VocaWorld, chapter 172 - Tentang Rahasia dan Earophoid
Pesawat Dante berhasil ditembak jatuh oleh pesawat dari pasukan pemerintah. Pesawat-pesawat tempur milik pemerintah tampak kembali ke markas mereka dikota sebelah.
"Benar-benar mengejutkan. Mereka bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dulu kemampuan manuver mereka tidaka ada apa-apanya." ujar seseorang yang berdiri di sebuah gang.
"Tuan Lucifer harusnya mendengarkan penjelasan saya sejak awal. Maka hal seperti takkan terjadi." kata seorang laki-laki berjaket coklat disebelahnya.
Ternyata itu adalah Dante dan June yang tampak tidak apa-apa. Bahkan mereka tidak tergores sedikitpun walau pesawat mereka telah dijatuhkan dengan sangat keras.
"Haha.. tak apa. Lagipula sudah lama aku tidak merasa terhibur seperti ini. Pesawat itu juga sudah terlalu tua. Sudah saatnya aku minta yang baru." ujar Dante sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Eh, memangnya beli dimana sih pesawat gituan?" tanya June sambil mengikuti Dante.
"Lah emangnya kau mau apa setelah tahu?" tanya balik Dante.
"Mau beli lah. Saya juga kan pengen punya pesawat yang seperti itu. Pasti nanti bakalan keren." jawab June.
"Begitukah. Tapi sayangnya itu tidak dijual. Sebenarnya pesawat itu adalah potongan kecil dari pesawat milik ayah." jelas Dante sambil tersenyum terpaksa.
"Hah? Apa maksud tuan?" tanya June tampak bingung.
"Lah, kau bukannya sudah pernah bicara dengan ayah? Masa tidak tahu sih?" sahut Dante.
"Iya sih pernah. Tapi saya tak melihat ada pesawat apapun di sekitar istana beliau?" jawab June.
"Dasar bodoh, kalau nyari keluar istana sampai kapanpun kau gak bakal nemu tuh pesawat. Karena istana itu sendirilah pesawatnya." kata Dante.
"Eeehhh!!!?? Sebesar itu?! Istana yang sebesar kota itu adalah sebuah pesawat!!?" ucap June terkejut.
"Ya, begitulah." sahut Dante.
"Kalau beliau memang punya peralatan tempur sebesar itu, kenapa beliau tidak turun tangan saja melawan The White Light. Pasti semuanya bakal jadi mudah." ujar June.
"Kalau memang semudah itu, pasti sudah dari dulu dilakukannya. Tapi ayah tidak bisa melakukannya." jelas Dante.
"Tidak bisa? Kenapa?" tanya June penasaran.
"Karena itu punya resiko. Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang kita harus mencari tempat untuk markas baru kita." jawab Dante.
"Ba-baiklah, tuan.." sahut June.
Kemudian Dante dan June pun menghilang dibalik bayang-bayang gang tersebut. Sementara itu di kediaman keluarga Miku, Ray masih duduk di teras samping rumah.
"Jadi bagaimana?" ucap Ray.
"Benar-benar menakjubkan. Pesawat nya benar-benar canggih. Pesawat milik Dante-kun pun berhasil mereka jatuhkan." lapor Luka yang tampak baru kembali.
Luka saat itu dalam mode perubahan.
"Hmm.. begitukah." sahut Ray.
"Kamu tidak terlihat terkejut sama sekali, Ray-kun. Jangan bilang kalau kamu juga sudah menduganya." tukas Luka.
"Ya begitulah." jawab Ray.
"Otakmu itu benar-benar mengerikan." komentar Luka.
"Tapi kurasa Dante takkan bisa dikalahkan begitu saja." ujar Ray.
"Walau kamu berkata seperti itu pun, tapi faktanya pesawat Dante-kun sudah dihancurkan saat ini. Jadi saat ini sepertinya kita bisa lega." balas Luka.
"Lega? Sesungguhnya pekerjaan kita masih belum selesai. Sudah kubilang kan, Dante takkan bisa dikalahkan semudah itu." sanggah Ray.
"Lalu menurut Ray-kun bagaimana? Tidak mungkin ada yang bisa selamat dari serangan seperti itu kan." kata Luka sambil duduk disebelah Ray.
"Tidak, menurutku itu mungkin saja bagi Dante. Masalahnya dia kan 'Pangeran Kegelapan'. Lagipula kalau dia benar-benar sudah tewas, harusnya dinding apinya menghilang. Tapi buktinya itu masih ada kan." jelas Ray.
"Oh benar juga. Aku sampai lupa." sahut Luka.
"Keluar dari pesawat disaat-saat terakhir sebelum pesawatnya meledak bukanlah hal yang sulit baginya." ujar Ray.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian, tapi aku kembali dari jogging ku sesuai perintahmu di email." kata Gumi yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Ray dan Luka.
"G-Gumi-chan!? Sejak kapan kamu ada disana?" tanya Luka terkejut.
"Baru saja sih." jawab Gumi.
"Baguslah kamu sudah kembali, Megupo-san. Bagaimana dengan Gakupo-san??" tanya Ray pada Gumi.
"Hmm.. aku tidak melihatnya saat dalam perjalanan kemari. Kupikir dia sudah duluan. Jadi dia belum sampai ya?" sahut Gumi.
Di kediaman Gakupo, ternyata saat itu Kamui masih tampak duduk bertapa didalam dojo nya. Tapi anehnya terdengar suara dengkuran dari mulutnya.
Sore harinya, Miku dan yang lainnya berkumpul di kediaman Gakupo. Sepertinya mereka hendak melakukan rapat lagi.
"Baguslah semuanya sudah berkumpul. Mari kita bahas tentang rencana kita selanjutnya." ujar Ray.
"Tunggu sebentar, sebelum itu bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Kamui.
"Ya, apa?" sahut Ray.
"Kenapa kita rapatnya disini? Bukankah harusnya di rumah Meiko-dono?" tanya Kamui.
Ray pun hanya diam dan menatap dingin pada Kamui.
"Eh, kenapa malah diam?" ujar Kamui bingung.
"Dasar bodoh! Ini semua kan salahmu. Siapa suruh tidur hingga sore. Kalau kamu tidak tidur kita sudah pasti rapat di rumahnya Miku sejak tadi." gerutu Gumi.
"Ma-maaf.. kalau gitu.." sahut Kamui.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya Miku.
"Hmm.. karena pemerintah sudah mulai bergerak, maka kita juga harus mulai serius saat ini." jawab Ray.
"Lah, jadi selama ini menurutmu kami itu main-main?" tukas Kaito.
"Bukan kalian, tapi aku." jelas Ray.
"Eh?" ucap Miku dan yang lainnya.
"Eeehhhh!!!???" ucap semuanya tampak kaget.
"Ja-ja-jadi selama ini kau cuma main-main! Padahal kami mati-matian buat ngalahin tuh bocah!" bentak Kaito.
"Ya soalnya lawan kita pun tidak serius sama sekali." jawab Ray.
"Tidak serius? Maksudmu?" tanya Luka.
"Dante, saat ini sudah berada di tingkatan yang jauh berbeda dari kalian. Ditambah dia juga mendapat suplai energi yang cukup selama dia mengikuti kegiatan klub nya saat sekolah dulu." jelas Ray.
"Hmm.. jadi maksudmu kita takkan bisa mengalahkannya meskipun kita berusaha." ujar Luka.
"Ya, begitulah." sahut Ray.
"Lalu bagaimana denganku. Aku sudah memiliki dance baru kan? Dengan dance baruku aku pasti bisa mengalahkannya." ujar Miku.
"Iya kalau satu lawan satu. Tapi masalahnya, itu takkan berguna dalam pertempuran skala besar." balas Ray.
"Benar juga.." ucap Kamui.
Tampak Kamui dan Gumi mengerti apa yang dimaksud oleh Ray tadi.
"Lalu apa gunanya dong aku mempelajari dance itu?" tanya Miku.
"Hmm.. apa ya kira-kira? Kasih tahu tidak ya?" balas Ray.
"Dasar ngeselin!! Suka banget sih bikin orang penasaran!!!" bentak Miku karena kesal.
"Kalau begitu siapa yang bisa mengalahkan Dante-kun?" tanya Luka.
"Sudah pasti kan. Dia adalah Angin Senja." jawab Ray.
"Eh, aku?" ucap Gumi agak terkejut mendengarnya.
"Tapi bukannya Gumi-chan sekarang levelnya berada jauh dibawah Dante-kun? Mana mungkin Gumi-chan bisa menandinginya." tukas Luka.
"Itu karena dia masih memakai earophoid versi 2.0." jawab Ray.
Luka langsung terdiam karena yang dikatakan oleh Ray memang benar.
"Meskipun tidak ada power limit, tapi kapasitas penyimpanan dan kemampuan processing nya sudah pasti berbeda kan?" tambah Ray.
"Benar juga. Tapi kalau begitu, kenapa Dante-kun bisa melampaui kita meskipun dia memakai versi yang sama dengan kita?" tanya Luka lagi.
"Oh aku belum mengatakannya ya? Sebenarnya milik Dante juga tipe khusus seperti milik Megupo-san dan Gakupo-san. Tapi sedikit berbeda dengan pendahulunya tersebut." jawab Ray.
"A-apa?" ucap Luka.
Yang lainnya pun ikut terbengong mendengar jawaban Ray tersebut.
"Itu adalah tipe khusus yang sedikit berbeda. Type 666. Itulah yang dipakai Dante saat ini." sambung Ray.
"Type 666!?" ucap Gumi.
"Memangnya apa bedanya tipe tadi dengan yang dimiliki oleh Gumi-chan?" tanya Luka.
"Harusnya dengan melihatnya juga kalian sudah tahu kan. Kalian sudah menghadapi Dante berkali-kali, kalian harusnya sudah sadar apa bedanya." jawab Ray.
"Jangan sama kan kami denganmu lah. Kami mana mungkin mengetahuinya hanya dengan melihat." gerutu Miku.
"Untuk saat ini itu tidak terlalu penting. Sekarang kita fokus saja pada rencana mengalahkan Dante." ujar Ray.
"Baiklah jika Ray-kun berkata begitu. Lalu apa rencana kita untuk mengalahkan Dante-kun?" tanya Luka.
"Pertama kita harus bersiap-siap basah." jawab Ray.
"Hah?" ucap semuanya terlihat bengong.
Sementara disuatu tempat, tampak Dante dan June berjalan disebuah lorong. Lorong dengan dinding, lantai, dan langit-langitnya terbuat dari metal. Tidak berapa lama mereka pun sampai disebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan tersebut terlihat sangat mewah. Tampak banyak hiasan disana-sini. Dan terlihat juga banyak properti-properti bergaya eropa disetiap sudut ruangan.
"Wah.. hebat. Beda jauh sekali dengan milik tuan." ujar June.
"Diamlah! Aku memang sengaja tidak menghias milikku karena itu hanya mengganggu." sahut Dante.
"Tapi kupikir kalau dihias bakalan lebih bagus. Hmm.. guci antik dari china, lukisan dari eropa, dan berbagai macam hiasan lainnya." kata June.
"Kau bodoh ya, JB. Coba bayangkan saat aku melakukan manuver nanti, bisa pada rusak semua tuh pada kebanting." ujar Dante.
"Oh, benar juga. Hehehe.. aku lupa." sahut June tertawa bodoh.
"Ehem!" seorang perempuan berambut pirang yang duduk diatas singgasana berdehem.
Dante dan June pun terkejut dan baru menyadari kalau mereka malah sibuk sendiri dan tidak menganggap sosok gadis berambut pirang yang tak lain adalah Leviathan tersebut.
"Mau apa kalian kemari? Kalau cuma mau ngobrol doang cepat keluar dari sini sekarang!" ujar Leviathan sambil menatap kesal.
"Tak usah galak begitu kan, Leviathan. Aku kemari buat numpang berteduh sebentar." jawab Dante dengan santai.
"Hah? Kenapa mesti disini? Bukankah kamu punya ark sendiri?" tanya Leviathan dengan dingin.
"Sebenarnya, pesawatku berhasil ditembak jatuh oleh militer pemerintah." jawab Dante.
"H-hah!!?? Ba-bagaimana bisa!!??" tanya Leviathan tampak kaget.
"Tentu saja bisa. Soalnya saat ini mereka lebih hebat daripada yang sebelumnya." jawab Dante.
"Hei-hei ini bukan saatnya untuk terpesona pada kemampuan musuh kan?" gerutu Leviathan.
"Haha.. maaf." sahut Dante.
"Aahh.. lalu kalian ceritanya mau numpang tinggal disini dulu nih. Apa kalian yakin? Kenapa tidak di tempat si Belphegor saja?" tanya Leviathan yang merasa sedikit risih.
"Haha.. menurutmu bagaimana caranya kami bisa ke tempat nya si kacamata itu? Ark miliknya melayang ribuan kilometer diudara. Sementara pesawatku kan sudah dijatuhkan." jawab Dante.
"Eh, be-benar juga." sahut Leviathan baru sadar.
"Oy-oy.. jangan bilang kalau kau lupa, hah." tukas Dante sambil menatap curiga.
Leviathan hanya bisa tersenyum paksa, menyembunyikan kesalahannya.
"Pokoknya untuk sementara waktu biarkanlah kami menumpang disini untuk sementara waktu sampai aku mendapatkan ark pengganti." pinta Dante.
"Ya-ya, aku mengerti. Silahkan tinggal disini. Dasar anak kesayangan ayah.." sahut Leviathan.
Di tempat lain, Miku tampak sedang berjalan sendirian. Wajahnya nampak kesal.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan si Shiro sialan itu. Untuk apa sebenarnya dia mengajarkan dance baru kalau pada akhirnya tidak digunakan. Padahal sebelumnya jelas banget aku bisa ngalahin tuh Pangeran Kegelapan dengan dance itu. Apa maksudnya kalau aku tak bisa menang melawannya?" gerutu Miku dengan wajah cemberut.
Miku terus berjalan menyusuri sungai dan berpapasan dengan seseorang yang tampak misterius berjubah hitam.
"Senang bertemu denganmu, Onee-san.." ucap orang berjubah itu sambil lewat disamping Miku.
Miku terkejut dan menoleh kebelakang untuk melihat orang yang melewatinya tersebut. Namun saat menengok, sosok orang tersebut sudah menghilang.
"Si-siapa yang tadi itu? Kenapa dia me-memanggilku 'onee-san'?" ujar Miku dalam hati bertanya-tanya.
Miku terlihat sangat terkejut, dan diam terpaku di sore yang cerah itu. Sementara itu Ray dan Luka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat menggunakan mobil milik Luka.
"Apa Ray-kun yakin dia benar-benar bisa melakukannya?" tanya Luka pada Ray disebelahnya.
"Tentu saja. Dia pasti bisa. Orang itu bukan hanya sekedar om-om mesum, tapi dia juga profesor." jawab Ray.
"Tidak, yang kumaksud bukan profesor Kei, tapi Gumi-chan." sahut Luka.
"Oh, lain kali harus lebih jelas dong. Kalau begitu jawabannya tetap sama, 'tentu saja'. Lagipula, yang dulu pernah membuat Dante takluk, memang Megupo-san." balas Ray.
"Hah?" ucap Luka kurang mengerti.
"Sudahlah, tak ada gunanya memikirkannya sekarang. Saat ini kita fokus saja pada peningkatan earophoid nya." ujar Ray.
"Ah baiklah.." sahut Luka.
Ray tampak memperhatikan ke luar jendela mobil. Luka menatap ke arah Ray dengan mata penasaran dan curiga.
"Ada sesuatu yang selalu membuatku bertanya-tanya selama ini tentang Ray-kun. Bagaimana dia bisa tahu segala hal tentang earophoid? Sebenarnya siapa dirimu sebenarnya, Ray-kun?" gumam Luka.
To be continued..
"Benar-benar mengejutkan. Mereka bisa melakukan hal seperti itu. Padahal dulu kemampuan manuver mereka tidaka ada apa-apanya." ujar seseorang yang berdiri di sebuah gang.
"Tuan Lucifer harusnya mendengarkan penjelasan saya sejak awal. Maka hal seperti takkan terjadi." kata seorang laki-laki berjaket coklat disebelahnya.
Ternyata itu adalah Dante dan June yang tampak tidak apa-apa. Bahkan mereka tidak tergores sedikitpun walau pesawat mereka telah dijatuhkan dengan sangat keras.
"Haha.. tak apa. Lagipula sudah lama aku tidak merasa terhibur seperti ini. Pesawat itu juga sudah terlalu tua. Sudah saatnya aku minta yang baru." ujar Dante sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Eh, memangnya beli dimana sih pesawat gituan?" tanya June sambil mengikuti Dante.
"Lah emangnya kau mau apa setelah tahu?" tanya balik Dante.
"Mau beli lah. Saya juga kan pengen punya pesawat yang seperti itu. Pasti nanti bakalan keren." jawab June.
"Begitukah. Tapi sayangnya itu tidak dijual. Sebenarnya pesawat itu adalah potongan kecil dari pesawat milik ayah." jelas Dante sambil tersenyum terpaksa.
"Hah? Apa maksud tuan?" tanya June tampak bingung.
"Lah, kau bukannya sudah pernah bicara dengan ayah? Masa tidak tahu sih?" sahut Dante.
"Iya sih pernah. Tapi saya tak melihat ada pesawat apapun di sekitar istana beliau?" jawab June.
"Dasar bodoh, kalau nyari keluar istana sampai kapanpun kau gak bakal nemu tuh pesawat. Karena istana itu sendirilah pesawatnya." kata Dante.
"Eeehhh!!!?? Sebesar itu?! Istana yang sebesar kota itu adalah sebuah pesawat!!?" ucap June terkejut.
"Ya, begitulah." sahut Dante.
"Kalau beliau memang punya peralatan tempur sebesar itu, kenapa beliau tidak turun tangan saja melawan The White Light. Pasti semuanya bakal jadi mudah." ujar June.
"Kalau memang semudah itu, pasti sudah dari dulu dilakukannya. Tapi ayah tidak bisa melakukannya." jelas Dante.
"Tidak bisa? Kenapa?" tanya June penasaran.
"Karena itu punya resiko. Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang kita harus mencari tempat untuk markas baru kita." jawab Dante.
"Ba-baiklah, tuan.." sahut June.
Kemudian Dante dan June pun menghilang dibalik bayang-bayang gang tersebut. Sementara itu di kediaman keluarga Miku, Ray masih duduk di teras samping rumah.
"Jadi bagaimana?" ucap Ray.
"Benar-benar menakjubkan. Pesawat nya benar-benar canggih. Pesawat milik Dante-kun pun berhasil mereka jatuhkan." lapor Luka yang tampak baru kembali.
Luka saat itu dalam mode perubahan.
"Hmm.. begitukah." sahut Ray.
"Kamu tidak terlihat terkejut sama sekali, Ray-kun. Jangan bilang kalau kamu juga sudah menduganya." tukas Luka.
"Ya begitulah." jawab Ray.
"Otakmu itu benar-benar mengerikan." komentar Luka.
"Tapi kurasa Dante takkan bisa dikalahkan begitu saja." ujar Ray.
"Walau kamu berkata seperti itu pun, tapi faktanya pesawat Dante-kun sudah dihancurkan saat ini. Jadi saat ini sepertinya kita bisa lega." balas Luka.
"Lega? Sesungguhnya pekerjaan kita masih belum selesai. Sudah kubilang kan, Dante takkan bisa dikalahkan semudah itu." sanggah Ray.
"Lalu menurut Ray-kun bagaimana? Tidak mungkin ada yang bisa selamat dari serangan seperti itu kan." kata Luka sambil duduk disebelah Ray.
"Tidak, menurutku itu mungkin saja bagi Dante. Masalahnya dia kan 'Pangeran Kegelapan'. Lagipula kalau dia benar-benar sudah tewas, harusnya dinding apinya menghilang. Tapi buktinya itu masih ada kan." jelas Ray.
"Oh benar juga. Aku sampai lupa." sahut Luka.
"Keluar dari pesawat disaat-saat terakhir sebelum pesawatnya meledak bukanlah hal yang sulit baginya." ujar Ray.
"Maaf mengganggu kemesraan kalian, tapi aku kembali dari jogging ku sesuai perintahmu di email." kata Gumi yang tiba-tiba sudah ada di hadapan Ray dan Luka.
"G-Gumi-chan!? Sejak kapan kamu ada disana?" tanya Luka terkejut.
"Baru saja sih." jawab Gumi.
"Baguslah kamu sudah kembali, Megupo-san. Bagaimana dengan Gakupo-san??" tanya Ray pada Gumi.
"Hmm.. aku tidak melihatnya saat dalam perjalanan kemari. Kupikir dia sudah duluan. Jadi dia belum sampai ya?" sahut Gumi.
Di kediaman Gakupo, ternyata saat itu Kamui masih tampak duduk bertapa didalam dojo nya. Tapi anehnya terdengar suara dengkuran dari mulutnya.
Sore harinya, Miku dan yang lainnya berkumpul di kediaman Gakupo. Sepertinya mereka hendak melakukan rapat lagi.
"Baguslah semuanya sudah berkumpul. Mari kita bahas tentang rencana kita selanjutnya." ujar Ray.
"Tunggu sebentar, sebelum itu bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Kamui.
"Ya, apa?" sahut Ray.
"Kenapa kita rapatnya disini? Bukankah harusnya di rumah Meiko-dono?" tanya Kamui.
Ray pun hanya diam dan menatap dingin pada Kamui.
"Eh, kenapa malah diam?" ujar Kamui bingung.
"Dasar bodoh! Ini semua kan salahmu. Siapa suruh tidur hingga sore. Kalau kamu tidak tidur kita sudah pasti rapat di rumahnya Miku sejak tadi." gerutu Gumi.
"Ma-maaf.. kalau gitu.." sahut Kamui.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya Miku.
"Hmm.. karena pemerintah sudah mulai bergerak, maka kita juga harus mulai serius saat ini." jawab Ray.
"Lah, jadi selama ini menurutmu kami itu main-main?" tukas Kaito.
"Bukan kalian, tapi aku." jelas Ray.
"Eh?" ucap Miku dan yang lainnya.
"Eeehhhh!!!???" ucap semuanya tampak kaget.
"Ja-ja-jadi selama ini kau cuma main-main! Padahal kami mati-matian buat ngalahin tuh bocah!" bentak Kaito.
"Ya soalnya lawan kita pun tidak serius sama sekali." jawab Ray.
"Tidak serius? Maksudmu?" tanya Luka.
"Dante, saat ini sudah berada di tingkatan yang jauh berbeda dari kalian. Ditambah dia juga mendapat suplai energi yang cukup selama dia mengikuti kegiatan klub nya saat sekolah dulu." jelas Ray.
"Hmm.. jadi maksudmu kita takkan bisa mengalahkannya meskipun kita berusaha." ujar Luka.
"Ya, begitulah." sahut Ray.
"Lalu bagaimana denganku. Aku sudah memiliki dance baru kan? Dengan dance baruku aku pasti bisa mengalahkannya." ujar Miku.
"Iya kalau satu lawan satu. Tapi masalahnya, itu takkan berguna dalam pertempuran skala besar." balas Ray.
"Benar juga.." ucap Kamui.
Tampak Kamui dan Gumi mengerti apa yang dimaksud oleh Ray tadi.
"Lalu apa gunanya dong aku mempelajari dance itu?" tanya Miku.
"Hmm.. apa ya kira-kira? Kasih tahu tidak ya?" balas Ray.
"Dasar ngeselin!! Suka banget sih bikin orang penasaran!!!" bentak Miku karena kesal.
"Kalau begitu siapa yang bisa mengalahkan Dante-kun?" tanya Luka.
"Sudah pasti kan. Dia adalah Angin Senja." jawab Ray.
"Eh, aku?" ucap Gumi agak terkejut mendengarnya.
"Tapi bukannya Gumi-chan sekarang levelnya berada jauh dibawah Dante-kun? Mana mungkin Gumi-chan bisa menandinginya." tukas Luka.
"Itu karena dia masih memakai earophoid versi 2.0." jawab Ray.
Luka langsung terdiam karena yang dikatakan oleh Ray memang benar.
"Meskipun tidak ada power limit, tapi kapasitas penyimpanan dan kemampuan processing nya sudah pasti berbeda kan?" tambah Ray.
"Benar juga. Tapi kalau begitu, kenapa Dante-kun bisa melampaui kita meskipun dia memakai versi yang sama dengan kita?" tanya Luka lagi.
"Oh aku belum mengatakannya ya? Sebenarnya milik Dante juga tipe khusus seperti milik Megupo-san dan Gakupo-san. Tapi sedikit berbeda dengan pendahulunya tersebut." jawab Ray.
"A-apa?" ucap Luka.
Yang lainnya pun ikut terbengong mendengar jawaban Ray tersebut.
"Itu adalah tipe khusus yang sedikit berbeda. Type 666. Itulah yang dipakai Dante saat ini." sambung Ray.
"Type 666!?" ucap Gumi.
"Memangnya apa bedanya tipe tadi dengan yang dimiliki oleh Gumi-chan?" tanya Luka.
"Harusnya dengan melihatnya juga kalian sudah tahu kan. Kalian sudah menghadapi Dante berkali-kali, kalian harusnya sudah sadar apa bedanya." jawab Ray.
"Jangan sama kan kami denganmu lah. Kami mana mungkin mengetahuinya hanya dengan melihat." gerutu Miku.
"Untuk saat ini itu tidak terlalu penting. Sekarang kita fokus saja pada rencana mengalahkan Dante." ujar Ray.
"Baiklah jika Ray-kun berkata begitu. Lalu apa rencana kita untuk mengalahkan Dante-kun?" tanya Luka.
"Pertama kita harus bersiap-siap basah." jawab Ray.
"Hah?" ucap semuanya terlihat bengong.
Sementara disuatu tempat, tampak Dante dan June berjalan disebuah lorong. Lorong dengan dinding, lantai, dan langit-langitnya terbuat dari metal. Tidak berapa lama mereka pun sampai disebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan tersebut terlihat sangat mewah. Tampak banyak hiasan disana-sini. Dan terlihat juga banyak properti-properti bergaya eropa disetiap sudut ruangan.
"Wah.. hebat. Beda jauh sekali dengan milik tuan." ujar June.
"Diamlah! Aku memang sengaja tidak menghias milikku karena itu hanya mengganggu." sahut Dante.
"Tapi kupikir kalau dihias bakalan lebih bagus. Hmm.. guci antik dari china, lukisan dari eropa, dan berbagai macam hiasan lainnya." kata June.
"Kau bodoh ya, JB. Coba bayangkan saat aku melakukan manuver nanti, bisa pada rusak semua tuh pada kebanting." ujar Dante.
"Oh, benar juga. Hehehe.. aku lupa." sahut June tertawa bodoh.
"Ehem!" seorang perempuan berambut pirang yang duduk diatas singgasana berdehem.
Dante dan June pun terkejut dan baru menyadari kalau mereka malah sibuk sendiri dan tidak menganggap sosok gadis berambut pirang yang tak lain adalah Leviathan tersebut.
"Mau apa kalian kemari? Kalau cuma mau ngobrol doang cepat keluar dari sini sekarang!" ujar Leviathan sambil menatap kesal.
"Tak usah galak begitu kan, Leviathan. Aku kemari buat numpang berteduh sebentar." jawab Dante dengan santai.
"Hah? Kenapa mesti disini? Bukankah kamu punya ark sendiri?" tanya Leviathan dengan dingin.
"Sebenarnya, pesawatku berhasil ditembak jatuh oleh militer pemerintah." jawab Dante.
"H-hah!!?? Ba-bagaimana bisa!!??" tanya Leviathan tampak kaget.
"Tentu saja bisa. Soalnya saat ini mereka lebih hebat daripada yang sebelumnya." jawab Dante.
"Hei-hei ini bukan saatnya untuk terpesona pada kemampuan musuh kan?" gerutu Leviathan.
"Haha.. maaf." sahut Dante.
"Aahh.. lalu kalian ceritanya mau numpang tinggal disini dulu nih. Apa kalian yakin? Kenapa tidak di tempat si Belphegor saja?" tanya Leviathan yang merasa sedikit risih.
"Haha.. menurutmu bagaimana caranya kami bisa ke tempat nya si kacamata itu? Ark miliknya melayang ribuan kilometer diudara. Sementara pesawatku kan sudah dijatuhkan." jawab Dante.
"Eh, be-benar juga." sahut Leviathan baru sadar.
"Oy-oy.. jangan bilang kalau kau lupa, hah." tukas Dante sambil menatap curiga.
Leviathan hanya bisa tersenyum paksa, menyembunyikan kesalahannya.
"Pokoknya untuk sementara waktu biarkanlah kami menumpang disini untuk sementara waktu sampai aku mendapatkan ark pengganti." pinta Dante.
"Ya-ya, aku mengerti. Silahkan tinggal disini. Dasar anak kesayangan ayah.." sahut Leviathan.
Di tempat lain, Miku tampak sedang berjalan sendirian. Wajahnya nampak kesal.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan si Shiro sialan itu. Untuk apa sebenarnya dia mengajarkan dance baru kalau pada akhirnya tidak digunakan. Padahal sebelumnya jelas banget aku bisa ngalahin tuh Pangeran Kegelapan dengan dance itu. Apa maksudnya kalau aku tak bisa menang melawannya?" gerutu Miku dengan wajah cemberut.
Miku terus berjalan menyusuri sungai dan berpapasan dengan seseorang yang tampak misterius berjubah hitam.
"Senang bertemu denganmu, Onee-san.." ucap orang berjubah itu sambil lewat disamping Miku.
Miku terkejut dan menoleh kebelakang untuk melihat orang yang melewatinya tersebut. Namun saat menengok, sosok orang tersebut sudah menghilang.
"Si-siapa yang tadi itu? Kenapa dia me-memanggilku 'onee-san'?" ujar Miku dalam hati bertanya-tanya.
Miku terlihat sangat terkejut, dan diam terpaku di sore yang cerah itu. Sementara itu Ray dan Luka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat menggunakan mobil milik Luka.
"Apa Ray-kun yakin dia benar-benar bisa melakukannya?" tanya Luka pada Ray disebelahnya.
"Tentu saja. Dia pasti bisa. Orang itu bukan hanya sekedar om-om mesum, tapi dia juga profesor." jawab Ray.
"Tidak, yang kumaksud bukan profesor Kei, tapi Gumi-chan." sahut Luka.
"Oh, lain kali harus lebih jelas dong. Kalau begitu jawabannya tetap sama, 'tentu saja'. Lagipula, yang dulu pernah membuat Dante takluk, memang Megupo-san." balas Ray.
"Hah?" ucap Luka kurang mengerti.
"Sudahlah, tak ada gunanya memikirkannya sekarang. Saat ini kita fokus saja pada peningkatan earophoid nya." ujar Ray.
"Ah baiklah.." sahut Luka.
Ray tampak memperhatikan ke luar jendela mobil. Luka menatap ke arah Ray dengan mata penasaran dan curiga.
"Ada sesuatu yang selalu membuatku bertanya-tanya selama ini tentang Ray-kun. Bagaimana dia bisa tahu segala hal tentang earophoid? Sebenarnya siapa dirimu sebenarnya, Ray-kun?" gumam Luka.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.