Memo, chapter 77 - Ketika Perempuan Marah

Alice Anastasia, seorang puteri dari pemilik perusahaan terkenal Anastasia Corp. saat ini sedang berada di halaman sekolah bersama Arya dan Shinta. Mereka tadinya mau berpencar untuk mencari Shindy yang masih belum kembali juga. Namun pada akhirnya mereka malah bareng-bareng ke halaman depan sekolah.

"Jadi sekarang mau bagaimana?" tanya Arya pada dua gadis di kanan dan kirinya.

"Tidak ada jalan lain. Kita tunggu saja." ungkap Shinta.

"I-iya. Mungkin sebaiknya kita tunggu disini. Karena kita memang janjiannya kan disini." tambah Alice.

"Tapi rasanya agak kurang enak juga kalau kita hanya diam disini dan tak melakukan apapun. Lebih baik kita selesaikan tugas kita sebelum senior Sindy kembali. Padahal senior Sindy sudah merencanakan semua ini, bukankah tidak bagus kalau semuanya dibatalkan gara-gara kesorean?" ujar Arya sambil mengambil kantong plastik untuk sampah dari dalam keranjang sampah.

"Jadi, kalian mau ikut atau tidak?" sambung Arya.

"Ka-kamu serius? Panas-panas begini?" tanya Shinta tampak sedikit keberatan dengan ide Arya.

"Kalau tidak mau ikut ya terserah. Aku mau ini cepat selesai supaya bisa cepat pulang. Jadi pas senior balik kemari, kita hanya tinggal pulang saja karena tugasnya sudah selesai." ungkap Arya sambil melangkah pergi dari tempat itu.

"Tu-tunggu aku! Aku ikut!" ucap Shinta tampak mengambil keranjang sampah berisi kantong plastik hitam kemudian berlari mengejar Arya.

"Eh? A-aku juga harus mengejarnya. Aku tak mau jadi yang ditinggal sendirian disini!" gumam Alice ketika melihat Shinta mengejar Arya.

Namun walau berkata begitu, Alice masih tampak diam berdiri tak bergerak dan hanya memperhatikan Shinta dan Arya yang semakin menjauh. Ia mampu melihat kalau mereka berdua mengobrol dengan akrab.

"Ayolah tubuhku, bergeraklah! Kejar dia juga! Kumohon!" ujar Alice dalam hatinya.

Tapi tiba-tiba Arya kembali ke tempat Alice berdiri. Ia tampak membawa kantong plastik untuk sampah yang tadi masih berada didalam keranjang sampah yang dibawa oleh Shinta.

"Ini, kamu bantu juga." ujar Arya sambil menyodorkan kantong plastik berwarna hitam tersebut.

"Te-terima kasih.." ucap Alice tampak terkejut dan malu-malu.

"Kita akan mengumpulkan sampah secara terpisah. Biar semuanya cepat selesai. Kamu tangani yang di halaman depan sini saja. Mengerti?" pinta Arya.

"M-mh.." Alice terlihat menganggukan kepalanya menjawab Arya.

"Di-dia baik banget. Tak kusangka dia balik lagi untukku. Apalagi dia mau aku tetap disini biar aku tidak jalan jauh-jauh." pikir Alice dengan wajah memerah karena malu.

"Bagus kalau begitu." sahut Arya.

"Wah.. entah kenapa aku bisa lancar berbicara dengannya. Biasanya aku gugup banget. Mungkin karena aku ngebet ingin pulang cepat kali ya." pikir Arya tampak berkeringat lebih banyak dari yang seharusnya.

Arya kemudian pergi meninggalkan tempat itu melalu jalan lain. Dari kejauhan, Shinta menatap ke arah Arya yang berlalu pergi dengan wajah cemberut. Dengan langkah kesal, Shinta juga meninggalkan halaman depan sekolah sambil menyeret keranjang sampah.

Sementara Alice tampak masih malu-malu dengan kejadian tadi, dari kejauhan Ani memperhatikan kepergian Arya dengan tatapan membunuh.

"Tch! Kurang ajar tuh bocah! Berani sekali dia memanfaatkan kepolosan nona muda buat ngumpulin sampah kotor untuknya. Saat pulang nanti, akan kupites kaki dan tangannya! Awas saja!" gerutu Ani dalam hatinya.

Seketika Arya merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya.

"Ke-kenapa nih tiba-tiba ada angin sejuk gini?! Tapi enak sih. Kalau bisa sering-sering begini." ujar Arya dalam hatinya.

Dia tidak tahu kalau sebenarnya itu adalah pertanda buruk untuknya.

Disisi lain, Alice tampak mulai mengumpulkan sampah di sekitar halaman depan sekolah. Di beberapa tempat memang tampak panas, tapi saat ini Alice kebetulan sedang berada dibawah pohon rindang, jadi ia tak terlalu merasa kepanasan ketika mengumpulkan sampah.

"Nona Alice, serahkan ini kepada saya. Nona istirahat saja di tempat yang sudah saya siapkan disana." ujar Ani tiba-tiba muncul disamping Alice.

Tentu saja Alice kaget karenanya. Dan yang lebih kagetnya lagi, ia juga melihat kalau ternyata ada sebuah tempat bersantai lengkap dengan kursi lipat, payung besar, dan minuman segar yang tersaji diatas meja. Adanya hal yang kurang lumrah itu, tentu saja menyita perhatian semua orang yang kebetulan berlalu lalang di sekitar halaman depan sekolah.

"A-ani..." ucap Alice dengan nada menahan amarah.

"Y-ya nona muda?" sahut Ani.

"Aku tidak mau tahu, kamu harus bongkar semuanya!" bentak Alice dengan wajah memerah karena menahan malu.

"Eehhh???" ucap Ani kaget bercampur bingung.

"Aku takkan mau melihatmu lagi sampai kamu membereskannya!" lanjut Alice kemudian pergi meninggalkan Ani.

"Nona Alice!!!" jerit Ani yang hanya bisa melihat Alice pergi meninggalkan halaman sekolah.

"Berakhir sudah karirku. Padahal bulan ini paket internet belum beli buat bisa streaming anime terbaru. Sial!" gerutu Ani sambil tertunduk lesu meninju tanah.

Sementara itu, ditempat santai yang dibuatkan oleh Ani, ada Fajar yang kebetulan lewat disana. Ia terlihat kepanasan dan kehausan. Tubuhnya pun bercucuran keringat.

"Wah kebetulan nih ada es gratisan. Haha.. rejeki orang ganteng." ucap Fajar langsung saja meminum es limun yang tersaji diatas meja tanpa pikir panjang.

Tiba-tiba, sebuah drop kick mendarat di perut dan dada Fajar.

"Smackdown!" ucap orang-orang yang melihat kejadian itu.

Fajar terpental jauh ke belakang akibat tendangan ala pegulat seorang maid yang sedang ber-mood buruk itu.

"N-nice move." ucap Fajar memberi jempol sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.

Catatan hari ini:
Perempuan yang mood nya sedang buruk akan lebih berbahaya daripada binatang buas.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】