VocaWorld, chapter 175 - Orang Yang Menghilang

Di dalam kamar yang tersoroti cahaya matahari senja, Gumi membaca buku yang ia temukan di pesawat Dante. Sambil bersandar ke ranjang, Gumi membaca buku tersebut dengan serius dan tampak sorot matanya memancarkan suatu kesedihan.
"Aku tak menyangkanya sama sekali. Dia melalui banyak kesulitan sendirian." gumam Gumi saat membaca buku tersebut.
Gumi terus membaca buku itu hingga ia dikejutkan dengan suara dari arah pintu kamar. Seseorang mengetuk pintu kamar tersebut.
"Gumi-chan, segeralah turun. Makan malamnya sudah jadi nih." ujar Meiko.
"Ya, sebentar.." sahut Gumi menutup buku yang dibacanya kemudian meletakannya di atas kasur.
Gumi pun lekas keluar dari kamar, dan menuju ke arah ruang tengah untuk makan bersama yang lain.
"Shiro-san belum kembali?" tanya Gumi yang tak melihat Ray di ruang tengah tersebut.
"Benar juga, dia pergi kemana lagi?" ucap Meiko.
"Sudahlah biarkan saja dia. Paling-paling besok juga dia balik lagi." sahut Luka.
"Luka-oneesama masih ngambek dengan yang tadi pagi?" tanya Gumi.
"Ti-tidak kok! Ngapain coba aku ngambek terus. Entar aku cepat tua." sanggah Luka.
"Tapi dia itu memang ngeselin banget orangnya. Tak aneh kalau Megurine-senpai sampai ngambek gitu. Dan dia juga suka muncul dan hilang seenaknya aja. Kalau sampai muncul dihadapanku bakalan aku pukul dia." gerutu Miku dengan wajah kesal.
"Jangan begitulah, Hatsune. Kau kan perempuan, jangan jadi brutal seperti Meiko." ujar Kaito sambil membawa panci.
"Be-benar juga. Aku harus menjadi perempuan yang elegan, seperti seorang putri. Kaito-senpai gitu lho." kata Miku sambil sok imut.
"Kau bilang apa!!??" ucap Meiko langsung menjambak kerah baju Kaito.
"Tu-tunggu, entar supnya tumpah.." kata Kaito.
Baju Meiko pun terkena tumpahan sup dari panci yang dibawa Kaito.
"Tuh kan.." ucap Kaito setelah itu terjadi.
"Cih, berani juga kau menumpahkan sup dibajuku, hah!" bentak Meiko sambil menarik-narik kerah baju Kaito.
"He-hentikan, Meiko. Entar supnya tumpah lagi." ujar Kaito.
Meiko pun berhenti lalu melepaskan Kaito.
"Aku mau ganti pakaian dulu." ucap Meiko dengan kesal menuju ke kamarnya.
Saat berjalan ke kamarnya, Meiko mendengar seseorang sedang menggunakan kamar mandi. Suara air dari shower terdengar jelas sehingga membuat Meiko penasaran.
"Siapa yang sedang mandi?" ucap Meiko membuka pintu kamar mandi.
Meiko pun melihat ke arah shower, namun disana tidak ada satu orang pun. Shower pun tampak sudah mati.
"A-apa maksudnya ini? Ja-jangan bilang ini.. hantu?" ucap Meiko mulai ketakutan.
Meiko menutup kembali pintu kamar mandinya kemudian lekas menuju ke kamarnya dan menutup pintu. Wajahnya jelas sekali dia tampak ketakuan.
Sementara Miku dan yang lainnya menunggu Meiko kembali supaya mereka bisa mulai makan.
"Lho, Meiko-san kok lama bener cuma ganti baju doang." gerutu Miku.
"Hmm.. benar juga. Apa dia lama milih baju atau mungkin dandan dulu." sahut Kaito.
"Rin-chan.. Len-kun.. coba panggilkan Meiko-chan kemari." suruh Luka.
"Eh.. kenapa mesti kami? Kenapa tidak Miku-nee saja? Miku-nee kan selalu nganggur." protes Len.
"Tidak sopan sekali, siapa memangnya yang lagi nganggur! Aku lagi ngapel tahu!" seru Miku.
"Eh???" ucap Rin dan Len yang malah bingung karena tidak mengerti.
Yang lainnya pun juga terlihat bingung dan tak tahu apa maksudnya.
"Kenapa kalian malah bengong gitu! Masa tidak ngerti ngAPEL dan ngANGGUR!" bentak Miku.
"Oohh.. gitu ya." ujar semuanya.
"Kalian ngeselin! Kalian sama aja dengan Shiro Ray!" bentak Miku karena kesal.
"Mari kita kesampingkan dulu masalah lelucon gagal Miku-chan. Rin-chan, Len-kun, cepat panggil Meiko-chan dikamarnya." suruh Luka.
"Baiklah.." jawab Rin dan Len dengan malas.
Rin dan Len pun pergi dari ruang tengah menuju ke kamar Meiko. Saat sampai di depan pintu kamar Meiko, mereka pun mengetuk pintu.
"Meiko-nee! Cepetan ganti baju nya. Udah ditungguin tuh sama yang lainnya." panggil Len.
"Jangan dandan dulu lah, kita kan bukan mau jalan-jalan." tambah Rin.
Pintu pun terbuka dan nampaklah Meiko yang sudah berganti pakaian keluar dengan wajah yang pucat. Rin dan Len heran melihat Meiko saat itu.
"Kenapa Meiko-nee?" tanya Len.
"Ti-tidak apa-apa. Maaf lama. Ayo kita segera kembali ke ruang tengah." jawab Meiko dengan lemas.
Mereka bertiga pun kembali ke ruang tengah dan kemudian memulai makan malam mereka bersama yang lainnya.

Sudah tengah malam, tapi Ray tak terlihat juga. Luka terlihat cemas duduk di sofa di ruang tengah. Sambil melihat ke jendela dia menatap teras pinggir rumah tempat ia biasa duduk berdua bersama Ray.
"Dia belum pulang juga. Apa aku terlalu keras padanya? Harusnya aku tidak mengatakan itu padanya. Mungkin sekarang dia kembali menyendiri dan lagi-lagi hanya melihat kami dari jauh. Memberikan bantuan tanpa sepengetahuan kami." gumam Luka dengan wajah sedih.
"Luka-oneesama belum tidur?" tanya Gumi yang tampak terbangun untuk ke toilet.
"Ya, aku khawatir pada Ray-kun." jawab Luka dengan jujur.
"Oh.. Shiro-san ya. Hmm.. waktu dia pergi dia bilang padaku, kalau-kalau Luka-oneesama bertanya ia pergi kemana, maka aku harus menjawab kalau dia pergi ke tempat 'pasangan-somplak' atau apalah itu." balas Gumi.
"Pasangan somplak???" ucap Luka sedikit bingung.
"Ya itulah yang dia katakan padaku. Sudah ya aku mau tidur lagi. Luka-oneesama jangan tidur terlalu malam ya." ujar Gumi.
"Iya, Gumi-chan." sahut Luka.
Gumi pun kembali ke kamarnya. Luka kembali berpikir tentang maksud dari perkataan Ray.
"Oh.. maksudnya mereka ya. Kenapa aku bisa lupa. Satu-satunya pasangan yang sedikit aneh kenalan Ray-kun kan cuma mereka." ujar Luka baru ingat tentang sesuatu.
Luka pun tersenyum seperti sudah merasa lega dalam hatinya. Walau tidak diketahui olehnya Ray sedang berada di atap memandang langit malam berawan.
"Senang rasanya sekali-kali menyendiri seperti ini. Melihat langit malam. Menghitung bintang-bintang. Walau itu percuma. Karena, sampai pagi pun, waktu takkan pernah cukup untuk menghitung seluruhnya. Diantara cahaya yang begitu banyaknya, aku akan bersembunyi dibalik bayangan awan." ujar Ray sambil tiduran di atap.
Ray pun mengingat sesuatu di dalam lamunannya. Sesosok orang yang samar-samar, memakai jaket hitam bertudung dan tersenyum ke arahnya.
"Besok, akan ku mulai rencananya. Aku tak boleh gagal." sambung Ray dengan wajah serius.
Sementara didalam kamarnya Gumi tampak sedang membaca buku. Buku yang sama dengan yang dibacanya siang tadi.
"Gumi-chan, cepatlah tidur. Tidak baik lho begadang itu. Ingat kata bang haji Rh*ma Ir*m*." ujar Meiko yang terbangun.
"Maaf, tapi sebentar lagi saja. Aku sedang dibagian yang pentingnya nih." jawab Gumi dengan lemah.
"Tapi matamu kelihatan udah ngantuk banget tuh. Jangan dipaksain, entar malah pusing lho." bujuk Meiko.
"Iya deh, bentar lagi." sahut Gumi.
"Emang itu buku apa sih?" tanya Meiko penasaran.
"Hmm.. bisa dibilang, ini sesuatu yang penting buatku.." jawab Gumi.
"Ooh.. tapi walau begitu, tidak seharusnya sampai mengganggu jam tidurmu kan?" ucap Meiko.
"Ma-maaf.. tapi bentar lagi aja deh." jawab Gumi lagi.
"Ya, baiklah. Awas lho kalau bohong." ujar Meiko.
"Iya." sahut Gumi.
Meiko pun kembali tidur, sementar Gumi lanjut baca. Gumi tampak serius membaca buku tersebut. Dia seperti tidak ingin melewatkan satu katapun dalam buku itu.

Pagi hari setelah itu. Ray seperti biasa sudah duduk di teras pinggir rumah sambil bakar ikan. Miku yang kebetulan bangun pagi dikejutkan oleh bau sesuatu yang terbakar di halaman samping rumah.
"Shiro Ray..!!" ucap Miku dengan geram saat memergoki Ray.
Ray hanya menoleh dengan santai dan menatap dangan tatapan polos seperti tak tahu apa-apa.
"Apa-apaan dengan wajah tak berdosamu itu, hah! Membuatku kesal saja!!" bentak Miku sambil menunjuk-nunjuk wajah Ray.
Ray hanya memiringkan kepalanya seakan tak mengerti apa yang dimaksud oleh Miku.
"Jangan berpura-pura bodoh!" bentak Miku sambil mencoba memukul Ray.
Namun Ray menghindarinya.
"Jangan menghindar!!!" pekik Miku.
"Tapi kalau aku tidak menghindar, aku pasti kena pukul kan." sahut Ray dengan santai.
"Justru aku memukulmu biar kena tahu!" balas Miku.
"Oh.. kenapa tidak bilang dari awal." ujar Ray.
"Memangnya kalau aku bilang dulu, kamu akan membiarkanku memukulmu?" tanya Miku.
"Tidak sih." jawab Ray.
"Ka-.. kalau begitu tidak ada gunanya kan memberitahumu juga!" bentak Miku lagi.
"Ohh.. begitu ya.." sahut Ray.
"Kau mempermainkanku!" ucap Miku.
"Pagi-pagi sudah bertengkar saja. Kalian ini benar-benar akrab ya." komentar Meiko yang baru bangun.
"Selamat pagi, tuan rumah. Tumben bangunnya keduluan oleh Hatsune-san." sahut Ray.
Meiko menuju ke arah dapur.
"Aku akan membuatkan sarapan. Oh ya, kemarin kamu kemana sih? Kok tidak ikut makan malam dengan kami?" tanya Meiko saat berada didalam dapur.
"Kemarin aku ada disini kok. Bukankah Sakine-san masuk kamar mandi saat itu? Untung saja saat itu aku masuk bak mandi." jawab Ray.
"Eh??? Tunggu sebentar.. eeeehhhh!!!??" ucap Meiko bingung bercampur kaget.
"Kenapa?" tanya Miku pada Meiko.
"Ti-ti-tidak ada apa-apa kok." jawab Meiko tampak wajahnya memerah saat nongol dari dapur.
"Hmm.. sepertinya terjadi sesuatu." ujar Miku terlihat curiga.
"Jadi itu bukan hantu. Entah kenapa aku merasa lega. Tapi.. rasanya ada yang aneh. Kok bisa aku tidak menyadarinya ada disana. Kalau dia memang benar ada di bak mandi, harusnya aku bisa menyadarinya. Setidaknya dari bayangannya. Tapi kenapa?" pikir Meiko.
"Bukankah kemarin juga Gakupo-san tidak hadir, kenapa tidak ada yang mempersalahkannya?" tanya Ray.
"Oh benar juga, aku benar-benar lupa tentangnya." jawab Meiko
Di depan dojonya, Kamui bersin tepat saat dibicarakan oleh Ray dan Meiko.
"Sepertinya saya kena flu nih. Sudah dari semalam saya disini." ujar Kamui.
Kembali ke rumah Miku tampak setelah menyelesaikan makannya, Ray pun berdiri.
"Kalau semuanya sudah bangun dan sarapan, suruh mereka kumpul di dojo Gakupo-san. Kita akan segera membahas rencana kita selanjutnya." ujar Ray.
"Seenaknya saja nyuruh-nyuruh kami. Sampaikan saja sendiri." gerutu Miku.
"Aku juga inginnya begitu, tapi ada sesuatu yang harus kulakukan. Jadi urusan memberitahukan mereka aku serahkan padamu, Hatsune-san." balas Ray.
Ray pun pergi menuju ke tempat Kamui. Sementara Miku tampak kesal.
"Dasar dia itu seenaknya saja." gerutu Miku tampak kesal.
"Selamat pagi kalian.." ujar Luka baru bangun.
"Oh selamat pagi Megurine-senpai." sahut Miku dari arah dapur.
"Selamat pagi, Megurine-san. Oh ya, barusan ada Shiro-san lho." ujar Meiko dari dapur.
"Eh Ray-kun?" sahut Luka sambil masuk ke dapur.
"Ya, seperti biasa dia duduk di teras samping rumah dan sarapan ikan bakar." jawab Meiko.
"Ooh.. jadi sekarang dia dimana?" tanya Luka.
"Hmm.. sebenarnya dia sudah pergi lagi." jawab Meiko.
"Eh, kemana?" tanya Luka sedikit terkejut.
"Ke tempatnya samurai. Dia benar-benar seenaknya. Datang dan pergi begitu saja kayak angin." jawab Miku yang masuk ke dapur dan membuka kulkas.
"Begitukah. Kenapa dia tidak menyapaku kalau memang ada disini?" ucap Luka dengan suara pelan.
Wajah luka terlihat tersenyum, namun senyumannya terlihat dipaksakan. Karena sorot matanya nampak sedih.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】