Memo, chapter 74 - Sindy Side 2

Sindy duduk menatap laptopnya di ruang ekskul sastra. Dia menunggu para juniornya untuk kembali sambil membaca postingan di blog yang sering dikunjunginya ketika berselancar di dunia maya.

"Kalau dia terus berkembang seperti ini, dalam beberapa bulan dia mungkin bisa melampauiku." ujar Sindy sambil tersenyum menatap layar laptopnya.

Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar di pintu ruang ekskul sastra itu.

"Ya, siapa?" ucap Sindy.

"Ini aku, Rere. Bolehkah aku masuk?" sahut orang yang berada dibalik pintu itu.

"Oh Rere kah. Silahkan masuk. Itu tidak dikunci kok." balas Sindy.

"Baik. Kalau begitu aku akan masuk." jawab Rere.

Pintu ruang ekskul sastra pun terbuka dan menunjukkan sosok gadis berambut pendek yang berdiri di mulut pintu sambil ditangannya tampak membawa sebotol minuman pengganti elektrolit dengan kemasan berwarna biru tua.

"Ada apa kamu kemari, Rere?" tanya Sindy.

"Aku kemari karena mengkhawatirkanmu. Ku dengar kau pergi kesana kemari mencari anggota ekskulmu kan?" jawab Rere sambil berjalan menghampiri Sindy kemudian meletakan minuman yang dibawanya diatas meja.

"Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak apa-apa kok. Lagipula sepertinya mereka sudah mengerjakan tugas mereka. Sebentar lagi mereka akan kembali kemari." balas Sindy terlihat senang.

"Mengumpulkan sampah kan? Tapi sebenarnya kenapa mesti mengumpulkan sampah? Memangnya tak ada kegiatan lain yang bisa kalian lakukan? Yang lebih berguna gitu." tanya Rere tampak heran.

"Memangnya bagian mana dari mengumpulkan sampah yang tidak berguna?" tanya balik Sindy.

"Euh?! Seperti biasanya dia bisa membalikan semuanya hanya dengan satu kalimat." pikir Rere ketika tak bisa membalikan kata-kata Sindy.

"La-lalu, kau menunggu disini karena sudah tahu mereka akan segera kembali kemari?" tukas Rere sambil duduk di kursi disebelah Sindy.

"Ya." jawab Sindy dengan singkat sambil tersenyum.

"Ooh.. bagaimana kau bisa seyakin itu mereka akan kembali kemari setelah mengumpulkan sampah? Bisa saja kan mereka langsung pulang karena tak kunjung menemukanmu." tanya Rere.

"Tenang saja, aku sudah mengantisipasinya." balas Sindy sambil mengacungkan jempolnya dan mengedipkan matanya sebelah.

Tiba-tiba terdengar suara tanda pemberitahuan di pengeras suara yang terdapat di ruangan ekskul tersebut.

"Perhatian kepada anggota ekskul sastra, kalian ditunggu ketua kalian di ruang ekskul sastra setelah selesai kegiatan kalian. Sekali lagi, kepada anggota ekskul sastra, kalian ditunggu oleh ketua kalian diruang ekskul sastra setelah selesai dengan kegiatan kalian. Terima kasih." ungkap pengumuman dari pengeras suara.

Rere menunjuk ke arah pengeras suara dengan wajah terkejut.

"Eh.. sejak kapan kau meminta pengumuman itu? Jangan bilang kau sudah tahu sebelumnya kalau aku akan menanyakannya dan kemudian meminta pada ekskul penyiaran untuk menyiarkan pengumuman tersebut." terka Rere.

"Hah?" sahut Sindy.

"Bahkan kau memprediksi timing pengumuman itu akan disiarkan dan mengatakan kata-kata sebelum itu terjadi. Kau benar-benar mengerikan." sambung Rere.

"Tunggu, Rere. Sepertinya kamu terlalu memandang tinggi diriku. Mau sehebat apapun diriku, mustahil bisa mengetahui masa depan seperti itu kan." ujar Sindy mencoba meluruskan.

"Tidak, tidak, tidak. Menurutku itu mungkin sekali kalau untuk dirimu, Sindy. Aku kenal banget dirimu seperti apa." tukas Rere dengan yakinnya.

"Justru kalau kamu kenal banget diriku, mana mungkin kamu bisa salah sangka seperti itu kan." komentar Sindy dalam hatinya.

"Jadi kalau begitu, Sindy. Menurutmu masa depanku akan bagaimana? Mungkinkah aku akan jadi orang yang sukses? Atau jangan-jangan aku akan jadi atlit beladiri atau mungkin aktris film action gitu seperti yang kupikirkan." lanjut Rere dengan penuh semangat.

"Ah~ seandainya aku juga punya kemampuan mengalihkan topik pembicaraan seperti Arya, ini pasti akan lebih mudah." pikir Sindy sambil memegangi keningnya.

"Kalau begitu akan kucoba. Hmm.. begitu rupanya. Aku sudah melihatnya. Di masa depan nanti.." ucap Sindy berpura-pura dan bergaya ala paranormal.

Rere tampak sudah tidak sabar menanti lanjutan perkataan Sindy. Ia tampak begitu penasaran.

"..kamu akan menjadi ibu rumah tangga!" lanjut Sindy dengan wajah sok serius.

"Eh, ibu rumah tangga? Kenapa?" sahut Rere terlihat sedikit kecewa dan bingung dengan apa yang didapatnya.

"Tentu saja karena kamu betah dirumah kan. Makanya kamu tidak mencari pekerajaan lain diluar rumah." jelas Sindy.

"Hah? Emang kenapa aku sampai betah dirumah?" tanya Rere yang semakin bingung.

"Eee~ yakin nih mau tahu alasannya." goda Sindy sambil tersenyum.

"Ayolah Sindy! Jangan bikin aku penasaran!" pinta Rere.

"Arya Sastrawardhana." ucap Sindy.

"Eh? Apa hubungannya aku betah dirumah dengan bocah pembuat kesal itu?" sahut Rere.

Sindy tidak menjawabnya dan tetap mempertahankan senyuman diwajahnya. Ekspresi wajah Sindy yang tak berubah sedikitpun membuat Rere merasa tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang tak sesuai dengan pemikirannya.

"Tunggu sebentar, aku yakin Sindy takkan menyebut namanya tanpa ada alasan. Pasti bocah sialan itu ada sangkut pautnya dengan kebetahanku dirumah di masa depan nanti. Tapi apa? Apa jangan-jangan penyebabku betah dirumah itu adalah dia. Aku betah dirumah karena dirumah ada Arya. Tapi kenapa Arya ada dirumahku? Jangan bilang.." pikir Rere.

"..dia adalah suamiku???!!!" ucap Rere dengan suara lantang melanjutkan apa yang dipikirkannya sambil berdiri dari tempat duduknya sambil memegangi kepalanya.

"Siapa memangnya suamimu, senior?" tanya seseorang dari belakang Rere.

Suara yang nampaknya berasal dari laki-laki itu membuat Rere terkejut dan mulai menolehkan wajahnya ke arah suara tersebut dengan perlahan.

"Kamu sudah kembali, juniorku? Mana yang lain?" tanya Sindy pada orang yang berada dibelakang Rere itu.

Rere pun berhasil melihat sumber suara laki-laki itu. Dan itu adalah orang yang sangat ia kenal. Orang yang selalu membuat ia kesal, yang tak lain adalah Arya.

"Aku tak tahu. Kami mengumpulkan sampah secara terpisah. Lagipula kenapa tadi senior memanggilku dengan nama lengkapku?" jawab Arya lalu bertanya balik.

"Hanya iseng saja. Huhuhu~ lagipula dengan begini, aku berhasil mengerjai seseorang." jawab Sindy.

"Hah? Apa maksudnya itu?" ujar Arya dengan lemas duduk di tempat duduknya.

Rere tampak duduk sambil menundukkan kepalanya.

"Ada apa dengan senior Rere? Kenapa dia diam saja dari tadi?" tanya Arya kepada Sindy dengan suara berbisik.

"A-aku pulang duluan! Sampai jumpa besok!" ucap Rere tanpa melihat ke arah Arya dan Sindy lalu berlari keluar dari ruang ekskul sastra itu sambil tetap menundukkan kepalanya.

"Hei, jangan lari sambil nunduk gitu. Nanti kalau nabrak bahaya lho!" tegur Arya.

"Diam! Aku belum siap jadi ibu rumah tangga!" sahut Rere dengan suara yang terdengar semakin menjauh.

"Eeehhh.." ucap Arya tampak heran.

Catatan hari ini:
Berpikiran berlebihan bisa menyenabkan kesalahpahaman. Karena itu, berpikirlah secukupnya.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】