Memo, chapter 76 - Salah Sasaran
Shinta sedang mengumpulkan sampah di sekitar lapangan basket. Dia meletakan keranjang sampahnya sementara mengumpulkan sampah kemudian melemparkannya masuk keranjang sampah dari kejauhan. Layaknya pemain basket, Shinta melemparkan sampah itu satu persatu dari jarak jauh.
"Baiklah itu yang terakhir." ucap Shinta melemparkan sampah terakhir ke keranjang sampahnya.
Sekitar lapangan tampak sudah bersih. Tak ada satupun sampah disana yang tersisa. Di lapangan basket, tampak tim dari ekskul basket sedang berlatih. Namun latihan mereka nampak terhenti karena memperhatikan Shinta yang mengumpulkan sampah daritadi.
"Bagaimana bisa dia melemparkannya tanpa meleset sedikitpun?" ucap salah seorang anggota tim basket.
"Iya. Padahal melemparkan benda ringan seperti kertas dan semacamnya jauh lebih sulit daripada melemparkan sebuah bola basket." tambah teman disebelahnya yang nampaknya adalah teman satu ekskulnya.
"Mungkin kita bisa coba rekrut dia jadi anggota ekskul basket kita." ujar temannya yang lain.
"Ide bagus. Kita bisa mulai membentuk tim basket perempuan. Hehehe.." sahut orang pertama tadi dengan wajah mesum.
"Ya, ya, ya.." balas kawan-kawannya sambil membuat ekspresi yang sama.
Mereka pun membayangkan Shinta dan beberapa perempuan memakai seragam basket dengan tubuh tampak berkeringat mengucur dan tampak berkilauan. Tapi tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara di dekat lapangan basket tersebut. Pengumuman itu pun membuyarkan lamunan para anggota ekskul basket itu.
"Ya ampun kalian ini, tolong jangan bermesum ria ketika sedang latihan." ujar Yahya yang tampak baru datang ke lapangan basket.
"Ka-kapten?!" ucap para anggota ekskul basket terkejut melihat kedatangan Yahya.
"Padahal cuma di tinggal ke WC saja sebentar. Tapi sudah pada malas latihan. Benar-benar tidak ada harapan." gerutu Yahya sambil menggaruk kepalanya.
"Tunggu sebentar kapten! Kami punya alasan untuk itu." balas salah seorang dari mereka.
"Mh? Alasan apa memangnya selain berpikiran mesum berjamaah?" tanya Yahya.
"Kami baru saja menemukan kandidat bagus untuk membentuk tim basket perempuan." jawab orang tersebut.
"Oh, siapa?" tanya Yahya lagi.
"Tuh." sahut orang itu sambil menunjuk ke arah Shinta.
Setidaknya itulah niatnya, tapi sayangnya Shinta sudah tak ada di tempat yang ditunjuk oleh anggota ekskul basket tersebut. Yang ada disana menggantikan Shinta malahan seorang perempuan bertubuh gemuk, berpipi tembam, dan berkacamata yang kelihatannya hendak pulang.
"Ah.. kalian yakin dia cocok untuk bermain basket?" komentar Yahya yang nampak bingung.
"Eeehhh!!!?? Bagaimana bisa?! Padahal tadi kulihat disana bener ada gadis sporty, kapten! Aku tidak bohong dah!" balas anggota ekskulnya yang menunjuk tadi.
"Yang begitu sporty???" ucap Yahya sambil menoleh ke arah gadis tambun tadi dengan tatapan malas.
"Jangan bilang selera kalian adalah yang semacam itu dan sejak tadi kalian berpikiran mesum karena melihatnya." tukas Yahya.
"Tidak, tidak, tidak! Tidak mungkin lah kami bernafsu sama kasur air seperti itu!" bantah anggota ekskul yang sedang diajak bicara oleh Yahya.
"Iya betul! Mana mungkin kami terangsang oleh badan yang lebih mirip bola gitu!" tambah yang sedang memegang bola basket.
"Woy-woy, kalian yakin mengatakannya sekeras itu? Dia mendengar kalian lho." ujar Yahya memperingatkan.
"Ti-tidak mungkin!" ucap mereka tampak terkejut baru menyadari kesalahan mereka.
Para anggota ekskul yang sedang berada di tengah lapangan pun menoleh ke arah gadis gemuk yang dimaksud dengan gerakan tersendat-sendat. Dan ketika menoleh, mereka pun dapat melihat sosok mengerikan yang kini menatap ke arah mereka dengan aura membunuh yang meluap-luap.
"Mampus dah! Kita baru saja bikin ngamuk yonkou! Big M*m!" lanjut mereka dalam hatinya terkejut bukan main melihat sosok yang kini seperti tokoh One Pi*** itu.
Catatan hari ini:
Saat mengerjakan sesuatu, fokuslah pada hal tersebut atau semuanya akan kacau.
"Baiklah itu yang terakhir." ucap Shinta melemparkan sampah terakhir ke keranjang sampahnya.
Sekitar lapangan tampak sudah bersih. Tak ada satupun sampah disana yang tersisa. Di lapangan basket, tampak tim dari ekskul basket sedang berlatih. Namun latihan mereka nampak terhenti karena memperhatikan Shinta yang mengumpulkan sampah daritadi.
"Bagaimana bisa dia melemparkannya tanpa meleset sedikitpun?" ucap salah seorang anggota tim basket.
"Iya. Padahal melemparkan benda ringan seperti kertas dan semacamnya jauh lebih sulit daripada melemparkan sebuah bola basket." tambah teman disebelahnya yang nampaknya adalah teman satu ekskulnya.
"Mungkin kita bisa coba rekrut dia jadi anggota ekskul basket kita." ujar temannya yang lain.
"Ide bagus. Kita bisa mulai membentuk tim basket perempuan. Hehehe.." sahut orang pertama tadi dengan wajah mesum.
"Ya, ya, ya.." balas kawan-kawannya sambil membuat ekspresi yang sama.
Mereka pun membayangkan Shinta dan beberapa perempuan memakai seragam basket dengan tubuh tampak berkeringat mengucur dan tampak berkilauan. Tapi tiba-tiba terdengar pengumuman dari pengeras suara di dekat lapangan basket tersebut. Pengumuman itu pun membuyarkan lamunan para anggota ekskul basket itu.
"Ya ampun kalian ini, tolong jangan bermesum ria ketika sedang latihan." ujar Yahya yang tampak baru datang ke lapangan basket.
"Ka-kapten?!" ucap para anggota ekskul basket terkejut melihat kedatangan Yahya.
"Padahal cuma di tinggal ke WC saja sebentar. Tapi sudah pada malas latihan. Benar-benar tidak ada harapan." gerutu Yahya sambil menggaruk kepalanya.
"Tunggu sebentar kapten! Kami punya alasan untuk itu." balas salah seorang dari mereka.
"Mh? Alasan apa memangnya selain berpikiran mesum berjamaah?" tanya Yahya.
"Kami baru saja menemukan kandidat bagus untuk membentuk tim basket perempuan." jawab orang tersebut.
"Oh, siapa?" tanya Yahya lagi.
"Tuh." sahut orang itu sambil menunjuk ke arah Shinta.
Setidaknya itulah niatnya, tapi sayangnya Shinta sudah tak ada di tempat yang ditunjuk oleh anggota ekskul basket tersebut. Yang ada disana menggantikan Shinta malahan seorang perempuan bertubuh gemuk, berpipi tembam, dan berkacamata yang kelihatannya hendak pulang.
"Ah.. kalian yakin dia cocok untuk bermain basket?" komentar Yahya yang nampak bingung.
"Eeehhh!!!?? Bagaimana bisa?! Padahal tadi kulihat disana bener ada gadis sporty, kapten! Aku tidak bohong dah!" balas anggota ekskulnya yang menunjuk tadi.
"Yang begitu sporty???" ucap Yahya sambil menoleh ke arah gadis tambun tadi dengan tatapan malas.
"Jangan bilang selera kalian adalah yang semacam itu dan sejak tadi kalian berpikiran mesum karena melihatnya." tukas Yahya.
"Tidak, tidak, tidak! Tidak mungkin lah kami bernafsu sama kasur air seperti itu!" bantah anggota ekskul yang sedang diajak bicara oleh Yahya.
"Iya betul! Mana mungkin kami terangsang oleh badan yang lebih mirip bola gitu!" tambah yang sedang memegang bola basket.
"Woy-woy, kalian yakin mengatakannya sekeras itu? Dia mendengar kalian lho." ujar Yahya memperingatkan.
"Ti-tidak mungkin!" ucap mereka tampak terkejut baru menyadari kesalahan mereka.
Para anggota ekskul yang sedang berada di tengah lapangan pun menoleh ke arah gadis gemuk yang dimaksud dengan gerakan tersendat-sendat. Dan ketika menoleh, mereka pun dapat melihat sosok mengerikan yang kini menatap ke arah mereka dengan aura membunuh yang meluap-luap.
"Mampus dah! Kita baru saja bikin ngamuk yonkou! Big M*m!" lanjut mereka dalam hatinya terkejut bukan main melihat sosok yang kini seperti tokoh One Pi*** itu.
Catatan hari ini:
Saat mengerjakan sesuatu, fokuslah pada hal tersebut atau semuanya akan kacau.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.