Memo, chapter 62 - Senior Junior 5

Saat istirahat, Arya dan teman-temannya berbincang-bincang di dalam kelas. Seperti biasanya Arya tidak keluar kelas saat istirahat dan malah membuka internet melalui ponsel pintarnya.
"Sekarang lagi jamannya batu akik. Dimana-mana aku selalu melihat ada orang mengasah batu. Bahkan ayahku sendiri pun beberapa hari ini tidak bekerja karena sibuk menghampelas batu. Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hal ini?" ujar Fajar.
"Peduli amat." sahut Digna.
"Bukan urusanku." balas Arya yang sibuk dengan ponselnya.
"Kejam banget! Apa begitu cara kalian memperlakukan teman kalian?" gerutu Fajar.
"Tentu saja." sahut Digna.
"Ya." balas Arya.
Fajar pun tampak shock mendengarnya.
"Kalian jahat! Uwaaa..." ucap Fajar keluar dari kelas dengan berlinang air mati.
"Apa menurutmu kita terlalu kejam padanya?" tanya Digna.
"Tidak kok. Sudah sejak pagi kita bahas batu akik terus. Apa tidak bosan coba? Padahal kita sudah menjawabnya. Tapi dia selalu mengulang pertanyaan yang sama." jawab Arya.
"Benar juga. Lama-lama memang ngeselin juga kalau bahas topik yang sama terus-terusan." ujar Digna.
"Tuh kan." sahut Arya.
"Oh ya, daritadi kamu ngapain sih? Kulihat kamu sibuk banget main HP terus." tanya Digna dengan heran.
"Sedang browsing aja." jawab Arya.
"Browsing tentang apa?" tanya Digna lagi.
"Batu akik." jawab Arya.
"Hah?" ucap Digna sedikit tersentak.
"Ternyata dia sama aja." komentar Digna dalam hatinya.
Berbeda dengan yang dikatakannya, ternyata Arya tidak sedang browsing tentang batu akik. Dia malah membuka sebuah blog yang berisi info lomba menulis.
"Bulan ini tak ada yang bisa kuikuti. Yah walaupun sudah pasti aku tidak akan berhasil meski aku mengikuti yang bisa kuikuti sekalipun." kata Arya dalam hatinya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk jendela di sebelahnya dari luar. Arya dan Digna pun menoleh ke arah jendela tersebut. Dan nampaklah sosok gadis cantik tersenyum menatap Arya.
"Senior Sindy?! Apa yang hendak dilakukannya disini?" ujar Arya dalam hati bertanya-tanya.
Arya pun bangkit dan keluar dari kelasnya dan menghampiri seniornya tersebut.
"Ada apa senior?" tanya Arya.
"Siang nanti kita kumpul di halaman depan sekolah. Beri tahu pada yang lainnya juga." jawab Sindy.
"Lah kenapa mesti aku yang memberi tahu mereka? Emang senior mau kemana?" tanya Arya yang merasa keberatan.
"Mmh.. jadi kamu mau menyuruhku melakukan semuanya sendirian?" sahut Sindy sambil tersenyum.
"Ti-tidak lah. Maksudku bukan itu." balas Arya.
"Waduh.. kenapa jadi aku yang kelihatan jahat disini?" komentar Arya dalam hati.
"Pokoknya kamu harus memberitahu yang lain. Harus!" ucap Sindy menekankan.
"Ba-baiklah.." jawab Arya.
"Baguslah. Kalau begitu aku akan kembali ke kelasku." kata Sindy sambil berbalik membelakangi Arya.
"Tunggu sebentar, senior. Memangnya ada masalah apa sampai kita harus keluar dari ruang ekskul." tanya Arya.
"Rahasia." jawab Sindy sambil membuat ekspresi imut.
Sindy kemudian pergi kembali ke kelasnya meninggalkan Arya.
"Kelihatannya kamu akrab sekali ya dengan wakil ketua OSIS. Sudah sejauh apa sebenarnya hubungan kalian?" tanya Digna dengan menatap sayu pada Arya.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Arya tidak mengerti.
Ternyata bukan hanya Digna, tapi semua orang dikelas tampak memperhatikan ke arah Arya.
"Gawat dah.. sepertinya mereka semua salah paham.." pikir Arya.
"Eh ada apa ini? Sedang main tatap-tatapan?" tanya Shinta yang baru kembali dari kantin.

Catatan hari ini:
Sebuah kebohongan akan menumbuhkan rasa curiga dan tidak percaya.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】