Memo, chapter 59 - Menyelamatkan Puteri 3
Arya dengan gugup berdiri dengan tubuh berkeringat cukup banyak sekali. Ani pun memandangnya penuh curiga karena hal itu.
"Kenapa diam saja? Ayo cepat katakan alasanmu ada disini!" suruh Ani menatap tajam pada Arya.
"A-aku.. sebenarnya.." ujar Arya dengan ragu-ragu.
"Sangat mencurigakan.." ucap Ani semakin curiga.
"Oh iya.. aku kemari karena ada urusan.. urusan.." jawab Arya yang masih bingung dengan kelanjutannya.
"Urusan apa ya? Aduh.. aku sama sekali tidak bisa memikirkan urusan apa yang dilakukan di rumah besar seperti ini." ujar Arya dalam hatinya terlihat kebingungan.
"Hmm.. jangan bilang kamu hendak mengikuti kompetisi memperebutkan nona muda." tukas Ani.
"Hah? Kompetisi?" ucap Arya sedikit terkejut.
"Kompetisi katanya?" ujar Shinta dan Sindy bersamaan.
"Jadi bukan?" tanya Ani menatap tajam pada Arya.
"Y-ya.. kompetisi itu. Aku memang hendak mengikutinya." jawab Arya dengan wajah gugup.
"Apa maksudnya?! Kompetisi apa?! Kenapa aku malah mengiyakannya!? Padahal aku tidak tahu itu kompetisi apa! Bisa gawat nih jadinya!" gerutu Arya dalam hatinya.
Ani pun mengantarkan Arya masuk ke dalam rumah. Di dalam begitu megah. Sudah bagaikan sebuah istana kerajaan. Disana terlihat banyak laki-laki berjas sangat rapi. Dan rambut dan dandanan mereka terlihat sangatlah berbeda dengan Arya yang bahkan tidak menyisir rambutnya dan hanya memakai seragam sekolah yang sudah kusut.
"Aaaaa!!!?? Kelihatannya kompetisi nya elit banget!! Aku sama sekali tidak cocok ada disini!!!" ujar Arya dalam hati merasa panik tapi berusaha mempertahankan ekspresi nya agar tetap tenang.
Salah seorang dari tamu tampak mendekati Arya dengan cara berjalan yang elegan.
"Apa yang sedang dilakukan oleh bocah SMA ini disini? Ingin mengikuti sayembara juga?" sapa laki-laki berjas putih dengan rambut pirang dan terlihat sangat tampan itu.
"Y-ya.. begitulah.." jawab Arya.
"Haha.. begitukah.. semoga beruntung.." ujar laki-laki itu sambil menepuk-nepuk pundak Arya.
"Y-ya.. terima kasih.." sahut Arya.
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkannya. Arya menjadi pucat karena perhatian semua orang di ruangan itu tertuju padanya.
"Sepertinya ini jadi semakin ribet. Mereka sepertinya merasa kesal sekali padaku." gumam Arya.
"Kalau begitu selamat berjuang. Aku mau kembali ke dapur untuk kembali menyiapkan hidangan untuk para tamu." ujar Ani.
"Woy jangan tinggalkan aku! Kumohon!!" pekik Arya dalam hatinya.
Sementara itu di taman, Sindy dan Shinta mengitari rumah sambil sembunyi-sembunyi. Namun kemudian ditaman itu terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun putih dan begitu cantik duduk di sebuah pondok kecil di taman di pinggir rumah.
"Ada seorang putri cantik?!!" ucap Shinta dan Sindy terkejut.
"Eh, siapa itu?" ucap gadis cantik yang sedang duduk di taman itu.
"Sial kita ketahuan!!?" kata Shinta dalam hati mulai panik.
Putri itu mulai melirik ke kiri dan ke kanan mencari darimana sumber suara yang mengejutkannya itu. Dan saat dia menoleh ke arah Shinta dan Sindy, terlihatlah kalau putri itu ternyata adalah Alice.
"Alice?!" ucap Sindy keluar dari persembunyiannya.
"Se-senior Sindy." kata Alice saat melihat Sindy.
"Apa tidak apa-apa kita menunjukkan diri kita, senior?" tanya Shinta
"Tak apa kok, neng Shinta. Dia adalah anggota baru ekskul sastra yang dibilang oleh Arya." jawab Sindy.
"Eh, dia?! Tuan putri ini!?" ucap Shinta kaget.
"Beneran!!!??" sambung Shinta semakin kaget,
Catatan hari ini:
Suatu kesalahpahaman itu mirip dengan benang kusut, kalau tidak segera diluruskan maka akan semakin kusut.
"Kenapa diam saja? Ayo cepat katakan alasanmu ada disini!" suruh Ani menatap tajam pada Arya.
"A-aku.. sebenarnya.." ujar Arya dengan ragu-ragu.
"Sangat mencurigakan.." ucap Ani semakin curiga.
"Oh iya.. aku kemari karena ada urusan.. urusan.." jawab Arya yang masih bingung dengan kelanjutannya.
"Urusan apa ya? Aduh.. aku sama sekali tidak bisa memikirkan urusan apa yang dilakukan di rumah besar seperti ini." ujar Arya dalam hatinya terlihat kebingungan.
"Hmm.. jangan bilang kamu hendak mengikuti kompetisi memperebutkan nona muda." tukas Ani.
"Hah? Kompetisi?" ucap Arya sedikit terkejut.
"Kompetisi katanya?" ujar Shinta dan Sindy bersamaan.
"Jadi bukan?" tanya Ani menatap tajam pada Arya.
"Y-ya.. kompetisi itu. Aku memang hendak mengikutinya." jawab Arya dengan wajah gugup.
"Apa maksudnya?! Kompetisi apa?! Kenapa aku malah mengiyakannya!? Padahal aku tidak tahu itu kompetisi apa! Bisa gawat nih jadinya!" gerutu Arya dalam hatinya.
Ani pun mengantarkan Arya masuk ke dalam rumah. Di dalam begitu megah. Sudah bagaikan sebuah istana kerajaan. Disana terlihat banyak laki-laki berjas sangat rapi. Dan rambut dan dandanan mereka terlihat sangatlah berbeda dengan Arya yang bahkan tidak menyisir rambutnya dan hanya memakai seragam sekolah yang sudah kusut.
"Aaaaa!!!?? Kelihatannya kompetisi nya elit banget!! Aku sama sekali tidak cocok ada disini!!!" ujar Arya dalam hati merasa panik tapi berusaha mempertahankan ekspresi nya agar tetap tenang.
Salah seorang dari tamu tampak mendekati Arya dengan cara berjalan yang elegan.
"Apa yang sedang dilakukan oleh bocah SMA ini disini? Ingin mengikuti sayembara juga?" sapa laki-laki berjas putih dengan rambut pirang dan terlihat sangat tampan itu.
"Y-ya.. begitulah.." jawab Arya.
"Haha.. begitukah.. semoga beruntung.." ujar laki-laki itu sambil menepuk-nepuk pundak Arya.
"Y-ya.. terima kasih.." sahut Arya.
Kemudian laki-laki itu pergi meninggalkannya. Arya menjadi pucat karena perhatian semua orang di ruangan itu tertuju padanya.
"Sepertinya ini jadi semakin ribet. Mereka sepertinya merasa kesal sekali padaku." gumam Arya.
"Kalau begitu selamat berjuang. Aku mau kembali ke dapur untuk kembali menyiapkan hidangan untuk para tamu." ujar Ani.
"Woy jangan tinggalkan aku! Kumohon!!" pekik Arya dalam hatinya.
Sementara itu di taman, Sindy dan Shinta mengitari rumah sambil sembunyi-sembunyi. Namun kemudian ditaman itu terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun putih dan begitu cantik duduk di sebuah pondok kecil di taman di pinggir rumah.
"Ada seorang putri cantik?!!" ucap Shinta dan Sindy terkejut.
"Eh, siapa itu?" ucap gadis cantik yang sedang duduk di taman itu.
"Sial kita ketahuan!!?" kata Shinta dalam hati mulai panik.
Putri itu mulai melirik ke kiri dan ke kanan mencari darimana sumber suara yang mengejutkannya itu. Dan saat dia menoleh ke arah Shinta dan Sindy, terlihatlah kalau putri itu ternyata adalah Alice.
"Alice?!" ucap Sindy keluar dari persembunyiannya.
"Se-senior Sindy." kata Alice saat melihat Sindy.
"Apa tidak apa-apa kita menunjukkan diri kita, senior?" tanya Shinta
"Tak apa kok, neng Shinta. Dia adalah anggota baru ekskul sastra yang dibilang oleh Arya." jawab Sindy.
"Eh, dia?! Tuan putri ini!?" ucap Shinta kaget.
"Beneran!!!??" sambung Shinta semakin kaget,
Catatan hari ini:
Suatu kesalahpahaman itu mirip dengan benang kusut, kalau tidak segera diluruskan maka akan semakin kusut.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.