Memo, chapter 61 - Pengalihan
Pagi-pagi di sekolah, Arya tampak baru sampai di kelasnya dan lalu duduk di tempat duduknya.
"Woy Arya, tumben waktu datangnya normal." sapa Fajar.
"Hah? Emang waktu datang seperti apa yang tidak normal?" tanya Arya.
"Ya kan kau biasanya datang kepagian, atau kalau tidak pasti kesiangan." sahut Fajar.
"Ya sebenarnya aku punya beberapa alasan kenapa hal itu sering terjadi." kata Arya dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian datanglah Digna.
"Aku mendengar kabar aneh sewaktu dalam perjalanan kemari." ujar Digna lalu duduk dikursinya.
"Kabar aneh? Maksudnya?" tanya Arya.
"Waktu hari sabtu kemarin ku dengar kamu menginap dengan seorang gadis di ruang ekskulmu." jawab Digna.
“Be-be-beneran?!!” ucap Fajar terkejut.
Arya yang juga mendengarnya pun tidak kalah terkejutnya dengan Fajar. Dengan tampak shock diwajahnya, Arya terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Lah malah nge-hang dia." komentar Fajar.
"Woy, cepetan jawab." pinta Digna sambil menarik kerah baju Arya.
"Sa-sabar.." sahut Arya.
Arya kemudian berdehem bersiap untuk memberikan jawaban. Fajar dan Digna juga sudah siap mendengarkan. Itu terlihat dari sorot mata merek yang tampak penasaran, walau ekspresi wajah Digna tidak begitu tampak berubah.
"Ada yang punya permen penyegar tenggorokan. Rasanya tenggorokanku agak gatal nih. Ehem!" ujar Arya.
"Kurang ajar! Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan dah! Cepetan beri kami penjelasan!" paksa Digna sambil menarik kerah baju Arya lagi.
"Ba-baiklah. Tidak sabaran amat." balas Arya.
Digna pun kembali melepaskan kerah baju Arya.
"Begini, apa kalian pikir aku bisa masuk begitu saja ke ruang ekskulku?" tanya Arya.
"Hmm.. benar juga. Ruang khusus ekskul biasanya akan dikunci disaat hari libur dan saat kegiatan ekskul sudah selesai. Dan yang memegang kuncinya juga hanya ketua dan wakil ketua ekskul juga guru pembimbing." ujar Digna berpikir kembali.
"Tapi setahuku ekskul sastra anggotanya cuma kau, gadis kuncir kuda, dan senior super kece kelas 2." kata Fajar.
"Ya benar sekali. Masih ada kemungkinan kamu memegang kuncinya. Karena kalau bukan si maniak olahraga itu yang jadi wakil ketua, maka kamulah orangnya." tambah Digna.
"Ya, memang benar aku juga memegang kunci ruang ekskul sastra. Tapi soal wakil ketua sih aku tidak tahu. Seingatku senior Sindy belum pernah membahasnya denganku." jawab Arya.
"Lah kalau begitu kenapa kamu bisa memegang kunci ruang ekskul sastra?" tanya Fajar.
"Sebenarnya ceritanya begitu dramatis." jawab Arya.
"Dramatis gimana maksudnya?" tanya Digna.
"Pada suatu hari.." ucap Arya.
"Pembukaannya mainstream banget." komentar Digna.
"Saat itu aku sedang berjalan ke ruang ekskul milikku.." sambung Arya.
"Sejak kapan itu jadi milikmu?" sahut Fajar.
"Dan saat aku membuka pintu aku melihat senior Sindy sedang duduk di kursinya dengan laptop yang terlihat ada dihadapannya. Lalu aku pun menyapanya, 'Selamat siang senior!' ucapku. Dia pun membalas, 'Selamat siang juga, juniorku.' sambil tersenyum." sambung Arya.
"Jangan men-dubbing nya!!!" bentak Digna dan Fajar.
"Eh, memang kenapa?" tanya Arya.
"Kamu merusak khayalan kami!" ujar Digna.
"Biarkan kami mendengar suara indah wakil ketua OSIS!" bentak Fajar.
"Ya ampun.. kalian ini banyak protes ya. Ya sudah, kalau begitu biarkan itu diceritakan dalam mode pihak ketiga serba tahu saja. Silahkan.." kata Arya.
Menurut apa yang diceritakan Arya, saat itu adalah hari yang cerah. Sepulang sekolah Arya langsung menuju ke ruang ekskul sastra. Saat Arya membuka pintu ruang ekskulnya tampaknya seorang gadis yang tampak anggun sedang mengetik di laptopnya.
"Selamat siang, senior!" sapa Arya.
"Selamat siang, juniorku." sahut Sindy sambil tersenyum.
Arya pun duduk di kursinya. Namun saat Arya duduk, Sindy pun berdiri dan menutup laptopnya.
"Eh, senior mau kemana?" tanya Arya sedikit terkejut.
"Maaf, hari ini aku harus pulang lebih cepat. Tolong kuncikan pintunya ya." jawab Sindy kemudian meletakan sebuah kunci di atas meja.
Sindy pun pergi meninggalkan ruangan ekskul sastra.
"Yah, aku ditinggal. Tapi tak apalah. Sekalian numpang charging HP. Di rumah belum ada listriknya. Belum beli pulsa soalnya." ujar Arya sambil mengambil kunci dengan gantungan tanpa aksesoris itu.
Saat pulangnya Arya berjalan pulang sambil memutar-mutar kunci di telunjuk tangan kirinya sambil tangan kananya sibuk internetan menggunakan HP. Namun tanpa sengaja kuncinya pun terlempar dari tangan Arya dan jatuh di got yang berlumpur. Arya pun tampak shock melihatnya. Arya langsung mengambil kunci itu menggunakan ranting kayu. Dan keesokan harinya saat Arya menuju ke ruang ekskul sastra.
"Lho kok pintunya kebuka?" ucap Arya melihat pintu ruang ekskul dalam keadaan terbuka saat itu.
Arya masuk kedalam dan menghampiri Sindy yang sudah sibuk dengan kegiatannya seperti kemarin.
"Selamat siang, senior.." sapa Arya.
"Selamat siang, juniorku.." sahut Sindy sambil tersenyum.
"Kok senior bisa membuka pintunya? Senior punya kunci cadangannya?" tanya Arya.
"Ya begitulah." sahut Sindy.
"Oh pantas saja kalau begitu. Ini kunci yang kemarin." balas Arya sambil mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
Sindy menjulurkan tangannya, walau pandangannya masih terfokus ke laptopnya.
"Sebenarnya kemarin kuncinya jatuh ke selokan. Tapi tenang saja kok, aku sudah mencucinya dengan bersih." sambung Arya.
Mendengar itu posisi tangan Sindy pun berubah dari yang hendak menerima menjadi seperti hendak menolak.
"Kamu pegang saja. Anggap saja itu sebagai rasa kepercayaanku padamu sebagai anggota ekskul sastra." ujar Sindy.
"Ta-tapi kan.." sahut Arya.
"Sudah pegang saja. Akan sulit nantinya jika nantinya aku tidak hadir dan kamu tidak bisa masuk ke ruang ekskul. Karena itu aku percayakan kunci itu padamu. Aku percaya kamu akan memberikan perubahan di ekskul ini. Kunci itu adalah sebagai simbol dari kunci untuk membuka masa depan ekskul sastra. Aku tidak selamanya ada di sekolah ini. Jadi aku berikan itu padamu sekarang." kata Sindy.
"Senior.." ucap Arya tampak terharu.
Dan itulah akhir dari apa yang diceritakan oleh Arya.
"Tuh kan apa kubilang, dramatis banget kan?" ucap Arya.
"Dramatis darimananya!! Jelas-jelas dia memberikannya padamu karena jijik!" bentak Fajar dan Digna.
"Eh, masa?" sahut Arya dengan tampang bodoh.
"Pastinya lah! Memangnya siapa yang mau menerima sesuatu yang sudah pernah jatuh ke dalam got berlumpur!" balas Fajar.
"Lah tapi kan aku sudah mencucinya dengan bersih.. mungkin." jawab Arya.
"Kata mungkinmu membuatku semakin khawatir!" bentak Fajar.
Tiba-tiba bel masuk bunyi. Semua siswa pun keluar untuk melakukan upacara bendera dilapangan. Dan saat upacara berlangsung.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu." ujar Fajar dan Digna dalam hati mereka dengan wajah bengong.
Catatan hari ini:
Berpikir positif kadang memang baik, tapi kadang pula kita harus berpikir sedikit negatif untuk mengetahui sebuah kebenaran.
"Woy Arya, tumben waktu datangnya normal." sapa Fajar.
"Hah? Emang waktu datang seperti apa yang tidak normal?" tanya Arya.
"Ya kan kau biasanya datang kepagian, atau kalau tidak pasti kesiangan." sahut Fajar.
"Ya sebenarnya aku punya beberapa alasan kenapa hal itu sering terjadi." kata Arya dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian datanglah Digna.
"Aku mendengar kabar aneh sewaktu dalam perjalanan kemari." ujar Digna lalu duduk dikursinya.
"Kabar aneh? Maksudnya?" tanya Arya.
"Waktu hari sabtu kemarin ku dengar kamu menginap dengan seorang gadis di ruang ekskulmu." jawab Digna.
“Be-be-beneran?!!” ucap Fajar terkejut.
Arya yang juga mendengarnya pun tidak kalah terkejutnya dengan Fajar. Dengan tampak shock diwajahnya, Arya terdiam karena tak tahu harus menjawab apa.
"Lah malah nge-hang dia." komentar Fajar.
"Woy, cepetan jawab." pinta Digna sambil menarik kerah baju Arya.
"Sa-sabar.." sahut Arya.
Arya kemudian berdehem bersiap untuk memberikan jawaban. Fajar dan Digna juga sudah siap mendengarkan. Itu terlihat dari sorot mata merek yang tampak penasaran, walau ekspresi wajah Digna tidak begitu tampak berubah.
"Ada yang punya permen penyegar tenggorokan. Rasanya tenggorokanku agak gatal nih. Ehem!" ujar Arya.
"Kurang ajar! Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan dah! Cepetan beri kami penjelasan!" paksa Digna sambil menarik kerah baju Arya lagi.
"Ba-baiklah. Tidak sabaran amat." balas Arya.
Digna pun kembali melepaskan kerah baju Arya.
"Begini, apa kalian pikir aku bisa masuk begitu saja ke ruang ekskulku?" tanya Arya.
"Hmm.. benar juga. Ruang khusus ekskul biasanya akan dikunci disaat hari libur dan saat kegiatan ekskul sudah selesai. Dan yang memegang kuncinya juga hanya ketua dan wakil ketua ekskul juga guru pembimbing." ujar Digna berpikir kembali.
"Tapi setahuku ekskul sastra anggotanya cuma kau, gadis kuncir kuda, dan senior super kece kelas 2." kata Fajar.
"Ya benar sekali. Masih ada kemungkinan kamu memegang kuncinya. Karena kalau bukan si maniak olahraga itu yang jadi wakil ketua, maka kamulah orangnya." tambah Digna.
"Ya, memang benar aku juga memegang kunci ruang ekskul sastra. Tapi soal wakil ketua sih aku tidak tahu. Seingatku senior Sindy belum pernah membahasnya denganku." jawab Arya.
"Lah kalau begitu kenapa kamu bisa memegang kunci ruang ekskul sastra?" tanya Fajar.
"Sebenarnya ceritanya begitu dramatis." jawab Arya.
"Dramatis gimana maksudnya?" tanya Digna.
"Pada suatu hari.." ucap Arya.
"Pembukaannya mainstream banget." komentar Digna.
"Saat itu aku sedang berjalan ke ruang ekskul milikku.." sambung Arya.
"Sejak kapan itu jadi milikmu?" sahut Fajar.
"Dan saat aku membuka pintu aku melihat senior Sindy sedang duduk di kursinya dengan laptop yang terlihat ada dihadapannya. Lalu aku pun menyapanya, 'Selamat siang senior!' ucapku. Dia pun membalas, 'Selamat siang juga, juniorku.' sambil tersenyum." sambung Arya.
"Jangan men-dubbing nya!!!" bentak Digna dan Fajar.
"Eh, memang kenapa?" tanya Arya.
"Kamu merusak khayalan kami!" ujar Digna.
"Biarkan kami mendengar suara indah wakil ketua OSIS!" bentak Fajar.
"Ya ampun.. kalian ini banyak protes ya. Ya sudah, kalau begitu biarkan itu diceritakan dalam mode pihak ketiga serba tahu saja. Silahkan.." kata Arya.
Menurut apa yang diceritakan Arya, saat itu adalah hari yang cerah. Sepulang sekolah Arya langsung menuju ke ruang ekskul sastra. Saat Arya membuka pintu ruang ekskulnya tampaknya seorang gadis yang tampak anggun sedang mengetik di laptopnya.
"Selamat siang, senior!" sapa Arya.
"Selamat siang, juniorku." sahut Sindy sambil tersenyum.
Arya pun duduk di kursinya. Namun saat Arya duduk, Sindy pun berdiri dan menutup laptopnya.
"Eh, senior mau kemana?" tanya Arya sedikit terkejut.
"Maaf, hari ini aku harus pulang lebih cepat. Tolong kuncikan pintunya ya." jawab Sindy kemudian meletakan sebuah kunci di atas meja.
Sindy pun pergi meninggalkan ruangan ekskul sastra.
"Yah, aku ditinggal. Tapi tak apalah. Sekalian numpang charging HP. Di rumah belum ada listriknya. Belum beli pulsa soalnya." ujar Arya sambil mengambil kunci dengan gantungan tanpa aksesoris itu.
Saat pulangnya Arya berjalan pulang sambil memutar-mutar kunci di telunjuk tangan kirinya sambil tangan kananya sibuk internetan menggunakan HP. Namun tanpa sengaja kuncinya pun terlempar dari tangan Arya dan jatuh di got yang berlumpur. Arya pun tampak shock melihatnya. Arya langsung mengambil kunci itu menggunakan ranting kayu. Dan keesokan harinya saat Arya menuju ke ruang ekskul sastra.
"Lho kok pintunya kebuka?" ucap Arya melihat pintu ruang ekskul dalam keadaan terbuka saat itu.
Arya masuk kedalam dan menghampiri Sindy yang sudah sibuk dengan kegiatannya seperti kemarin.
"Selamat siang, senior.." sapa Arya.
"Selamat siang, juniorku.." sahut Sindy sambil tersenyum.
"Kok senior bisa membuka pintunya? Senior punya kunci cadangannya?" tanya Arya.
"Ya begitulah." sahut Sindy.
"Oh pantas saja kalau begitu. Ini kunci yang kemarin." balas Arya sambil mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya.
Sindy menjulurkan tangannya, walau pandangannya masih terfokus ke laptopnya.
"Sebenarnya kemarin kuncinya jatuh ke selokan. Tapi tenang saja kok, aku sudah mencucinya dengan bersih." sambung Arya.
Mendengar itu posisi tangan Sindy pun berubah dari yang hendak menerima menjadi seperti hendak menolak.
"Kamu pegang saja. Anggap saja itu sebagai rasa kepercayaanku padamu sebagai anggota ekskul sastra." ujar Sindy.
"Ta-tapi kan.." sahut Arya.
"Sudah pegang saja. Akan sulit nantinya jika nantinya aku tidak hadir dan kamu tidak bisa masuk ke ruang ekskul. Karena itu aku percayakan kunci itu padamu. Aku percaya kamu akan memberikan perubahan di ekskul ini. Kunci itu adalah sebagai simbol dari kunci untuk membuka masa depan ekskul sastra. Aku tidak selamanya ada di sekolah ini. Jadi aku berikan itu padamu sekarang." kata Sindy.
"Senior.." ucap Arya tampak terharu.
Dan itulah akhir dari apa yang diceritakan oleh Arya.
"Tuh kan apa kubilang, dramatis banget kan?" ucap Arya.
"Dramatis darimananya!! Jelas-jelas dia memberikannya padamu karena jijik!" bentak Fajar dan Digna.
"Eh, masa?" sahut Arya dengan tampang bodoh.
"Pastinya lah! Memangnya siapa yang mau menerima sesuatu yang sudah pernah jatuh ke dalam got berlumpur!" balas Fajar.
"Lah tapi kan aku sudah mencucinya dengan bersih.. mungkin." jawab Arya.
"Kata mungkinmu membuatku semakin khawatir!" bentak Fajar.
Tiba-tiba bel masuk bunyi. Semua siswa pun keluar untuk melakukan upacara bendera dilapangan. Dan saat upacara berlangsung.
"Sepertinya aku melupakan sesuatu." ujar Fajar dan Digna dalam hati mereka dengan wajah bengong.
Catatan hari ini:
Berpikir positif kadang memang baik, tapi kadang pula kita harus berpikir sedikit negatif untuk mengetahui sebuah kebenaran.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.