Memo, chapter 75 - Sisi Lembut
Rere berjalan cepat dengan penuh kekesalan dalam benaknya. Ia telah jatuh kedalam jebakan Sindy, dan kini merasa takkan bisa bertatap muka lagi dengan Arya setelah kejadian sebelumnya. Ia menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Ia telah salah sangka ketika Sindy menyebut nama lengkap Arya, dan bahkan menyebut kata 'suami' dengan cukup keras.
"Sekarang aku jadi tak bisa bertatap muka dengannya lagi kan. Sialan!" gerutu Rere.
Rere mempercepat langkah kakinya sambil menutup wajahnya karena semakin malu ketika memikirkankannya. Dari arah sebaliknya, Agus dan Dion berjalan sambil mengobrol.
"Lu tau gak, yon? Setiap kali ketemu Rere entah kenapa gua selalu sial. Waktu MOS saja gua sampai 2 kali dikejar-kejar olehnya." ujar Agus.
"Hmm.. benar juga. Tahun ini, dia jadi lebih bersemangat dari biasanya." sahut Dion.
"Bersemangat apanya! Yang kayak gitu mah buas namanya!" protes Agus.
"Sebaiknya kau jangan mengatakannya terlalu keras. Kita kan tak tahu kapan dan dimana dia akan muncul." tegur Dion sambil tersenyum dengan setetes keringat di keningnya.
"Masa sih? Memangnya yang begitu bisa-" ungkap Agus terpotong ketika mulai melirik ke depan.
Karena di depannya saat ini ada Rere, orang yang dibicarakannya yang kini semakin mendekat dengan cepat dengan kepala menunduk seperti sedang marah.
"Beneran terjadi kah!? Bahaya nih! Sebaiknya aku siap-siap untuk lari." pikir Agus dengan terkejut.
Agus langsung berjongkok dan mengambil posisi start jongkok seperti ketika hendak melakukan lari jarak pendek.
"Kau ngapain dah!?" tanya Dion tampak kaget melihat hal yang dilakukan oleh temannya itu.
"Tentu saja bersiap kabur." jawab Agus dengan tampak serius.
"Tapi setidaknya nunggu dia dekat dulu lah. Kalau kau melakukannya sekarang, nanti dikira lagi nunggingin dia lho." tegur Dion.
"Eeehhh??!! Benar juga! Bagaimana ini!!??" ucap Agus terlihat panik karena baru menyadari kesalahannya.
"Tenang saja, aku punya ide!" sahut Dion sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Dion merogoh saku nya dan dari saku bajunya itu ia mengeluarkan sekantong tisu dan kemudian melemparkannya ke lantai tepat didepan Agus.
"Gunakan itu untuk berpura-pura mengepel lantai. Dengan begitu kau takkan dikira sedang memberi bokong oleh Rere." lanjut Dion dengan wajah seakan itu adalah ide bagus.
"Wah.. benar juga. Seperti yang diharapkan dari Dion. Mata lu bengkak! Mana ada orang mengepel menggunakan tisu, dasar goblok! Pikir yang bener dah!" bentak Agus setelah sebelumnya berpura-pura senang dengan ide Dion.
"Terus apaan lagi dong? Dia udah makin deket tuh!" balas Dion.
Seperti yang dikatakan Dion, Rere kini hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai tepat dibelakang Agus yang saat ini masih berpose start jongkok.
"Emak, maafkan anakmu ini karena hingga disaat-saat terakhirnya masih belum bisa membahagiakan emak." gumam Agus tampak pasrah dan sedikit menangis.
Ketika menyelesaikan kata-kata terakhirnya, Rere sudah sampai tepat dibelakang Agus. Rere tampak menghentikan langkahnya dengan wajah yang ditundukkan kebawah.
"Ini dia. Berakhir sudah buatmu, Agus. Aku akan selalu mengenangmu. Aku takkan melupakan semua kenangan persahabatan kita." ucap Dion sambil terlihat menangis memunggungi Agus.
Keadaan di lorong itu langsung jadi tegang diantara mereka bertiga. Apalagi lorong itu tampak kosong dan hanya ada mereka bertiga saja yang ada disana.
"Ka-kalian.." ucap Rere tiba-tiba memecah keheningan.
Dion dan Agus menelan ludah mereka bersiap untuk menerima kejadian terburuk yang akan terjadi.
"..bisa tolong memberiku jalan. Aku ingin segera pulang ke rumah." lanjut Rere sambil menunjukkan wajahnya yang sekarang sedang memerah karena malu itu.
"I-imutnya!?" ucap Dion dan Agus terkejut ketika melihat wajah malu-malu Rere yang terlihat sangat imut itu.
Wajah malu Rere yang ditunjukkannya memang terlihat sangat imut. Apalagi memang sehari-harinya Rere hampir tak pernah berekspresi seperti itu sebelumnya. Melihat wajah seimut itu, Agus dan Dion seakan melupakan pikiran mereka sebelumnya dan memberi jalan untuk Rere secara reflek.
Catatan hari ini:
Suatu hal jika semakin jauh dari dugaan maka akan semakin kuat efek kejutnya.
"Sekarang aku jadi tak bisa bertatap muka dengannya lagi kan. Sialan!" gerutu Rere.
Rere mempercepat langkah kakinya sambil menutup wajahnya karena semakin malu ketika memikirkankannya. Dari arah sebaliknya, Agus dan Dion berjalan sambil mengobrol.
"Lu tau gak, yon? Setiap kali ketemu Rere entah kenapa gua selalu sial. Waktu MOS saja gua sampai 2 kali dikejar-kejar olehnya." ujar Agus.
"Hmm.. benar juga. Tahun ini, dia jadi lebih bersemangat dari biasanya." sahut Dion.
"Bersemangat apanya! Yang kayak gitu mah buas namanya!" protes Agus.
"Sebaiknya kau jangan mengatakannya terlalu keras. Kita kan tak tahu kapan dan dimana dia akan muncul." tegur Dion sambil tersenyum dengan setetes keringat di keningnya.
"Masa sih? Memangnya yang begitu bisa-" ungkap Agus terpotong ketika mulai melirik ke depan.
Karena di depannya saat ini ada Rere, orang yang dibicarakannya yang kini semakin mendekat dengan cepat dengan kepala menunduk seperti sedang marah.
"Beneran terjadi kah!? Bahaya nih! Sebaiknya aku siap-siap untuk lari." pikir Agus dengan terkejut.
Agus langsung berjongkok dan mengambil posisi start jongkok seperti ketika hendak melakukan lari jarak pendek.
"Kau ngapain dah!?" tanya Dion tampak kaget melihat hal yang dilakukan oleh temannya itu.
"Tentu saja bersiap kabur." jawab Agus dengan tampak serius.
"Tapi setidaknya nunggu dia dekat dulu lah. Kalau kau melakukannya sekarang, nanti dikira lagi nunggingin dia lho." tegur Dion.
"Eeehhh??!! Benar juga! Bagaimana ini!!??" ucap Agus terlihat panik karena baru menyadari kesalahannya.
"Tenang saja, aku punya ide!" sahut Dion sambil menepuk dadanya dengan bangga.
Dion merogoh saku nya dan dari saku bajunya itu ia mengeluarkan sekantong tisu dan kemudian melemparkannya ke lantai tepat didepan Agus.
"Gunakan itu untuk berpura-pura mengepel lantai. Dengan begitu kau takkan dikira sedang memberi bokong oleh Rere." lanjut Dion dengan wajah seakan itu adalah ide bagus.
"Wah.. benar juga. Seperti yang diharapkan dari Dion. Mata lu bengkak! Mana ada orang mengepel menggunakan tisu, dasar goblok! Pikir yang bener dah!" bentak Agus setelah sebelumnya berpura-pura senang dengan ide Dion.
"Terus apaan lagi dong? Dia udah makin deket tuh!" balas Dion.
Seperti yang dikatakan Dion, Rere kini hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai tepat dibelakang Agus yang saat ini masih berpose start jongkok.
"Emak, maafkan anakmu ini karena hingga disaat-saat terakhirnya masih belum bisa membahagiakan emak." gumam Agus tampak pasrah dan sedikit menangis.
Ketika menyelesaikan kata-kata terakhirnya, Rere sudah sampai tepat dibelakang Agus. Rere tampak menghentikan langkahnya dengan wajah yang ditundukkan kebawah.
"Ini dia. Berakhir sudah buatmu, Agus. Aku akan selalu mengenangmu. Aku takkan melupakan semua kenangan persahabatan kita." ucap Dion sambil terlihat menangis memunggungi Agus.
Keadaan di lorong itu langsung jadi tegang diantara mereka bertiga. Apalagi lorong itu tampak kosong dan hanya ada mereka bertiga saja yang ada disana.
"Ka-kalian.." ucap Rere tiba-tiba memecah keheningan.
Dion dan Agus menelan ludah mereka bersiap untuk menerima kejadian terburuk yang akan terjadi.
"..bisa tolong memberiku jalan. Aku ingin segera pulang ke rumah." lanjut Rere sambil menunjukkan wajahnya yang sekarang sedang memerah karena malu itu.
"I-imutnya!?" ucap Dion dan Agus terkejut ketika melihat wajah malu-malu Rere yang terlihat sangat imut itu.
Wajah malu Rere yang ditunjukkannya memang terlihat sangat imut. Apalagi memang sehari-harinya Rere hampir tak pernah berekspresi seperti itu sebelumnya. Melihat wajah seimut itu, Agus dan Dion seakan melupakan pikiran mereka sebelumnya dan memberi jalan untuk Rere secara reflek.
Catatan hari ini:
Suatu hal jika semakin jauh dari dugaan maka akan semakin kuat efek kejutnya.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.