VocaWorld, chapter 174 - Perasaan Terpendam
Kamui melihat Luka yang sedang duduk di teras pinggir rumah. Kamui pun berjalan menghampiri Luka dengan berjinjit.
"Hayo!!!" ucap Kamui mencoba mengejutkan Luka dari belakang.
Luka pun terkejut dan kemudian merasa kesal.
"Tuan samurai.. apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Luka sambil tersenyum kesal.
"Haha.. emang apaan lagi? Tentu saja ngagetin Luka-tan biar kita makin akrab." jawab Kamui.
"Makin akrab dari hongkong! Mana mungkin makin akrab kalau kerjaannya ngeselin terus!" gerutu Luka tampak kesal.
"Tapi ada yang bilang jika dari benci itu bisa jadi cinta kan? Semakin ngeselin maka semakin berkesan." jelas Kamui dengan bergaya keren.
"Ya, semakin berkesan bencinya." sahut Luka memalingkan wajahnya karena kesal.
"Ray-kun, setidaknya katakanlah sesuatu untuk samurai bodoh ini." ujar Luka menoleh ke arah Ray.
Tapi ternyata Ray sudah tidak ada ditempatnya.
"Eh, kemana dia?" ucap Luka heran.
"Dia siapa?" tanya Kamui.
"Ray-kun lah. Daritadi dia ada disini masa tidak lihat?" jawab Luka.
"Tidak tuh. Emang The White Light-dono tadi ada disini ya?" tanya Kamui lagi.
"Lah, sejak awal dia ada disini lho. Masa bisa tidak sadar seperti itu." gerutu Luka.
"Benarkah? Saya tidak lihat ada siapapun disebelah Luka-tan." jawab Kamui tampak jujur.
"Aneh sekali. Bahkan sebelum dikejutkan oleh samurai bodoh ini, Ray-kun masih ada di sebelahku. Kenapa bisa dia tidak melihatnya? Dan bagaimana Ray-kun bisa menghilang secara tiba-tiba begitu." gumam Luka tampak bingung.
"Yakin Luka-tan tidak sedang bersaluhinasi?" tanya Kamui.
"Yang benar 'berhalusinasi'." sahut Luka mengoreksi.
"Iya, itu maksudku. Berhasulinasi." balas Kamui.
"Yang benernya cuma 'nasi' nya aja." komentar Luka.
"Ya.. mau bagaimana lagi. Nasi kan makanan pokok disini." ujar Kamui.
"Terserahlah. Aku cape ngomentarin nya." pikir Luka kemudian berdiri dan meninggalkan Kamui.
"Tungguin, Luka-tan." ucap Kamui sambil mengejar Luka.
"Apa yang terjadi?" ucap Meiko yang baru keluar dari kamar mandi.
Ternyata saat itu Ray sedang ada di atas sebuah jembatan. Dia duduk di pagar jembatan sambil memancing.
"Seperti biasanya, pagi-pagi gini sudah mancing aja. Apa tidak bosan?" sapa Dante yang berjongkok disebelah Ray.
"Kalau sudah jadi kebiasaan mana mungkin bosan kan?" sahut Ray.
"Oh, iya juga sih." balas Dante.
Mereka berdua tampak tersenyum seperti sudah mengerti satu sama lain.
"Apa tidak seharusnya kau lebih khawatir? Aku ini musuhmu lho. Aku bisa saja mendorongmu jatuh hingga tenggelam disungai." ujar Dante.
"Memangnya kamu akan melakukannya?" sahut Ray.
"Tidak sih. Kalau membunuhmu dengan cara seperti itu rasanya kurang menyenangkan." jawab Dante.
"Kalau begitu apa yang perlu ku khawatirkan." kata Ray dengan tetap tanpa ekspresi.
Dante kemudian berdiri dan melihat ke arah langit.
"Oh ya, ada yang mau aku tanyakan padamu." ujar Dante.
"Tentang apa itu?" sahut Ray.
"Kenapa kau tidak serius melawanku? Jangan bermain-main denganku. Aku bisa saja menghancurkan seluruh kota ini dalam sekejap." tanya Dante.
"Sama denganku. Aku juga bisa menghancurkan segala niatmu itu. Tapi aku lebih memilih bersenang-senang denganmu saat ini." jawab Ray.
Mendengar jawaban Ray membuat Dante sedikit terkejut.
"Be-begitukah. Entah kenapa aku rasanya jadi sedikit tersentuh mendengarnya." ujar Dante dengan wajah memerah.
"Wah.. sepertinya aku mendapatkan tangkapan besar saat ini." kata Ray sambil menarik pancingannya.
Dan benar saja, seekor ikan yang cukup besar berhasil tertangkap kail pancingan Ray.
"Mengagetkan. Kau selalu saja bisa mendapatkan sesuatu yang mengejutkan di situasi yang tak terduga." komentar Dante sambil melompat turun dari pagar jembatan.
"Sudah mau pergi?" tanya Ray.
"Ya, terima kasih untuk obrolan pagi nya. Sampai jumpa lagi, The White Light.." jawab Dante.
Kemudian Dante melompat pergi meninggalkan Ray.
Seperti biasanya, Gumi sedang lari pagi menyusuri wilayah pegunungan dan turun menyusuri jalan di pinggir sungai. Saat sedang lari, Gumi melihat Ray baru pulang memancing.
"Dia lagi-lagi memancing. Sebenarnya seberapa sukanya sih dia memancing ikan?" gumam Gumi sambil tetap berlari.
Gumi pun menghampiri Ray. Ray tampak tidak terkejut sama sekali dengan kedatangan Gumi.
"Oh selamat pagi, Megupo-san. Rajin sekali pagi-pagi begini sudah jogging." sapa Ray tanpa menoleh ke arah Gumi.
"Kalau menyapa orang setidaknya lihatlah wajahnya." ujar Gumi.
"Tenang saja. Aku selalu memperhatikanmu kok walau tidak melihat ke arahmu." jawab Ray.
"Eh, be-begitukah?" sahut Gumi sedikit terkejut.
"Ya, begitulah." sahut Ray sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah makan?" tanya Gumi.
"Belum. Justru sekarang aku mau membuat ikan bakar nih." jawab Ray.
"Kemarin sore kamu menghilang gitu aja. Apa kamu tak tahu seberapa khawatirnya Luka-oneesama padamu?" gerutu Gumi.
"Iya maaf." sahut Ray.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Luka-oneesama." jawab Gumi.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah Miku.
"Kami pulang.." ucap Gumi sambil membuka pintu.
"Selamat datang, Gumi-chan. Oh ya, apa kamu lihat Ray-kun saat kemari?" tanya Luka.
"Iya lihat. Ini orangnya." sahut Gumi sambil menunjuk ke sampingnya.
"Mana?" balas Luka yang tak melihat ada siapapun disampingnya.
"Lho, tadi perasaan dia ada disebelahku terus. Pergi kemana dia?" ujar Gumi heran.
"Hmm.. ada apa dengan Ray-kun? Kenapa rasanya dia seperti menjauhiku?" kata Luka sambil berpikir.
"Woy! Shiro sialan! Jangan bakar ikan disamping rumah! Entar rumputnya rusak!" bentak Miku dari ruang tengah.
Luka dan Gumi terkejut kemudian bergegas ke ruang tengah.
"Tenang saja. Nanti juga tumbuh lagi kalau masalah rumput mah. Yang penting sekarang aku harus makan. Perutku sudah lapar." jawab Ray.
"Salah sendiri kan kenapa kemarin tidak ikut makan!" balas Miku.
"Kalau kamu lapar, kenapa tidak bilang? Akan kubuatkan nasi goreng daripada mesti susah mancing ikan dulu." ujar Luka menghampiri Ray.
"Rasanya tidak enak merepotkanmu, Megurine-san." jawab Ray.
"Apa menurutmu aku terlihat kerepotan kalau memasakkan makanan untukmu?" sahut Luka.
Ray melirik ke arah Luka.
"Memangnya Megurine-san bisa masak?" tanya Ray menatap sayu.
"Jangan mengejekku!! Tentu saja aku bisa masak!!!" bentak Luka marah karena merasa tersinggung.
"Ooohh.." ucap Ray dengan nada malas.
"Eeeuuuhh!!! Dasar Ray-kun bodoh!!!" bentak Luka kemudian pergi karena ngambek.
"Apa dia tak sadar kalau Luka-oneesama ngasih kode ke dia? Padahal tadi itu jelas banget. Sebenarnya dia itu bodoh atau pintar sih." gerutu Gumi dalam hatinya sambil menatap malas pada Ray.
"Sama juga sepertimu kan? Bukankah kamu menemukan sesuatu kemarin?" ujar Ray seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Gumi.
"Eeehhh!! Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Gumi terkejut.
"Jelas sekali dari ekspresimu." jawab Ray.
"Kamu benar-benar menyeramkan dalam beberapa hal ya. Ya, aku memang menemukan sesuatu. Kemarin aku mau memberikannya padamu, tapi kamu malah menghilang. Sekarang itu ada dikamarku, akan kuambilkan." gerutu Gumi.
"Tidak perlu. Rasanya aku sudah tahu itu apa." tolak Ray.
"Eh, masa?" sahut Gumi tidak percaya.
"Jadi, buatmu saja." tambah Ray.
Ikan bakar Ray tampak sudah matang. Ray pun mematikan apinya, kemudian berdiri sambil mengangkat ikan bakar tersebut.
"Bacalah. Mempelajari sesuatu tentang musuh bukan hanya tugas seorang komandan. Tapi juga sebagai pasukan, kamu perlu melakukannya." ujar Ray sambil pergi membawa ikan bakar tersebut.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Gumi.
"Jika Megurine-san tanya, jawab saja aku pergi ke tempat 'pasangan-somplak'." jawab Ray sambil melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang.
"A-apa?" ucap Gumi yang malah terheran.
Siang itu angin berhembus cukup kencang. Awan-awan berjalan cepat. Dante yang berdiri di sebuah atap gedung merasakan angin yang menerpa tubuhnya.
"Sedang menikmati angin musim gugur?" ucap seseorang dari belakang Dante.
"Belphegor.." ucap Dante setelah menoleh kebelakang.
"Tak kusangka seorang Pangeran Kegelapan Lucifer akan menikmati angin musim gugur seperti. Tidak seperti dirimu sekali." ujar orang yang menurut Dante adalah Belphegor.
"Tidak ada bedanya denganmu. Orang lurus yang selalu mengikuti peraturan sepertimu bisa juga melanggar batas area dan memasuki wilayahku tanpa ijin." balas Dante sambil tersenyum licik.
"Benarkah? Tapi aku tak melihat kalau wilayah ini seperti daerah kekuasaanmu. Kamu tidak terlihat seperti berkuasa disini." tukas Belphegor.
"Diamlah! Cepat pergi sana atau aku hajar kau hingga tak bisa bicara lagi!" bentak Dante mulai kesal.
"Tenanglah, aku memang mau pergi kok. Aku kemari cuma ingin memastikan seperti apa wilayah yang akan jadi jajahanku nanti." ujar Belphegor.
"Cih, jangan seenaknya. Aku tidak berniat menyerahkannya semudah itu padamu." sahut Dante.
"Kalau begitu aku cuma perlu merebutnya kan?" ucap Belphegor sambil tersenyum.
"Memangnya kau sanggup melakukan itu, hah? Kau bahkan dikalahkan oleh The White Light tanpa bersusah payah." ejek Dante.
"Tentu saja aku sanggup. Kalau perlu bukan hanya wilayah, gadis berambut hijau itu juga akan kujadikan sebagai bonekaku." jawab Belphegor.
Tiba-tiba saja api hitam melesat menebas ke arah sosok laki-laki itu bagaikan pedang.
"Wah-wah seram. Tiba-tiba saja menyerangku seperti itu." ujar Belphegor yang ternyata selamat karena melompat kebelakang dan menjatuhkan diri.
Sementara gedung yang tadi tampak hancur bagian atapnya dan terbakar. Dari arah gedung melesat sosok manusia menembus api. Itu adalah Dante yang dalam sekejap sudah ada di depan Belphegor lagi. Dante sudah tampak siap menyerang lagi dengan gitarnya. Tapi tepat disampingnya ada sebuah peluru mengarah padanya.
"Apa?!" ucap Dante dalam hati tampak terkejut.
Dante menahannya dengan gitarnya. Saat mendarat di tanah, tampak ada beberapa tembakan lain mengarah padanya. Dante menghindarinya satu persatu. Kemudian Dante melompat ke arah gedung dan dengan berpijak pada dinding gedung tersebut dia melompat ke arah lain menghindari peluru-peluru yang terus mengarah padanya.
"Sebenarnya darimana semua tembakan ini berasal?" gerutu Dante sambil tetap menghindari tembakan-tembakan yang tak jelas darimana asalnya.
"Peluru kendali!!? Yang benar saja!!?" ucap Dante terkejut.
Benar saja, dari kejauhan tampak beberapa misil mengarah padanya. Dante berlari dengan kecepatan tinggi berusaha menjauh.
"Sial!" ucap Dante kesal.
Dante melompat dari satu bangunan ke bangunan lain tapi misil itu terus mengejarnya.
"Pencari panas kah." kata Dante saat menyadarinya.
Dante melompat berbalik ke arah misil tersebut.
"Kenapa aku harus menghindarinya. Ini tidak seperti aku sedang menggunakan pesawat." ujar Dante melesat tepat ke arah misil-misil tersebut.
Dante pun menangkap 2 dari peluru kendali itu kemudian melemparkannya ke peluru kendari yang lain. Karena berhantaman satu sama lain, semua peluru kendali itu pun meledak. Dante melindungi dirinya dari ledakan dengan api hitamnya yang di tebaskan ke arah ledakan. Dan Dante pun mendarat dengan selamat.
"Kurang ajar, Belphegor sialan itu. Sebenarnya darimana asalnya semua serangan-serangan tadi itu? Apa dia punya seorang penjaga tak terlihat atau semacamnya?" gerutu Dante.
Dante pun mengepalkan tangannya sekuat tenaga karena merasa kesal. Wajah Dante tampak gelap karena menunduk. Dante benar-benar marah saat itu.
"Tuan Lucifer! Sedang apa anda disini?" sapa June.
"Diam!" bentak Dante menebas June dengan api hitamnya.
June terpental kebelakang meskipun dia menahan tebasan itu.
"A-ada apa, tuan? Apa yang terjadi?" tanya June yang tampak kebingungan.
"Jangan bicara denganku dulu saat ini! Atau kau akan jadi pelampiasan rasa kesalku!!" bentak Dante menatap kejam pada June dan matanya menyala merah.
June ketakutan saat melihat sorot mata Dante itu dan langsung terdiam menelan ludah.
"Kalau ketemu lagi akan kuhabisi tuh orang.." ucap Dante.
Sementara di rumah Miku, Gumi tampak sedang membuka buku yang ditemukannya di pesawat Dante. Saat membuka halaman pertama, Gumi sudah dikejutkan oleh sesuatu.
"I-ini kan.." ucap Gumi terlihat kaget.
To be continued..
"Hayo!!!" ucap Kamui mencoba mengejutkan Luka dari belakang.
Luka pun terkejut dan kemudian merasa kesal.
"Tuan samurai.. apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Luka sambil tersenyum kesal.
"Haha.. emang apaan lagi? Tentu saja ngagetin Luka-tan biar kita makin akrab." jawab Kamui.
"Makin akrab dari hongkong! Mana mungkin makin akrab kalau kerjaannya ngeselin terus!" gerutu Luka tampak kesal.
"Tapi ada yang bilang jika dari benci itu bisa jadi cinta kan? Semakin ngeselin maka semakin berkesan." jelas Kamui dengan bergaya keren.
"Ya, semakin berkesan bencinya." sahut Luka memalingkan wajahnya karena kesal.
"Ray-kun, setidaknya katakanlah sesuatu untuk samurai bodoh ini." ujar Luka menoleh ke arah Ray.
Tapi ternyata Ray sudah tidak ada ditempatnya.
"Eh, kemana dia?" ucap Luka heran.
"Dia siapa?" tanya Kamui.
"Ray-kun lah. Daritadi dia ada disini masa tidak lihat?" jawab Luka.
"Tidak tuh. Emang The White Light-dono tadi ada disini ya?" tanya Kamui lagi.
"Lah, sejak awal dia ada disini lho. Masa bisa tidak sadar seperti itu." gerutu Luka.
"Benarkah? Saya tidak lihat ada siapapun disebelah Luka-tan." jawab Kamui tampak jujur.
"Aneh sekali. Bahkan sebelum dikejutkan oleh samurai bodoh ini, Ray-kun masih ada di sebelahku. Kenapa bisa dia tidak melihatnya? Dan bagaimana Ray-kun bisa menghilang secara tiba-tiba begitu." gumam Luka tampak bingung.
"Yakin Luka-tan tidak sedang bersaluhinasi?" tanya Kamui.
"Yang benar 'berhalusinasi'." sahut Luka mengoreksi.
"Iya, itu maksudku. Berhasulinasi." balas Kamui.
"Yang benernya cuma 'nasi' nya aja." komentar Luka.
"Ya.. mau bagaimana lagi. Nasi kan makanan pokok disini." ujar Kamui.
"Terserahlah. Aku cape ngomentarin nya." pikir Luka kemudian berdiri dan meninggalkan Kamui.
"Tungguin, Luka-tan." ucap Kamui sambil mengejar Luka.
"Apa yang terjadi?" ucap Meiko yang baru keluar dari kamar mandi.
Ternyata saat itu Ray sedang ada di atas sebuah jembatan. Dia duduk di pagar jembatan sambil memancing.
"Seperti biasanya, pagi-pagi gini sudah mancing aja. Apa tidak bosan?" sapa Dante yang berjongkok disebelah Ray.
"Kalau sudah jadi kebiasaan mana mungkin bosan kan?" sahut Ray.
"Oh, iya juga sih." balas Dante.
Mereka berdua tampak tersenyum seperti sudah mengerti satu sama lain.
"Apa tidak seharusnya kau lebih khawatir? Aku ini musuhmu lho. Aku bisa saja mendorongmu jatuh hingga tenggelam disungai." ujar Dante.
"Memangnya kamu akan melakukannya?" sahut Ray.
"Tidak sih. Kalau membunuhmu dengan cara seperti itu rasanya kurang menyenangkan." jawab Dante.
"Kalau begitu apa yang perlu ku khawatirkan." kata Ray dengan tetap tanpa ekspresi.
Dante kemudian berdiri dan melihat ke arah langit.
"Oh ya, ada yang mau aku tanyakan padamu." ujar Dante.
"Tentang apa itu?" sahut Ray.
"Kenapa kau tidak serius melawanku? Jangan bermain-main denganku. Aku bisa saja menghancurkan seluruh kota ini dalam sekejap." tanya Dante.
"Sama denganku. Aku juga bisa menghancurkan segala niatmu itu. Tapi aku lebih memilih bersenang-senang denganmu saat ini." jawab Ray.
Mendengar jawaban Ray membuat Dante sedikit terkejut.
"Be-begitukah. Entah kenapa aku rasanya jadi sedikit tersentuh mendengarnya." ujar Dante dengan wajah memerah.
"Wah.. sepertinya aku mendapatkan tangkapan besar saat ini." kata Ray sambil menarik pancingannya.
Dan benar saja, seekor ikan yang cukup besar berhasil tertangkap kail pancingan Ray.
"Mengagetkan. Kau selalu saja bisa mendapatkan sesuatu yang mengejutkan di situasi yang tak terduga." komentar Dante sambil melompat turun dari pagar jembatan.
"Sudah mau pergi?" tanya Ray.
"Ya, terima kasih untuk obrolan pagi nya. Sampai jumpa lagi, The White Light.." jawab Dante.
Kemudian Dante melompat pergi meninggalkan Ray.
Seperti biasanya, Gumi sedang lari pagi menyusuri wilayah pegunungan dan turun menyusuri jalan di pinggir sungai. Saat sedang lari, Gumi melihat Ray baru pulang memancing.
"Dia lagi-lagi memancing. Sebenarnya seberapa sukanya sih dia memancing ikan?" gumam Gumi sambil tetap berlari.
Gumi pun menghampiri Ray. Ray tampak tidak terkejut sama sekali dengan kedatangan Gumi.
"Oh selamat pagi, Megupo-san. Rajin sekali pagi-pagi begini sudah jogging." sapa Ray tanpa menoleh ke arah Gumi.
"Kalau menyapa orang setidaknya lihatlah wajahnya." ujar Gumi.
"Tenang saja. Aku selalu memperhatikanmu kok walau tidak melihat ke arahmu." jawab Ray.
"Eh, be-begitukah?" sahut Gumi sedikit terkejut.
"Ya, begitulah." sahut Ray sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah makan?" tanya Gumi.
"Belum. Justru sekarang aku mau membuat ikan bakar nih." jawab Ray.
"Kemarin sore kamu menghilang gitu aja. Apa kamu tak tahu seberapa khawatirnya Luka-oneesama padamu?" gerutu Gumi.
"Iya maaf." sahut Ray.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Luka-oneesama." jawab Gumi.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah Miku.
"Kami pulang.." ucap Gumi sambil membuka pintu.
"Selamat datang, Gumi-chan. Oh ya, apa kamu lihat Ray-kun saat kemari?" tanya Luka.
"Iya lihat. Ini orangnya." sahut Gumi sambil menunjuk ke sampingnya.
"Mana?" balas Luka yang tak melihat ada siapapun disampingnya.
"Lho, tadi perasaan dia ada disebelahku terus. Pergi kemana dia?" ujar Gumi heran.
"Hmm.. ada apa dengan Ray-kun? Kenapa rasanya dia seperti menjauhiku?" kata Luka sambil berpikir.
"Woy! Shiro sialan! Jangan bakar ikan disamping rumah! Entar rumputnya rusak!" bentak Miku dari ruang tengah.
Luka dan Gumi terkejut kemudian bergegas ke ruang tengah.
"Tenang saja. Nanti juga tumbuh lagi kalau masalah rumput mah. Yang penting sekarang aku harus makan. Perutku sudah lapar." jawab Ray.
"Salah sendiri kan kenapa kemarin tidak ikut makan!" balas Miku.
"Kalau kamu lapar, kenapa tidak bilang? Akan kubuatkan nasi goreng daripada mesti susah mancing ikan dulu." ujar Luka menghampiri Ray.
"Rasanya tidak enak merepotkanmu, Megurine-san." jawab Ray.
"Apa menurutmu aku terlihat kerepotan kalau memasakkan makanan untukmu?" sahut Luka.
Ray melirik ke arah Luka.
"Memangnya Megurine-san bisa masak?" tanya Ray menatap sayu.
"Jangan mengejekku!! Tentu saja aku bisa masak!!!" bentak Luka marah karena merasa tersinggung.
"Ooohh.." ucap Ray dengan nada malas.
"Eeeuuuhh!!! Dasar Ray-kun bodoh!!!" bentak Luka kemudian pergi karena ngambek.
"Apa dia tak sadar kalau Luka-oneesama ngasih kode ke dia? Padahal tadi itu jelas banget. Sebenarnya dia itu bodoh atau pintar sih." gerutu Gumi dalam hatinya sambil menatap malas pada Ray.
"Sama juga sepertimu kan? Bukankah kamu menemukan sesuatu kemarin?" ujar Ray seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Gumi.
"Eeehhh!! Bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?" tanya Gumi terkejut.
"Jelas sekali dari ekspresimu." jawab Ray.
"Kamu benar-benar menyeramkan dalam beberapa hal ya. Ya, aku memang menemukan sesuatu. Kemarin aku mau memberikannya padamu, tapi kamu malah menghilang. Sekarang itu ada dikamarku, akan kuambilkan." gerutu Gumi.
"Tidak perlu. Rasanya aku sudah tahu itu apa." tolak Ray.
"Eh, masa?" sahut Gumi tidak percaya.
"Jadi, buatmu saja." tambah Ray.
Ikan bakar Ray tampak sudah matang. Ray pun mematikan apinya, kemudian berdiri sambil mengangkat ikan bakar tersebut.
"Bacalah. Mempelajari sesuatu tentang musuh bukan hanya tugas seorang komandan. Tapi juga sebagai pasukan, kamu perlu melakukannya." ujar Ray sambil pergi membawa ikan bakar tersebut.
"Kamu mau kemana lagi?" tanya Gumi.
"Jika Megurine-san tanya, jawab saja aku pergi ke tempat 'pasangan-somplak'." jawab Ray sambil melambaikan tangan tanpa menoleh kebelakang.
"A-apa?" ucap Gumi yang malah terheran.
Siang itu angin berhembus cukup kencang. Awan-awan berjalan cepat. Dante yang berdiri di sebuah atap gedung merasakan angin yang menerpa tubuhnya.
"Sedang menikmati angin musim gugur?" ucap seseorang dari belakang Dante.
"Belphegor.." ucap Dante setelah menoleh kebelakang.
"Tak kusangka seorang Pangeran Kegelapan Lucifer akan menikmati angin musim gugur seperti. Tidak seperti dirimu sekali." ujar orang yang menurut Dante adalah Belphegor.
"Tidak ada bedanya denganmu. Orang lurus yang selalu mengikuti peraturan sepertimu bisa juga melanggar batas area dan memasuki wilayahku tanpa ijin." balas Dante sambil tersenyum licik.
"Benarkah? Tapi aku tak melihat kalau wilayah ini seperti daerah kekuasaanmu. Kamu tidak terlihat seperti berkuasa disini." tukas Belphegor.
"Diamlah! Cepat pergi sana atau aku hajar kau hingga tak bisa bicara lagi!" bentak Dante mulai kesal.
"Tenanglah, aku memang mau pergi kok. Aku kemari cuma ingin memastikan seperti apa wilayah yang akan jadi jajahanku nanti." ujar Belphegor.
"Cih, jangan seenaknya. Aku tidak berniat menyerahkannya semudah itu padamu." sahut Dante.
"Kalau begitu aku cuma perlu merebutnya kan?" ucap Belphegor sambil tersenyum.
"Memangnya kau sanggup melakukan itu, hah? Kau bahkan dikalahkan oleh The White Light tanpa bersusah payah." ejek Dante.
"Tentu saja aku sanggup. Kalau perlu bukan hanya wilayah, gadis berambut hijau itu juga akan kujadikan sebagai bonekaku." jawab Belphegor.
Tiba-tiba saja api hitam melesat menebas ke arah sosok laki-laki itu bagaikan pedang.
"Wah-wah seram. Tiba-tiba saja menyerangku seperti itu." ujar Belphegor yang ternyata selamat karena melompat kebelakang dan menjatuhkan diri.
Sementara gedung yang tadi tampak hancur bagian atapnya dan terbakar. Dari arah gedung melesat sosok manusia menembus api. Itu adalah Dante yang dalam sekejap sudah ada di depan Belphegor lagi. Dante sudah tampak siap menyerang lagi dengan gitarnya. Tapi tepat disampingnya ada sebuah peluru mengarah padanya.
"Apa?!" ucap Dante dalam hati tampak terkejut.
Dante menahannya dengan gitarnya. Saat mendarat di tanah, tampak ada beberapa tembakan lain mengarah padanya. Dante menghindarinya satu persatu. Kemudian Dante melompat ke arah gedung dan dengan berpijak pada dinding gedung tersebut dia melompat ke arah lain menghindari peluru-peluru yang terus mengarah padanya.
"Sebenarnya darimana semua tembakan ini berasal?" gerutu Dante sambil tetap menghindari tembakan-tembakan yang tak jelas darimana asalnya.
"Peluru kendali!!? Yang benar saja!!?" ucap Dante terkejut.
Benar saja, dari kejauhan tampak beberapa misil mengarah padanya. Dante berlari dengan kecepatan tinggi berusaha menjauh.
"Sial!" ucap Dante kesal.
Dante melompat dari satu bangunan ke bangunan lain tapi misil itu terus mengejarnya.
"Pencari panas kah." kata Dante saat menyadarinya.
Dante melompat berbalik ke arah misil tersebut.
"Kenapa aku harus menghindarinya. Ini tidak seperti aku sedang menggunakan pesawat." ujar Dante melesat tepat ke arah misil-misil tersebut.
Dante pun menangkap 2 dari peluru kendali itu kemudian melemparkannya ke peluru kendari yang lain. Karena berhantaman satu sama lain, semua peluru kendali itu pun meledak. Dante melindungi dirinya dari ledakan dengan api hitamnya yang di tebaskan ke arah ledakan. Dan Dante pun mendarat dengan selamat.
"Kurang ajar, Belphegor sialan itu. Sebenarnya darimana asalnya semua serangan-serangan tadi itu? Apa dia punya seorang penjaga tak terlihat atau semacamnya?" gerutu Dante.
Dante pun mengepalkan tangannya sekuat tenaga karena merasa kesal. Wajah Dante tampak gelap karena menunduk. Dante benar-benar marah saat itu.
"Tuan Lucifer! Sedang apa anda disini?" sapa June.
"Diam!" bentak Dante menebas June dengan api hitamnya.
June terpental kebelakang meskipun dia menahan tebasan itu.
"A-ada apa, tuan? Apa yang terjadi?" tanya June yang tampak kebingungan.
"Jangan bicara denganku dulu saat ini! Atau kau akan jadi pelampiasan rasa kesalku!!" bentak Dante menatap kejam pada June dan matanya menyala merah.
June ketakutan saat melihat sorot mata Dante itu dan langsung terdiam menelan ludah.
"Kalau ketemu lagi akan kuhabisi tuh orang.." ucap Dante.
Sementara di rumah Miku, Gumi tampak sedang membuka buku yang ditemukannya di pesawat Dante. Saat membuka halaman pertama, Gumi sudah dikejutkan oleh sesuatu.
"I-ini kan.." ucap Gumi terlihat kaget.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.