Memo, chapter 3 - Terlambat
Saat itu Arya sedang berlari menuju ke gerbang sekolah. Lagi-lagi ia
terlambat datang dan terlihat ada satu orang yang juga datang terlambat.
Di depan gerbang ada senior yang berjaga. Dia tersenyum sambil membaca
sebuah buku.
"Whoaa!!" teriak laki-laki yang terlambat itu jatuh seperti tersandung sesuatu padahal tidak ada batu atau apapun disana.
Kepalanya pun sengaja seperti dibenturkan ke tanah. Dan dia tak bangun lagi sepertinya pingsan. Arya hanya diam terpaku saja karena kaget.
"Siapa aku? Dimana aku?" ucap laki-laki bermata sipit itu tiba-tiba saja bangun lagi.
"Jangan bilang dia akan beralasan terlambat dengan pura-pura lupa ingatan?!" ucap Arya dalam hati.
"Uang jajanku berapa!?" sambung laki-laki itu sambil nengok saku kemeja nya.
"Itu tidak ada hubungannya!" protes Arya dalam hati.
"Senior! Namaku siapa?" tanya laki-laki itu sambil memegang pintu gerbang sekolah.
"Bagaimana kamu bisa lupa namamu tapi ingat kalau dia seniormu?!!" protes Arya lagi dalam hati.
"Dia lupa ingatan?!" ucap salah senior yang menjaga gerbang.
"Dia percaya?!!" ucap Arya dalam hati dengan wajah shock.
"Aku akan nelpon ambulans!" sambung senior perempuan itu.
"Tidak perlu senior. Cukup biarkan saya lewat dan saya ingatan saya akan segera kembali." ujar laki-laki bermata sipit itu.
"Itu jelas banget bohongnya!" teriak Arya dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, silahkan lewat!" sahut gadis yang nampak polos itu.
"Dia masih saja percaya!?" kata Arya dengan nada kaget dalam hati.
"Yes! Ketipu lo!" ucap laki-laki itu dalam hati sambil nengok dengan senyuman licik diwajahnya setelah lewat begitu saja dengan santai.
"Lihatlah kebelakang, dia jelas-jelas membohongimu!" teriak Arya dalam hati merasa greget pada senior perempuan yang terlalu polos itu.
"Kelihatannya ini berbeda dengan yang kemarin. Apa aku juga mesti beralasan?" pikir Arya.
"Hei, wakil ketua? Kenapa kau biarkan anak itu lewat?" tanya seorang senior perempuan lain yang baru datang.
"Dia kasihan.. dia lupa ingatan.." jawab senior perempuan di dekat gerbang itu.
"Hah? Terus, kau percaya begitu saja?!" tanya senior perempuan yang tampak tomboy itu.
"Ya bagaimana ya Re, dia mengatakan kalau dia akan ingat lagi kalau aku membiarkannya masuk." jawab senior polos itu.
"Itu sudah jelas-jelas mengatakan kalau dia menipumu!" bentak senior berambut pendek itu.
"Ya ampun.. aku bingung dia itu terlalu polos atau kelewat bego. Tapi anehnya dia pemegang rekor nilai terbaik tahun kemarin." gerutu gadis tomboy itu dalam hati sambil memegang jidatnya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya gadis tomboy itu pada Arya.
"Hah? Aku? Kalau aku sih emang terlambat. Bangunku kesiangan dan mobil angkot nya telat." jawab Arya.
"Kau mengatakannya dengan setenang itu?! Berani juga kau rupanya. Bukankah kau anak yang kemarin juga terlambat. Kupikir kali ini kau akan beralasan lagi." kata senior tomboy itu yang mengenali Arya.
"Kamu!" bentak senior yang satu lagi berusaha membuat ekspresi tegas dengan wajah keibuan nya.
"Apa kamu sadar dengan perbuatanmu? Jadi seorang siswa itu mesti disiplin! Harus bisa menyesuaikan waktu dan pekerjaan. Ini untuk masa depanmu juga." sambung senior yang selalu tersenyum itu kali ini dengan wajah tegas.
"Ya, tentu saja aku sadar dengan perbuatanku. Lagipula, keterlambatanku hari ini bukanlah sebuah kesengajaan." jawab Arya.
"Kalau begitu kamu boleh masuk." balas senior itu lagi kembali tersenyum.
"Wakil ketua!" ucap senior tomboy berusaha memprotes.
Arya jadi sedikit bingung. Tapi dia bersyukur dalam hati karena hari ini tidak dihukum. Dia pun melewati gerbang dengan hati yang tenang.
"Wakil ketua! Kenapa kau biarkan dia lewat juga. Dia kan sudah jelas bilang kalau dia memang terlambat." protes senior tomboy.
"Itu adalah hadiahnya. Karena dia lebih jujur daripada orang yang tadi." jawab senior yang nampaknya memang seorang wakil ketua itu tersenyum.
"Hah? Jadi kau tahu yang orang pertama itu bohong? Tapi kenapa kau biarkan mereka lewat?" tanya tanya senior tomboy.
"No reason." jawab wakil ketua.
Senior tomboy itu malah jadi bingung.
Catatan hari ini:
Kadang beralasan itu baik dan menjelaskan, tapi tak ada yang bisa mengalahkan kemurnian sebuah kejujuran.
"Whoaa!!" teriak laki-laki yang terlambat itu jatuh seperti tersandung sesuatu padahal tidak ada batu atau apapun disana.
Kepalanya pun sengaja seperti dibenturkan ke tanah. Dan dia tak bangun lagi sepertinya pingsan. Arya hanya diam terpaku saja karena kaget.
"Siapa aku? Dimana aku?" ucap laki-laki bermata sipit itu tiba-tiba saja bangun lagi.
"Jangan bilang dia akan beralasan terlambat dengan pura-pura lupa ingatan?!" ucap Arya dalam hati.
"Uang jajanku berapa!?" sambung laki-laki itu sambil nengok saku kemeja nya.
"Itu tidak ada hubungannya!" protes Arya dalam hati.
"Senior! Namaku siapa?" tanya laki-laki itu sambil memegang pintu gerbang sekolah.
"Bagaimana kamu bisa lupa namamu tapi ingat kalau dia seniormu?!!" protes Arya lagi dalam hati.
"Dia lupa ingatan?!" ucap salah senior yang menjaga gerbang.
"Dia percaya?!!" ucap Arya dalam hati dengan wajah shock.
"Aku akan nelpon ambulans!" sambung senior perempuan itu.
"Tidak perlu senior. Cukup biarkan saya lewat dan saya ingatan saya akan segera kembali." ujar laki-laki bermata sipit itu.
"Itu jelas banget bohongnya!" teriak Arya dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, silahkan lewat!" sahut gadis yang nampak polos itu.
"Dia masih saja percaya!?" kata Arya dengan nada kaget dalam hati.
"Yes! Ketipu lo!" ucap laki-laki itu dalam hati sambil nengok dengan senyuman licik diwajahnya setelah lewat begitu saja dengan santai.
"Lihatlah kebelakang, dia jelas-jelas membohongimu!" teriak Arya dalam hati merasa greget pada senior perempuan yang terlalu polos itu.
"Kelihatannya ini berbeda dengan yang kemarin. Apa aku juga mesti beralasan?" pikir Arya.
"Hei, wakil ketua? Kenapa kau biarkan anak itu lewat?" tanya seorang senior perempuan lain yang baru datang.
"Dia kasihan.. dia lupa ingatan.." jawab senior perempuan di dekat gerbang itu.
"Hah? Terus, kau percaya begitu saja?!" tanya senior perempuan yang tampak tomboy itu.
"Ya bagaimana ya Re, dia mengatakan kalau dia akan ingat lagi kalau aku membiarkannya masuk." jawab senior polos itu.
"Itu sudah jelas-jelas mengatakan kalau dia menipumu!" bentak senior berambut pendek itu.
"Ya ampun.. aku bingung dia itu terlalu polos atau kelewat bego. Tapi anehnya dia pemegang rekor nilai terbaik tahun kemarin." gerutu gadis tomboy itu dalam hati sambil memegang jidatnya.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya gadis tomboy itu pada Arya.
"Hah? Aku? Kalau aku sih emang terlambat. Bangunku kesiangan dan mobil angkot nya telat." jawab Arya.
"Kau mengatakannya dengan setenang itu?! Berani juga kau rupanya. Bukankah kau anak yang kemarin juga terlambat. Kupikir kali ini kau akan beralasan lagi." kata senior tomboy itu yang mengenali Arya.
"Kamu!" bentak senior yang satu lagi berusaha membuat ekspresi tegas dengan wajah keibuan nya.
"Apa kamu sadar dengan perbuatanmu? Jadi seorang siswa itu mesti disiplin! Harus bisa menyesuaikan waktu dan pekerjaan. Ini untuk masa depanmu juga." sambung senior yang selalu tersenyum itu kali ini dengan wajah tegas.
"Ya, tentu saja aku sadar dengan perbuatanku. Lagipula, keterlambatanku hari ini bukanlah sebuah kesengajaan." jawab Arya.
"Kalau begitu kamu boleh masuk." balas senior itu lagi kembali tersenyum.
"Wakil ketua!" ucap senior tomboy berusaha memprotes.
Arya jadi sedikit bingung. Tapi dia bersyukur dalam hati karena hari ini tidak dihukum. Dia pun melewati gerbang dengan hati yang tenang.
"Wakil ketua! Kenapa kau biarkan dia lewat juga. Dia kan sudah jelas bilang kalau dia memang terlambat." protes senior tomboy.
"Itu adalah hadiahnya. Karena dia lebih jujur daripada orang yang tadi." jawab senior yang nampaknya memang seorang wakil ketua itu tersenyum.
"Hah? Jadi kau tahu yang orang pertama itu bohong? Tapi kenapa kau biarkan mereka lewat?" tanya tanya senior tomboy.
"No reason." jawab wakil ketua.
Senior tomboy itu malah jadi bingung.
Catatan hari ini:
Kadang beralasan itu baik dan menjelaskan, tapi tak ada yang bisa mengalahkan kemurnian sebuah kejujuran.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.