Memo, chapter 86 - Obrolan Dalam Kelas 2

Pagi hari, Digna dan Fajar sedang duduk di tempat duduk mereka dalam kelasnya. Mereka tampak mengobrol sambil sambil menunggu bel masuk.

"Apa kamu sudah baca berita di mading kemarin?" tanya Digna.

"Berita mading? Memangnya ada berita apaan lagi?" tanya balik Fajar.

"Katanya ada hantu lho di sekolah ini." jawab Digna.

"Apaa??!! Hantu??!!! Serius!!??" ucap Fajar tampak terkejut.

"Kenapa kamu kaget gitu? Jangan bilang kamu ini takut pada hantu." tukas Digna.

"Ta-takut.? Tidak mungkin lah. Seorang Fajar yang tampan dan berani ini takut sama hantu? Itu mustahil terjadi." ungkap Fajar sambil mengangkat dagunya dengan penuh kebanggaan.

"Beneran kah? Bagaimana kalau kita buktikan? Kita lakukan uji nyali pas pulang sekolah nanti." tantang Digna.

"U-uji nyali?" sahut Fajar.

"Ya. Seperti yang ada di TV-TV itu lho. Kalau perlu kita nginap di sekolah ini biar lebih afdol." tambah Digna sambil mengacungkan jempolnya.

"Ga-gawaat!! Kalau aku tidak buru-buru menolaknya, maka aku akan dipaksa untuk ikut dalam uji nyali tersebut. Aku harus segera mencari alasan untuk kabur." pikir Fajar sambil berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Lho kok malah diam saja? Jangan-jangan kamu beneran takut hantu ya?" tanya Digna dengan nada mengejek.

"Apa kamu bilang!!!?? Tentu saja aku tidak takut kan! Lihat saja nanti, akan kubuktikan kalau aku ini tampan dan berani." sanggah Fajar dengan tegas.

"Ooohh.. baiklah. Akan kutunggu sepulang sekolah nanti." balas Digna.

Suara bel sekolah pun terdengar, para siswa yang tadinya masih pada nongkrong diluar kelas kini mulai memasuki kelas mereka masing-masing. Dan bersamaan dengan itu Arya masuk ke dalam kelas dengan kecepatan tinggi, lalu mengerem sampai terlihat kakinya seperti terseret dilantai.

"Aku tidak sedang nge-dance lho!" ucap Arya ketika mengerem di lantai sambil merentangkan tangannya dengan gaya.

"Siapa yang nanya!!??" bentak semua teman sekelasnya.

Arya kemudian berjalan ke tempat duduknya dengan santai seakan tak terjadi apa-apa.

"Apaan itu tadi? Tidak biasanya kamu melawak saat di depan orang banyak begitu." tanya Digna ketika Arya duduk.

"Ya mau bagaimana lagi, jika aku tak melemparkan sebuah punch-line bisa-bisa mereka ngejek aku duluan karena mengerem dengan pose La La L*nd. Itu akan lebih memalukan." jawab Arya sambil meletakan tasnya dipangkuannya.

"Tapi sekarang juga kamu jadi bahan pembicaraan lho. Lihat saja mereka sedang membicarakanmu sambil menatap kemari dengan tatapan aneh." ujar Digna.

"Itu tak masalah. Itu masih lebih baik daripada dilihat dengan tatapan merendahkan ataupun mengejek." balas Arya dengan tenang.

"Oh ya, apa yang terjadi pada dia? Pantas aku tak mendengar suara cempreng di tsukkomi sebelumnya, ternyata dia tak ikutan rupanya." tanya Arya ketika melihat Fajar yang tampak menunduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

"Entahlah. Dia tiba-tiba begitu setelah menyetujui uji nyali." jawab Digna.

"Uji nyali?" ulang Arya.

"Ya, kamu sudah baca kan berita di mading kemarin? Katanya ada penampakan hantu di gedung kelas 2. Apalagi gedung kelas dua kan agak mojok kebelakang, jadi katanya disana memang agak angker gitu." jelas Digna.

"Beneran kah?" sahut Arya dengan nada tak yakin.

"Tentu saja. Apalagi disebutkan disana kalau ada saksi dari kelas X-3 yang bertemu langsung dengan sosok hantu tersebut. Jadi sudah pasti ini berita benar." tegas Digna.

"Hmm.. aku tak menyangka kalau kamu menyukai hal-hal yang seperti ini, Digna. Kupikir kamu adalah tipe orang yang tak mempercayai hal astral." ujar Arya sambil tersenyum.

"Kalau antara percaya dan tak percaya sih, aku lebih memilih percaya. Karena dalam kepercayaan agama kita kan sudah dijelaskan selain ada manusia juga ada jin yang tergolong makhluk ghaib." balas Digna.

"Ya, benar juga sih. Terus uji nyali itu tadi maksudnya apa? Kamu mau nginap disekolah gitu?" tanya Arya.

"Rencananya sih gitu. Menurutmu gimana?" tanya balik Digna.

"Hmm.. tapi untuk menginap disekolah, bukannya kita butuh ijin dulu dari pihak sekolah? Kamu sudah ijin belum?" balas Arya.

"Belum sih. Lagipula kalaupun minta ijin, belum tentu dikabulkan kalau alasannya untuk hal absurd seperti ini." ungkap Digna.

"Benar juga! Belum tentu juga dapat ijin dari sekolah kan! Hahahaha.." ucap Fajar tiba-tiba sambil menoleh kebelakang pada Arya dan Digna.

Arya dan Digna pun dibuat terkejut karenanya.

"Tolong buat kaget gitu dong!" gerutu Digna.

"Kenapa dia tiba-tiba seger lagi gitu?" pikir Arya ketika melihat wajah Fajar yang kembali ceria.

Kemudian Arya mengetukan kepalan tangannya ke telapak tangannya yang lain seakan menemukan sebuah ide yang bagus.

"Kalau masalah minta ijin mungkin aku bisa atasi. Aku punya ide bagus soalnya." ujar Arya dengan terlihat yakin.

"Eh?" ucap Fajar tampak bingung.

"Benarkah? Ide seperti apa?" sahut Digna penasaran.

"Tak usah tanya, pokoknya serahkan saja padaku. Kalian berdua tak perlu khawatir. Jadi uji nyalinya mau kalian lakukan kapan?" tanya Arya.

"Eehh??!!" ucap Fajar lagi dengan heran.

"Pulang sekolah hari ini." jawab Digna.

"Oke, kalau gitu akan aku urus. Kalian berdua silahkan nikmati momen uji nyali kalian hari ini. Dan kalau memungkinkan, sebagai imbalannya aku cuma minta kalian melaporkan apa yang kalian alami selama uji nyali besoknya." ungkap Arya.

"Sip. Kamu memang teman yang bisa diandalkan." balas Digna sambil mengacungkan jempol.

"Eeehhh???!!!" jerit Fajar dengan wajah syok.

"Apa kalian sudah selesai diskusinya? Apa kita sudah bisa mulai pelajarannya?" tanya seorang guru yang sudah berada di depan kelas.

"Eeehh??!! Gurunya sudah datang??!!" ucap Arya, Fajar dan Digna terkejut baru menyadari kehadiran guru didepan kelas.

"Se-sejak kapan!?" lanjut Digna.

"Selama ini, kita punya guru ninja ya!?" tambah Fiajar.

"Tidak, mungkin dia hanya menggunakan missdirection saja pada kita." sambung Arya.

"Kalian bertiga, masih juga berani ngobrol ya. Kalian mau dihukum!!??" bentak guru itu sambil bersiap melempar penghapus papan tulis.

"Lihat dia mau melempar shuriken!" ucap Fajar.

"Tidak, itu adalah teknik Ignite Pass Kai!" balas Arya.

"Kalian berdua, berhentilah melawak disaat seperti ini! Atau dia akan benar-benar melemparkan penghapus itu ke arah kita." tegur Digna.

"Tenang saja kita sudah berlindung." jawab Arya sambil menghalangi bagian kepalanya dengan tasnya.

Begitu pula dengan Fajar sambil mengacungkan jempolnya.

"Kalau begitu aku ju-" ucap Digna tapi tiba-tiba terhantam sebuah penghapus papan tulis tepat dikepalanya sebelum sempat berlindung dengan tas.

"Kalau kalian tidak mau diam juga akan aku usir kalian dari kelas ini." ancam guru yang geram tersebut.

"Maafkan kami!" ucap Arya dan Fajar bersamaan.

"Dan kamu! Ambilkan penghapus itu dan bawa kemari!" suruh guru itu pada Digna.

Digna pun menurut, dan mengambilkan penghapus papan tulis yang dilemparkan kepadanya itu. Beruntung penghapus itu hanya terbuat dari kain yang diisi dengan kapas, jadi kepalanya tidak ada yang benjol ketika terkena lemparan, hanya wajahnya saja yang nampak menghitam.

"Kenapa malah jadi aku yang sial?" keluh Digna dalam hatinya.

Catatan hari ini:
Kebohonganmu adalah cangkul untuk menggali kuburanmu sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】