Memo, chapter 32 - Pulang Sekolah 3
Saat sedang berjalan pulang ke rumah, dia lagi-lagi dihadang oleh Ani. Gadis pelayan yang menjaga Alice. Arya dipepet ke kiri dengan menggunakan sebuah sepeda motor.
"Ada apa lagi? Apa kamu juga fans ketua OSIS yang hendak membalas dendam juga?" tanya Arya.
"Hah? Siapa itu ketua OSIS? Satu-satunya pujaan hatiku hanyalah Sakata Gintoki-sama." sahut Ani.
"S-sama???" ucap Arya kaget mendengar kata itu dari mulut Ani.
"Ehem.. pokoknya saat ini aku harus berbicara denganmu." ujar Ani.
"Mau bicara apa? Kalau masalah anime ayo saja." tanya Arya.
"Eh, kamu juga penyuka anime?" tanya balik Ani.
"Oh.. benar dugaanku kamu itu adalah seorang otaku." sahut Arya.
"Siapa yang kamu panggil otaku!? Aku tidak semaniak itu. Aku hanya menyukainya saja." balas Ani.
"Jadi kamu mau berbicara apa tadi?" tanya Arya.
"Aku harus menyampaikan pesan dari nona muda. Katanya kalau mau diajarkan tentang PR matematika, besok dan lusa dia bisa mengajarkanmu. Nanti datang saja ke rumah. Begitu katanya." jelas Ani.
"Jadi dia serius menerima permintaanku waktu itu?" gumam Arya tampak berpikir.
"Ada apa?" tanya Ani.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran." jawab Arya.
"Penasaran tentang apa? Awas saja kalau penasaran tentang nona muda. Takkan kubiarkan kamu tetap hidup setelah mengetahuinya." ancam Ani.
"Ti-tidak, bukan itu. Yang membuatku penasaran adalah kenapa kamu bisa suka pada Sakata Gintoki? Dia itu orangnya bodoh dan urakan. Tidak mungkin ada perempuan yang menyukai tokoh seperti itu." ujar Arya.
"Hahaha.. kamu lah yang bodoh. Dia itu seperti itu hanya sebagai cover. Meskipun dia sering menunjukkan sifat bodoh dan urakan, tapi sebenarnya dia baik dan peduli pada orang lain. Karena itu dia membuat yorozuya kan?" balas Ani.
"Oohh.. aku tak menyangka ternyata kamu bisa tahu hal seperti itu. Sudah kuduga kamu itu seorang otaku." tukas Arya.
"Bukan!" bantah Ani.
"Maaf mas, mbak.. bisakah jangan bertengkar di jalanan. Kalian mengganggu yang lainnya." ujar seorang polisi lalu lintas.
"Hah?" ucap Arya dan Ani bersamaan menengok ke arah polisi.
Mereka pun melihat kemacetan yang terjadi karena mereka menghalangi jalan bagian sisi kiri. Mereka berdua pun langsung shock dan meminta maaf pada pak polisi.
"Ini semua salahmu karena malah bahas masalah anime." tukas Ani.
"Hah.. yang salah seharusnya kan kamu. Malah berhenti di pinggir jalan. Paling tidak parkirkan dulu motornya sebelum ngomong." balas Arya.
"Dipinggir jalan?" ucapa Ani.
"Ya di parkiran lah!" jawab Arya.
"Tapi disini kan tak ada tempat parkir. Bagaimana parkirnya coba." jawab Ani.
"Ada juga tuh!" sahut Arya menunjuk ke arah seberang jalan.
Di seberang jalan terlihat ada seorang bapak yang menggigit sebuah peluit dimulutnya. Dan disebelahnya ada tulisan 'parkiran portable'.
"Parkiran portable?! Apa itu parkiran portable? Mana ada tempat parkir yang portable." komentar Ani.
"Ya aku mana tahu. Tadi bapak-bapak itu tiba-tiba muncul dari sana." kata Arya.
Lalu pak polisi yang tadi menegur Arya dan Ani tampak sedang menyeberang menghampiri bapak-bapak itu. Melihat ada polisi bapak-bapak itu langsung lari ketakutan.
"Apa-apaan bapak-bapak itu! Kenapa dia malah lari!" komentar Ani saat melihatnya.
"Mungkin dia sedang ingin berolahraga." sahut Arya.
"Tidak mungkin lah. Mana ada yang pakai alasan seperti itu!" bentak Ani.
Ani pun menghela napas karena lelah memprotes setiap lawakan Arya.
"Pokoknya, besok atau lusa kamu harus datang ke rumah. Nona muda sangat menanti kehadiranmu." sambung Ani kemudian pergi menggunakan sepeda motornya.
"Ah.. hari liburku harus kugunakan untuk belajar. Malasnya.." ujar Arya.
Catatan hari ini:
Selalu lihat tempat dan waktu dulu sebelum kalian bertindak. Karena tindakan di tempat dan waktu yang keliru akan mengakibatkan sebuah kekeliruan juga.
"Ada apa lagi? Apa kamu juga fans ketua OSIS yang hendak membalas dendam juga?" tanya Arya.
"Hah? Siapa itu ketua OSIS? Satu-satunya pujaan hatiku hanyalah Sakata Gintoki-sama." sahut Ani.
"S-sama???" ucap Arya kaget mendengar kata itu dari mulut Ani.
"Ehem.. pokoknya saat ini aku harus berbicara denganmu." ujar Ani.
"Mau bicara apa? Kalau masalah anime ayo saja." tanya Arya.
"Eh, kamu juga penyuka anime?" tanya balik Ani.
"Oh.. benar dugaanku kamu itu adalah seorang otaku." sahut Arya.
"Siapa yang kamu panggil otaku!? Aku tidak semaniak itu. Aku hanya menyukainya saja." balas Ani.
"Jadi kamu mau berbicara apa tadi?" tanya Arya.
"Aku harus menyampaikan pesan dari nona muda. Katanya kalau mau diajarkan tentang PR matematika, besok dan lusa dia bisa mengajarkanmu. Nanti datang saja ke rumah. Begitu katanya." jelas Ani.
"Jadi dia serius menerima permintaanku waktu itu?" gumam Arya tampak berpikir.
"Ada apa?" tanya Ani.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya penasaran." jawab Arya.
"Penasaran tentang apa? Awas saja kalau penasaran tentang nona muda. Takkan kubiarkan kamu tetap hidup setelah mengetahuinya." ancam Ani.
"Ti-tidak, bukan itu. Yang membuatku penasaran adalah kenapa kamu bisa suka pada Sakata Gintoki? Dia itu orangnya bodoh dan urakan. Tidak mungkin ada perempuan yang menyukai tokoh seperti itu." ujar Arya.
"Hahaha.. kamu lah yang bodoh. Dia itu seperti itu hanya sebagai cover. Meskipun dia sering menunjukkan sifat bodoh dan urakan, tapi sebenarnya dia baik dan peduli pada orang lain. Karena itu dia membuat yorozuya kan?" balas Ani.
"Oohh.. aku tak menyangka ternyata kamu bisa tahu hal seperti itu. Sudah kuduga kamu itu seorang otaku." tukas Arya.
"Bukan!" bantah Ani.
"Maaf mas, mbak.. bisakah jangan bertengkar di jalanan. Kalian mengganggu yang lainnya." ujar seorang polisi lalu lintas.
"Hah?" ucap Arya dan Ani bersamaan menengok ke arah polisi.
Mereka pun melihat kemacetan yang terjadi karena mereka menghalangi jalan bagian sisi kiri. Mereka berdua pun langsung shock dan meminta maaf pada pak polisi.
"Ini semua salahmu karena malah bahas masalah anime." tukas Ani.
"Hah.. yang salah seharusnya kan kamu. Malah berhenti di pinggir jalan. Paling tidak parkirkan dulu motornya sebelum ngomong." balas Arya.
"Dipinggir jalan?" ucapa Ani.
"Ya di parkiran lah!" jawab Arya.
"Tapi disini kan tak ada tempat parkir. Bagaimana parkirnya coba." jawab Ani.
"Ada juga tuh!" sahut Arya menunjuk ke arah seberang jalan.
Di seberang jalan terlihat ada seorang bapak yang menggigit sebuah peluit dimulutnya. Dan disebelahnya ada tulisan 'parkiran portable'.
"Parkiran portable?! Apa itu parkiran portable? Mana ada tempat parkir yang portable." komentar Ani.
"Ya aku mana tahu. Tadi bapak-bapak itu tiba-tiba muncul dari sana." kata Arya.
Lalu pak polisi yang tadi menegur Arya dan Ani tampak sedang menyeberang menghampiri bapak-bapak itu. Melihat ada polisi bapak-bapak itu langsung lari ketakutan.
"Apa-apaan bapak-bapak itu! Kenapa dia malah lari!" komentar Ani saat melihatnya.
"Mungkin dia sedang ingin berolahraga." sahut Arya.
"Tidak mungkin lah. Mana ada yang pakai alasan seperti itu!" bentak Ani.
Ani pun menghela napas karena lelah memprotes setiap lawakan Arya.
"Pokoknya, besok atau lusa kamu harus datang ke rumah. Nona muda sangat menanti kehadiranmu." sambung Ani kemudian pergi menggunakan sepeda motornya.
"Ah.. hari liburku harus kugunakan untuk belajar. Malasnya.." ujar Arya.
Catatan hari ini:
Selalu lihat tempat dan waktu dulu sebelum kalian bertindak. Karena tindakan di tempat dan waktu yang keliru akan mengakibatkan sebuah kekeliruan juga.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.