Memo, chapter 83 - Masalah Di Pagi Hari

Pagi hari yang indah. Dan Arya kembali datang kepagian hari ini. Dia duduk sendirian di tempat duduknya sementara kelas masih sangat sepi. Hanya dia satu-satunya orang yang baru datang saat itu. Dengan wajah bengong, Arya duduk tegak seperti siswa teladan.

"Kenapa aku datang kepagian lagi??!!" teriak Arya dalam hatinya.

"Aku tahu kalau aku memang seharusnya datang pagi, tapi tidak sepagi ini juga kan! Ini mah tidak ada bedanya seperti aku menginap di sekolah ini! Lalu kalau begitu untuk apa aku pulang ke rumah! Hanya menghabiskan energiku saja, sialan!" gerutu Arya dalam benaknya.

"Apalagi ketika aku menunggu gerbang sekolah dibuka, tatapan satpam saat itu padaku terlihat begitu menusuk. Seakan dia menuduhku kalau aku terlalu semangat untuk bersekolah setiap harinya, padahal ketika pulang selalu berjalan dengan penuh kekecewaan." pikir Arya sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.

"Dia pasti mengira kalau aku orang yang terlalu optimistik!" lanjut Arya dalam hatinya terlihat seperti sedang sakit kepala.

"Ah benar juga mungkin besok aku datang dengan wajah malas saja. Pasti itu akan mengubah kesanku ketika datang kepagian." tambah Arya dengan wajah yakin.

"Apa yang baru saja kupikirkan!? Aku ini bodoh ya! Kalau itu kulakukan bukannya aku malah kelihatan seperti orang yang kurang tidur dan datang ke sekolah kepagian karena tidak bisa tidur dirumah!" sambung Arya sambil menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya karena pusing.

"Aarrgh! Harus bagaimana aku sebenarnya? Jadi serba salah gini!" keluh Arya sambil menjatuhkan kepalanya ke meja.

"Bukannya sebaiknya kamu bersikap seperti biasanya saja." ujar seorang perempuan dari arah depan.

Mendengar suara perempuan, Arya terkejut dan langsung duduk tegak.

"Selamat pagi juniorku. Ternyata kamu juga datang kepagian ya." sambung perempuan itu yang ternyata adalah Sindy.

"Se-senior Sindy!? Apa yang sedang senior lakukan disini?" tanya Arya terkejut melihat kehadiran seniornya itu secara tiba-tiba.

"Kenapa kamu masih bertanya, tentu saja karena aku juga datang kepagian kan." jawab Sindy sambil mendekat ke arah Arya.

"Ta-tapi kan senior bisa ke kelas senior sendiri, kenapa malah datang ke kelasku?" protes Arya.

"Aku tak mungkin melakukannya kan. Apa kamu tega membiarkan seorang perempuan sendirian didalam sebuah ruangan saat masih gelap begini." ujar Sindy sambil duduk di kursi sebelah Arya.

"Ya aku mengerti sih kalau itu memang sedikit berbahaya. Tapi bukannya saat ini pun malah lebih berbahaya. Senior hanya berdua dengan seorang laki-laki lho!" tegur Arya merasa sedikit gugup karena Sindy tiba-tiba duduk disebelahnya.

"Ya itupun kalau kamu memang seorang laki-laki yang.. begitulah.." ujar Sindy sambil menempelkan pipinya ke meja bermalas-malasan.

"Hah?! Apa maksudnya itu? Maksud senior aku bukan laki-laki gitu! Jadi selama ini senior tidak menganggapku seorang laki-laki!" tukas Arya tampak keberatan.

"Hmm.. kira-kira bagaimana ya.." ucap Sindy dengan nada malas.

Sindy terlihat mulai memejamkan matanya. Nampaknya dia berniat untuk tidur di tempat duduk Digna itu saat ini.

"Dia serius ingin tidur disini?! Kalau yang lain sampai lihat, bisa-bisa mereka bakal salah paham!" pikir Arya.

"Senior, tolong jangan tidur disini. Ini tempat duduk temanku. Nanti dia marah lho." tegur Arya.

"Mh? Kenapa kamu segitu merasa terganggunya oleh kehadiranku? Apa segitu tidak inginnya kah kamu berdekatan denganku?" tukas Sindy.

"Bukan begitu, senior. Tapi kalau senior terus disini, nanti teman-temanku bakalan salah paham saat melihat kita berduaan." jelas Arya.

"Oh itu, tenang saja. Takkan ada yang salah paham kok." ungkap Sindy dengan yakin.

"Kenapa senior bisa seyakin itu?" tanya Arya.

"Karena hari ini kan sekolah libur." jawab Sindy dengan blak-blakan.

"Hah?" sahut Arya dengan wajah bodoh.

"Lho kamu tidak tahu? Hari ini kan tanggal merah." jelas Sindy.

"Apa??!!! Kenapa tidak bilang daritadi!? Pantas saja sejak tadi belum juga ada yang datang!" ucap Arya tampak sangat terkejut.

"Jangan-jangan, tatapan aneh dari satpam sebelumnya pun karena dia heran aku datang ke sekolah ini memakai seragam padahal sedang hari libur. Waduh.. gawat nih. Besok bisa-bisa jadi bahan gosip ini mah. Memalukan.." pikir Arya.

"Kamu benar-benar ceroboh ya, Arya.." ujar Sindy sambil mencoba menahan tawanya.

"Senior sendiri kenapa datang ke sekolah hari libur gini?" tanya Arya.

"Se-sebenarnya aku juga lupa kalau hari ini libur. Tehe~" jawab Sindy sambil menjitak dirinya sendiri dengan imut dan menjulurkan lidahnya.

"Senior juga?! Terus ngapain tadi senior ngejekin aku!?"protes Arya terlihat kesal.

"Oh iya juga, sepertinya bakalan rame kalau kita ngajak Shinta dan Alice juga untuk datang ke sekolah. Aku akan menghubungi mereka sekarang." ujar Sindy beralih ke ponselnya.

"Diabaikan??!!" ucap Arya kaget karena tidak dihiraukan.

Catatan hari ini:
Kadang kita tidak sadar akan kesalahan kita sebenarnya hingga saat-saat terakhir.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】