Memo, chapter 80 - Teman Telah Ditambahkan!

Tempat pembakaran sampah di halaman belakang sekolah adalah salah satu tempat tersepi di sekolah. Seakan tempat itu adalah tempat terlarang untuk didatangi, tempat itu tampak tak begitu terurus dan terkesan sedikit horror.

"Apa disini bakalan muncul zombie atau semacamnya? Disini benar-benar mengerikan sekali." komentar Arya dalam hatinya ketika sampai disana.

Arya ke tempat pembakaran sampah untuk membuang sampah yang telah dikumpulkannya sebelumnya. Dan bukan hanya itu, Arya juga dipaksa untuk mengumpulkan sampah yang bukan tanggung jawabnya setelah mendapat teguran dari guru perempuan yang berwajah lebih seram daripada hantu.

"Ah.. hari ini benar-benar melelahkan. Aku jadi semakin ingin cepat pulang kalau gini." gerutu Arya sambil melemparkan kantong plastik yang dibawanya ke tempat pembakaran.

"Ya.. aku juga." sahut Rozak yang berdiri disebelahnya dengan bahu turun karena lelah.

"Lho, ini tong sampah kok rasanya ringan amat ya." sambung Rozak tampak heran lalu menoleh ke arah tong sampah di tangannya.

"Ah, apa maksudnya itu-" ucap Arya yang juga menoleh ke arah tong sampah yang dibawa Rozak.

Dan ketika melihat ke arah tong sampahnya, ternyata tong sampah itu kosong. Yang tersisa hanya beberapa potong sampah saja.

"Aaaaaa???!!!" jerit Arya dan Rozak dalam hati mereka terlihat syok melihat tong sampah yang mestinya terisi penuh itu kini kosong.

"Kenapa? Bagaimana bisa?" ujar Rozak panik dan kebingungan.

"Benar juga!! Aku lupa memberi tahu senior Rozak kalau tong sampahnya berlubang. Kalau begitu sampahnya." gumam Arya sambil menoleh ke arah belakangnya.

Dan benar saja, dibelakangnya tampak sampah berserakan sepanjang jalan yang dilalui oleh Arya dan Rozak sebelumnya.

"Sial, hari ini aku beneran sial dah! Kenapa semua ini terjadi padaku.." keluh Arya dalam benaknya.

"Walah.. ternyata nih tong bolong ya? Pantesan saja berjatuhan terus daritadi." ujar Rozak baru menyadari ada lubang di tong sampahnya.

"Senior, sepertinya kita harus mengumpulkan sampah-sampah itu lagi." ungkap Arya sambil menunjuk ke sampah yang berserakan di sepanjang jalan.

"Kamu benar juga. Bisa gawat kalau ketahuan bu guru itu lagi." sahut Rozak.

"Kalau begitu, ayo segera kita kumpulkan sampahnya." balas Arya.

"Tapi bagaimana dengan tong sampahnya? Ini bolong lho. Pasti nanti sampahnya berjauthan lagi.

"Kalau itu sih gampang. Tinggal gunakan kantong plastik yang ada disana." tunjuk Arya pada benda yang dimaksud yaitu sebuah kantong plastik hitam berukuran besar bekas Arya.

"Hmm.. tapi bukankah ini kekecilan? Tadi sampahnya sampai penuh lho di tong itu. Ini mana mungkin muat." keluh Rozak membandingkan kantong plastik dengan tong sampah yang seukuran drum itu.

"Maksudku itu gunakan kantong plastik itu untuk menutupi bagian berlubang dari tong sampahnya." jelas Arya.

"Hmm.. ide bagus." sahut Rozak.

Lalu Rozak menutup lubang tong sampah itu dengan kantong plastik, lubang bagian atas tepatnya.

"Apa-apaan senior ini?! Apakah yang besar cuma ototnya doang? Otaknya melompong gitu?" tukas Arya dalam hatinya sambil menepuk jidatnya.

"Terus kalau gini bagaimana masukin sampahnya dong?" tanya Rozak dengan wajah bodoh.

"Maksudnya bukan lubang yang itu! Tapi lubang yang bawah!" ungkap Arya dengan sedikit kesal.

"Oh.." sahut Rozak.

Rozak kemudian mencoba memasukan tong sampah itu ke dalam plastik supaya bagian bawah tong sampah yang berlubang itu tertutupi.

"Tidak muat! Plastiknya kekecilan untuk tongnya." ujar Rozak.

"Tentu saja takkan muat. Maksudku itu tutupi dari dalam, bukan dari luar." tegas Arya menjelaskannya lagi.

"Oh begitu rupanya." balas Rozak seakan mengerti maksudnya.

Rozak lalu memasukan kantong plastik itu ke dalam tong. Namun itu malah nampak seperti meletakan ember kedalam bak mandi kosong.

"Ini, sama sekali tak menutup lubangnya." komentar Rozak dengan bingung ketika melihat ke dalam tong sampahnya.

"Tak perlu dibuka, cukup posisikan saja supaya menutup lubangnya." balas Arya terlihat sudah lelah mengomentari Rozak.

"Oh.. ternyata kamu pintar juga ya bisa mengetahui hal itu." puji Rozak.

"Bukan aku yang pintar, tapi senior yang terlalu bodoh kan." gerutu Arya dengan suara pelan.

"Hah?" sahut Rozak yang tak mendengar jelas perkataan Arya.

"Sial, aku keceplosan ngomong pake mulut." ujar Arya dalam hatinya.

"Aku bilang, senior mudah diajak bicara. Senior pasti sangat populer ya." jawab Arya mencoba ngeles.

"Wah.. hahaha.. kamu bisa saja. Begitukah.. itukah yang terlihat! Sepertinya kita akan makin akrab mulai dari sekarang." ungkap Rozak menepuk-nepuk punggung Arya dengan keras.

Arya tak punya pilihan lain selain menahan rasa sakit di punggungnya dengan sabar.

Catatan hari ini:
Bibit persahabatan bisa muncul darimana saja.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】