Memo, chapter 63 - Menyampaikan
Saat istirahat, Arya pergi ke kelas X-3 untuk menemui Alice. Namun saat sampai di depan kelas X-3 Arya malah jadi ragu. Ia terlalu malu untuk masuk ke dalam kelas.
"Ba-bagaimana ini? Aku tiba-tiba jadi gugup gini. Aku cuma perlu masuk kelas dan memberi tahu tuan puteri itu tentang kegiatan ekskul selanjutnya. Tapi.. kok rasanya berat banget.." ujar Arya dalam hati.
Arya berdiri terdiam di depan pintu kelas X-3. Hal itu menarik perhatian semua murid kelas X-3 yang kebetulan ada didalam kelas.
"Hei, laki-laki itu sedang apa ya berdiri di depan pintu sejak tadi?" ujar salah seorang siswi pada temannya.
"Ja-jangan bilang dia sedang menunggu orang lewat buat malakin mereka." tukas teman siswi tadi.
"Eh, jadi dia itu preman?" tanya siswi tadi.
"Lah emang kamu tidak tahu. Dia kan yang waktu itu jahatin ketua OSIS." jawab temannya tersebut.
"Eh, yang benar?" sahut siswi tadi.
"Entah kenapa aku merasakan hawa dingin hendak membunuhku dari dalam sana. Waduh.." gumam Arya saat melihat tatapan tajam dari para siswi yang ada di dalam kelas.
"I-itu bukannya Arya?" ucap Alice yang baru kembali dari kantin bersama Ani.
"Benar juga. Sedang apa dia disana?" kata Ani.
"Jangan bilang dia sedang nungguin nona Alice buat menggodanya. Kalau begitu takkan kubiarkan." pikir Ani menatap curiga pada Arya.
"Arya, sedang apa kamu disini? Nungguin aku?" sapa Alice menghampiri Arya.
"Alice!?" ucap Arya kaget melihat Alice.
Alice memiringkan kepalanya.
"Tumben kamu kemari.." ujar Alice terlihat senang.
"Ah sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini sesuatu yang penting." balas Arya dengan sedikit malu-malu.
Melihat ekspresi malu-malu Arya, Alice pun jadi merasa malu.
"Sudah kuduga dia berniat menembak nona Alice. Takkan kubiarkan." ucap Ani menatap dengan tatapan kesal.
Ani langsung menghampiri mereka berdua, lalu menarik Arya menjauh dari Alice.
"Kesini sebentar dasar laki-laki penggoda." ucap Ani sambil menarik kerah baju Arya.
"A-ada apa?" tanya Arya kebingungan.
"Ada apa katamu! Harusnya aku yang bertanya ada apa. Berani-beraninya kau mau menembak nona Alice, hah!" bentak Ani.
"Hah? Menembak? Siapa yang mau menembak? Aku tidak bawa pistol atau senjata apapun buat nembak. Eh, tunggu.. apa mungkin bawa ya." ujar Arya.
"Sudah jangan banyak alasan. Laki-laki playboy sepertimu tidak pantas mendekati nona Alice. Jadi aku sarankan agar kamu menjauhi beliau. Itupun jika kamu masih sayang nyawa." ancam Ani.
Alice memperhatikan dari kejauhan dengan wajah bingung.
"Ini sepertinya buruk. Dia tampak salah sangka padaku. Bagaimana cara meluruskannya nih?" gumam Arya.
Ani pun berjalan kembali menghampiri Alice.
"Tapi kalau begini aku jadi sulit untuk menyampaikan pesan dari senior Sindy. Aku harus segera mencari cara untuk menjelaskannya." pikir Arya.
Arya tampak terdiam dan termenung. Dia berpikir keras bagaimana caranya dia menyelesaikan kesalahpahaman Ani.
"Oh iya, kenapa tidak lewat SMS saja." ucap Arya mengeluarkan ponselnya.
Namun setelah mengeluarkannya, Arya malah terdiam.
"Sial!! Aku lupa kalau aku tidak punya nomor HP nya!!!" teriak Arya dalam hatinya.
Ani melihat dengan tatapan aneh pada Arya yang kebingungan saat itu.
Catatan hari ini:
Jika sulit untuk mengatakannya cobalah untuk menuliskannya.
"Ba-bagaimana ini? Aku tiba-tiba jadi gugup gini. Aku cuma perlu masuk kelas dan memberi tahu tuan puteri itu tentang kegiatan ekskul selanjutnya. Tapi.. kok rasanya berat banget.." ujar Arya dalam hati.
Arya berdiri terdiam di depan pintu kelas X-3. Hal itu menarik perhatian semua murid kelas X-3 yang kebetulan ada didalam kelas.
"Hei, laki-laki itu sedang apa ya berdiri di depan pintu sejak tadi?" ujar salah seorang siswi pada temannya.
"Ja-jangan bilang dia sedang menunggu orang lewat buat malakin mereka." tukas teman siswi tadi.
"Eh, jadi dia itu preman?" tanya siswi tadi.
"Lah emang kamu tidak tahu. Dia kan yang waktu itu jahatin ketua OSIS." jawab temannya tersebut.
"Eh, yang benar?" sahut siswi tadi.
"Entah kenapa aku merasakan hawa dingin hendak membunuhku dari dalam sana. Waduh.." gumam Arya saat melihat tatapan tajam dari para siswi yang ada di dalam kelas.
"I-itu bukannya Arya?" ucap Alice yang baru kembali dari kantin bersama Ani.
"Benar juga. Sedang apa dia disana?" kata Ani.
"Jangan bilang dia sedang nungguin nona Alice buat menggodanya. Kalau begitu takkan kubiarkan." pikir Ani menatap curiga pada Arya.
"Arya, sedang apa kamu disini? Nungguin aku?" sapa Alice menghampiri Arya.
"Alice!?" ucap Arya kaget melihat Alice.
Alice memiringkan kepalanya.
"Tumben kamu kemari.." ujar Alice terlihat senang.
"Ah sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini sesuatu yang penting." balas Arya dengan sedikit malu-malu.
Melihat ekspresi malu-malu Arya, Alice pun jadi merasa malu.
"Sudah kuduga dia berniat menembak nona Alice. Takkan kubiarkan." ucap Ani menatap dengan tatapan kesal.
Ani langsung menghampiri mereka berdua, lalu menarik Arya menjauh dari Alice.
"Kesini sebentar dasar laki-laki penggoda." ucap Ani sambil menarik kerah baju Arya.
"A-ada apa?" tanya Arya kebingungan.
"Ada apa katamu! Harusnya aku yang bertanya ada apa. Berani-beraninya kau mau menembak nona Alice, hah!" bentak Ani.
"Hah? Menembak? Siapa yang mau menembak? Aku tidak bawa pistol atau senjata apapun buat nembak. Eh, tunggu.. apa mungkin bawa ya." ujar Arya.
"Sudah jangan banyak alasan. Laki-laki playboy sepertimu tidak pantas mendekati nona Alice. Jadi aku sarankan agar kamu menjauhi beliau. Itupun jika kamu masih sayang nyawa." ancam Ani.
Alice memperhatikan dari kejauhan dengan wajah bingung.
"Ini sepertinya buruk. Dia tampak salah sangka padaku. Bagaimana cara meluruskannya nih?" gumam Arya.
Ani pun berjalan kembali menghampiri Alice.
"Tapi kalau begini aku jadi sulit untuk menyampaikan pesan dari senior Sindy. Aku harus segera mencari cara untuk menjelaskannya." pikir Arya.
Arya tampak terdiam dan termenung. Dia berpikir keras bagaimana caranya dia menyelesaikan kesalahpahaman Ani.
"Oh iya, kenapa tidak lewat SMS saja." ucap Arya mengeluarkan ponselnya.
Namun setelah mengeluarkannya, Arya malah terdiam.
"Sial!! Aku lupa kalau aku tidak punya nomor HP nya!!!" teriak Arya dalam hatinya.
Ani melihat dengan tatapan aneh pada Arya yang kebingungan saat itu.
Catatan hari ini:
Jika sulit untuk mengatakannya cobalah untuk menuliskannya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.