Memo, chapter 64 - Menyampaikan 2
Waktu istirahat sudah hampir selesai, Arya masih belum menyampaikan pesan dari seniornya pada Alice dan Shinta. Arya pun tampak depresi duduk dikantin.
"Aku harus memikirkan cara menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya langsung. Tapi bagaimana?" gumam Arya sambil menempelkan pipinya di meja kantin.
"Woy Arya! Tumben kamu ada dikantin. Ada apa?" sapa Fajar.
"Tolong jangan ganggu aku dulu. Aku sedang berpikir." sahut Arya.
"Eh, memangnya kamu lagi mikirin apa sih? Tidak biasanya kamu kelihatan bingung banget." tanya Fajar.
"Bukan urusanmu." jawab Arya dengan malas.
"A-.. kenapa hari ini kau dingin banget padaku. Apa kau membenciku atau semacamnya?" tanya Fajar.
"Tidak juga." jawab Arya sambil memegang dagu.
"Dari jawabanmu yang singkat-singkat itu. Jelas banget kau membenciku." tukas Fajar.
"Kalau kamu terus menggangguku seperti itu sudah pasti aku akan membencimu." sahut Arya dengan pedas.
"Eh?" ucap Fajar yang jadi bingung.
"Baiklah, sudah kuputuskan untuk mengatakannya langsung.." ucap Arya sambil berdiri.
"Mengatakannya langsung? Apa maksudnya?" ujar Fajar melihat Arya pergi meninggalakan kantin.
Arya berjalan menuju ke kelas X-3, namun dijalan dia bertemu dengan Shinta yang hendak menuju kantin.
"Oh Arya! Habis darimana?" tanya Shinta menyapa Arya.
"Dari kantin tadi. Oh ya, aku punya pesan dari senior Sindy. Katanya kegiatan ekskul hari ini akan di lakukan di halaman depan sekolah." jawab Arya sembari menyampaikan pesan dari seniornya.
"Oke deh, siap. Kalau begitu sampai jumpa nanti siang ya." ucap Shinta kemudian melanjutkan jalannya.
"Ya." sahut Arya.
Setelah beberapa saat setelah Shinta pergi, Arya tersadar akan sesuatu.
"Tunggu sebentar, barusan aku bisa mengatakannya dengan normal. Kenapa bisa?" ucap Arya dalam hati heran sendiri.
Arya pun mulai percaya diri dan melanjutkan langkahnya menuju ke kelas X-3. Di depan kelas terlihat Alice sedang mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Baiklah, aku pasti bisa mengatakannya kali ini." ucap Arya dalam hati kemudian menghampiri Alice.
"Ha-halo.." sapa Arya dengan terbata-bata.
Alice dan teman-temannya pun menengok ke arah Arya. Arya terdiam dan suasana pun hening.
"Lho, kenapa tiba-tiba aku gugup gini. Ayolah mulutku katakan sesuatu. Bisa-bisa aku dikira orang aneh kalau sudah menyapa tapi malah diam." ujar Arya dalam hati.
Alice dan teman-temannya bingung dengan Arya yang tiba-tiba diam.
"Ka-kalian, bisakah kalian tinggalkan dulu kami berdua sebentar. Se-sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padaku, tapi malu karena ada kalian." pinta Alice.
"O-oh.. baiklah." sahut temannya.
Kemudian teman-teman Alice pun masuk kedalam kelas meninggalkan Alice berdua dengan Arya.
"Eh, mereka pergi?" ucap Arya dalam hati saat melihat teman-teman Alice pergi.
Alice pun mendekat ke Arya.
"Ja-jadi ada apa? Apa ini tentang 'sesuatu' yang ingin kamu sampaikan sebelumnya?" tanya Alice dengan wajah memerah.
"Be-begitulah." sahut Arya dengan gugup.
Alice sedikit terkejut dan tampak gugup menanti apa yang akan dikatakan oleh Arya.
"Suasana nya aneh banget. Kenapa canggung nya terasa banget? Padahal sebelumnya saat berbicara dengan Shinta rasanya biasa saja." gerutu Arya dalam hati.
Tiba-tiba aura gelap terlihat dibelakang Arya. Aura hitam keunguan yang dingin membuat bulu kuduk Arya berdiri.
"A-aura membunuh ini.. jangan-jangan.." ucap Arya sambil menoleh kebelakang dengan perlahan.
Saat melihat kebelakang ternyata Ani sedang menatapnya dengan tatapan dingin yandere. Arya yang melihatnya langsung shock dan wajahnya memucat.
"Sedang apa lagi kamu disini?" tanya Ani dengan suara menyeramkan.
"Ma-maaf.. aku.." sahut Arya dengan ketakutan.
"Aku hanya ingin menyampaikan kalau kegiatan ekskul hari ini dilakukan diluar!!!" sambung Arya sambil kabur ke kelasnya.
Alice terkejut mendengar jawaban Arya tersebut.
"Be-begitu ya.." ucap Alice sambil tersenyum.
Catatan hari ini:
Reaksi seseorang pada orang yang berbeda mungkin saja akan berbeda. Karena itu jangan berharap akan selalu sama dan selalu disamakan.
"Aku harus memikirkan cara menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya langsung. Tapi bagaimana?" gumam Arya sambil menempelkan pipinya di meja kantin.
"Woy Arya! Tumben kamu ada dikantin. Ada apa?" sapa Fajar.
"Tolong jangan ganggu aku dulu. Aku sedang berpikir." sahut Arya.
"Eh, memangnya kamu lagi mikirin apa sih? Tidak biasanya kamu kelihatan bingung banget." tanya Fajar.
"Bukan urusanmu." jawab Arya dengan malas.
"A-.. kenapa hari ini kau dingin banget padaku. Apa kau membenciku atau semacamnya?" tanya Fajar.
"Tidak juga." jawab Arya sambil memegang dagu.
"Dari jawabanmu yang singkat-singkat itu. Jelas banget kau membenciku." tukas Fajar.
"Kalau kamu terus menggangguku seperti itu sudah pasti aku akan membencimu." sahut Arya dengan pedas.
"Eh?" ucap Fajar yang jadi bingung.
"Baiklah, sudah kuputuskan untuk mengatakannya langsung.." ucap Arya sambil berdiri.
"Mengatakannya langsung? Apa maksudnya?" ujar Fajar melihat Arya pergi meninggalakan kantin.
Arya berjalan menuju ke kelas X-3, namun dijalan dia bertemu dengan Shinta yang hendak menuju kantin.
"Oh Arya! Habis darimana?" tanya Shinta menyapa Arya.
"Dari kantin tadi. Oh ya, aku punya pesan dari senior Sindy. Katanya kegiatan ekskul hari ini akan di lakukan di halaman depan sekolah." jawab Arya sembari menyampaikan pesan dari seniornya.
"Oke deh, siap. Kalau begitu sampai jumpa nanti siang ya." ucap Shinta kemudian melanjutkan jalannya.
"Ya." sahut Arya.
Setelah beberapa saat setelah Shinta pergi, Arya tersadar akan sesuatu.
"Tunggu sebentar, barusan aku bisa mengatakannya dengan normal. Kenapa bisa?" ucap Arya dalam hati heran sendiri.
Arya pun mulai percaya diri dan melanjutkan langkahnya menuju ke kelas X-3. Di depan kelas terlihat Alice sedang mengobrol dengan teman sekelasnya.
"Baiklah, aku pasti bisa mengatakannya kali ini." ucap Arya dalam hati kemudian menghampiri Alice.
"Ha-halo.." sapa Arya dengan terbata-bata.
Alice dan teman-temannya pun menengok ke arah Arya. Arya terdiam dan suasana pun hening.
"Lho, kenapa tiba-tiba aku gugup gini. Ayolah mulutku katakan sesuatu. Bisa-bisa aku dikira orang aneh kalau sudah menyapa tapi malah diam." ujar Arya dalam hati.
Alice dan teman-temannya bingung dengan Arya yang tiba-tiba diam.
"Ka-kalian, bisakah kalian tinggalkan dulu kami berdua sebentar. Se-sepertinya ada yang ingin dia sampaikan padaku, tapi malu karena ada kalian." pinta Alice.
"O-oh.. baiklah." sahut temannya.
Kemudian teman-teman Alice pun masuk kedalam kelas meninggalkan Alice berdua dengan Arya.
"Eh, mereka pergi?" ucap Arya dalam hati saat melihat teman-teman Alice pergi.
Alice pun mendekat ke Arya.
"Ja-jadi ada apa? Apa ini tentang 'sesuatu' yang ingin kamu sampaikan sebelumnya?" tanya Alice dengan wajah memerah.
"Be-begitulah." sahut Arya dengan gugup.
Alice sedikit terkejut dan tampak gugup menanti apa yang akan dikatakan oleh Arya.
"Suasana nya aneh banget. Kenapa canggung nya terasa banget? Padahal sebelumnya saat berbicara dengan Shinta rasanya biasa saja." gerutu Arya dalam hati.
Tiba-tiba aura gelap terlihat dibelakang Arya. Aura hitam keunguan yang dingin membuat bulu kuduk Arya berdiri.
"A-aura membunuh ini.. jangan-jangan.." ucap Arya sambil menoleh kebelakang dengan perlahan.
Saat melihat kebelakang ternyata Ani sedang menatapnya dengan tatapan dingin yandere. Arya yang melihatnya langsung shock dan wajahnya memucat.
"Sedang apa lagi kamu disini?" tanya Ani dengan suara menyeramkan.
"Ma-maaf.. aku.." sahut Arya dengan ketakutan.
"Aku hanya ingin menyampaikan kalau kegiatan ekskul hari ini dilakukan diluar!!!" sambung Arya sambil kabur ke kelasnya.
Alice terkejut mendengar jawaban Arya tersebut.
"Be-begitu ya.." ucap Alice sambil tersenyum.
Catatan hari ini:
Reaksi seseorang pada orang yang berbeda mungkin saja akan berbeda. Karena itu jangan berharap akan selalu sama dan selalu disamakan.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.