Memo, chapter 26 - Tetangga
Arya sampai dirumahnya. Dia mengganti pakaiannya dan langsung saja internetan di ponselnya. Tapi tiba-tiba saat sedang santai terdengar suara berisik dari luar. Arya keluar dan menengok ke kiri dan kanan. Dan ia pun menemukan kalau ternyata tetangga nya sedang membangun sesuatu.
"Oohh.. ada yang sedang membangun ternyata." ujar Arya sambil kembali masuk kedalam.
Tapi saat hendak masuk, langkah Arya terhenti karena ada seseorang yang memegang pundaknya.
"Apa ini, jangan-jangan mereka meminta jatah makan padaku?!" pikir Arya.
"Hei.. apa kamu punya minyak goreng?" tanya orang dibelakang Arya itu.
"Bahaya dah.. ternyata dia lebih berbahaya! Dia minta minyak goreng buat membuatku menjadi makannya. Dia mau menggorengku!" ujar Arya dalam hati.
"Ada apa dengan dia, kok dia malah gemetaran gini?" gumam orang yang mulai melepaskan tangannya dari pundak Arya.
"Aku mau minta minyak goreng sedikit saja buat ini." ujar orang itu sambil memperlihatkan sesuatu.
Arya mulai berbalik dan melihat pada orang yang kelihatannya adalah tukang kayu itu.
"Engsel?!" ucap Arya kaget melihat apa yang ada ditangan tukang kayu itu.
"Ya makanya aku butuh sedikit minyak goreng karena ini sudah mulai berkarat. Tapi sayang kalau dibuang." jelas tukang kayu itu.
"O-oh.. itu memang kelihatannya memang renyah sih kalau digoreng." sahut Arya.
"Digoreng?! Siapa yang mau menggoreng engsel!? Memangnya siapa yang mau memakan engsel goreng?!" bentak tukang kayu itu.
"Paman kan? Tadi katanya minta minyak goreng." jawab Arya dengan sedikit heran.
"Tidak lah! Aku minta minyak goreng buat pelumas alternatif, bukan buat masak." sahut tukang kayu.
"Yah.." ucap Arya.
"Kenapa kamu malah kecewa begitu!?" tanya tukang kayu masih jengkel.
"Padahal aku ingin lihat manusia pertama yang makan engsel goreng." jawab Arya.
"Siapa juga yang mau!" bentak tukang kayu.
Arya pun mengambilkan sedikit minyak goreng di dapur dan memberikannya pada tukang kayu itu.
Catatan hari ini:
Jika kamu sudah mulai berprasangka buruk, kemungkinan buruk yang akan terjadi akan menjadi semakin besar. Jadi selalu lah berprasangka baik agar jika terjadi sesuatu yang buruk kamu akan berpikir itu bukanlah akhir dari segalanya.
"Oohh.. ada yang sedang membangun ternyata." ujar Arya sambil kembali masuk kedalam.
Tapi saat hendak masuk, langkah Arya terhenti karena ada seseorang yang memegang pundaknya.
"Apa ini, jangan-jangan mereka meminta jatah makan padaku?!" pikir Arya.
"Hei.. apa kamu punya minyak goreng?" tanya orang dibelakang Arya itu.
"Bahaya dah.. ternyata dia lebih berbahaya! Dia minta minyak goreng buat membuatku menjadi makannya. Dia mau menggorengku!" ujar Arya dalam hati.
"Ada apa dengan dia, kok dia malah gemetaran gini?" gumam orang yang mulai melepaskan tangannya dari pundak Arya.
"Aku mau minta minyak goreng sedikit saja buat ini." ujar orang itu sambil memperlihatkan sesuatu.
Arya mulai berbalik dan melihat pada orang yang kelihatannya adalah tukang kayu itu.
"Engsel?!" ucap Arya kaget melihat apa yang ada ditangan tukang kayu itu.
"Ya makanya aku butuh sedikit minyak goreng karena ini sudah mulai berkarat. Tapi sayang kalau dibuang." jelas tukang kayu itu.
"O-oh.. itu memang kelihatannya memang renyah sih kalau digoreng." sahut Arya.
"Digoreng?! Siapa yang mau menggoreng engsel!? Memangnya siapa yang mau memakan engsel goreng?!" bentak tukang kayu itu.
"Paman kan? Tadi katanya minta minyak goreng." jawab Arya dengan sedikit heran.
"Tidak lah! Aku minta minyak goreng buat pelumas alternatif, bukan buat masak." sahut tukang kayu.
"Yah.." ucap Arya.
"Kenapa kamu malah kecewa begitu!?" tanya tukang kayu masih jengkel.
"Padahal aku ingin lihat manusia pertama yang makan engsel goreng." jawab Arya.
"Siapa juga yang mau!" bentak tukang kayu.
Arya pun mengambilkan sedikit minyak goreng di dapur dan memberikannya pada tukang kayu itu.
Catatan hari ini:
Jika kamu sudah mulai berprasangka buruk, kemungkinan buruk yang akan terjadi akan menjadi semakin besar. Jadi selalu lah berprasangka baik agar jika terjadi sesuatu yang buruk kamu akan berpikir itu bukanlah akhir dari segalanya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.