Memo, chapter 35 - Janji dan PR 2

Hari minggu pagi, Arya masih tertidur dikamarnya. Namun tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Suara ketukan yang keras akhirnya membuat Arya terbangun dari tidurnya.
"Permisi.. assalamu alaikum.." ucap seseorang dari pintu depan.
Dari suaranya sepertinya itu adalah perempuan. Arya bangun dan langsung menghampiri pintu depan.
"Ah siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini." gerutu Arya yang tadinya mau menghabiskan pagi dengan tidur hingga siang hari.
Arya membuka pintu dan melihat ada 2 gadis cantik di depan pintu rumahnya.
"Aaaahhh.. silau!!!" ucap Arya saat melihat mereka.
Kedua gadis itu duduk di ruang tamu. Yang satu terlihat cemberut, dan yang satu lagi terlihat memperhatikan seisi rumah dengan malu-malu.
"Jadi mau apa kalian datang ke rumahku?" tanya Arya pada gadis yang tak lain ada Alice dan Ani itu.
"Tidak sopan. Kamu tak tahu cara menerima tamu atau semacamnya ya. Lagipula rumah ini berantakan sekali." sahut Ani dengan wajah cemberut.
"Paling tidak tawari lah tamu mu minum terlebih dahulu sebelum ditanyakan maksud kedatangannya." sambung Ani berjalan menuju ke dapur.
"Maaf, aku memang jarang sekali menerima tamu." jawab Arya.
"K-kamu tinggal sendirian disini?" tanya Alice dengan malu-malu.
"Ya bisa dibilang begitu." sahut Arya.
"Apa kamu tidak kesepian?" tanya Alice lagi.
"Tidak juga. Mungkin aku sudah terlalu terbiasa sendirian." jawab Arya sambil melihat ke arah Ani.
"Hei kamu sedang apa disana?" tanya Arya pada Ani.
"Tentu saja sedang membuat teh. Karena kelihatannya kamu tidak punya kemauan untuk menjamu kami." jawab Ani.
"Haha.. maaf kalau begitu. Kamu jadi harus membuat tehmu sendiri." balas Arya.
"Kata siapa ini hanya untukku sendiri? Aku membuat ini tentu saja untuk nona Alice dan kamu juga." ujar Ani kemudian membawa 3 gelas teh manis ke ruang tamu.
Kemudian Ani menyajikan 3 gelas teh manis itu di atas meja.
"Aku tak menemukan teh celup jadi aku menggunakan teh bubuk. Dan juga aku tidak menemukan penyaring jadi.. maaf kalau nanti ada daun yang terminum, nona. Rumah ini benar-benar tak layak dihuni manusia." ujar Ani.
"Hahaha.. lah terus aku ini apa menurutmu?" ucap Arya sambil tersenyum malas.
"Tidak apa-apa kok. Ini pertama kalinya aku bertamu ke rumah laki-laki yang miskin. Jadi ini sedikit membuatku bersemangat." jawab Alice.
Mendengar kata 'miskin' membuat Arya langsung down.
"Terus kalian kesini mau apa?" tanya Arya.
"Hah? Apa kamu lupa, tentu saja kami kemari untuk mengajarimu tentang matematika." jawab Ani.
"Dari perkataanmu sepertinya kamu juga mau mengajariku juga." komentar Arya.
"Maaf, maksudku bukan kami, tapi nona Alice." sahut Ani.
"A-apa kamu sudah siap?" tanya Alice.
"Siap? Siap apa?" tanya Arya balik.
"Tentu saja siap belajar, dasar otak udang!" bentak Ani.
"Oohh.. ngobrol dong.." sahut Arya.
"Lah kamunya aja yang bego!" tambah Ani.

Arya kemudian mengambil buku matematikanya dan meletakannya diatas meja. Arya duduk dilantai karena tidak ada kursi yang tersisa.
"Hei kenapa kamu duduk dibawah begitu?" tanya Ani.
"Kamu lihat kan tidak ada kursi lagi. Makanya aku duduk dibawah." jawab Arya.
"Itu pasti hanya alasanmu saja. Kamu pasti mau mengintip rok nona Alice kan?" tukas Ani.
Alice memang saat ini mengenakan rok pendek diatas lutut dan duduk dikursi tepat dihadapan Arya.
"Hah? tidak lah! Aku tak pernah punya pikiran untuk mengintip rok seseorang." bantah Arya sambil melirik-lirik kecil ke arah paha Alice yang putih mulus.
"Apanya yang tidak! Lihat aja matamu itu jelalatan! Emang aku tidak lihat!" bentak Alice.
"Itu kan karena kamu malah ngingetin hal seperti itu! Mau bagaimanapun aku ini laki-laki normal tahu!" balas Arya.
Alice jadi malu dan menghimpitkan pahanya karena hal itu.
"Apa?" ucap Ani terlihat kesal.
"Ani.. sudah. Lagipula dia bilang dia tidak punya niatan mengintip kan?" ujar Alice.
"Tapi nona, apa nona tidak lihat tadi matanya itu..", "Ani.. kita kemari untuk mengajarinya matematika kan?" potong Alice pada perkataan Ani.
"Sebentar kalau begitu aku punya ide." ujar Arya sambil berdiri.
Arya mengambil beberapa bantal dari kamar kemudian menumpuknya hingga setinggi tempat duduk. Lalu Arya duduk diatasnya.
"Kalau begini beres kan?" sambung Arya.
"Ya.. kalau gitu tidak apa-apa." sahut Ani dengan wajah memerah.
Akhirnya mereka bisa belajar dengan normal setelahnya. Alice mengajari Arya dengan sabar walau terlihat malu-malu sedikit. Dan Ani membentak-bentak Arya karena kebodohannya yang tidak kunjung mengerti meski di jelaskan beberapa kali. Tak terasa sudah tengah hari. Alice dan Ani berpamitan.
"Wah.. terima kasih banyak untuk hari ini. Maaf aku menyusahkan kalian." ujar Arya sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya tidak apa-apa. Aku senang bisa dekat denganmu." ujar Alice.
"Hah?" ucap Arya sambil memiringkan kepalanya.
"Ti-tidak.. lupakan saja perkataanku yang barusan." sahut Alice.
"Ayo nona, kita harus segera pulang. Waktu kita sempit." ajak Ani.
"Baiklah." terima Alice.
Alice dan Ani pun pergi setelah berpamitan.
"Sial, aku lupa belum mandi. Kuharap mereka tidak menyadarinya." ujar Arya sambil menutup pintu.

Catatan hari ini:
Jika satu rencana gagal maka datanglah dengan rencana yang lain. Jangan pernah kehabisan akal.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】