Memo, chapter 79 - Situasi Yang Tak Terduga
Arya berjalan melewati lorong gedung kelas 1. Lorong itu tampak sepi dan hanya ada beberapa anak kelas 1 yang hendak pulang dan mengambil tas mereka dari dalam kelas. Sambil berjalan, Arya mengambil sampah di sepanjang perjalanan. Meski saat ini ia diperhatikan oleh para siswa dan siswi yang dilewatinya, Arya tetap mengumpulkan sampah-sampah kecil yang bisa ia temukan.
"Sedikit memalukan sih, tapi demi cepat pulang aku akan melakukan apapun." ujar Arya mencoba menyemangati dirinya sendiri.
Ketika sedang mengumpulkan sampah, Arya melihat ada seorang senior yang tampak membawa tong sampah yang sudah dipenuhi dengan sampah. Sepertinya senior itu hendak membawanya ke tempat pembakaran sampah di halaman belakang sekolah.
"Hmm.. sepertinya aku juga harus membuang sampah ini juga sebelum kembali ke halaman depan." pikir Arya sambil melirik ke arah kantong sampahnya.
Arya pun berniat untuk mengikuti senior betubuh tinggi besar itu. Namun ketika ia mengikutinya, ia sadar ada sesuatu yang aneh. Sampah-sampah tampak berserakan dijalanan.
"Eehh??!! Kenapa bisa kotor gini?! Padahal sebelumnya sudah kubersihkan!" ucap Arya dalam hatinya dengan terkejut.
Kemudian Arya melihat ke arah senior tinggi besar yang membawa tong sampah sebelumnya.
"Ternyata dari situ!! Tong sampahnya berlubang! Aku harus segera memberitahu senior itu!" ungkap Arya dalam hatinya.
Arya pun mendekati senior itu dan menyentuh pundaknya. Senior itu menoleh padanya.
"Haahh?" ucap senior itu menoleh dengan wajah seram.
"Uwaaahhh!!??? Nih senior wajahnya seram banget! Kayaknya dia reman banget nih!" komentar Arya dalam hati terkejut melihat reaksi bengis senior dihadapannya itu.
"Ada apa?" sambung senior itu dengan nada preman.
"Ti-tidak ada apa-apa. Tadi hanya ada.." jawab Arya terpotong sejenak karena berpikir dulu.
"Ada apa nih baiknya? Aku harus menjawab apa? Kalau jawabanku terlalu aneh bisa-bisa kena pukul nih aku!" gerutu Arya dalam benaknya tampak panik.
"..ada.. ada,, ada ulat bulu di bahu senior." sambung Arya dengan asal-asalan.
"Apa!!??? Si-si-singkirkan ulatnya, cepetan!! Kyaa!!" jerit senior tinggi besar itu yang terdengar ketakutan seperti perempuan.
"Lho, kok begini??" ucap Arya dalam hatinya dengan wajah bengong.
"Su-sudah kok senior." balas Arya sambil mencoba memaksa dirinya tersenyum pada senior berwajah bengis itu.
"Be-begitu ya. Syukurlah.. terima kasih banyak. Siapa namamu?" ujar senior itu bernapas lega.
"Lah malah ngajak kenalan dia??!!" komentar Arya dalam hati.
"Na-namaku Arya. Arya Sastrawardhana." jawab Arya.
"Arya kah. Namaku Rozak Zainal Abidin. Salam kenal." balas senior yang ternyata bernama Rozak itu sambil menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.
"Malah jadi kenalan?! Serius nih!" gerutu Arya dalam hatinya lagi.
"Salam kenal juga, senior Rozak." sahut Arya menerima sodoran tangan itu.
Mereka berdua pun saling bersalaman. Tiba-tiba lewat seorang guru.
"Woy.. kalian berdua.." ucap guru itu pada Arya dan Rozak.
Arya dan Rozak pun menoleh ke arah sang guru perempuan.
"..kenapa kalian malah memberantakkan sampah dijalanan!!! Cepat ambil lagi dan kumpulkan! Lalu buang ke tempat pembakaran sampah, sekarang!!" bentak guru itu dengan ekspresi yang terlihat lebih bengis daripada Rozak sebelumnya.
"Ma-maafkan kami!!!" ucap mereka berdua dengan bersamaan dalam ketakutan.
Catatan hari ini:
Ketika kita punya tujuan, tetaplah fokus pada tujuan kita.hingga selesai dan jangan teralihkan ataupun ragu.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.