Memo, chapter 4 - MOS

Arya sudah masuk ke dalam sekolah. Dan terlihat semua siswa baru sudah ada di dalam ruangan aula yang luas. Mereka semua sudah duduk berbaris menghadap ke arah depan. Arya memutuskan untuk duduk walau paling belakang.
"Hei, kau yang tadi kan?" sapa seseorang kepada Arya.
Ternyata itu si mata sipit yang terlambat bersama Arya.
"Bagaimana kau bisa masuk? Pasti kau punya alasan yang menakjubkan. Coba ceritakan padaku." tanya laki-laki bermata sipit itu dengan penasaran.
"Hehe.. sebenarnya aku tidak beralasan apapun. Aku cuma berkata jujur." jawab Arya.
"Tidak mungkin?!" ucap laki-laki bermata sipit itu tiba-tiba saja matanya melotot.
"Kenapa sampai sekaget itu?" ucap Arya.
"Kalian terlambat ya? Payah.." potong seorang laki-laki berwajah tenang dan dingin yang duduk di sebelah laki-laki bermata sipit.
Jadi saat itu posisi duduk mereka bertiga adalah Arya di kiri, mata sipit di tengah, dan wajah kalem itu di kanan.
"Eh, apa kau bilang! Berani ya! Ngajakin berantem ya!!" tantang laki-laki bermata sipit yang merasa kesal.
Laki-laki kalem itu hanya menatap dingin saja ke arah laki-laki bermata sipit.
"Perhatian para junior semuanya! Kita hari ini kedatangan orang yang kemarin belum sempat diperkenalkan karena sedang sakit. Dan dia baru bisa hadir hari ini." kata seorang senior laki-laki melalui pengeras suara.
"Oohh.. iya juga. Kemarin kita belum tahu siapa wakil ketua OSIS kita." kata Arya dengan pelan.
"Dia adalah sang wakil ketua OSIS yang anggun dan cantik. Sindy Elma Riyanti!" sambung senior laki-laki itu.
"Wah-wah.. dikenalkan dengan cara seperti ini bukankah terlalu berlebihan?" ucap seorang senior perempuan dengan senyuman yang anggun diwajahnya.
"Hah? Dia kan?" ucap Arya dan si mata sipit.
"Kalian kenal dia?" tanya si wajah kalem.
"Dia yang jaga gerbang tadi?!!" ucap Arya dan si mata sipit dengan terkejut.
Ternyata itu adalah senior yang menjaga gerbang saat Arya dan si mata sipit terlambat.
"Halo semuanya, maaf kemarin saya tidak bisa hadir karena sakit. Tapi saya merasa sangat senang hari ini. Karena bisa bertemu dengan junior ku yang imut-imut." kata Sindy melalui pengeras suara.
Terlihat Sindy pun tersenyum dan menatap pada tempat paling belakang.
"Dia tersenyum kemari?! Jangan-jangan dia menyukaiku?!" ucap si mata sipit.
"Tidak, ingatlah kata pepatah, setiap ada perempuan yang tersenyum atau melambai ke arahmu. Pastikan nengok kebelakangmu dulu!" kata Arya.
"Pepatah darimana itu?" komentar si wajah kalem.
Kemudian Arya dan si mata sipit menengok kebelakang.
"Tidak ada siapa-siapa?!" ucap Arya dan si mata sipit.
"Kalau begitu.. kemungkinan memang benar dia menyukai salah satu diantara kita." sambung Arya berpikir ala detektif.
"Begitu rupanya!" sahut si mata sipit dengan kaget yang terlihat seperti dibuat-buat.
"Hei kalian jangan GR dulu. Perhatikan baik-baik pakaian kalian." ujar si wajah kalem.
"Memangnya kenapa dengan pakaian kami?" ucap Arya dan si mata sipit sambil melihat ke arah baju putih mereka.
Kemudian mereka melihat ke arah baju si wajah kalem dan ternyata si wajah kalem mengenakan baju batik khas sekolah. Begitu pula murid baru yang lainnya.
"Kalian semua.. mengkhianati kami!?" tukas Arya dan si mata sipit.
"Siapa yang kau sebut mengkhianati!? Kalian tidak baca tugas ospek nya ya. Kalian disuruh pakai pakaian khas sekolah kalian tapi bukan kaos. Itu sudah pasti batik kan!!" bentak si wajah kalem yang akhirnya kehilangan ketenangannya juga karena kesal.
"2 orang yang dibelakang! Yang pakai putih-putih! Maju kedepan!" suruh senior laki-laki melalui pengeras suara.

Catatan hari ini:
Yang kita pikir benar, belum tentu itu benar. Bacalah situasi dan rasakan dengan hati.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】