini terus bisa bahaya.." gumam Ray.
"Ini dia band yang menggemparkan festival budaya tahun ini!" ujar ketua OSIS bersama Luka.
Dante pun muncul dengan senyuman liciknya. Di belakangnya senior-senior dari klub visual kei mengikutinya.
"Nah.. kita mulai saja! Let's rock!" teriak Dante memulai lagunya.
Gumi menonton dari kejauhan dan terlihat tatapan khawatir di matanya. Melihat wajah Dante yang kembali seperti saat dia menjadi pangeran kegelapan membuat Gumi resah.
"Sepertinya dia sudah kembali seperti dulu. Hahaha.. ini kesempatan emas buatku." ujar June yang ternyata juga menonton konser itu.
Dante menyanyikan lagu tentang penyesalan dan janji yang terlupakan. Tentang orang yang sekali jadi iblis akan tetap jadi iblis.
"Terima kasih sudah mendengarkannya, anak manusia.." ujar Dante saat lagunya selesai.
Dante kembali kebelakang panggung dan dicegat oleh Ray.
"Dante, bisakah kita bicara sebentar?" pinta Ray.
"Aku tak punya waktu. Aku ingin langsung pulang. Aku ingin segera tidur, Aniki." tolak Dante.
"Tapi Dante.." ujar Ray memegang pundak Dante.
"Minggir dari hadapanku, The White Light.." kata Dante sambil menepuk tangan Ray.
Dante tetap melanjutkan langkahnya. Dia pergi meninggalkan Ray yang terdiam saja. Perlahan Ray menoleh ke arah Dante pergi. Konser tetap dilanjutkan dengan lagunya Miku dan Kaito yang berduet bersama. Sementara Ray keluar dari belakang panggung dan menuju ke tempat penonton. Luka menyadari kepergian Ray.
"Aku belum pernah melihat Ray-kun seperti itu. Apa terjadi sesuatu?" gumam Luka.
Ray menghampiri Gumi yang berdiri sendirian menonton konser dari kejauhan.
"Shiro Ray, mau apa kamu kemari?" tanya Gumi yang melangkah mundur.
"Sudah kuduga, perlakuanmu padaku dan pada Dante sedikit berbeda." sahut Ray duduk diatas rumput.
"Apa maksudmu?" tanya Gumi tidak mengerti.
Ray hanya melirik ke arah Gumi dan tersenyum. Disaat yang sama, Dante terlihat berpamitan pada para seniornya kemudian pulang sendirian. Di depan gerbang tampak June berdiri seperti sudah menunggunya dari tadi.
"Selamat malam, tuan Lucifer." sapa June sambil memberi hormat.
"Sedang apa kau disini, JB? Mood ku sedang buruk, kau cari mati ya?" ujar Dante.
"Jadi, apa menyenangkan bersama dengan The White Light? Apa tuan menemukan yang tuan cari?" sahut June dengan pertanyaan.
"Bukankah.. dia sepertinya sudah melupakan janjinya.. tuan Lucifer?" sambung June menunjukkan senyuman liciknya.
Dante tersentak mendengarnya. Matanya terbuka lebar dan mulutnya hendak berbicara tapi seperti kehabisan kata-kata. Melihat hal tersebut senyuman June semakin melebar. Lantunan lagu milik Miku dan Kaito masih terdengar. Dan beberapa saat kemudian duet serasi itu pun selesai bernyanyi. Ending Concert terus berlanjut hingga tengah malam. Dan berbagai klub terlihat menunjuk masing-masing duta mereka untuk bernyanyi. Ending concert pun sukses besar malam itu. Festival budaya akademi Voca ditutup dengan nyanyian Luka sebagai surprise. Dia menyanyikan lagu Luka Luka Night Fever.
"Aku berusaha membuat semua orang menikmati festival ini. Tapi sepertinya aku gagal." ujar Ray sambil memperhatikan wajah ceria Luka.
Gumi melihat kesedihan di mata Ray meskipun ekspresinya tampak datar.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】