Posts

Showing posts from July, 2017

Memo, chapter 86 - Obrolan Dalam Kelas 2

Pagi hari, Digna dan Fajar sedang duduk di tempat duduk mereka dalam kelasnya. Mereka tampak mengobrol sambil sambil menunggu bel masuk. "Apa kamu sudah baca berita di mading kemarin?" tanya Digna. "Berita mading? Memangnya ada berita apaan lagi?" tanya balik Fajar. "Katanya ada hantu lho di sekolah ini." jawab Digna. "Apaa??!! Hantu??!!! Serius!!??" ucap Fajar tampak terkejut. "Kenapa kamu kaget gitu? Jangan bilang kamu ini takut pada hantu." tukas Digna. "Ta-takut.? Tidak mungkin lah. Seorang Fajar yang tampan dan berani ini takut sama hantu? Itu mustahil terjadi." ungkap Fajar sambil mengangkat dagunya dengan penuh kebanggaan. "Beneran kah? Bagaimana kalau kita buktikan? Kita lakukan uji nyali pas pulang sekolah nanti." tantang Digna. "U-uji nyali?" sahut Fajar. "Ya. Seperti yang ada di TV-TV itu lho. Kalau perlu kita nginap di sekolah ini biar lebih afdol." tambah Digna sambil mengacungkan jem...

Memo, chapter 85 - Bahagialah Jadi Dirimu Sendiri

Saat pulang sekolah, Arya menepati janjinya untuk membiarkan Fajar merasakan pengalaman menjadi seorang Arya untuk satu hari di ruang ekskul sastra. Dan berdasarkan syarat yang diajukan oleh Arya sebelumnya, Arya juga kini berada di ruang ekskul tersebut tapi hanya sebagai pengawas dan takkan mengganggu jalannya aktivitas ekskul tersebut. Ruang ekskul sastra saat ini terlihat sedikit tegang. Diantara 4 orang yang duduk di sekeliling meja tak ada satupun orang berbicara. Sindy terus mengetik di laptopnya sejak tadi, Shinta terlihat melatih cengkeraman tangannya dengan sebuah alat latihan tangan yang ia bawa, sementara Alice terlihat sedang mengerjakan PR dengan penuh konsentrasi. Jadi satu-satunya orang yang tak melakukan apapun disana hanyalah Fajar yang saat ini berperan sebagai Arya. "Apa-apaan ini??!!! Kenapa suasananya mencekam gini!!? Apa setiap hari selalu seperti ini, Arya?" gerutu Fajar dalam hatinya kemudian menoleh ke arah Arya di kursi yang duduk di pojok ruangan. ...

Memo, chapter 84 - Obrolan Dalam Kelas 1

Di hari-hari biasa sekolah saat istirahat, Arya dan juga kedua temannya sedang mengobrol di kelas. Seperti biasa mereka bertiga tidak ke kantin memilih untuk bercengkerama dikelas. “Oh ya, kudengar katanya kamu datang ke sekolah ya saat libur kemarin?” tanya Digna. "Eh, beneran tuh? Kok bisa?" tambah Fajar terkejut mendengarnya. "Ta-tahu darimana kamu, Digna? Perasaan aku tidak lihat kamu saat itu." tanya balik Arya terlihat kaget. "Aku dengar dari seniorku di ekskul taekwondo, katanya dia melihatmu pulang dari arah sekolah waktu hari libur. Pakai seragam pula." jelas Digna. "Wew.. sepertinya ada yang lupa baca kalender nih. Hahaha.." ejek Fajar. "Mau bagaimana lagi, dirumahku tak ada kalender!" bentak Arya terlihat kesal dan malu. "Sialan! Kenapa pula mesti ketahuan oleh mereka berdua!? Harusnya kemarin tuh aku melepas seragam ini dan pulang menggunakan pakaian biasa supaya tidak terlalu mencolok." gerutu Arya dalam ha...

Memo, chapter 83 - Masalah Di Pagi Hari

Pagi hari yang indah. Dan Arya kembali datang kepagian hari ini. Dia duduk sendirian di tempat duduknya sementara kelas masih sangat sepi. Hanya dia satu-satunya orang yang baru datang saat itu. Dengan wajah bengong, Arya duduk tegak seperti siswa teladan. "Kenapa aku datang kepagian lagi??!!" teriak Arya dalam hatinya. "Aku tahu kalau aku memang seharusnya datang pagi, tapi tidak sepagi ini juga kan! Ini mah tidak ada bedanya seperti aku menginap di sekolah ini! Lalu kalau begitu untuk apa aku pulang ke rumah! Hanya menghabiskan energiku saja, sialan!" gerutu Arya dalam benaknya. "Apalagi ketika aku menunggu gerbang sekolah dibuka, tatapan satpam saat itu padaku terlihat begitu menusuk. Seakan dia menuduhku kalau aku terlalu semangat untuk bersekolah setiap harinya, padahal ketika pulang selalu berjalan dengan penuh kekecewaan." pikir Arya sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. "Dia pasti mengira kalau aku orang yang terlalu optimistik!...

Memo, chapter 82 - Senior Junior 6

Setelah Rere berlari keluar dari ruang ekskul sastra, kini di ruangan itu hanya tinggal Sindy dan Arya yang baru saja datang. Arya memutuskan untuk membuat secangkir teh sebelum duduk di kursinya. "Senior, gulanya disimpan dimana ya?" tanya Arya. "Oh maaf, gulanya sudah habis. tadi. Aku belum beli lagi." jawab Sindy. "Hah? Jadi hari ini aku harus minum teh tawar nih. Ya ampun.." keluh Arya yang terlanjur telah menyeduh teh celup nya. Arya pun akhirnya duduk di tempat duduknya dengan secangkir teh tawar di atas meja. Sambil mencelup-celupkan teh celupnya, Arya menatap air yang semakin berubah cokelat itu dengan wajah bosan. Ia pun menjatuhkan kepalanya ke permukaan meja yang dingin. "Mau permen?" ucap Sindy sambil menyodorkan sebungkus permen kepada Arya. Arya mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Sindy. "Aku bukan anak kecil lagi, jadi senior jangan harap bisa menghiburku hanya dengan sebungkus permen." sahut Arya tampak tersinggung. ...

Memo, chapter 81 - Lakukan Sendiri

Di lorong dan jalan-jalan sekolahan, sampah terlihat berserakan. Arya dan Rozak mengumpulkan sampah-sampah itu kemudian memasukannya ke dalam tong sampah yang mereka bawa. "Maafkan aku, karena kecerobohanku kamu jadi harus mengumpulkan sampah-sampah ini lagi dua kali." ujar Rozak yang sedang mengumpulkan sampah disebelahnya. "Tidak apa kok. Aku juga ikut bertanggung jawab dalam hal ini." balas Arya. "Karena tidak memberitahunya kalau tongnya bolong." lanjut Arya dalam hatinya. "Wohoho.. kamu memang teman yang baik ya. Aku senang sekali berteman denganmu." jawab Rozak. Ketika sedang sibuk mengumpulkan semua sampah itu, tiba-tiba ada orang lewat. Orang tersebut kemudian berhenti dihadapan Arya dan Rozak. "Lho, ketua? Pantas saja tidak datang ke ruang ekskul, rupanya ketua sedang mungutin sampah disini. Lah, tapi yang kudengar katanya ketua sedang melakukan tugas piket. Kok malah ngumpulin sampah?" tanya Digna yang kebetulan lewat. "D...

Memo, chapter 80 - Teman Telah Ditambahkan!

Tempat pembakaran sampah di halaman belakang sekolah adalah salah satu tempat tersepi di sekolah. Seakan tempat itu adalah tempat terlarang untuk didatangi, tempat itu tampak tak begitu terurus dan terkesan sedikit horror. "Apa disini bakalan muncul zombie atau semacamnya? Disini benar-benar mengerikan sekali." komentar Arya dalam hatinya ketika sampai disana. Arya ke tempat pembakaran sampah untuk membuang sampah yang telah dikumpulkannya sebelumnya. Dan bukan hanya itu, Arya juga dipaksa untuk mengumpulkan sampah yang bukan tanggung jawabnya setelah mendapat teguran dari guru perempuan yang berwajah lebih seram daripada hantu. "Ah.. hari ini benar-benar melelahkan. Aku jadi semakin ingin cepat pulang kalau gini." gerutu Arya sambil melemparkan kantong plastik yang dibawanya ke tempat pembakaran. "Ya.. aku juga." sahut Rozak yang berdiri disebelahnya dengan bahu turun karena lelah. "Lho, ini tong sampah kok rasanya ringan amat ya." sambung ...

Memo, chapter 79 - Situasi Yang Tak Terduga

Arya berjalan melewati lorong gedung kelas 1. Lorong itu tampak sepi dan hanya ada beberapa anak kelas 1 yang hendak pulang dan mengambil tas mereka dari dalam kelas. Sambil berjalan, Arya mengambil sampah di sepanjang perjalanan. Meski saat ini ia diperhatikan oleh para siswa dan siswi yang dilewatinya, Arya tetap mengumpulkan sampah-sampah kecil yang bisa ia temukan. "Sedikit memalukan sih, tapi demi cepat pulang aku akan melakukan apapun." ujar Arya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Ketika sedang mengumpulkan sampah, Arya melihat ada seorang senior yang tampak membawa tong sampah yang sudah dipenuhi dengan sampah. Sepertinya senior itu hendak membawanya ke tempat pembakaran sampah di halaman belakang sekolah. "Hmm.. sepertinya aku juga harus membuang sampah ini juga sebelum kembali ke halaman depan." pikir Arya sambil melirik ke arah kantong sampahnya. Arya pun berniat untuk mengikuti senior betubuh tinggi besar itu. Namun ketika ia mengikutinya, ia sadar...

Memo, chapter 78 - Munculnya Hantu

Alice berjalan dengan kesal, wajahnya juga memerah karena menahan malu atas apa yang dilakukan oleh Ani sebelumnya. "Dasar Ani bodoh! Kenapa sih dia mesti melakukan hal itu? Besok pasti bakalan jadi gosip di kelas." gerutu Alice sambil berjalan menyusuri lorong sekolah. Tetapi, ketika lewat di depan lorong kelas 2, Alice mendengar sebuah lantunan nyanyian merdu seorang perempuan. Suaranya sangatlah indah hingga mampu membuat Alice terperangah kagum dan melupakan kejadian yang menimpa dirinya. Alice penasaran, dan ia pun mencari asal datangnya suara indah tersebut. Ia mencari satu-persatu ruang kelas 2 melalui jendela. Namun ketika melihat ke dalam, semua ruang kelas itu kosong. "Se-semuanya kosong?! Apa maksudnya ini? Terus suara ini berasal dari mana?" ucap Alice terkejut karena tak kunjung menemukan asal suara indah tersebut. Tapi suara itu makin lama makin terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Padahal tidak ada ruang kelas lain disana, tapi suara itu jelas-jelas...

Memo, chapter 77 - Ketika Perempuan Marah

Alice Anastasia, seorang puteri dari pemilik perusahaan terkenal Anastasia Corp. saat ini sedang berada di halaman sekolah bersama Arya dan Shinta. Mereka tadinya mau berpencar untuk mencari Shindy yang masih belum kembali juga. Namun pada akhirnya mereka malah bareng-bareng ke halaman depan sekolah. "Jadi sekarang mau bagaimana?" tanya Arya pada dua gadis di kanan dan kirinya. "Tidak ada jalan lain. Kita tunggu saja." ungkap Shinta. "I-iya. Mungkin sebaiknya kita tunggu disini. Karena kita memang janjiannya kan disini." tambah Alice. "Tapi rasanya agak kurang enak juga kalau kita hanya diam disini dan tak melakukan apapun. Lebih baik kita selesaikan tugas kita sebelum senior Sindy kembali. Padahal senior Sindy sudah merencanakan semua ini, bukankah tidak bagus kalau semuanya dibatalkan gara-gara kesorean?" ujar Arya sambil mengambil kantong plastik untuk sampah dari dalam keranjang sampah. "Jadi, kalian mau ikut atau tidak?" sambu...

Memo, chapter 76 - Salah Sasaran

Shinta sedang mengumpulkan sampah di sekitar lapangan basket. Dia meletakan keranjang sampahnya sementara mengumpulkan sampah kemudian melemparkannya masuk keranjang sampah dari kejauhan. Layaknya pemain basket, Shinta melemparkan sampah itu satu persatu dari jarak jauh. "Baiklah itu yang terakhir." ucap Shinta melemparkan sampah terakhir ke keranjang sampahnya. Sekitar lapangan tampak sudah bersih. Tak ada satupun sampah disana yang tersisa. Di lapangan basket, tampak tim dari ekskul basket sedang berlatih. Namun latihan mereka nampak terhenti karena memperhatikan Shinta yang mengumpulkan sampah daritadi. "Bagaimana bisa dia melemparkannya tanpa meleset sedikitpun?" ucap salah seorang anggota tim basket. "Iya. Padahal melemparkan benda ringan seperti kertas dan semacamnya jauh lebih sulit daripada melemparkan sebuah bola basket." tambah teman disebelahnya yang nampaknya adalah teman satu ekskulnya. "Mungkin kita bisa coba rekrut dia jadi anggota eksk...

Memo, chapter 75 - Sisi Lembut

Rere berjalan cepat dengan penuh kekesalan dalam benaknya. Ia telah jatuh kedalam jebakan Sindy, dan kini merasa takkan bisa bertatap muka lagi dengan Arya setelah kejadian sebelumnya. Ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Ia telah salah sangka ketika Sindy menyebut nama lengkap Arya, dan bahkan menyebut kata 'suami' dengan cukup keras. "Sekarang aku jadi tak bisa bertatap muka dengannya lagi kan. Sialan!" gerutu Rere. Rere mempercepat langkah kakinya sambil menutup wajahnya karena semakin malu ketika memikirkankannya. Dari arah sebaliknya, Agus dan Dion berjalan sambil mengobrol. "Lu tau gak, yon? Setiap kali ketemu Rere entah kenapa gua selalu sial. Waktu MOS saja gua sampai 2 kali dikejar-kejar olehnya." ujar Agus. "Hmm.. benar juga. Tahun ini, dia jadi lebih bersemangat dari biasanya." sahut Dion. "Bersemangat apanya! Yang kayak gitu mah buas namanya!" protes Agus. "Sebaiknya kau jangan ...

Memo, chapter 74 - Sindy Side 2

Sindy duduk menatap laptopnya di ruang ekskul sastra. Dia menunggu para juniornya untuk kembali sambil membaca postingan di blog yang sering dikunjunginya ketika berselancar di dunia maya. "Kalau dia terus berkembang seperti ini, dalam beberapa bulan dia mungkin bisa melampauiku." ujar Sindy sambil tersenyum menatap layar laptopnya. Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu ruang ekskul sastra itu. "Ya, siapa?" ucap Sindy. "Ini aku, Rere. Bolehkah aku masuk?" sahut orang yang berada dibalik pintu itu. "Oh Rere kah. Silahkan masuk. Itu tidak dikunci kok." balas Sindy. "Baik. Kalau begitu aku akan masuk." jawab Rere. Pintu ruang ekskul sastra pun terbuka dan menunjukkan sosok gadis berambut pendek yang berdiri di mulut pintu sambil ditangannya tampak membawa sebotol minuman pengganti elektrolit dengan kemasan berwarna biru tua. "Ada apa kamu kemari, Rere?" tanya Sindy. "Aku kemari karena mengkhawatirkanmu...