Memo, chapter 81 - Lakukan Sendiri
Di lorong dan jalan-jalan sekolahan, sampah terlihat berserakan. Arya dan Rozak mengumpulkan sampah-sampah itu kemudian memasukannya ke dalam tong sampah yang mereka bawa.
"Maafkan aku, karena kecerobohanku kamu jadi harus mengumpulkan sampah-sampah ini lagi dua kali." ujar Rozak yang sedang mengumpulkan sampah disebelahnya.
"Tidak apa kok. Aku juga ikut bertanggung jawab dalam hal ini." balas Arya.
"Karena tidak memberitahunya kalau tongnya bolong." lanjut Arya dalam hatinya.
"Wohoho.. kamu memang teman yang baik ya. Aku senang sekali berteman denganmu." jawab Rozak.
Ketika sedang sibuk mengumpulkan semua sampah itu, tiba-tiba ada orang lewat. Orang tersebut kemudian berhenti dihadapan Arya dan Rozak.
"Lho, ketua? Pantas saja tidak datang ke ruang ekskul, rupanya ketua sedang mungutin sampah disini. Lah, tapi yang kudengar katanya ketua sedang melakukan tugas piket. Kok malah ngumpulin sampah?" tanya Digna yang kebetulan lewat.
"Digna?!" ucap Arya terkejut melihat kehadiran kawannya itu.
"Oh ada Arya juga ternyata." sahut Digna baru menyadari keberadaan Arya.
"Maaf ya Digna. Padahal aku sudah berjanji untuk melatihmu. Tapi aku mendadak mendapat masalah gara-gara tong sampah bolong ini." jawab Rozak sambil meletakan tong sampah yang dibawahnya di tanah.
"Tidak apa-apa kok, ketua. Kan bisa besok lagi." balas Digna.
"Sekali lagi, maaf." ucap Rozak.
"Kalau begitu aku duluan ya, ketua, Arya!" pamit Digna.
"Ya." sahut Rozak.
"Hati-hati dijalan." sahut Arya.
Setelah Digna pergi, Arya dan Rozak melanjutkan memungut sampah. Dan berkat kegigihan dan kesabaran mereka, akhirnya semua sampahnya kini telah bersih.
"Dengan begini semuanya selesai." ucap Rozak.
"Ah.. syukurlah.. sekarang aku bisa pulang." pikir Arya sambil bernapas lega.
"Terima kasih atas bantuannya. Biar aku sendirian yang membuang sampah ini ke tempat pembakaran. Kamu pulanglah lebih dulu." ujar Rozak pada Arya.
"Oh sebenarnya aku tidak bisa pulang dulu. Karena aku punya tugas dari ekskulku." balas Arya.
"Begitu ya. Kalau begitu semoga lancar jaya ya." sahut Rozak.
"Terima kasih senior. Dah.." jawab Arya.
Arya pun pergi meninggalkan Rozak yang pergi ke tempat pembakaran sampah. Arya mencoba kembali ke halaman depan sekolah untuk berkumpul dengan teman-teman satu ekskul nya. Namun ketika kembali ke sana, tidak ada satu orang teman pun yang ia lihat. Ada pun dia bukan dari ekskul sastra, yaitu Fajar yang anehnya tergeletak di tanah.
"Sedang ngapain tuh bocah tiduran di tanah?" gumam Arya.
Arya lalu mendekati tubuh Fajar yang masih terkapar ditanah dan tak bergerak sama sekali.
"Ini aneh. Kok rasanya ada yang aneh dengan chapter kali ini. Rasanya aku belum mengeluarkan satu lawakan pun. Bahkan kesialan pun belum datang sama sekali. Apa penulisnya sudah kehabisan ide?" pikir Arya sejenak sedikit kurang ajar.
Arya tak tahu kalau aku bisa saja menghapusnya dari cerita dan menggantikan posisi tokoh utamanya dengan Sindy yang memiliki daya tarik lebih kuat pada cerita.
"Eehh??!! Jadi selama ini maksudnya aku ini tkekurangan daya tarik??!!" tukas Arya.
Sepertinya Arya baru menyadari kalau dia tokoh utama yang memang didesain sebagai orang biasa saja yang hanya bisa melawak dan jago ngeles. Dan harusnya lebih bersyukur kalau di beberapa situasi dia dibuat tampak lebih berguna.
"Woy! Bukannya itu kasar, penulis malas! Jangan menyalahkanku kalau aku tak bisa melawak. Kamu saja yang kekurangan inspirasi untuk lawakan hari ini!" bentak Arya dengan kesal.
Ya, memang benar yang dikatakan oleh tokoh utama kita ini. Saat ini inpirasi sedang sulit didapat. Jadi maaf kalau chapter kali ini sedikit datar.
"Daripada mengkritik penulis bodoh ini terus, mendingan aku bantuin temenku saja." ujar Arya mendekati tubuh Fajar.
Arya pun mencoba membangunkan tubuh Fajar. Sambil menyandarkan tubuh temannya itu ke tubuhnya, Arya berusaha menyadarkan Fajar yang tak sadarkan diri dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Woy bangun! Jangan tiduran disini, dan pulang sana kalau memang ngantuk." sambung Arya sambil membuka kelopak mata Fajar dengan tangannya supaya ia bangun.
Namun Fajar tak kunjung bangun. Arya pun akhirnya menyerah menyadarkan Fajar sambil menghela napasnya dengan lelah. Arya tak punya pilihan lain selain menyeret tubuh Fajar mendekat ke bawah pohon terdekat supaya tidak kepanasan. Kemudian ia menyandarkan tubuh temannya itu ke batang pohon.
"Mh? Posisinya terlihat aneh. Dia pasti akan marah kalau posisi tubuhnya begini. Mungkin aku harus mengubahnya sedikit." gumam Arya ketika melihat posisi tubuh Fajar yang tampak konyol.
Arya pun mengubahnya sedemikian rupa supaya terlihat keren. Ia membuat Fajar seakan sedang tidur santai dibawah pohon itu sambil menyilangkan tangan dan menaikan satu kakinya ke kaki yang lain.
"Nah dengan ini kan jadi kelihatan keren. Dia pasti bakalan bangga." lanjut Arya.
Tiba-tiba terdengar pengumuman di pengeras suara tentang anggota ekskul sastra yang mesti kembali ke ruangan ekskulnya.
"Sepertinya itu panggilanku. Kalau begitu tunggulah disini, nanti aku panggilkan orang PMR agar mengurusmu." ujar Arya pada kawannya yang masih pingsan itu.
Arya pun pergi meninggalkan tubuh Fajar yang terlihat seperti bersantai dibawah pohon dengan gaya.
Catatan hari ini:
Jangan menunggu orang melakukan sesuatu untuk kita, karena belum tentu orang lain mau melakukan hal yang kita inginkan.
"Maafkan aku, karena kecerobohanku kamu jadi harus mengumpulkan sampah-sampah ini lagi dua kali." ujar Rozak yang sedang mengumpulkan sampah disebelahnya.
"Tidak apa kok. Aku juga ikut bertanggung jawab dalam hal ini." balas Arya.
"Karena tidak memberitahunya kalau tongnya bolong." lanjut Arya dalam hatinya.
"Wohoho.. kamu memang teman yang baik ya. Aku senang sekali berteman denganmu." jawab Rozak.
Ketika sedang sibuk mengumpulkan semua sampah itu, tiba-tiba ada orang lewat. Orang tersebut kemudian berhenti dihadapan Arya dan Rozak.
"Lho, ketua? Pantas saja tidak datang ke ruang ekskul, rupanya ketua sedang mungutin sampah disini. Lah, tapi yang kudengar katanya ketua sedang melakukan tugas piket. Kok malah ngumpulin sampah?" tanya Digna yang kebetulan lewat.
"Digna?!" ucap Arya terkejut melihat kehadiran kawannya itu.
"Oh ada Arya juga ternyata." sahut Digna baru menyadari keberadaan Arya.
"Maaf ya Digna. Padahal aku sudah berjanji untuk melatihmu. Tapi aku mendadak mendapat masalah gara-gara tong sampah bolong ini." jawab Rozak sambil meletakan tong sampah yang dibawahnya di tanah.
"Tidak apa-apa kok, ketua. Kan bisa besok lagi." balas Digna.
"Sekali lagi, maaf." ucap Rozak.
"Kalau begitu aku duluan ya, ketua, Arya!" pamit Digna.
"Ya." sahut Rozak.
"Hati-hati dijalan." sahut Arya.
Setelah Digna pergi, Arya dan Rozak melanjutkan memungut sampah. Dan berkat kegigihan dan kesabaran mereka, akhirnya semua sampahnya kini telah bersih.
"Dengan begini semuanya selesai." ucap Rozak.
"Ah.. syukurlah.. sekarang aku bisa pulang." pikir Arya sambil bernapas lega.
"Terima kasih atas bantuannya. Biar aku sendirian yang membuang sampah ini ke tempat pembakaran. Kamu pulanglah lebih dulu." ujar Rozak pada Arya.
"Oh sebenarnya aku tidak bisa pulang dulu. Karena aku punya tugas dari ekskulku." balas Arya.
"Begitu ya. Kalau begitu semoga lancar jaya ya." sahut Rozak.
"Terima kasih senior. Dah.." jawab Arya.
Arya pun pergi meninggalkan Rozak yang pergi ke tempat pembakaran sampah. Arya mencoba kembali ke halaman depan sekolah untuk berkumpul dengan teman-teman satu ekskul nya. Namun ketika kembali ke sana, tidak ada satu orang teman pun yang ia lihat. Ada pun dia bukan dari ekskul sastra, yaitu Fajar yang anehnya tergeletak di tanah.
"Sedang ngapain tuh bocah tiduran di tanah?" gumam Arya.
Arya lalu mendekati tubuh Fajar yang masih terkapar ditanah dan tak bergerak sama sekali.
"Ini aneh. Kok rasanya ada yang aneh dengan chapter kali ini. Rasanya aku belum mengeluarkan satu lawakan pun. Bahkan kesialan pun belum datang sama sekali. Apa penulisnya sudah kehabisan ide?" pikir Arya sejenak sedikit kurang ajar.
Arya tak tahu kalau aku bisa saja menghapusnya dari cerita dan menggantikan posisi tokoh utamanya dengan Sindy yang memiliki daya tarik lebih kuat pada cerita.
"Eehh??!! Jadi selama ini maksudnya aku ini tkekurangan daya tarik??!!" tukas Arya.
Sepertinya Arya baru menyadari kalau dia tokoh utama yang memang didesain sebagai orang biasa saja yang hanya bisa melawak dan jago ngeles. Dan harusnya lebih bersyukur kalau di beberapa situasi dia dibuat tampak lebih berguna.
"Woy! Bukannya itu kasar, penulis malas! Jangan menyalahkanku kalau aku tak bisa melawak. Kamu saja yang kekurangan inspirasi untuk lawakan hari ini!" bentak Arya dengan kesal.
Ya, memang benar yang dikatakan oleh tokoh utama kita ini. Saat ini inpirasi sedang sulit didapat. Jadi maaf kalau chapter kali ini sedikit datar.
"Daripada mengkritik penulis bodoh ini terus, mendingan aku bantuin temenku saja." ujar Arya mendekati tubuh Fajar.
Arya pun mencoba membangunkan tubuh Fajar. Sambil menyandarkan tubuh temannya itu ke tubuhnya, Arya berusaha menyadarkan Fajar yang tak sadarkan diri dengan menepuk-nepuk pipinya.
"Woy bangun! Jangan tiduran disini, dan pulang sana kalau memang ngantuk." sambung Arya sambil membuka kelopak mata Fajar dengan tangannya supaya ia bangun.
Namun Fajar tak kunjung bangun. Arya pun akhirnya menyerah menyadarkan Fajar sambil menghela napasnya dengan lelah. Arya tak punya pilihan lain selain menyeret tubuh Fajar mendekat ke bawah pohon terdekat supaya tidak kepanasan. Kemudian ia menyandarkan tubuh temannya itu ke batang pohon.
"Mh? Posisinya terlihat aneh. Dia pasti akan marah kalau posisi tubuhnya begini. Mungkin aku harus mengubahnya sedikit." gumam Arya ketika melihat posisi tubuh Fajar yang tampak konyol.
Arya pun mengubahnya sedemikian rupa supaya terlihat keren. Ia membuat Fajar seakan sedang tidur santai dibawah pohon itu sambil menyilangkan tangan dan menaikan satu kakinya ke kaki yang lain.
"Nah dengan ini kan jadi kelihatan keren. Dia pasti bakalan bangga." lanjut Arya.
Tiba-tiba terdengar pengumuman di pengeras suara tentang anggota ekskul sastra yang mesti kembali ke ruangan ekskulnya.
"Sepertinya itu panggilanku. Kalau begitu tunggulah disini, nanti aku panggilkan orang PMR agar mengurusmu." ujar Arya pada kawannya yang masih pingsan itu.
Arya pun pergi meninggalkan tubuh Fajar yang terlihat seperti bersantai dibawah pohon dengan gaya.
Catatan hari ini:
Jangan menunggu orang melakukan sesuatu untuk kita, karena belum tentu orang lain mau melakukan hal yang kita inginkan.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.