Posts

Showing posts from July, 2015

Memo, chapter 64 - Menyampaikan 2

Waktu istirahat sudah hampir selesai, Arya masih belum menyampaikan pesan dari seniornya pada Alice dan Shinta. Arya pun tampak depresi duduk dikantin. "Aku harus memikirkan cara menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya langsung. Tapi bagaimana?" gumam Arya sambil menempelkan pipinya di meja kantin. "Woy Arya! Tumben kamu ada dikantin. Ada apa?" sapa Fajar. "Tolong jangan ganggu aku dulu. Aku sedang berpikir." sahut Arya. "Eh, memangnya kamu lagi mikirin apa sih? Tidak biasanya kamu kelihatan bingung banget." tanya Fajar. "Bukan urusanmu." jawab Arya dengan malas. "A-.. kenapa hari ini kau dingin banget padaku. Apa kau membenciku atau semacamnya?" tanya Fajar. "Tidak juga." jawab Arya sambil memegang dagu. "Dari jawabanmu yang singkat-singkat itu. Jelas banget kau membenciku." tukas Fajar. "Kalau kamu terus menggangguku seperti itu sudah pasti aku akan membencimu." sahut Arya dengan p...

VocaWorld, chapter 176 - Rencana dan Keterpaksaan

Di dalam dojo Gakupo, Miku dan yang lainnya sudah berkumpul. Tampak semuanya sudah hadir kecuali Ray dan Luka. "Mana nih orang yang ngumpulin kita? Dia yang nyuruh kita ngumpul, tapi dia sendiri malah telat." gerutu Miku yang tampak tidak sabar. "Sudahlah, tunggu dulu sebentar. Mungkin dia sedang mempersiapkan sesuatu dulu." sahut Meiko. "Mmm.. kenapa Meiko-san malah belain dia!" protes Miku sambil cemberut menggembungkan pipinya. "Ti-tidak kok. Aku tidak sedang membela siapapun." sanggah Meiko. "Oh ya, ngomong-ngomong Luka-oneesama kemana?" tanya Gumi. "Megurine-san tadi dia katanya mau pulang dulu ke rumahnya sebentar. Tapi kok aneh ya, dia belum datang juga." jawab Meiko. "Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu dengan Luka-tan. Biarkan saya pergi untuk menjemputnya." ujar Kamui langsung berdiri dan hendak keluar. "Tidak perlu. Sebentar lagi dia juga akan datang." ujar Ray yang ternyata sudah berada ...

Memo, chapter 63 - Menyampaikan

Saat istirahat, Arya pergi ke kelas X-3 untuk menemui Alice. Namun saat sampai di depan kelas X-3 Arya malah jadi ragu. Ia terlalu malu untuk masuk ke dalam kelas. "Ba-bagaimana ini? Aku tiba-tiba jadi gugup gini. Aku cuma perlu masuk kelas dan memberi tahu tuan puteri itu tentang kegiatan ekskul selanjutnya. Tapi.. kok rasanya berat banget.." ujar Arya dalam hati. Arya berdiri terdiam di depan pintu kelas X-3. Hal itu menarik perhatian semua murid kelas X-3 yang kebetulan ada didalam kelas. "Hei, laki-laki itu sedang apa ya berdiri di depan pintu sejak tadi?" ujar salah seorang siswi pada temannya. "Ja-jangan bilang dia sedang menunggu orang lewat buat malakin mereka." tukas teman siswi tadi. "Eh, jadi dia itu preman?" tanya siswi tadi. "Lah emang kamu tidak tahu. Dia kan yang waktu itu jahatin ketua OSIS." jawab temannya tersebut. "Eh, yang benar?" sahut siswi tadi. "Entah kenapa aku merasakan hawa dingin hendak...

VocaWorld, chapter 175 - Orang Yang Menghilang

Di dalam kamar yang tersoroti cahaya matahari senja, Gumi membaca buku yang ia temukan di pesawat Dante. Sambil bersandar ke ranjang, Gumi membaca buku tersebut dengan serius dan tampak sorot matanya memancarkan suatu kesedihan. "Aku tak menyangkanya sama sekali. Dia melalui banyak kesulitan sendirian." gumam Gumi saat membaca buku tersebut. Gumi terus membaca buku itu hingga ia dikejutkan dengan suara dari arah pintu kamar. Seseorang mengetuk pintu kamar tersebut. "Gumi-chan, segeralah turun. Makan malamnya sudah jadi nih." ujar Meiko. "Ya, sebentar.." sahut Gumi menutup buku yang dibacanya kemudian meletakannya di atas kasur. Gumi pun lekas keluar dari kamar, dan menuju ke arah ruang tengah untuk makan bersama yang lain. "Shiro-san belum kembali?" tanya Gumi yang tak melihat Ray di ruang tengah tersebut. "Benar juga, dia pergi kemana lagi?" ucap Meiko. "Sudahlah biarkan saja dia. Paling-paling besok juga dia balik lagi....

Memo, chapter 62 - Senior Junior 5

Saat istirahat, Arya dan teman-temannya berbincang-bincang di dalam kelas. Seperti biasanya Arya tidak keluar kelas saat istirahat dan malah membuka internet melalui ponsel pintarnya. "Sekarang lagi jamannya batu akik. Dimana-mana aku selalu melihat ada orang mengasah batu. Bahkan ayahku sendiri pun beberapa hari ini tidak bekerja karena sibuk menghampelas batu. Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hal ini?" ujar Fajar. "Peduli amat." sahut Digna. "Bukan urusanku." balas Arya yang sibuk dengan ponselnya. "Kejam banget! Apa begitu cara kalian memperlakukan teman kalian?" gerutu Fajar. "Tentu saja." sahut Digna. "Ya." balas Arya. Fajar pun tampak shock mendengarnya. "Kalian jahat! Uwaaa..." ucap Fajar keluar dari kelas dengan berlinang air mati. "Apa menurutmu kita terlalu kejam padanya?" tanya Digna. "Tidak kok. Sudah sejak pagi kita bahas batu akik terus. Apa tidak bosan coba? Padahal ki...

VocaWorld, chapter 174 - Perasaan Terpendam

Kamui melihat Luka yang sedang duduk di teras pinggir rumah. Kamui pun berjalan menghampiri Luka dengan berjinjit. "Hayo!!!" ucap Kamui mencoba mengejutkan Luka dari belakang. Luka pun terkejut dan kemudian merasa kesal. "Tuan samurai.. apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Luka sambil tersenyum kesal. "Haha.. emang apaan lagi? Tentu saja ngagetin Luka-tan biar kita makin akrab." jawab Kamui. "Makin akrab dari hongkong! Mana mungkin makin akrab kalau kerjaannya ngeselin terus!" gerutu Luka tampak kesal. "Tapi ada yang bilang jika dari benci itu bisa jadi cinta kan? Semakin ngeselin maka semakin berkesan." jelas Kamui dengan bergaya keren. "Ya, semakin berkesan bencinya." sahut Luka memalingkan wajahnya karena kesal. "Ray-kun, setidaknya katakanlah sesuatu untuk samurai bodoh ini." ujar Luka menoleh ke arah Ray. Tapi ternyata Ray sudah tidak ada ditempatnya. "Eh, kemana dia?" ucap Luka heran. ...

Memo, chapter 61 - Pengalihan

Pagi-pagi di sekolah, Arya tampak baru sampai di kelasnya dan lalu duduk di tempat duduknya. "Woy Arya, tumben waktu datangnya normal." sapa Fajar. "Hah? Emang waktu datang seperti apa yang tidak normal?" tanya Arya. "Ya kan kau biasanya datang kepagian, atau kalau tidak pasti kesiangan." sahut Fajar. "Ya sebenarnya aku punya beberapa alasan kenapa hal itu sering terjadi." kata Arya dalam hatinya. Beberapa saat kemudian datanglah Digna. "Aku mendengar kabar aneh sewaktu dalam perjalanan kemari." ujar Digna lalu duduk dikursinya. "Kabar aneh? Maksudnya?" tanya Arya. "Waktu hari sabtu kemarin ku dengar kamu menginap dengan seorang gadis di ruang ekskulmu." jawab Digna. “Be-be-beneran?!!” ucap Fajar terkejut. Arya yang juga mendengarnya pun tidak kalah terkejutnya dengan Fajar. Dengan tampak shock diwajahnya, Arya terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. "Lah malah nge-hang dia." komentar Fajar. ...

VocaWorld, chapter 173 - Memanggil

Ray dan Luka sampai di tempatnya profesor Kei. Luka mengetuk pintu dan memanggil-manggil beberapa kali hingga akhirnya dibukakan oleh profesor Kei. Saat pintu terbuka tampak  om-om tua itu seperti baru bangun tidur dan hanya mengenakan kemeja dan kolor saja. "Ah.. ada apa sih pagi-pagi begini sudah gangguin aja?" gerutu profesor Kei. "Oh.. selamat pagi kalau begitu.." ucap Luka dengan nada dingin dan menatap tajam. "Lah, kenapa melihatku seperti itu? Apa salahku?" tanya profesor Kei kaget ditatap seperti itu oleh Luka. "Lihatlah baik-baik jam berapa sekarang? Lagipula mana mungkin pagi hari mataharinya ada dibarat." ujar Ray nyerobot masuk kedalam. "Woy.. jangan asal masuk aja. Aku kan belum mengijinkan kamu masuk." balas profesor Kei. "Jadi kamu tidak akan mengijinkan kami masuk?" tanya Ray menoleh sambil menatap tajam. "Te-tentu saja akan kan." jawab profesor Kei. "Kalau begitu dimana masalahnya."...

Memo, chapter 60 - Puteri dan Sayembara

Arya terjebak diantara orang-orang elit. Sebagai satu-satunya yang berpakaian paling biasa, dia merasa sangat grogi. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat beberapa orang mengajaknya bicara. "Ada apa dengannya? Dia payah sekali dalam berkomunikasi. Tapi kenapa dia malah ikut dalam sayembara ini?" komentar Ani yang berjalan sambil memperhatikan Arya. "Bagaimana ini.. aku tidak tahu kompetisi apa ini, tapi aku malah mengikutinya. Lalu aku harus bagaimana nih?" ujar Arya dalam hatinya. "Jadi menurutmu siapa diantara mereka yang akan memenangkan kompetisi ini, putraku?" tanya seorang laki-laki tua yang memegang tongkat jalan. "Ah, aku melihat seorang anak yang cukup menarik disana." jawab laki-laki tampan berambut pirang disebelah laki-laki tua itu. "Seorang anak yang menarik katamu? Memangnya ada anak-anak yang datang ke sayembara ini?" tanya laki-laki tua itu pada laki-laki tampan tadi. Kemudian laki-laki tua itu terkejut saat m...

Memo, chapter 59 - Menyelamatkan Puteri 3

Arya dengan gugup berdiri dengan tubuh berkeringat cukup banyak sekali. Ani pun memandangnya penuh curiga karena hal itu. "Kenapa diam saja? Ayo cepat katakan alasanmu ada disini!" suruh Ani menatap tajam pada Arya. "A-aku.. sebenarnya.." ujar Arya dengan ragu-ragu. "Sangat mencurigakan.." ucap Ani semakin curiga. "Oh iya.. aku kemari karena ada urusan.. urusan.." jawab Arya yang masih bingung dengan kelanjutannya. "Urusan apa ya? Aduh.. aku sama sekali tidak bisa memikirkan urusan apa yang dilakukan di rumah besar seperti ini." ujar Arya dalam hatinya terlihat kebingungan. "Hmm.. jangan bilang kamu hendak mengikuti kompetisi memperebutkan nona muda." tukas Ani. "Hah? Kompetisi?" ucap Arya sedikit terkejut. "Kompetisi katanya?" ujar Shinta dan Sindy bersamaan. "Jadi bukan?" tanya Ani menatap tajam pada Arya. "Y-ya.. kompetisi itu. Aku memang hendak mengikutinya." jawab Arya den...

VocaWorld, chapter 172 - Tentang Rahasia dan Earophoid

Pesawat Dante berhasil ditembak jatuh oleh pesawat dari pasukan pemerintah. Pesawat-pesawat tempur milik pemerintah tampak kembali ke markas mereka dikota sebelah. "Benar-benar mengejutkan. Mereka bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dulu kemampuan manuver mereka tidaka ada apa-apanya." ujar seseorang yang berdiri di sebuah gang. "Tuan Lucifer harusnya mendengarkan penjelasan saya sejak awal. Maka hal seperti takkan terjadi." kata seorang laki-laki berjaket coklat disebelahnya. Ternyata itu adalah Dante dan June yang tampak tidak apa-apa. Bahkan mereka tidak tergores sedikitpun walau pesawat mereka telah dijatuhkan dengan sangat keras. "Haha.. tak apa. Lagipula sudah lama aku tidak merasa terhibur seperti ini. Pesawat itu juga sudah terlalu tua. Sudah saatnya aku minta yang baru." ujar Dante sambil berjalan meninggalkan tempat itu. "Eh, memangnya beli dimana sih pesawat gituan?" tanya June sambil mengikuti Dante. "Lah emangnya kau m...