Memo, chapter 60 - Puteri dan Sayembara

Arya terjebak diantara orang-orang elit. Sebagai satu-satunya yang berpakaian paling biasa, dia merasa sangat grogi. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa saat beberapa orang mengajaknya bicara.
"Ada apa dengannya? Dia payah sekali dalam berkomunikasi. Tapi kenapa dia malah ikut dalam sayembara ini?" komentar Ani yang berjalan sambil memperhatikan Arya.
"Bagaimana ini.. aku tidak tahu kompetisi apa ini, tapi aku malah mengikutinya. Lalu aku harus bagaimana nih?" ujar Arya dalam hatinya.
"Jadi menurutmu siapa diantara mereka yang akan memenangkan kompetisi ini, putraku?" tanya seorang laki-laki tua yang memegang tongkat jalan.
"Ah, aku melihat seorang anak yang cukup menarik disana." jawab laki-laki tampan berambut pirang disebelah laki-laki tua itu.
"Seorang anak yang menarik katamu? Memangnya ada anak-anak yang datang ke sayembara ini?" tanya laki-laki tua itu pada laki-laki tampan tadi.
Kemudian laki-laki tua itu terkejut saat melihat Arya diantara para laki-laki yang berusia 30 tahunan itu.
"Ya-yang benar saja!? Apa yang sedang dilakukan oleh anak itu disana?" ucap laki-laki tua itu.
Arya tampak gugup berdiri sambil celingukan karena cemas. Sementara di taman di sebuah pondok kecil.
"Apa kalau di rumah, kamu selalu memakai pakaian seperti ini, Alice?" tanya Sindy.
"Ti-tidak kok. Hanya khusus hari ini aku harus mengenakannya." jawab Alice sambil memalingkan pandangannya dari Sindy.
"Khusus untuk hari ini? Mungkinkah hari ini hari ulang tahunmu?" tanya Shinta.
"Tidak, bukan itu. Sebenarnya.." jawab Alice ragu untuk meneruskan jawabannya.
"Kamu tak perlu takut. Kamu bisa katakan semuanya pada kami. Bukankah kita ini teman satu ekskul." bujuk Sindy.
"Tapi.." sahut Alice.
"Seperti yang kuduga dia menyembunyikan sesuatu. Apa ini ada hubungannya dengan penyambutan aneh yang didapatkan Arya saat di depan gerbang?" pikir Sindy.
"Kalau memang kamu tak mau menjawabnya juga tidak apa-apa. Tapi sepertinya Arya sedang kesulitan didalam sana." ujar Sindy.
"Arya?! Arya ada didalam?! Maksudnya!?" tanya Alice terkejut.
"Tadi dia tiba-tiba dipaksa masuk oleh pak satpam setelah ketangkap basah menguntit rumahmu." jawab Shinta.
"Arya menguntit rumahku?" sahut Alice.
"Ya. Dia terlihat sangat khawatir dan memaksa kita datang kemari." jawab Sindy.
"Eh, perasaan dia tidak mema-.." perkataan Shinta terpotong karena Sindy menutup mulut Shinta.
"Jadi Arya saat ini sedang mengikuti sayembara?" tanya Alice.
"Sayembara?" ucap Sindy sambil memiringkan kepalanya.
"Sayembara? Kayak di dongeng-dongeng jaman dulu aja." ujar Shinta.
"Ya, sayembara. Ayahku sengaja mengadakannya untuk mencari siapa orang yang pantas menjadi menantunya." jelas Alice.
"Dia tidak menyebut 'jadi suami' nya, tapi jadi 'menantu' ayahnya. Dia menolak fakta kalau saat ini sayembara itu menentukan siapa jodohnya." pikir Sindy.
"Ini gawat, kita harus segera menyelamatkan Arya. Jika tidak dia akan terjebak dalam sayembara itu." ujar Alice.
"Hmm.. sepertinya hal itu tidak diperlukan." jawab Sindy.
"Eh, apa maksudmu, kak Sindy?" tanya Alice terkejut.
"Ya, biarkan saja. Waktu itu saja dia terjebak bermain basket dengan kapten tim basket sekolahan dan dia bisa mengatasinya dengan mudah." ujar Shinta.
"Ta-tapi kan.." sahut Alice.
"Kita percayakan saja semuanya pada Arya." kata Sindy sambil tersenyum pada Alice.
"Kenapa mereka begitu percaya pada Arya. Padahal mereka cuma teman satu ekskul saja. Apa hubungan mereka dengan Arya?" gumam Alice.

Arya terjebak dalam situasi sulit. Dia ternyata sudah ada di sebuah arena yang disiapkan di halaman belakang rumah. Arena tertutup membentuk sebuah ruangan. Masing-masing ruangan dihuni oleh 2 peserta sayembara.
"Halaman belakang rumah macam apa ini!!?? Luas sekali!! Ini seperti menempatkan lapangan sepakbola dibelakang rumah! Sebenarnya sekaya apa keluarga ini!!" komentar Arya dalam hatinya terlihat panik.
"Tak kusangka yang jadi lawanku adalah seorang bocah SMA. Hahaha.. ini akan jadi sangat mudah." ujar seorang laki-laki berambut duri dengan telinganya tampak berjajar anting emas.
"Ampun dah.. mentalku benar-benar sudah dalam keadaan kritis. Aku tidak tahan. Rasanya aku ingin pulang saja." ujar Arya dalam hati dan wajahnya menjadi pucat.
Tiba-tiba seperti ada suara laki-laki berdehem di sebuah pengeras suara. Arya pun menoleh ke arah pengeras suara.
"Selamat datang dalam sayembara 'Princess Negotiation'. Saya adalah Thomas A. Pemimpin dari Anastasia Corp. cabang Amerika ditunjuk untuk menjadi pembawa acara. Dan seperti yang kalian tahu, dalam sayembara ini hadiah utamanya adalah.. menjadi suami dari adik bungsu kami Alice Anastasia!!" ucap laki-laki tampan berambut pirang yang mengaku bernama Thomas itu melalui pengeras suara.
Semua orang tampak tersenyum dengan senyuman licik diwajah mereka. Hanya Arya saja yang menundukkan kepalanya. Tangannya mengepal dengan sangat keras.
"Begitu rupanya. Aku mengerti sekarang. Aku mengerti semuanya. Akan kuhancurkan acara ini. Pasti." ujar Arya.
Tak lama kemudian ada seorang maid masuk ke ruangan Arya dan meletakan 2 barang dengan jenis yang sama namun berlabel berbeda.
"Apa ini? Krim pembersih wajah?" ucap Arya sambil mengangkat barang yang ada dihadapannya.
"Seperti yang kalian lihat, dihadapan kalian telah ada krim pembersih wajah yang tak lain adalah salah satu produk kami. Tapi sengaja kami beri label berbeda. Tugas kalian adalah.. menjual krim wajah itu dengan keuntungan setinggi-tingginya!" ujar Thomas di pengeras suara.
"Wah.. bahaya. Aku sama sekali tidak punya kemampuan jadi salesman. Aku tidak pandai berbicara di depan orang asing. Ditambah, aku tidak mengerti sama sekali tentang keuntungan dan semacamnya." pikir Arya mulai sedikit panik.
"Bocah.. sepertinya kau kesulitan. Kenapa tidak menyerah saja? Kalau kau pulang akan kuberi uang 50 ribu rupiah." ujar laki-laki berambut duri dengan senyuman licik.
"Oh.. boleh.." ucap Arya.
"Dia menerimanya?! Dia bodoh kah!? Hahaha.. ya, pasti begitu. Namanya juga bocah, pasti bakal nurut kalau dikasih duit." ujar laki-laki berambut duri dalam hati.
Laki-laki itu pun memberikan uang pada Arya. Selembar uang kertas berwarna  biru dengan nominal 50.000 diterima Arya dengan senang hati.
"Oh.. terima kasih. Dengan begini aku bisa beli pulsa listrik buat rumahku." ujar Arya sambil mengantongi uang itu.
Namun Arya tetap diam dan berdiri disana. Hal itu membuat laki-laki berambut duri heran.
"Hei bocah, bukankah perjanjiannya kalau aku beri uang kamu akan pulang?" tanya laki-laki itu terlihat sangat bingung.
"Ya, tentu saja aku akan pulang. Tapi setelah acara ini selesai." jawab Arya dengan tenang.
Laki-laki itu pun diam membisu. Sejenak ia bengong dengan wajah bodoh.
"Jadi kau menipuku!!?" bentak laki-laki itu sadar lagi.
"Tidak." jawab Arya.
"Jangan ngeles! Sudah jelas-jelas kau menipuku! Katanya mau pulang setelah kuberi uang. Tapi kenapa masih ada disini juga, sialan!?" bentak laki-laki itu lagi terlihat geram.
"Bagian mananya yang kulanggar dari perjanjian kita? Kupikir aku masih menepatinya kok. Coba pikirkan baik-baik, bukankah saat perjanjian tadi paman bilang 'akan'? Kata 'akan' sendiri adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang hendak dilakukan dimasa depan meskipun belum pasti terjadi. Jadi aku tak perlu pulang sekarang. Aku bisa pulang setelah acara ini selesai, atau besok, atau lusa, atau mungkin minggu depan. So, don't worry, sir. I'll go home for sure. I will." jelas Arya yang berbalik menatap laki-laki dihadapannya dengan tatapan licik.
Laki-laki berambut duri itu terlihat sangat terkejut dengan semua yang dijelaskan oleh Arya. Dia sama sekali tidak bisa menjawab dan memberi sanggahan apa-apa pada perkataan Arya. Karena pada dasarnya yang dikatakan oleh Arya, semuanya benar.
"Tapi kalau kamu merasa rugi, biar aku menggantinya. Ini!" ucap Arya melemparkan krim wajah dihadapannya ke arah laki-laki tadi.
"Itu sebagai ganti uang yang kau berikan padaku." sambung Arya kemudian berjalan meninggalkan ruangan.
"Ruangan 54, dimenangkan oleh anak SMA misterius! Sungguh kemenangan yang sangat cepat! Hebat sekali!" ujar Thomas di pengeras suara.
"Apa?!! Yang benar saja!!? Bagaimana mungkin dia menang!!?" ucap laki-laki itu terkejut.
Kemudian dia memandangi krim wajah yang ia pegang yang tadi diberikan oleh Arya.
"Jangan bilang!? Jangan bilang dia melakukannya untuk menjual krim wajah ini kepadaku!!!??" ucap laki-laki itu semaki kaget saat menyadarinya kemudian membanting krim wajah itu.
Sementara itu di sebuah ruangan yang terdapat banyak sekali layar monitor yang menampilkan jalannya kompetisi di tiap ruangan.
"Dia benar-benar menarik. Entah yang tadi itu sudah direncanakan sejak awal atau dilakukan sambil berjalan, tapi dia punya bakat jadi seorang negosiator." komentar Thomas sambil tersenyum.
Namun laki-laki tua yang duduk di kursi mewah disamping Thomas terlihat tidak senang sama sekali melihat kemenangan Arya.


Pertandinga pertama dalam kompetisi itu terlihat sudah selesai. Peserta yang menang terlihat sedang beristirahat, dan yang kalah terpaksa pulang saat itu. Di dalam ruangan yang sangat besar mereka semua disajikan dengan hidangan yang nampak sangat enak.
"Kebetulah aku belum sarapan apapun pagi tadi. Mungkin seharusnya aku menggunakan kesempatan ini untuk makan gratis. Lagipula aku harus ngirit uang bulanan." ujar Arya dalam hati.
Dari belakang ada yang menyentuh pundak Arya. Arya pun berbalik.
"Hebat juga kamu ini. Aku benar-benar terkejut kamu bisa memenangkan pertandingan pertama dengan sangat cepat, bocah cilik." ujar seorang laki-laki berbadan besar dan terlihat tua itu.
"Oohh.. terima kasih.." sahut Arya.
"Ada apa dengan om-om ini, kenapa dia tiba-tiba mengajakku bicara?" gerutu Arya dalam hati.
"Tapi aku terkejut kamu memakai pakaian sekolah kemari. Meskipun hari ini hari libur." kata laki-laki berbadan besar itu.
"Haha.. mau bagaimana lagi, aku tidak sempat pulang dulu setelah menginap satu malam di ruang klub bersama hadiah kompetisi ini. Tapi, tidak mungkin aku mengatakannya." ujar Arya dalam hatinya.
"Kamu ini sangat pemalu ya? Ya.. mau bagaimana lagi. Aku tunggu kamu di final." ujar laki-laki itu kemudian meninggalkan Arya dengan keren.
"Apa-apaan dengan perkataannya itu. Tapi ya sudahlah, untung saja om-om itu sudah pergi. Jadi aku bisa kembali mengejar makanan gratis disana itu." ujar Arya dalam hati sambil melihat ke arah tempak makanan berjajar.
Arya pun makan sepuasnya hingga ia benar-benar kenyang.
"Ah, kenyangnya.. jika saja bisa dibungkus buat dimakan di rumah. Pasti aku akan merasa sangat bahagia." ujar Arya dalam hati dengan wajah puas.
"Makan dengan duduk dilantai seperti itu, anda benar-benar memalukan sekali." komentar Ani.
Berbeda dengan yang lain yang makan sambil berdiri, Arya memakan setiap hidangan sambil duduk bersila dilantai.
"Makan memang harusnya sambil duduk kan? Tahu tata krama tidak sih?" sahut Arya sambil membereskan piring dihadapannya.
"Seharusnya aku yang berkata begitu. Disini memang sengaja tidak disediakan meja supaya para tamu bisa makan sambil mengobrol dan jalan-jalan." jelas Ani menghela napasnya.
"Tidak takut keselek tuh? Makan kok sambil ngobrol dan jalan-jalan." balas Arya tampak tidak peduli dan malah membawa piring-piring.
"Mau kamu bawa kemana piring-piring itu?" tanya Ani.
"Tentu saja ke tempat cuci piring. Masa ke jamban." jawab Arya.
"Kalau masalah cucian biarkan kami para maid saja yang mengurusnya." sahut Ani.
"Membiarkan gadis cantik seperti kalian mengotori tangan kalian untuk mencuci bekas makanku, memangnya kamu pikir aku ini laki-laki macam apa?" ujar Arya menatap tajam pada Ani.
"Ke-keren.. tunggu! Apa yang barusan aku katakan?! Kenapa aku malah menyebutnya keren!!?" ucap Ani dalam hatinya dan wajahnya nya pun memerah.
"Lagipula untuk melakukan hal itu untukku, kamu harus menjadi istriku dulu." sambung Arya.
"Istri!!!!??" ucap Ani dalam hatinya dengan wajah terkejut.
Wajahnya jadi sangat merah dan hampir berwarna mirip tomat. Arya meninggalkan Ani dan berjalan menuju ke dapur mengikuti para maid lain yang juga membawa piring cucian.
"Untuk saat ini aku harus mencari cara menyelidiki dibalik diadakannya sayembara sialan ini. Setelah mengetahui semuanya, maka tinggal aku hancurkan dari dalam." ujar Arya dalam hati sambil tersenyum psikopat.

Alice, Sindy dan Shinta masih berada di pondok di area taman di pinggir rumah. Tiba-tiba datanglah Ani ke tempat itu.
"Nona Alice, maaf mengganggu." sapa Ani dengan sopan.
"Ada apa Ani?" tanya Alice.
"Tuan besar memanggil anda." jawab Ani.
"Ayah? Baiklah.. sampaikan bahwa aku akan segera kesana." sahut Alice terlihat tidak begitu ingin pergi.
"Baik, akan saya sampaikan." balas Ani.
Ani pun berjalan kembali ke arah rumah.
"Sebentar, nona pelayan." panggil Sindy.
"Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" sahut Ani.
"Alice katanya mau meminta satu hal lagi." ujar Sindy.
"Eh, aku?!" ucap Alice terkejut ditunjuk oleh Sindy.
"Benarkah itu, nona Alice?" tanya Ani melirik ke arah Alice.
"Tidak, aku-.." sahut Alice.
"Tadi Alice bilang padaku kalau dia meminta dibawakan 2 gaun lagi kalau-kalau gaun yang ini kotor." potong Sindy.
"Oohh.. benarkah begitu, nona Alice?" tanya Ani.
"Tentu saja. Dia terlalu malu untuk mengatakannya. Jadi dia menyuruhku." jawab Sindy sambil tersenyum.
"Baiklah. Akan segera saya bawakan." sahut Ani lalu berbalik dan kembali ke dalam rumah.
"Kenapa kak Sindy berkata seperti itu? Aku tidak ingat gadis itu meminta apapun." kata Shinta.
"Dia memang tidak meminta. Tapi kita." jawab Sindy menoleh ke arah Shinta.
"Kita?" sahut Shinta heran.
Beberapa saat kemudian Ani kembali membawa 2 gaun ke pondok itu.
"Ini gaunnya, nona. Kalau begitu saya mau kembali kedalam dulu. Permisi.." ujar Ani kemudian kembali kedalam rumah setelah meletakan 2 setel gaun diatas meja.
"Terus mau kita apakan gaun-gaun ini?" tanya Shinta sambil menatap gaun diatas meja bersama Sindy dan Alice.
"Tentu saja dipakai kan?" jawab Sindy.
"Dipakai!? Aku dan kak Sindy!?" ucap Shinta terkejut.
"Ya. Dengan begitu kita bisa masuk kedalam sebagai orang elit kenalan nya Alice." jelas Sindy sambil tersenyum.
"Eeehhh??!! Sejak kapan kak Sindy memikirkan cara seperti itu!?" tanya Shinta.
"Hmm.. baru kepikiran tadi sih saat pelayan itu datang." jawab Sindy.
"Ide dadakan?! Arya kah?!" kata Shinta terkejut.
"Anu.. kalau kalian sudah didalam memangnya kalian mau apa?" tanya Alice.
"Tentu saja kami akan membantu Arya melakukan tugasnya." jawab Sindy.
Disaat yang sama, di dapur rumah Alice, Arya terlihat sedang membantu mencuci piring. Para pelayan perempuan itu terlihat pada sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Aku kasihan pada nona Alice." ujar salah seorang pelayan sebut saja pelayan A.
"Kasihan kenapa?" tanya pelayan B.
"Apa kau tidak dengar kabar yang beredar?" sahut pelayan A.
"Kabar apa?" tanya pelayan B penasaran.
"Itu lho tentang sayembara ini." jawab pelayan A.
"Sayembara? Memangnya ada sayembara ya?" tanya pelayan B yang malah bingung.
"Ya ampun sebenarnya kau ini kerja disini gak sih, masa gitu aja tidak tahu." gerutu pelayan A.
"Hahaha.. maaf, kan biasanya aku kerja dihalaman belakang bagian nyiram bunga yang berada di pojokan. Jadi kurang tahu tentang kabar-kabar terkini." jawab pelayan B.
"Eh, ada yang tugasnya cuma nyiram bunga di pojokkan?! Sebenarnya ada berapa banyak maid disini!!?" komentar Arya dalam hati terkejut sambil tetap cuci piring.
"Ya.. sepertinya aku harus menjelaskannya dulu. Sebenarnya tuan besar sudah lama ingin mengadakan sayembara ini. Namun selalu terhalang oleh ibunda dari nona Alice. Namun karena beliau sedang ada di Amerika, jadi saat ini tuan besar bisa menyelenggarakannya. Kasihan sekali nona Alice, padahal usianya masih terlalu muda untuk perjodohan semacam ini. Kulihat tadi di depan yang ikutan hampir om-om semua." jelas pelayan A.
"Waduh.. kalau gitu kasihan ya. Kenapa tidak diaduin aja atau ke nona besar?" tanya pelayan B.
"Di rumah ini yang paling berkuasa itu tuan besar. Beliau mengalah pada ibunda dari nona Alice pun karena beliau sayang pada ibunda nona Alice. Tidak ada satupun dari anaknya yang akan berani menentang dan mengadukannya pada ibunda dari nona Alice." jawab pelayan A.
"Hmm.. begitukah.. orang kaya ternyata punya masalahnya sendiri." sahut pelayan B.
"Begitu rupanya." ucap Arya dalam hati kemudian menyelesaikan cuci piringnya.
Arya berjalan keluar dari dapur dan kembali ke ruang tengah tempat para peserta sayembara berkumpul.

Laki-laki tua yang berjalan dengan tongkat dan laki-laki tampan yang tak lain adalah Thomas terlihat berdiri di lantai 2 dan melihat para peserta yang berkumpul di ruang tengah rumah.
"Perhatian pada semua peserta, atas keberhasilannya saya ucapkan selamat kalian semua. Kalian telah melewati babak penyisihan dengan baik. Untuk babak selanjutnya kalian akan menghadapi tantangan yang lebih sulit. Tapi sebelum itu ijinkan saya memperlihatkan hadiah dari sayembara ini. Dia adalah Alice Anastasia, putri bungsu keluarga Anastasia." ucap Thomas dengan lantang.
Kemudian muncul lah Alice maju ke depan diantara laki-laki tua dan Thomas. Para peserta terlihat bersorak, kecuali Arya yang diam dengan ekspresi yang datar.
"Pe-perkenalkan.. nama saya A-Alice.." ucap Alice dengan malu.
Melihat wajah malu-malu Alice yang imut membuat para peserta semakin bersemangat, tentunya kecuali Arya yang malah menajamkan pandangannya. Mendapat sorakan membuat Alice semakin malu saja, namun saat menunduk dia melihat Arya sedang berdiri menengadah ke atas melihat Alice. Menatap tajam tepat ke matanya.
"A-Arya.." ucap Alice dengan suara pelan.
Thomas menyadari perubahan mood Alice dan mencari siapa yang dilihat oleh Alice. Namun dia tidak menemukan ada yang aneh di antara peserta.
"Apa mungkin cuma perasaanku saja?" ucap Thomas dalam hati.
"Baiklah, kelihatannya semangat kalian sudah kembali. Ayo kita lanjutkan sayembara ini! Ayo naik ke lantai 2!" ujar Thomas dengan suara keras.
Para peserta pun naik ke lantai 2, tampak para orang elit itu sedikit berdesak-desakkan naik ke lantai 2 karena tidak sabar. Meskipun ada 2 tangga, mereka hanya memakai 1, karena jalan yang satu lagi ditutup dengan segel. Arya pun memilih naik paling akhir karena malas berdesak-desakan seperti itu. Dia menghampiri tempat jus jeruk dan mengambil satu gelas.
"Meskipun berdesak-desakan sekarang pun tidak ada gunanya. Karena kompetisi nya sendiri baru akan dimulai setelah semua pesertanya hadir ditempat bukan?" ujar Arya kemudian meminum jus jeruknya dengan santai sambil menunggu.
Setelah semuanya naik ke lantai 2, akhirnya Arya pun mulai menaiki tangga ke lantai 2. Arya dengan santai berjalan mengikuti buntut barisan orang-orang elit itu.
"Arya." panggil seorang gadis dari belakang Arya.
Arya terkejut namanya dipanggil, kemudian menoleh kearah gadis tersebut. Saat melihat siapa orang yang memanggilnya, Arya jadi semakin terkejut dan menyemburkan jus yang sedang diminumnya. Sindy dan Shinta terlihat sangat cantik sekali saat ini, mereka mengenakan gaun yang layaknya seorang putri raja.
"Senior Sindy?! Shinta?! Sedang apa kalian!? Kenapa kalian berpakaian seperti itu?" tanya Arya masih terkejut.
"Hmm.. Shinta memaksa ingin merasakan rasanya jadi seorang putri katanya, makanya kami meminjam gaunnya Alice." jawab Sindy.
"Dia bohong! Tidak begitu kejadiannya!" sanggah Shinta.
"Senior.." ucap Arya memaksa Sindy menjelaskan yang sebenarnya.
"Ah Arya jangan menatapku dengan tatapan tajam seperti itu. Serem tahu.." sahut Sindy.
"Kalau begitu jelaskan lah yang benar." pinta Arya.
"Bi-biar aku saja yang jelaskan. Tadi sewatku kami sedang ada di taman karena bertemu dengan si putri, ada pelayan cantik datang menghampiri kami. Lalu kak Sindy tiba-tiba meminta pelayan itu membawakan 2 setel gaun. Setelah dibawakan, kak Sindy meminta aku memakai gaun ini dan dia juga memakainya. Lalu kami masuk kemari bersama si putri." jelas Shinta.
"'Si putri' itu maksudnya Alice?" tanya Arya.
"Ya." jawab Shinta.
"Hmm.. aku mengerti sekarang. Jadi kalian kemari untuk men-support aku? Terima kasih, tapi saat ini aku tidak butuh bantuan kalian." tolak Arya.
"Eh?! Terus sia-sia dong aku berpakaian seperti ini." ujar Shinta terlihat sedih.
"Tidak juga kok. Dengan pakaian begitu kalian jadi bisa dekat terus dengan Alice. Untuk saat ini jagalah Alice untukku. Dengan cara itu aku bisa lebih tenang melakukan tugasku." pinta Arya.
"Baiklah, aku akan menjagakannya untukmu." jawab Shinta.
"Oke, saatnya melakukan tugas." ujar Arya menyusul rombongan orang elit itu.
Sindy dan Shinta pun menghampiri Alice yang sedang sendirian.

Arya ada disebuah kamar. Kamar itu sepertinya sudah di modifikasi sedemikian rupa supaya mirip dengan ruang meeting kantor. Namun di ruangan itu hanya ada 4 orang yang duduk dikursi dengan satu orang yang menjadi moderator.
"Aaaa.. tunggu, apaan nih? Tempat macam apa ini? Aku harus melakukan apa disini?" ujar Arya dalam hati terlihat sudah kebingungan meskipun belum dimulai.
Arya mulai bermandikan keringat dingin lagi karena gugup, takut, dan panik. Para saingannya terlihat menahan tertawa melihat ekspresi Arya.
"Sial mereka mentertawakanku. Aku harus gimana nih.." gumam Arya semakin gugup.
Di ruang pengawasan, laki-laki tua dan Thomas sedang mengawasi jalannya pertandingan.
"Sepertinya kali ini akan sangat sulit untuk bocah itu." ucap laki-laki tua itu.
"Aku tidak berpikir begitu, ayah." jawab Thomas.
Kembali ke ruang meeting, Arya menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah paniknya.
"Oke akan saya mulai pertandingannya. Dalam pertandingan ini saya berperan sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar, kemudian kalian berempat akan secara bergantian menawarkan proyek dan wacana kalian untuk membuat perusahaan saya ini mendapatkan keuntungan yang terus meningkat tiap bulan selama setahun. Pertandingan akan berjalan selama 1 jam. Dan masing-masing dari kalian akan mendapatkan waktu 15 menit. 5 menit untuk persiapan, 5 menit untuk menjelaskan, dan 5 menit untuk tanya jawab. Apa sudah jelas?" jelas laki-laki yang jadi moderator itu yang tampaknya memang ahli dibidangnya.
"Ya." sahut para peserta.
"Hei, kenapa diam saja? Kamu ngerti gak yang tadi dijelasin?" tanya moderator itu.
"Ya." sahut Arya denga lemah.
"Kamu sakit?" tanya moderator.
"Tidak kok. Hanya mules doang." jawab Arya.
"Itu namanya sakit. Cepat sana ke toilet! Kalau cepirit disini jadi gak enak entar baunya." suruh moderator itu yang terlihat baik.
"Terima kasih.." sahut Arya kemudian berlari ke luar ruangan.
Di ruang pengawasan, Thomas dan laki-laki tua terlihat pucat karena mendengarnya.
"Jadi selama ini dia berkeringat karena nahan BAB." ucap mereka berdua dalam hati.
Di dalam WC, Arya terlihat berpikir keras.
"Hmm.. harus bagaimana aku? Aku belum pernah bekerja di perusahaan. Jadi aku tidak tahu caranya meningkatkan keuntungan tiap bulan. Ditambah aku juga buruk dalam hal presentasi. Sepertinya aku harus memikirkan jalan keluar lain untuk hal ini.." gumam Arya mencoba memutar otak.
Wajah Arya terlihat mulai bercucuran keringat karena saking kerasnya ia berpikir.
"Benar juga. Begitu rupanya.." ujar Arya terlihat mengerti sesuatu.
Arya kembali ke ruangan meeting dengan tampak kelegaan di wajahnya.
"Sepertinya kamu berjuang keras sekali barusan." ujar moderator.
"Ya. Keras sekali." jawab Arya menekankan kata 'keras' nya.
"Keras?!" ucap para peserta lain terkejut lalu membayangkan feses yang keras.
"Kenapa dengan mereka?" ujar Arya dalam hati bingung dengan keterkejutan peserta lain.
"Bagaimana kalau kita mulai saja? Kuharap kalian sudah mengerti peraturannya." ujar moderator.
"Ya." sahut para peserta.
"Oke, silahkan dimulai dari anda. 5 menit pertama dimulai dari sekarang." ujar moderator itu mempersilahkan yang duduk di samping kiri meja untuk memulai persiapan. Orang yang ditunjuk itu pun mengeluarkan sebuah smartphone dari saku celananya.
"Aku sudah mempersiapkan ini untuk saat-saat seperti ini. Untung saja aku menginstal aplikasi office di ponsel pintarku. Haha.." ujar orang itu tampak sombong dengan persiapannya.
Kemudian dia mengetik sesuatu di ponsel pintarnya. Peserta lainnya termasuk Arya terlihat memperhatikan kepada orang itu.
"Ah.. dia punya smartphone model baru. Sial banget punyaku masih model lama. Jadi, aku tidak bisa mempersiapkan apapun untuk presentasi nya." ujar Arya dalam hatinya.
Arya pun semakin merasa tak percaya diri dan minder dengan pertandingan kali ini. Dia pun duduk sambil tertunduk menyangga kepalanya dengan tangannya ke meja. Setelah 5 menit berlalu orang yang dapat giliran pertama itu berjalan mendekati mesin proyektor. Laki-laki itu pun mulai mengoceh tentang penambahan jumlah produk. Dia menekankan kalau keuntungan akan membesar kalau kuantitas barang juga besar. Karena jika jumlah barang yang beredar semakin banyak, maka barang itu akan jadi semakin populer dan itu bisa meningkatkan pendapatan.
"Kalau gitu modal awalnya juga harus besar. Dan karena mengalami kerugian yang semakin dalam di awal, maka itu tak bisa disebut keuntungan yang terus meningkat tiap bulan kan?" komentar Arya dalam hati.
"Oke sekarang kita masuk sesi tanya jawab. Aku akan menanyakan sesuatu padamu. Bukankah tujuannya adalah untuk mendapatkan keuntungan yang terus meningkat?" tanya moderator.
"Ya. Dengan menambah kuantitas barang, maka keuntungan kita akan semakin meningkat." jawab laki-laki yang baru selesai persentasi itu dengan percaya diri.
"Apa kamu bisa menjaminnya? Apa sudah pasti akan menguntungkan kedepannya?" tanya moderator.
Seakan lidahnya tercekat, laki-laki itu tidak bisa menjawab. Dan akhirnya dia menundukan kepalanya karena bingung harus menjawab apa.
"Sepertinya dia tidak memikirkan hal seperti itu." komentar Arya dalam hatinya.
"Baik, selanjutnya.." ujar moderator.
Yang selanjutnya pun berdiri dan mulai menyiapkan bahan presentasi nya. Tampak dia mengeluarkan sebuah tab PC dan mulai mencari semua data-data yang ia butuhkan dan mengumpulkannya dalam bentuk dokumen. Setelah 5 menit berlalu dia mulai berdiri kemudian melakukan presentasi berdasarkan dokumen yang ia buat. Laki-laki muda itu menjelaskan kalau kualitas adalah segalanya. Untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen, kita harus membuat produk yang berkualitas. Semakin baik kualitasnya maka bisa melambungkan harganya semakin tinggi. Maka keuntungan akan tercapai. Dan setelah keuntungan tercapai, maka kuantitas barang bisa ditingkatkan dan mencapai keuntungan yang lebih tinggi untuk waktu yang akan datang dan seterusnya.
"Benar sekali. Dengan itu kita bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Namun.." ucap Arya dalam hatinya.
"Oke, kita masuk sesi tanya jawab." ucap moderator.
"Baik, saya siap." jawab orang yang baru saja menyelesaikan presentasinya.
"Untuk membuat barang dengan tingkat kualitas tinggi bukankah dibutuhkan orang-orang yang punya kemampuan tinggi, alias para ahli. Dan tentu saja sebagai ahli, mereka pasti meminta bayaran yang lebih tinggi daripada orang biasa sebagai karyawan. Bagaimana cara kamu mengatasinya?" tanya moderator dengan senyuman diwajahnya.
"Sudah kuduga dia itu bukan orang sembarangan. Dia pasti seorang ahli dibidangnya. Bisa dibilang dia itu sudah ahli dalam hal rapat." ujar Arya dalam hati.
"Itu mudah kan. Kita bisa menggunakan mesin. Gunakan saja mesin yang bisa memproduksi barang berkualitas tinggi. Dan kita gantikan semua karyawan yang kurang produktif dengan mesin tersebut." jawab orang tadi.
"Hmm.. bukannya itu akan membuat masalah yang besar antara kita dengan penduduk sekitar dan pemerintah setempat? Jika kita mendirikan pabrik di suatu tempat, artinya kita harus mendapat persetujuan dari masyarakat dan pemerintah di tempat tersebut. Untuk membuat sebuah persetujuan artinya harus ada kesepakatan. Kalau ada kesepakatan artinya ada pertukaran. Bukankah begitu?" jelas moderator itu.
"Aaa.. benar juga sih. Tapi kita hanya perlu ngeles saja dengan berbagai alasan bukan." ujar orang tadi.
"Ngeles? Maksudmu menghindari pertanyaan dan protes orang-orang? Hmm.. kita memang bisa melakukannya. Tapi kita tidak menyelesaikan masalahnya jika begitu. Karena pemerintah punya hak untuk menutup paksa pabrik kita jika kita tidak menepati kesepakatan diantara kami." sahut moderator.
"Gampang. Kita tinggal sogok saja mereka kan." balas orang itu dengan yakin.
"Kamu menyuruh kami jadi penjahat?" tanya moderator.
Ditanya seperti itu membuat orang itu terdiam.
"Sepertinya dia juga kena tuh. Kena tepat dibagian terlemah dari sarannya." kata Arya dalam hati.

Akhirnya saatnya giliran Arya untuk memberikan pendapatnya di meeting ini. Arya tampak semakin gelisah karena tak tahu harus mengumpulkan data macam apa untuk dibahas dalam presentasinya.
"Sial, bagaimana aku harus melakukannya. Aku tak terbiasa dengan presentasi dan semacamnya. Berbicara di depan umum bukanlah keahlianku. Ditambah aku tidak ada pengalaman dengan masalah perusahaan ataupun bisnis." pikir Arya yang semakin cemas dan semakin panik.
"Oke, sekarang giliranmu anak muda." ujar moderator menunjuk pada Arya.
Arya pun diberikan waktu 5 menit untuk melakukan persiapan dan pengumpulan data. Namun sangat jelas diwajahnya Arya terlihat panik. Dia mengeluarkan ponsel nya dan mulai membuka browser internet.
"Ah ternyata ada Wi-Fi gratis disini. Hehehe.. tapi.. apa ya yang harus aku cari? Hmm.." gumam Arya yang tampak sudah membuka situs google.
Arya kemudian mengetik sesuatu. Di ruang monitor, tampak Thomas dan ayahnya sedang menyaksikan hal itu.
"Dia panik. Jelas sekali dia akan kalah kali ini. Dia hanya anak SMA. Dia tak punya pengalaman dalam hal meningkatkan keuntungan." komentar ayahnya Thomas.
"Tapi.. yang kulihat tidak begitu. Dia punya bakat. Kupikir dia mirip sekali dengan ayah." sahut Thomas.
"Mirip sepertiku? Ha! Kau pasti bercanda, Thomas! Darimana miripnya orang bodoh itu denganku?" ujar ayahnya Thomas.
"Ya dia memang bodoh. Tapi kalau aku jadi kalian, aku takkan meremehkan dia. Dia memang kurang cerdas, tapi dia bisa diandalkan dalam keadaan terdesak." ujar Sindy dari belakang mereka berdua.
"Siapa kau?" tanya Thomas yang melihat orang yang tidak dikenalnya.
"Perkenalkan, namaku adalah Sindy Elma Riyanti. Aku adalah teman dari orang yang dibilang bodoh tadi. Hmm.. lebih tepatnya dia adalah adik kelasku dan kami adalah teman satu ekskul." jelas Sindy memperkenalkan dirinya.
"Oohh.. kamu cantik juga. Sedang apa kamu disini?" tanya Thomas.
"Aku sedang mengunjungi teman satu ekskulku." jawab Sindy sambil memberi hormat ala seorang putri.
"A-anu.. kak Thomas." ujar Alice yang tampak malu-malu dibelakang Sindy.
"Ada apa Alice?" tanya Thomas.
"Di-dia adalah seniorku. Dia satu ekskul denganku. Ja-jadi.. maksudnya yang tadi itu.. yang dia kunjungi itu sebenarnya.. aku. Bu-bukan laki-laki itu tentunya." jawab Alice dengan gugup.
"Oohh.. begitukah. Memangnya kalian dari ekskul apa? Kelihatannya kalian hebat sekali dalam hal debat dan negosiasi bisnis. Jangan bilang kalian ada di ekskul wirausaha atau bisnis." tanya Thomas.
"Bukan. Kami semua dari ekskul sastra." jawab Sindy dengan senyuman diwajahnya.
Thomas dan ayahnya terkejut mendengar jawaban dari Sindy.
"E-ekskul sastra?! Ekskul sastra itu maksudnya yang kerjanya nulis puisi atau menulis cerpen itu?" tanya ayahnya Thomas dan Alice yang terlihat terkejut itu.
"Hmm.. jika om pikir kerjaan anak sastra hanya menulis puisi dan menulis cerita berarti anda selama ini sudah salah lihat." jawab Sindy.
"Kenapa?" tanya Thomas.
"Karena satra bukan hanya tentang menulis cerita atau puisi. Sastra itu kehidupan." jawab Sindy dan Shinta bersamaan.
Alice, Thomas dan ayahnya pun terkejut dengan jawaban dari Sindy dan Shinta.
"Itulah perkataan anak yang dianggap bodoh disana itu." sambung Sindy sambil menunjuk ke layar yang fokus menampilkan wajah Arya.
Di layar tersebut Arya terlihat lebih tenang dan malahan dia terlihat tersenyum seakan yakin dengan yang ia lihat diponselnya.
"Ja-jangan bilang.." ucap ayahnya Alice tampak terkejut.
Di ruang meeting, Arya terlihat senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Moderator terheran melihat Arya yang tersenyum melihat layar ponsel pintar jenis lama itu. Tapi sebenarnya yang ada di layar ponsel Arya bukanlah data yang sudah dikumpulkan, melainkan sebuah tayangan anime yang baru saja ia unduh dari internet.
"Wah.. koneksi disini bagus sekali. Men-download file ukuran 30 MB hanya dalam beberapa detik. Mantap bener dah." ujar Arya dalam hatinya dengan wajah bahagia.
"Waktu persiapan sudah habis. Sekarang silahkan maju ke depan dan lakukanlah sebuah persentasi." ujar moderator.
"Celaka! Aku terlalu asik download dan nonton anime. Aku jadi lupa kalau aku harus mengumpulkan data. Wi-Fi gratis berkecepatan tinggi memang brengsek!" gerutu Arya dalam hatinya.
"Eh, kenapa dia terlihat panik?" ucap ayahnya Thomas melihat dari layar.
"Ayo.. kenapa diam saja disana? Kalau kamu duduk saja maka giliranmu akan aku skip dan otomatis gagal dalam kompetisi ini." ancam moderator.
"Eeehhh!!??" ucap Arya kaget.
"Haha.. sudah kuduga dia memang bodoh." komentar ayahnya Thomas.
"Tidak, tunggu sebentar, ayah. Sepertinya dia akan bergerak." ujar Thomas.
Arya berdiri dari duduknya. Dengan kepala tertunduk Arya melangkahkan kakinya dan mulai maju kedepan. Wajahnya tampak pucat dan terlihat panik.
"Gawat.. aku harus cepat-cepat memikirkan solusinya. Kalau tidak aku tidak akan bisa mengungkapkan apapun pada presentasinya." ujar Arya dalam hatinya.
"Ada apa? Cepatlah. Waktumu hanya 5 menit." bujuk moderator.
"Se-sebentar.." sahut Arya yang berpikir keras mencari cara agar ia bisa mempresentasikan sesuatu.
Arya menunduk melihat ke lantai dan memegang keningnya berkonsentrasi. Tapi saat memperhatikan lantai baik-baik dia menyadari sesuatu.
"Oh.. benar juga. Bagaimana aku bisa lupa." ujar Arya sambil tersenyum

Arya mengangkat kepalanya, dengan senyuman diwajahnya dia terlihat yakin dengan dirinya kali ini. Sepertinya dia baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.
"Sepertinya akan segera dimulai." ujar Sindy.
"Berpikir sebentar saja dia bisa mendapatkan sebuah ide yang bisa membuatnya percaya diri seperti itu? Memangnya ide macam apa yang ia dapatkan?" ujar ayah Thomas.
"Jangan bilang ayah tak bisa menebaknya. Ekspresinya sama persis dengan ayah saat dalam mode raja bisnis." ujar Thomas.
"Ya, itu memang benar. Senyumannya itu mirip denganku. Tapi.. tidak mungkin dia bisa berubah drastis dari panik ke percaya diri hanya dengan sebuah inspirasi." gumam ayah Thomas.
"Lantainya bersih sekali." ujar Arya.
Moderator dan peserta yang lain tampak heran dengan ucapan Arya.
"Kalian mungkin tidak memperhatikannya, tapi lantainya bersih sekali. Berbeda sekali dengan yang dirumahku. Rasanya nyaman sekali. Membuatku ingin terus ada disini. Membuatku tidak ingin pergi ke tempat lain." sambung Arya sambil memejamkan matanya dengan senyuman penuh ketenangan dan kebahagian.
"Apa maksud bocah itu?", "Kenapa dia malah bahas lantai?", "Masa lalunya pasti dia cleaning service nih." pikir para peserta yang lain.
"Sama seperti ruangan ini, sebuah perusahaan pun butuh banyak perhatian. Bahkan pada bagian yang terkecil sekalipun. Mengembangkan sebuah perusahaan harus dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Apalagi bagian yang dianggap kurang penting dan sering terlupakan, biasanya itu akan jadi titik lemah dan bagian kritis dari perusahaan tersebut. Supaya keuntungan terus berkembang maka kita harus mengembangkan usaha kita dari dalam. Bukan dari kuantitas dan kualitas produk, tapi dari kinerja pegawainya. Masalah kuantitas dan kualitas bisa kita naikan secara perlahan. Lagipula jika kinerja meningkat, otomatis kuantitas dan kualitas produknya akan meningkat bukan? Untuk meningkatkan kinerja pegawai bisa kita siasati dengan berbagai cara. Seperti hadiah misalnya. Manusia selalu tertarik dan bersemangat saat mendengar kata hadiah. Karena yang namanya hadiah diberikan setelah mendapatkan hasil terbaik, maka memberikan hadiah sendiri tidak jadi masalah. Karena kita sudah mendapatkan keuntungan dari hasil perlombaan para pegawai tersebut, jadi kerugiannya tidak akan terasa karena grafik keuntungannya pasti sedang menanjak." jelas Arya dengan panjang lebar.
"Memang benar dengan begitu kita bisa meningkatkan keuntungan. Tapi itu tidak menjamin kita akan mendapatkan keuntungan yang terus meningkat. Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh bocah itu?" ujar ayah Thomas.
"Ayah pasti sudah tahu jawabannya. Karena jika ayah berkata begitu, ayah pasti sudah punya rencana kedepannya." sahut Thomas.
"Sesudah kita meningkatkan semangat kerja dari karyawan di perusahaan kita, kita bisa mengembangkan usaha kita. Kita tingkatkan kuantitas usaha kita. Jumlah tempat kerja dan pekerja. Kita anggap saja ini sebagai start melayang." ujar Arya.
"Start melayang?!" ucap moderator.
"Ya, kita baru saja memulai rencananya. Yang sebelumnya tentang meningkatkan kinerja itu anggap saja hanya sebuah ancang-ancang." jawab Arya.
Mendengar perkataan seperti itu, para peserta lain mulai merasa terpojok.
"Karena rencana kita adalah mendapatkan keuntungan yang terus meningkat setiap bulan untuk satu tahun maka kita hanya perlu 3 hal. Pertama, yang paling penting adalah pekerja tentunya. Karena kuantitas dan kualitas sebuah produk ada ditangan mereka, maka kita harus memberikan sesuatu agar mereka bisa memberikan sesuatu yang setimpal untuk kita. Take and Give. Artinya kita lakukan peningkatan gaji pegawai." jelas Arya.
Moderator terlihat meneteskan keringat di pipinya.
"Haha.. kamu pasti berpikir itu akan membuat kerugian bukan. Sebenarnya tidak. Para pekerja sudah lebih dulu meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kita dengan kinerja mereka yang sudah kita tingkatkan. Ditambah dengan perekrutan karyawan baru dan perluasan usaha, sudah pasti itu sudah cukup untuk menutupi kenaikan gaji tersebut. Tapi setelah ini kamu pasti bilang kalau keuntungan kita takkan meningkat lagi karena seimbang dengan pengeluaran. Salah! Justru keuntungan kita akan terus meningkat." tambah Arya.
"Lihat? Dia mirip sekali seperti ayah. Tekanan, pembacaan kemungkinan, dan sifat tak memberi waktu berpikir pada lawan, dia mirip sekali dengan ayah." ujar Thomas.
"Dari wajah kalian sepertinya kalian tahu maksudku. Baiklah kita masuk ke yang kedua. Karena seperti yang kita tahu, meningkatkan kuantitas dan kualitas belum tentu meningkatkan pembelian atau pemakaian akan produk kita, maka jawabannya sudah pasti kita membutuhkan sebuah promosi. Tapi promosi sendiri adalah kerugian, karena kita melakukan pengeluaran dan belum tentu meningkatkan konsumsi pada produk kita. Maka dari itu kita perlu cara lain yang memastikan produk kita benar-benar meningkat tingkat konsumsinya. Event Promotion. Kita buat promosi pada saat event tertentu atau bisa dibilang memanfaatkan sebuah event untuk promosi. Seperti kita membuat produk edisi terbatas pada tanggal tertentu. Atau potongan harga pada waktu tertentu. Dan semacamanya." jelas Arya.
"Hebat sekali. Dengan cara itu sudah pasti kita akan mendapatkan konsumen akan produk kita. Dan kemungkinan konsumen tersebut akan mempromosikan produk kita pada kenalan mereka saat mereka puas akan kualitas produk kita." ujar Thomas.
"Ketiga hanyalah trik sederhana. Trik yang biasa digunakan oleh berbagai macam orang pebisnis. Variation and Inovation. Kita kembangkan variasi jenis produk kita dan kita buat inovasi yang berbeda di produk kita tersebut. Sehingga nanti jadi terkesan unik. Manusia itu selalu tertarik akan hal unik. Dan setelahnya kalian hanya harus terus mengulang ketiga cara itu." ujar Arya.
Dan 5 menit pun berakhir lalu masuk ke sesi tanya jawab.
"Ada yang mau ditanyakan?" tanya Arya.
Semua orang di ruangan itu terdiam seakan semua pertanyaan mereka sudah terjawab di penjelasan Arya di 5 menit presentasi itu.
"Hebat.." ucap Shinta.
"Dia memang bisa diandalkan disaat terdesak." ujar Sindy.
Alice pun melihat Arya dengan sorot mata kagum.
"Sepertinya pemenangnya sudah terlihat." ujar Thomas.
Peserta ke 4 menyerah karena tidak bisa menyampaikan ide yang lebih baik dari Arya dan Arya pun dinyatakan sebagai pemenang di kompetisi itu.

Arya yang keluar dari ruangan tersebut disambut oleh Sindy yang sudah menunggu didepan pintu keluar.
"Tak kusangka kamu bisa mengalahkan para elit itu dalam adu argumen bisnis. Mungkin bakatmu itu dalam hal bisnis seperti ini, Arya." ujar Sindy sambil tersenyum pada Arya.
"Tidak mungkin lah. Bisnis benar-benar bukan bidangku." sahut Arya.
"Lalu bagaimana caranya kamu menjelaskan kemenangan barusan itu?" tanya Sindy.
"Ah kalau itu sih.. sebenarnya.." sahut Arya dengan ragu.
"Bagaimana menjelaskannya ya? Kalau aku menghindar entar senior malah berpikir yang macam-macam. Lalu bagaimana baiknya ya?" gumam Arya dalam hatinya.
"Ah benar juga. Yang perlu dilakukan hanya membaca suatu artikel atau ebook di internet." ujar Arya.
"Oohh.. memangnya artikel macam apa yang sering kamu baca di internet. Maniak bisnis kah." komentar Sindy.
"Sial, aku jadi disebut maniak bisnis." ujar Arya dalam hati.
Kemudian datanglah Ani bersama dengan seorang laki-laki tampan berambut pirang yang tak lain adalah Thomas.
"Selamat atas kemenanganmu. Dengan begini kamu akan menjadi salah satu peserta kompetisi yang berhasil menuju ke babak final." ujar Thomas sambil tersenyum ramah pada Arya.
"Tapi rasanya daripada sebuah sayembara untuk mendapatkan sang putri, ini hanya seperti sebuah perlombaan untuk memperebutkan jabatan disebuah perusahaan." kata Arya.
"Oohh.. begitukah menurut penglihatanmu. Sepertinya kamu cukup jeli juga ya." balas Thomas.
"Bukan lah. Mataku bukan benda kenyal-kenyal dari rumput laut." jawab Arya.
"Ahahahahaha.. kau ternyata lumayan lucu juga. Hahaha.." ucap Thomas tertawa terbahak-bahak.
"Maksud dia itu bukan jelly, tapi jeli." ujar Ani.
"Oohh.." sahut Arya.
"Ayo kita ke tempat selanjutnya. Disana kamu akan bertemu dengan finalis selanjutnya." ajak Thomas.
"Ah malas banget dah." ucap Arya yang sudah kelelahan dengan semuanya.
"Ayo berjunglah.. tinggal sedikit lagi kok." bujuk Sindy sambil memberikan sedikit dorongan dari belakang.
"Senior sih enak dapat peran yang mudah. Lah aku mesti mikir bulak-balik untuk memenangkan kompetisi ini." gerutu Arya.
"Tapi banyak mengeluh seperti itu pun tidak ada gunanya. Jalani saja dengan sabar. Nanti juga jalan mudahnya akan nampak sendiri di depan matamu." sahut Sindy sambil mendorong Arya maju.
"Ah baiklah.." balas Arya sambil menghela napas.
Tak lama kemudian mereka sampai disebuah ruangan besar yang mirip aula sebuah hotel. Ruangan itu tampak mewah sekali dengan meja yang terlihat begitu panjang dan banyak kursi yang mengelilinginya.
"Tuh kursi banyak amat. Sebenarnya berapa banyak penghuni rumah ini?" ucap Arya bertanya-tanya.
"Sebenarnya penghuni rumah ini cuma ada 3 orang." jawab Ani.
"Eh, 3 orang?! Tapi perasaan tadi aku lihat pelayan disini banyak sekali." sahut Arya terkejut.
"Memangnya anda pikir pelayan bakalan diijinkan duduk dikursi-kursi itu? Lagipula pelayan tidak dihitung sebagai penghuni rumah karena pada dasarnya mereka cuma numpang disini karena pekerajaan mereka." jelas Ani.
"Lah kalau begitu mubajir banget. Meja sebesar itu, kursi sebanyak itu, tapi yang digunakan cuma 3 saja. Aku benar-benar tidak mengerti standar orang kaya." balas Arya.
"Tidak, mungkin sebenarnya aku mengerti, hanya saja hatiku tidak menerima apa yang kulihat saat ini di depan mataku." sambung Arya dalam hati.
"Arya.." panggil Sindy berbisik di telinga Arya.
Arya sedikit terkejut tiba-tiba Sindy berbisik di telinganya.
"Se-senior?! Jangan membuatku kaget seperti itu ah!" ucap Arya.
"Memangnya kenapa kamu bisa sekaget itu? Aku kan cuma memanggil namamu saja." sahut Sindy.
"Masalahnya bukan isi bisikannya. Tapi suaranya itu lho. Kalau otakku tidak sedang penuh oleh masalah kompetisi ini, bisa-bisa aku terbayang hal yang tidak-tidak karenanya." gerutu Arya dalam hati.
"Arya, kalau bisa menangkanlah pertandingannya. Lalu tolaklah tawaran ayah Alice. Seperti dugaanmu, beliau memang hanya mencari orang yang pantas menjadi pemimpin perusahaannya di Indonesia. Kompetisi ini semata-mata hanyalah topeng." bisik Sindy.
Sindy pun mulai berjalan menjauh dari Arya.
"Selamatkanlah sang putri." tambah Sindy sambil menoleh pada Arya kemudian menaiki tangga ke tempat Alice dan Shinta berada.
"Tenang saja. Akan kutunjukkan pada mereka betapa menyeramkannya sastra itu." sahut Arya yang berubah menjadi serius.

Arya dan peserta lainnya yang lolos ke babak final duduk mengelilingi meja panjang tersebut. Jumlah peserta yang lolos kebabak final saat itu hanya 4 orang. Thomas dan ayahnya berada di lantai atas memperhatikan para peserta yang nampak cukup tegang. Disana juga ada Alice, Sindy dan Shinta yang mencoba mendukung Arya secara tidak langsung.
"Apa menurutmu Arya akan baik-baik saja? Di awal-awal dia terlihat gugup sekali." ujar Shinta sedikit khawatir.
"Kalian tenang saja. Arya itu sebenarnya tidak seperti kelihatannya. Dia lebih hebat daripada yang kalian duga." sahut Sindy.
"Aku mempercayai itu kok. Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku sudah mengetahuinya." jawab Alice.
"Ya kalau itu sih aku juga sudah tahu. Senior tak perlu memberitahuku." tambah Shinta.
"Oh.. begitukah? Kalau begitu apalagi yang kalian ragukan darinya?" tanya Sindy sambil tersenyum.
Arya duduk dikursinya dan tampak lebih tenang, atau bisa dibilang saat itu sikapnya seperti sedang malas. Dia duduk menyangga pipinya ke meja dan menatap sayu ke peserta yang lain.
"Apa-apaan sikapnya itu? Apa dia sudah tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan sayembara ini? Kalau begitu bagus. Ini akan jadi lebih mudah." komentar seorang laki-laki berusia 30 tahunan dengan rambut rapi berminyak dalam hati.
"Aku tidak menyangka ada juga peserta seperti itu di sayembara ini. Apa dia sudah menyerah? Kalau dilihat dari tinggi badannya mungkin dia masih SMP." ujar laki-laki bermbut keriting namun berwajah tampan itu dalam hati.
"Kenapa ada bocah disini? Dan kenapa juga dia bisa lolos ke babak final? Tapi dari matanya kelihatannya di sudah lelah dengan semua ini. Haha.. it would be easy." pikir seorang laki-laki berambut pirang denga gaya semua-disisir-kebelakang.
"Kenapa mereka semua memperhatikanku? Apa aku setampan itu sampai-sampai menarik perhatian mereka seperti itu? Eh, tunggu sebentar.. kenapa aku malah jadi seperti si mata sipit itu. Ah padahal aku berusaha menyembunyikan rasa gugupku dengan cara bersikap malas, namun lututku tetap saja gemetaran." gumam Arya.
"Baiklah, kita akan segera mulai pertandingannya. Tapi sebelum biarkan aku menjelaskan aturan mainnya terlebih dahulu." ujar Thomas dari lantai atas.
Arya dan peserta lainnya pun melihat ke arah Thomas.
"Pertandingan kali ini akan sedikit berbeda dari sebelumnya. Karena pertandingan sekarang adalah sebuah battle royale. Kalian akan saling menjatuhkan satu sama lain. Batas waktu kalian adalah 1 jam. Kalain akan berdebat satu sama lain tentang cara penyelesaian masalah dalam perusahaan. Dan barang siapa yang memberikan jawaban tak terbantahkan dan jawaban terbaik menurut juri maka akan jadi pemenangnya. Tapi jika kalian sekali saja keluar dari topik pembicaraan maka kalian secara otomatis keluar dari pertandingan. Bagaimana? Kalian sudah mengerti?" jelas Thomas.
"Ya, tentu saja kami mengerti. Tapi.. aku ragu bocah disana itu juga akan mengerti." ejek laki-laki rambut berminyak.
Dan 2 orang peserta lainnya pun tertawa.
"Kalian tenang saja. Dia sudah pasti sudah mengerti. Bahkan mungkin dia sudah tahu topik yang akan jadi pembicaraan kita saat ini." ujar Thomas tersenyum dengan yakin.
"Hah? Yang benar saja." sahut laki-laki rambut berminyak.
"Kalian tidak percaya? Baiklah biar aku tanyakan." balas Thomas.
"Tuan Pemalas, menurutmu topik apa yang akan kita bahas?" tanya Thomas pada Arya sambil tersenyum ramah.
"Hmm.. Kenaikan Biaya Produksi dan Distribusi?" sahut Arya.
"Benar!" ucap Thomas.
"Eeehhh!!???" ucap peserta lain tampak kaget.
"Ba-bagaimana bisa?!" ucap laki-laki rambut berminyak.
"Tentu saja bisa. Menurut dugaanku sebenarnya topiknya belum ditentukan. Dan dia memilih topik berdasarkan jawabanku. Tak kusangka walau wajahnya tampak baik tapi sebenarnya dia adalah orang yang licik." komentar Arya dalam hati dengan tersenyum malas.
"Sepertinya dia mengetahuinya. Ya memangnya kenapa kalau aku memilih berdasarkan jawabanmu? Bukankah bagus aku membuatmu tampak hebat dimata peserta yang lain?" ujar Thomas dalam hati.
"Jika ia berpikir bagus membuatku tampak hebat, tapi saat ini aku sedang dalam kompetisi. Tampak hebat malah akan membuat yang lain tambah waspada. Itu akan semakin menyulitkanku." kata Arya dalam hati.
"Jadi bagaimana kalau kita mulai pertandingannya. Oke.. mulai!" ucap Thomas memulai pertandingan final tersebut.
"Ah.. kalau masalah penekanan biaya produksi dan distribusi itu adalah masalah gampang. Aku sudah sering melakukannya diperusahaanku. Jadi itu sudah bukan hal asing lagi untukku." ujar laki-laki rambut berminyak.
"Yah perusahaanku memang belum pernah kena masalah seperti itu sebelumnya. Seperti yang diduga dari sebuah perusahaan tua." ejek laki-laki berambut pirang.
"Cih kurang ajar. Mulutmu seperti biasanya selalu tajam." sahut laki-laki rambut berminyak.
"Terima kasih atas pujiannya." balas laki-laki berambut pirang.
"Kalian silahkan sibukkan diri kalian dengan obrolan perusahaan kalian masing-masing. Sekarang giliranku untuk menjelaskan cara memangkas biaya produksi menurut pengalamanku di sebuah perusahaan yang pernah mengambil jasaku." ujar laki-laki berambut keriting.
"Sial aku belum kepikiran satupun solusi saat ini. Jadi untuk saat ini aku akan mendengarkan mereka dulu saja. Hmm.." gumam Arya memperhatikan para pro itu.

Sudah hampir satu jam mereka berdebat dan sisa waktu hanya tinggal sedikit lagi. Namun Arya masih belum mengeluarkan satu katapun dalam debat tersebut.
"Bagaimana ini? Aku bermaksud memberikan solusi yang lebih baik dari mereka bertiga. Namun.. entah kenapa aku jadi tidak bisa mengeluarkan kata-kataku karena mereka sama sekali tidak memberikan jeda untukku berbicara. Ditambah aku bukan tipe orang yang suka memotong perkataan orang lain. Ini benar-benar buruk." pikir Arya sedikit panik.
"Sepertinya bocah itu berada dalam masalah. Dia sama sekali belum melakukan pergerakan apapun." ujar ayah Thomas.
"Benarkah?" sahut Thomas yang tampak santai-santai saja.
Waktu sudah hampir habis dan tersisa hanya 3 menit lagi. Namun Arya masih belum juga melakukan apapun. Alice dan yang lainnya sudah semakin khawatir. Namun di menit-menit akhir itu Arya tiba-tiba saja berdiri. Hal itu menyita perhatian peserta lain dan akhirnya mereka pun terdiam sejenak.
"Maaf, bolehkah aku ke toilet sebentar?" tanya Arya.
"Ha! Kukira ada apa, ternyata hanya mau ke toilet doang." ujar laki-laki berambut pirang.
"Ya, rasanya mendengar perdebatan kalian membuatku mules. Rasanya lebih enak BAB daripada mendengarkan pembicaraan kalian." tambah Arya dengan nada mengejek.
"Cih kurang ajar. Berani sekali kau berkata hal seperti itu." sahut laki-laki rambut berminyak.
"Kalian banyak bicara omong kosong. Semua teori kalian sama sekali tidak menyelesaikan masalah intinya. Kalian benar-benar sangat tidak kompeten dalam hal problem solving. Meskipun wawasan kalian dalam hal bisnis lebih luas, tapi otak kalian tidak terlatih dalam menyelesaikan masalah." ujar Arya dengan sambil tersenyum sinis.
"Apa? Memangnya kamu punya solusi yang lebih bagus dari kami? Sedari tadi kamu cuma diam saja bukan? Bagaimana caranya kamu menjelaskannya?" tanya laki-laki berambut keriting.
"Kupikir diantara kalian bakalan ada yang memberikan sebuah solusi yang menarik. Namun sayang sekali, kalian membuatku kecewa. Dan semakin lama aku mendengarkan kalian perutku semakin tidak karuan. Makanya aku saat ini mau ijin ke toilet dulu." jawab Arya.
"Tapi jika kamu ke toilet dulu pun, apa benar kamu bisa menjamin kalau kamu bisa memberikan solusi yang tepat?" tanya ayahnya Thomas.
"Kamu diam saja, pak tua. Kalau kamu tidak ingin mendengar jawabanku silahkan saja buat jawabanmu sendiri dan turun kesini. Bukankah ini masalah perusahaanmu?" jawab Arya dengan nada menantang.
Arya kemudian pergi menuju ke toilet dan mengabaikan ayah Thomas tersebut yang tampak kesal karena ucapan dari Arya barusan. Arya yang hendak menuju toilet  malah mondar-mandir di lorong karena tidak tahu toiletnya ada dimana. Untung saja saat itu Ani datang menghampirinya.
"Apa kau sengaja mengatakan hal tersebut untuk mengulur waktu untukmu berpikir?" tanya Ani sambil menghampiri Arya.
"Eh, apa maksudmu? Oh ya, bisakah kamu katakan padaku dimana letak toiletnya? Aku sudah tak tahan nih. Udah diujung.." sahut Arya sambil memegangi perutnya.
"Hah!!?? Ja-jangan bilang kau ini beneran mules dan ingin BAB!?" ucap Ani tampak terkejut.
"Ce-cepetan! Udah tidak tahan nih!" pinta Arya.
"Baiklah.. kalau begitu ikuti aku." sahut Ani sambil menghela napasnya.
Arya pun ditunjukkan jalan menuju ke toilet oleh Ani. Saat sampai di toilet Arya langsung masuk kedalam sementara Ani menunggu diluar. Saat masuk Arya sempat kaget karena toiletnya ternyata luas sekali. Arya pun duduk di WC duduk itu.
"Rasanya aneh banget kalau biasanya BAB sambil jongkok sekarang jadi duduk. Ditambah apa-apaan toilet ini? Apa tidak terlalu luas kalau hanya untuk satu orang?" komentar Arya yang malah jadi gugup.
Sambil BAB, Arya tampak berpikir. Dia sepertinya memikirkan penjelasan apa yang akan ia jelaskan di pertandingan debat.
"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, tapi tahukah kamu? Sebenarnya nona Alice itu adalah anak bungsu yang paling disayangi oleh tuan besar. Meskipun tidak memiliki kemampuan bisnis apapun, tapi nona Alice berusaha untuk mengembangkan dirinya. Karena tidak ada dari anak tuan besar yang mau mewarisi sebuah perusahaan di Indonesia yang sering terkena masalah. Ditambah ekonomi di Indonesia yang tidak stabil membuat mengembangkan perusahaan jadi sangat sulit." ujar Ani menjelaskan dari luar toilet.
"Mungkin karena itulah, tuan besar mengadakan sayembara ini. Karena ia tahu kalau mustahil bagi nona Alice untuk mengurus perusahaannya." tambah Ani sambil tersenyum.
Arya pun mendengarkan semuanya hingga selesai. Setelah selesai BAB, Arya kemudian langsung keluar dan diantarkan kembali ke tempat pertandingan oleh Ani.

Sekembalinya ke tempat pertandingan, Arya langsung diperhatikan oleh peserta yang lainnya yang kelihatannya sudah tidak sabar dengan penjelasan dari Arya.
"Maaf membuat kalian lama menungguku. Ah benar-benar buruk sekali. Tadi aku sampai mencret-mencret BAB nya. Mungkin sebaiknya mulai sekarang aku harus memakan makanan yang berserat." ujar Arya sambil menggaruk kepala.
"Kenapa malah jadi bahas itu? Kami tidak peduli dengan feses mu. Cepat katakan saja solusi yang kamu katakan lebih baik dari solusi milik kami." pinta laki-laki berambut keriting.
"Ya. Hurry up and tell us what solution in your mind, boy." tambah laki-laki berambut pirang.
"Ah, baiklah. Aku akan segera mengatakannya." sahut Arya sambil kembali duduk di tempat duduknya.
Semua orang pun mulai memperhatikan ke arah Arya karena penasaran.
"Sebegitu penasarannya kah kalian pada penjelasanku? Ya ampun.. apa tidak ada dari kalian kepikiran tentang sumber masalah dari topik saat ini? Kupikir kalian adalah seorang pro. Tapi kalian terlalu terpaku pada wajah atau tampilan luar sehingga melupakan latar belakangnya." ujar Arya dengan santai.
"Sebenarnya apa yang hendak kamu katakan?" tanya laki-laki berambut keriting.
"Hmm.. benar juga. Aku sampai lupa." sahut Arya.
"Kamu melupakannya?" kata laki-laki rambut berminyak.
"Masalah sebenarnya yang sedang dihadapi dalam topik ini tentunya adalah.." ujar Arya.
"Adalah?" sahut yang lainnya.
"Masalah ekonomi negara." jawab Arya.
"Hah?" sahut yang lainnya yang malah jadi bingung.
"Ada apa? Apa ada yang aneh dari ucapanku?" tanya Arya.
"Tentu saja! Apa hubungannya masalah biaya produksi dengan masalah ekonomi negara?" tanya laki-laki rambut berminyak.
"Kalian ini bodoh ya? Tentu saja kalau ekonomi negara bermasalah harga berbagai barang produksi pun akan ikut bermasalah." jawab Arya.
"Terus memangnya apa yang bisa kita lakukan dengan masalah ekonomi negara? Yang harusnya menangggulangi masalah ekonomi negara itu harusnya adalah pihak pemerintahan. Bukan kita." sahut laki-laki berambut keriting.
"Itu hanya pemikiranmu saja, keriting. Pemikiran dangkal seperti itulah yang membuat masalah ekonomi kita tidak benar-benar. Menyerahkan semuanya pada pemerintahan tidak akan selalu berjalan dengan baik. Ditambah dengan pemerintahan kita yang saat ini, apa kamu yakin akan menyerahkan masalah ekonomi pada mereka?" balas Arya.
"Excuse me! Bukankah kita sudah melenceng dari topik sebenarnya?" protes laki-laki berambut pirang.
"Tidak juga. Justru kita sekarang sudah masuk ke pokok masalahnya. Jadi, bagaimana caranya kita mengatasi masalah lonjakan biaya produksi dan distribusi? Jawabannya mudah. Pengendalian." jawab Arya.
"Pengendalian?" ucap para peserta lain tidak mengerti.
"Ya, pengendalian." sahut Arya.
Ayah Thomas tampak sedikit terkejut mendengar jawaban dari Arya.
"Pengendalian macam apa yang kau maksudkan?" tanya laki-laki berambut keriting.
"Pengendalian penjualan. Atau tepatnya pengendalian harga produk yang kita jual. Jika kita bisa menyesuaikannya dengan kemampuan beli dari para konsumen kita akan tetap bisa mempertahankan target meskipun biaya produksi dan distribusi melonjak tinggi." jawab Arya.
"Tapi jika begitu, bukankah kita akan mengalami kerugian?" protes laki-laki rambut berminyak.
"Rugi hanyalah sisi lain dari keuntungan. Yang perlu kita lakukan hanyalah membaliknya." balas Arya.
"Hahaha.. kata-katanya itu mirip sekali dengan ayah. Hebat sekali.." ucap Thomas.
"What do you mean?" tanya laki-laki berambut pirang.
"Dengan tetap menjaga kepercayaan konsumen kita bisa membangun daya jual produk kita sehingga jika sewaktu-waktu harga barang kita naikkan dengan alasan penaikan kuantitas dan kualitas produk kita, mereka tidak akan protes karena mereka percaya dengan produk kita. Walaupun sebaiknya kita tidak perlu menaikan harga barangnya. Karena jika kita memberi patokan harga diatas daya beli masyarakat, tentu saja itu akan meningkatkan harga-harga lainnya. Seperti harga bahan baku misalnya. Soalnya yang menghasilkan bahan baku itu kebanyakan adalah masyarakat kecil bukan? Jadi kita harus bisa mengendalikan harga. Dengan mengendalikan harga kita bisa mulai mengendalikan pasar. Dengan mengendalikan pasar kita bisa mengendalikan ongkos. Bukankah begitu, para pro?" jelas Arya.
Peserta lainnya pun langsung terdiam dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Meskipun mereka adalah para profesional, namun dari segi kemampuan pemecahan masalah mereka kalah telak oleh Arya yang hanya anak SMA. Mereka pun hanya menatap Arya dengan wajah pucat seakan tak percaya.
"Hebat.. hebat.. sungguh hebat sekali. Sepertinya kita sudah mendapatkan pemenangnya disini. Selamat untuk anak SMA temannya Alice. Kamu berhasil memenangkan sayembara ini." ucap Thomas sambil bertepuk tangan.
"Ti-tidak mungkin. Bagaimana bisa?!" ucap laki-laki rambut keriting dalam hatinya.
"Aku tidak percaya ini. Aku kalah oleh bocah yang bahkan belum lulus SMA!" gerutu laki-laki rambut berminyak dalam hatinya.
"I can't understand. Why this is happen?" ucap laki-laki berambut pirang dalam hati.
"Yeah dia menang!" ucap Shinta.
"Syukurlah.." ucap Alice.
Sindy hanya tersenyum melihat keberhasilan Arya.
"Jadi bagaimana? Apa kamu bisa menepati janjimu, tuan Anastasia?" tanya Sindy pada ayahnya Thomas yang hanya terdiam saat itu.
"Ayah." ucap Alice menatap kakek tua itu.
"Ah.. baiklah. Sesuai janjiku.. aku akan membiarkan Alice tetap bersekolah. Aku tidak akan melakukan sayembara semacam ini lagi." ucap kakek tua itu.
"Baguslah.." sahut Sindy sambil tersenyum.
"Perempuan ini menakutkan. Tak kusangka dia hanyalah seorang anak SMA. Apa kemampuan bocah itu juga berasal darinya?" gumam ayahnya Thomas.

Saat semuanya selesai, Arya, Sindy dan Shinta pun diajak makan malam di rumah yang bagaikan istana itu. Ternyata tempat diadakannya babak final itu adalah sebuah ruang makan. Meja panjang tersebut adalah meja makan keluarga.
"Sudah kuduga mejanya terlalu panjang." komentar Arya yang merasa kalau mejanya jadi mubajir.
Soalnya meskipun ditambah dengan 3 orang tamu sekalipun, yang terpakai hanya 1/3 bagiannya saja. Arya pun duduk dengan gugup karena ruangan yang terlalu luas dan meja makan yang terlalu panjang.
"Santailah sedikit. Kamu harus menjaga sikapmu. Kamu adalah pemenang sayembaranya bukan?" ucap Sindy yang duduk disebelah Arya.
"Ma-maaf senior. Aku hanya tidak terbiasa duduk ditempat seperti ini." jawab Arya.
"Sudah pastilah aku tidak biasa, soalnya kalau dirumah aku kalau makan paling cuma duduk dikursi atau ngampar diteras doang." gumam Arya sambil tersenyum aneh.
"Haha.. makanya biasain dong makan ditempat elit kayak aku." ledek Shinta.
"Oh iya.. maaf saja. Aku memang tidak biasa makan ransum dan sejenisnya." sahut Arya.
"Maksudku bukan elit yang itu, bodoh!" bentak Shinta.
"Kalian tenanglah. Jangan malu-maluin ah." bujuk Sindy.
Alice pun tertawa-tawa kecil melihat tingkat teman-temannya itu. Sang ayah pun melihat wajah ceria Alice dan sedikit terkejut karenanya.
"Arya kalau tidak salah kan? Bisakah kamu jelaskan siapa kamu sebenarnya?" tanya ayah Alice dan Thomas itu.
"Lah anda masa belum tahu juga." sahut Arya.
"Memangnya siapa kamu?" tanya kakek tua itu.
"Manusia tentu saja." jawab Arya.
"Hahahaha.. bo-bocah ini.. benar-benar somplak dah. Hahahaha.." ujar Thomas tak bisa menahan tawanya.
"Bocah sialan! Ditanya serius malah jawabnya bercanda." ucap ayah Alice tampak berusaha menahan kekesalannya.
"Arya.." ucap Sindy.
"Dasar kalian ini, menganggapku bercanda ya? Tentu saja aku serius. Aku ini adalah manusia. Dan sebagai manusia sudah sewajarnya menolong manusia yang lain yang sedang membutuhkan pertolongan. Lalu, apakah anda juga manusia, kakek tua?" jelas Arya menatap dingin pada ayah Alice.
"Kurang ajar! Tentu saja aku juga manusia!!" bentak kakek itu menggebrak meja tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Tapi dari yang kulihat, anda tidak seperti manusia." sahut Arya dengan tetap tenang.
"Memangnya kalau bukan manusia apalagi!!?" tanya ayah Alice dengan nada kesal.
"Manusia haruslah bersikap manusiawi. Mereka harus berpikir dengan pikiran mereka, dan berperasaan dengan hati mereka. Manusia haruslah mempertimbangkan perbuatan mereka dengan akalnya. Baik dan buruk bukan sesuatu yang bisa diperhitungkan. Berapapun jumlah angka yang ada didunia ini, takkan bisa menghitung apa yang menjadi baik ataupun buruk. Karena kebaikan dan keburukan itu hanya bisa dirasakan. Dan apa yang dirasakan sudah pastinya adalah masalah hati. Jadi sudahkah anda merasakan yang anda lakukan itu adalah suatu kebaikan kah? Atau keburukan kah? Menjadikan puteri anda sendiri sebagai hadiah palsu dalam sayembara hanya untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Kalau anda tak bisa merasakannya itu artinya anda bukanlah manusia. Karena hati adalah satu unsur yang menjadi akal manusia. Jadi sebenarnya anda ini.. siapa?" jelas Arya sambil menatap sayu pada ayah Alice.
Ayah Alice kehabisan kata-kata. Semua yang dikatakan oleh Arya padanya benar-benar tidak terbantahkan. Dan pada akhirnya dia hanya bisa diam sambil kembali duduk. Sementara yang lainnya tampak kaget dengan Arya yang tiba-tiba jadi bijak seperti itu.
"Na-nah.. bagaimana kalau kita lanjutkan makannya saja. Kurasa sebentar lagi makanannya sudah siap." ujar Thomas berusaha mencairkan suasana.
Dan tak lama kemudian para maid pun membawakan berbagai macam hidangan yang kelihatan sangat lezat. Arya dan Shinta terlihat terkagum dengan makanan-makanan yang tampak mewah itu. Mereka untuk pertama kalinya melihat makanan yang seperti itu. Akhirnya mereka pun makan dengan lahap sementara ayah Alice tampak pergi dari ruang makan tersebut.
"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Arya pada Sindy dengan suara pelan.
"Ya." jawab Sindy.
"Eh?!" ucap Arya kaget dengan jawaban Sindy yang tak segan itu.
"Aku selesai. Maaf, semuanya.. aku harus pergi ke suatu tempat." ujar Alice pamit setelah menyelesaikan makannya dengan cepat.
"Cepatnya! Apa tidak keselek tuh?" komentar Arya dalam hati.
Alice tampak menyusul ayahnya ke lantai dua. Alice berjalan cepat mencari keberadaan ayahnya. Dan Alice pun sampai di depan kamar ayahnya.
"Ayah.. ini aku.. ayah ada didalam?" ucap Alice sambil mengetuk pintu.
"Ya, masuklah.. pintunya tidak dikunci." sahut ayahnya dari dalam.
Alice pun membuka pintu dan mendapati ayahnya berada di beranda tampak merenung.
"Ayah.." ucap Alice.

Setelah selesai makan malam, Arya dan yang lainnya pamitan dan diantarkan hingga depan gerbang oleh Thomas dan Ani.
"Kalian yakin tidak ingin menginap?" tanya Thomas.
"Tidak ah. Rasanya tidak enak kalau sudah numpang makan ditambah numpang nginap juga." jawab Arya.
"Haha.. tidak usah sungkan. Lagipula kau sudah memberikan cukup banyak hiburan disini." sahut Thomas.
"Jadi dia menganggap perjuanganku hanya sebuah hiburan?" komentar Arya dalam hati.
"Kalau begitu biarkan pelayan kami mengantarkan kalian sampai ke rumah. Sekarang sudah gelap. Berbahaya kalau pulang jalan kaki." ujar Thomas.
"Ya, terima kasih." sahut Arya.
Arya, Sindy dan Shinta pun diantarkan pulang oleh Ani menggunakan mobil.
"Oh ya, tahu tidak Arya? Senior Sindy negosiasi nya hebat banget lho." ujar Shinta yang duduk di belakang bersama Sindy.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Arya yang duduk di depan.
"Sebenarnya saat berada di ruang monitor.." ucap Shinta.
Menurut penjelasan Shinta saat berada di ruang monitor. Thomas pamit keluar dari ruangan duluan setelah babak semi final selesai. Yang ada di ruang monitor hanya Ayah Alice, Shindy, Shinta dan juga Alice.
"Itu pasti hanya sebuah keberuntungan." ujar ayah Alice.
"Keberuntungan kah? Apa anda mau lari dari kenyataan?" ucap Sindy.
"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya ayah Alice.
"Tidak ada maksud tertentu." jawab Sindy.
Ayah Alice menatap tajam pada Sindy.
"Kalau anda berpikir kalau dia memang menang karena beruntung, itu mungkin benar. Namun, dari nada bicara anda, anda seperti melarikan diri. Anda tidak percaya kalau itu benar-benar keberuntungan. Anda tidak meyakini kata-kata anda sendiri." jelas Sindy.
"Oh begitukah?" sahut ayah Alice.
"Ya, begitulah. Anda takut untuk mempercayainya. Anda terlalu khawatir. Anda sepertinya orang yang terlalu memperhitungkan sesuatu. Saking perhitungannya anda, sampai-sampai anda takut akan sesuatu yang tidak bisa diperhitungkan." tambah Sindy.
"Apa maksudmu?" tanya ayah Alice.
"Semua kemenangannya diluar perhitunganmu, semua jawabannya juga diluar perhitunganmu, bahkan kehadirannya di sayembara ini juga diluar perhitunganmu. Dan itu membuatmu takut. Apalagi dia punya kemampuan mirip sepertimu. Dan kalau boleh dibilang sayembara ini baunya sedikit amis." jawab Sindy.
"Aku tidak mengerti." sahut ayah Alice.
"Jangan pura-pura. Bahkan dari semua yang di lombakan, bukankah sangat jelas. Sayembara ini tujuannya benar-benar berbeda dari yang disebutkan." balas Sindy.
"Sebenarnya apa maumu, gadis kecil?" tanya ayah Alice.
"Mauku? Hmm.. bagaimana kalau satu janji?" jawab Sindy.
"Janji? Janji apa?" tanya ayah Alice.
"Berjanjilah untuk menghentikan semua kebodohan ini dan jangan lagi mengulangi sayembara bodoh semacam ini." jawab Sindy.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat. Bocah itu harus menang dalam sayembara ini." sahut ayah Alice.
"Kalau begitu, itu tak perlu disebutkan bukan?" balas Sindy.
Itulah yang terjadi menurut penjelasan Shinta.
"Eh, beneran? Hebat banget dah. Tidak aneh kalau dia jadi wakil ketua OSIS." puji Arya.
"Kupikir itu tidak ada hubungannya dengan menjadi wakil ketua OSIS." sahut Sindy.
"Lho.. terus ada hubungannya dengan apa dong kalau gitu?" tanya Arya.
"Entahlah." jawab Sindy.
"Lah kok jawabnya malah gitu." gerutu Arya.

Di beranda kamarnya, Ayah Alice melihat bintang sambil merenungkan dirinya. Alice menghampiri dari belakang dengan langkah perlahan.
"Maafkan ayah." ucap ayah Alice.
"Kenapa ayah meminta maaf?" tanya Alice.
"Ayah benar-benar bodoh. Ayah tidak memperhitungkan perasaanmu." jawab ayahnya.
"Apa maksud ayah?" tanya Alice lagi yang belum mengerti.
"Sebenarnya salah satu perusahaan ayah mengalami masalah serius. Perusahaan ayah yang menjadi bagian sentral dari semua perusahaan ayah di Indonesia hampir bangkrut karena krisis ekonomi yang melanda negara ini. Dan ayah melakukan sayembara ini untuk mencari siapa yang bisa menyelesaikan berbagai macam masalah dengan cepat dan menyelamatkan perusahaan ayah. Ayah berpikir kalau kamu akan bahagia dengan selamatnya perusahaan kita. Dan kamu akan bahagia dengan bersanding dengan penyelamat tersebut. Karena dia adalah pahlawan dari perusahaan kita." jelas ayahnya tampak menangis.
"Ayah.." ucap Alice sambil memegang pundak ayahnya.
Ayah Alice pun menatap Alice.
"Ini bukan salah ayah. Ayah memikirkan yang terbaik yang bisa ayah lakukan dan berikan padaku." sambung Alice.
"Tapi ayah.." sahut ayahnya.
"Aku sayang ayah! Aku akan berusaha menerima apapun keputusan ayah! Aku akan selalu mengerti kalau apapun yang ayah lakukan, itu pasti yang terbaik yang bisa ayah lakukan. Aku pasti akan berusaha menerimanya. Karena aku anak ayah." tambah Alice sambil memeluk ayahnya.
"Alice.." ucap ayahnya.
"Tapi.. bisakah sebelumnya ayah menjelaskan semuanya sebelum melakukannya? Aku tidak mungkin bisa mengerti kalau ayah tidak menjelaskannya. Aku mau semua itu karena keinginanku sendiri. Aku tidak ingin menyesal pada akhirnya." ujar Alice.
"Dia ternyata begitu menyayangiku. Bahkan dia tetap mau menerima meskipun ia tahu kalau jalan yang ku ambil kurang tepat. Bagaimana bisa aku seorang ayah memanfaatkan kebaikan puterinya? Kalau aku sampai melakukannya maka aku bukan lagi manusia, tepat seperti yang dikatakan bocah itu. Maafkan aku.. lain kali ayah akan lebih hati-hati.." ujar ayah Alice dalam hatinya sambil menangis dalam renungan.

Bersambung..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】