VocaWorld, chapter 173 - Memanggil
Ray dan Luka sampai di tempatnya profesor Kei. Luka mengetuk pintu dan memanggil-manggil beberapa kali hingga akhirnya dibukakan oleh profesor Kei. Saat pintu terbuka tampak om-om tua itu seperti baru bangun tidur dan hanya mengenakan kemeja dan kolor saja.
"Ah.. ada apa sih pagi-pagi begini sudah gangguin aja?" gerutu profesor Kei.
"Oh.. selamat pagi kalau begitu.." ucap Luka dengan nada dingin dan menatap tajam.
"Lah, kenapa melihatku seperti itu? Apa salahku?" tanya profesor Kei kaget ditatap seperti itu oleh Luka.
"Lihatlah baik-baik jam berapa sekarang? Lagipula mana mungkin pagi hari mataharinya ada dibarat." ujar Ray nyerobot masuk kedalam.
"Woy.. jangan asal masuk aja. Aku kan belum mengijinkan kamu masuk." balas profesor Kei.
"Jadi kamu tidak akan mengijinkan kami masuk?" tanya Ray menoleh sambil menatap tajam.
"Te-tentu saja akan kan." jawab profesor Kei.
"Kalau begitu dimana masalahnya." kata Ray.
"Seperti biasanya kau selalu bisa menekan balik setiap pertanyaan." komentar profesor Kei.
Ray dan Luka pun duduk di sofa menunggu Kei yang pergi ke dapur. Tidak berapa lama profesor Kei kembali sambil membawa 3 gelas. Dan kemudian dia meletakan 3 gelas itu di atas meja.
"Lho, gelas ini kosong. Kupikir tadi kamu berlama-lama di dapur buat bikin teh atau semacamnya." ujar Luka saat melihat gelas-gelas tersebut.
"Ma-maaf.. sebenarnya aku kehabisan gas. Jadi tidak bisa memasak air. Hehehe.." ucap profesor Kei.
"Dan barusan kamu baru ingat?" tanya Ray.
"Ya begitulah. Hehehe.." sahut profesor Kei dengan senyuman bodoh.
"Jadi selama ini memangnya kamu minum apaan kok bisa tidak ingat gitu gas nya habis?" tanya Ray lagi.
"Entahlah. Aku lupa terkahir kali aku minum apa." jawab profesor Kei.
"Yang benar saja." sahut Ray.
"Jadi, ada apa kalian kemari? Aku dengar pihak pemerintah sudah mengungsikan para penduduk kan? Kenapa kalian masih disini?" tanya profesor Kei.
"Kami punya alasan sendiri untuk tetap ada disini. Ada sesuatu yang harus kami selesaikan dengan segera. Kamu sendiri kenapa tetap disini?" jawab Ray lalu bertanya balik.
"Ah.. aku terlalu malas buat pindah. Disini juga banyak penelitian berhargaku yang tak mungkin bisa aku tinggalkan." jelas profesor Kei.
"Oh begitukah? Kalau begitu maukah kamu melakukan sesuatu untukku?" tanya Ray.
"Hmm.. apa itu?" sahut profesor Kei.
"Tipe khusus earophoid. Megpoid. Pasti kamu sudah mengerti kan?" jawab Ray.
"Tapi saat ini barang-barang untuk bahannya bukannya sedang sulit. Komunikasi kita keluar sedang terputus, mustahil kita bisa mendapat barang yang diinginkan untuk membuatnya." jelas profesor Kei.
"Kalau masalah itu harusnya bisa kamu atasi kan. Tinggal gunakan saja dari percobaanmu yang lain. Harusnya kamu punya banyak kan?" tanya Ray.
"Iya sih. Tapi meski semuanya percobaan gagal, itu berguna untuk acuan percobaanku yang baru." jawab profesor Kei.
"Ini adalah saat yang kritis. Kalau kamu tetap bersikeras menolak karena alasan semacam itu, maka kamu takkan pernah bisa melampaui gurumu. Seorang ilmuwan haruslah berani mengambil resiko" ujar Ray.
Profesor Kei cukup terkejut mendengar ucapan itu dari Ray.
"Entah kenapa perkataanmu itu mengingatkanku pada seseorang." ucap profesor Kei.
"Lalu bagaimana? Apa kamu sanggup melakukannya untuk kami?" tanya Luka.
"Ya baiklah, akan kuusahakan." jawab profesor Kei menyanggupi permintaan Ray dan Luka.
"Baguslah. Kalau begitu kami akan pergi dulu." ujar Ray sambil berdiri.
"Jadi kalian kemari hanya untuk memintaku hal itu?" tanya profesor Kei.
"Ya, memangnya menurutmu mau apa lagi?" sahut Ray.
"Oohh.. iya juga." balas profesor Kei.
Ray dan Luka pun keluar dari kediaman profesor Kei.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Shiro-kun?" tanya profesor Kei berdiri di depan pintu.
"Kalau masalah itu, tunggu dan lihat saja baik-baik ya." jawab Ray.
"Haha.. ternyata kamu memang benar-benar mirip beliau." sahut profesor Kei.
"Jaga dirimu baik-baik, profesor. Dah.." ujar Ray sambil pergi bersama Luka.
"Ya, kamu juga, Shiro-kun." jawab profesor Kei.
Ray dan Luka pergi menggunakan mobil milik Luka meninggalkan profesor Kei.
Di sebuah atap bangunan, Gumi yang sudah dalam keadaan berubah memantau keadaan pusat kota. Tampak beberapa bangunan hancur akibat pertempuran antara pesawat Dante dan pasukan pemerintah.
"Kelihatannya tepat seperti yang dibilang oleh Shiro-san." ucap Gumi sambil melihat bekas puing-puing pesawat Dante.
Gumi melompat mendekat ke puing-puing tersebut. Saat sampai di tempat kejadian, Gumi memeriksa lebih dekat. Gumi masuk dan memeriksa bagian dalam pesawat itu. Di dalam dia tidak menemukan keberadaan Dante.
"Persis yang dikatakan oleh Shiro-san juga, dia sepertinya memang selamat." pikir Gumi.
Saat melihat lebih kedalam, dia menemukan sesuatu. Di sebuah ruangan seperti sebuah kamar, dia menemukan sebuah sebuah buku.
"Hmm.. apa ini? Sebaiknya aku bawa saja. Dan kuserahkan pada Shiro-san. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk untuk mengalahkan dia." ujar Gumi kemudian keluar sambil membawa buku itu.
Gumi pun melompat pergi meninggalkan bangkai pesawat itu. Gumi pulang kembali ke rumah Miku. Sesampainya disana Gumi berpapasan dengan Miku.
"Oh Gumi-chan, habis darimana?" tanya Miku.
"Habis mengumpulkan informasi yang disuruh oleh Shiro-san. Untuk persiapan penyerangan kita berikutnya." jawab Gumi.
Miku dan Gumi masuk kedalam rumah. Didalam tidak ada orang karena yang lain belum pada pulang.
"Yang lain belum pada pulang ya?" tanya Gumi sambil membuka kulkas.
"Kelihatannya begitu." jawab Miku yang langsung duduk santai di sofa.
"Hmm.. sepertinya selain kita, yang lainnya masih ada di rumahnya Gaku-Gaku." ujar Gumi.
"Oh ya, ada yang membuatku penasaran. Kenapa Gumi-chan memanggil Gakupo-san dengan sebutan 'Gaku-Gaku'?" tanya Miku.
"Lho, Miku-chan tidak tahu? Bukankah 'Gaku-Gaku' terdengar imut. Seperti 'Waku-Waku' gitu kan. Iya kan?" jelas Gumi.
"Eh, imut darimananya? Tidak sesuai dengan orangnya tahu. Malah jadi terdengar aneh." sahut Miku.
"Miku-chan sendiri kenapa selalu memanggil Shiro-san dengan sebutan 'sialan' dan semacamnya?" tanya Gumi sambil duduk disebelah Miku.
"Kalau itu tentu saja karena dia selalu saja membuatku kesal. Entah disekolah atau dimanapun, dia selalu ngeselin." jawab Miku.
"Be-begitukah. Tapi dari yang kulihat, dia cuma membuat kesal padamu saja yang paling sering. Kalau pada yang lain sih jarang-jarang." ujar Gumi.
"Masa? Berarti kurang ajar banget tuh orang. Sebenci itukah dia padaku. Kurang ajar.." gerutu Miku dengan geram.
"Menurutku malah sebaliknya kayaknya." komentar Gumi dengan wajah datar.
Tidak lama kemudian, Meiko, Rin dan Len pulang bersama Kaito. Mereka terlihat membawa beberapa bahan masakan.
"Kami pulang.." ucap Meiko dan yang lainnya.
"Eh, dapat darimana tuh sayur-sayuran?" tanya Miku.
"Kayaknya mereka bawa dari tempatnya Gaku-Gaku." ujar Gumi memotong.
"Benarkah?" sahut Miku tidak percaya.
"Ya, ini kami bawa dari kulkasnya Gakupo. Aku juga sebenarnya heran kenapa samurai itu masih punya persediaan makanan yang cukup banyak." kata Kaito sambil meletakan tas plastik di atas meja.
"Sudah jelas kan karena dia selama ini selalu numpang makan disini setelah insiden kebangkitan Pangeran Kegelapan." ujar Gumi.
"Oh benar juga." ucap Kaito baru ingat kalau Kamui tidak bisa masak dan selama ini yang selalu masak adalah dia.
"Kami pulang.." ucap Ray bersama Luka yang baru pulang.
"Wah.. ada apa ini? Sepertinya meriah sekali." tanya Luka.
"Luka-tan! Itu dari rumah saya lho! Khusus buat Luka-tan!!" ucap Kamui tiba-tiba muncul.
"Muncul darimana tuh orang!!?" ucap Luka terkejut.
"Woy.. jangan masuk sembarangan. Jaga keseopananmu." gerutu Kaito.
"Tenang saja, saya sudah menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri kok." jawab Kamui sambil mengacungkan jempol.
"Justru itu lebih tidak sopan lho." balas Kaito.
"Ray-kun, katakanlah sesuatu supaya samurai itu jera." ujar Luka sambil menoleh ke arah Ray.
Namun Ray sudah tidak ada. Luka pun terheran dan menengok kanan kiri mencari-cari Ray.
Malam hari itu adalah malam hari penuh bintang. Ray terlihat sedang duduk diatas genteng sambil memperhatikan bintang yang bertaburan diatas langit.
"Terakhir kali aku melihat malam seperti ini adalah saat bersama Dante. Kira-kira sudah berapa lama ya itu berlalu." pikir Ray sambil menatap langit.
Sementara di tempat lain Dante juga terlihat sedang duduk diatas batu melihat ke arah langit. Terdengar suara hembusan angin dan suara ombak yang membentur bebatuan karang.
"Hachu!" tampak Dante bersin.
"Apa yang sedang tuan lakukan? Ini sudah hampir musim dingin malah main-main tengah malam di pinggir pantai." komentar June saat melihatnya.
"Sekali-kali lah biar terlihat keren gitu." sanggah Dante.
"Kalau masalah itu tuan tak perlu khawatir. Tuan Lucifer sudah sangat keren kok." sahut June.
"Be-begitukah.." ucap Dante malu-malu dipuji seperti itu.
"Tapi dari yang kuingat, terakhir kali aku menatap bintang seperti ini adalah saat bersama dengannya. Kira-kira sudah berapa lamakah itu?" gumam Dante sambil kembali melihat ke arah langit.
Pagi harinya, Ray sudah berada di teras pinggir rumah. Tampak Ray sedang menikmati teh hangat sambil memakan gorengan.
"Hoam.. aku masih ngantuk banget. Tapi malah kebangun karena kebelet pipis." gerutu Miku turun dari lantai 2.
"Harusnya kamu bersyukur karena masih bisa bangun, Hatsune-san. Karena itu, setidaknya.. besok pakailah kaos bertuliskan 'Aku suka kebelet pipis!'." ujar Ray.
"Yang benar saja! Aku tak mungkin melakukannya!" bentak Miku.
"Be-begitukah. Kalau begitu 'Kebelet pipis, I love you!' saja bagaimana?" tawar Ray.
"Itu sama saja kan?! Mana mungkin lah aku mengenakan kaos memalukan semacam itu! Dasar ngeselin!!" bentak Miku lagi karena kesal.
"Lah padahal menurutku kamu cocok mengenakan kaos seperti itu, Hatsune-san." kata Ray.
"Ngajak ribut nih orang pagi-pagi!!" ucap Miku dengan geram.
"Ada apa sih berisik banget pagi-pagi gini?" ujar Meiko yang baru bangun.
"Ini Meiko-san. Nih orang ngajakin aku ribut. Ngeselin dah." jelas Miku sambil nunjuk ke arah Ray.
"Kalian akrab banget ya." ucap Meiko sambil tersenyum kemudian pergi ke kamar mandi.
"Akrab darimananya!!!" bentak Miku.
Setelah beberapa saat, Miku tersadar akan sesuatu.
"Whoa! Aku lupa aku sedang kebelet pipis! Tunggu dulu Meiko-san! Aku duluan!! Sudah diujung nih!!!" ucap Miku sambil lari ke arah kamar mandi.
Ray hanya tersenyum sambil meminum tehnya. Tak lama kemudian Luka juga terlihat sudah bangun. Dia turun dari lantai 2 sambil mengucek-ngucek matanya.
"Selamat pagi, Megurine-san." sapa Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Selamat pagi, Ray-kun." sahut Luka.
Luka berjalan menghampiri Ray dan duduk disampingnya.
"Oh ya, kemarin Ray-kun pergi kemana? Ray-kun tiba-tiba menghilang. Bahkan tidak ikut makan malam." tanya Luka.
"Tidak kemana-mana kok." jawab Ray.
"Tidak mungkin tidak kemana-mana. Semalam aku cariin kemana-mana tidak ada kok." jelas Luka.
"Mungkin saja Megurine-san tidak menyadarinya kan?" balas Ray.
"Ray-kun ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." ujar Luka.
"Apa itu?" sahut Ray.
"Kenapa Ray-kun masih memanggilku menggunakan nama margaku?" tanya Luka sambil menatap tajam.
"Entahlah.. karena kebiasaan mungkin." jawab Ray dengan asal-asalan.
"Ray-kun.." ucap Luka menekan Ray dengan tatapan tajamnya.
"Aahh.. baiklah. Se-sebenarnya.. aku masih agak malu kalau memanggilmu dengan nama depanmu." jelas Ray dengan sedikit malu-malu.
Melihat ekspresi malu-malu Ray membuat Luka ikut malu-malu juga. Wajah mereka pun jadi sama-sama memerah karenanya. Tanpa mereka ketahui ternyata Kamui memperhatikan mereka dari belakang.
To be continued..
"Ah.. ada apa sih pagi-pagi begini sudah gangguin aja?" gerutu profesor Kei.
"Oh.. selamat pagi kalau begitu.." ucap Luka dengan nada dingin dan menatap tajam.
"Lah, kenapa melihatku seperti itu? Apa salahku?" tanya profesor Kei kaget ditatap seperti itu oleh Luka.
"Lihatlah baik-baik jam berapa sekarang? Lagipula mana mungkin pagi hari mataharinya ada dibarat." ujar Ray nyerobot masuk kedalam.
"Woy.. jangan asal masuk aja. Aku kan belum mengijinkan kamu masuk." balas profesor Kei.
"Jadi kamu tidak akan mengijinkan kami masuk?" tanya Ray menoleh sambil menatap tajam.
"Te-tentu saja akan kan." jawab profesor Kei.
"Kalau begitu dimana masalahnya." kata Ray.
"Seperti biasanya kau selalu bisa menekan balik setiap pertanyaan." komentar profesor Kei.
Ray dan Luka pun duduk di sofa menunggu Kei yang pergi ke dapur. Tidak berapa lama profesor Kei kembali sambil membawa 3 gelas. Dan kemudian dia meletakan 3 gelas itu di atas meja.
"Lho, gelas ini kosong. Kupikir tadi kamu berlama-lama di dapur buat bikin teh atau semacamnya." ujar Luka saat melihat gelas-gelas tersebut.
"Ma-maaf.. sebenarnya aku kehabisan gas. Jadi tidak bisa memasak air. Hehehe.." ucap profesor Kei.
"Dan barusan kamu baru ingat?" tanya Ray.
"Ya begitulah. Hehehe.." sahut profesor Kei dengan senyuman bodoh.
"Jadi selama ini memangnya kamu minum apaan kok bisa tidak ingat gitu gas nya habis?" tanya Ray lagi.
"Entahlah. Aku lupa terkahir kali aku minum apa." jawab profesor Kei.
"Yang benar saja." sahut Ray.
"Jadi, ada apa kalian kemari? Aku dengar pihak pemerintah sudah mengungsikan para penduduk kan? Kenapa kalian masih disini?" tanya profesor Kei.
"Kami punya alasan sendiri untuk tetap ada disini. Ada sesuatu yang harus kami selesaikan dengan segera. Kamu sendiri kenapa tetap disini?" jawab Ray lalu bertanya balik.
"Ah.. aku terlalu malas buat pindah. Disini juga banyak penelitian berhargaku yang tak mungkin bisa aku tinggalkan." jelas profesor Kei.
"Oh begitukah? Kalau begitu maukah kamu melakukan sesuatu untukku?" tanya Ray.
"Hmm.. apa itu?" sahut profesor Kei.
"Tipe khusus earophoid. Megpoid. Pasti kamu sudah mengerti kan?" jawab Ray.
"Tapi saat ini barang-barang untuk bahannya bukannya sedang sulit. Komunikasi kita keluar sedang terputus, mustahil kita bisa mendapat barang yang diinginkan untuk membuatnya." jelas profesor Kei.
"Kalau masalah itu harusnya bisa kamu atasi kan. Tinggal gunakan saja dari percobaanmu yang lain. Harusnya kamu punya banyak kan?" tanya Ray.
"Iya sih. Tapi meski semuanya percobaan gagal, itu berguna untuk acuan percobaanku yang baru." jawab profesor Kei.
"Ini adalah saat yang kritis. Kalau kamu tetap bersikeras menolak karena alasan semacam itu, maka kamu takkan pernah bisa melampaui gurumu. Seorang ilmuwan haruslah berani mengambil resiko" ujar Ray.
Profesor Kei cukup terkejut mendengar ucapan itu dari Ray.
"Entah kenapa perkataanmu itu mengingatkanku pada seseorang." ucap profesor Kei.
"Lalu bagaimana? Apa kamu sanggup melakukannya untuk kami?" tanya Luka.
"Ya baiklah, akan kuusahakan." jawab profesor Kei menyanggupi permintaan Ray dan Luka.
"Baguslah. Kalau begitu kami akan pergi dulu." ujar Ray sambil berdiri.
"Jadi kalian kemari hanya untuk memintaku hal itu?" tanya profesor Kei.
"Ya, memangnya menurutmu mau apa lagi?" sahut Ray.
"Oohh.. iya juga." balas profesor Kei.
Ray dan Luka pun keluar dari kediaman profesor Kei.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Shiro-kun?" tanya profesor Kei berdiri di depan pintu.
"Kalau masalah itu, tunggu dan lihat saja baik-baik ya." jawab Ray.
"Haha.. ternyata kamu memang benar-benar mirip beliau." sahut profesor Kei.
"Jaga dirimu baik-baik, profesor. Dah.." ujar Ray sambil pergi bersama Luka.
"Ya, kamu juga, Shiro-kun." jawab profesor Kei.
Ray dan Luka pergi menggunakan mobil milik Luka meninggalkan profesor Kei.
Di sebuah atap bangunan, Gumi yang sudah dalam keadaan berubah memantau keadaan pusat kota. Tampak beberapa bangunan hancur akibat pertempuran antara pesawat Dante dan pasukan pemerintah.
"Kelihatannya tepat seperti yang dibilang oleh Shiro-san." ucap Gumi sambil melihat bekas puing-puing pesawat Dante.
Gumi melompat mendekat ke puing-puing tersebut. Saat sampai di tempat kejadian, Gumi memeriksa lebih dekat. Gumi masuk dan memeriksa bagian dalam pesawat itu. Di dalam dia tidak menemukan keberadaan Dante.
"Persis yang dikatakan oleh Shiro-san juga, dia sepertinya memang selamat." pikir Gumi.
Saat melihat lebih kedalam, dia menemukan sesuatu. Di sebuah ruangan seperti sebuah kamar, dia menemukan sebuah sebuah buku.
"Hmm.. apa ini? Sebaiknya aku bawa saja. Dan kuserahkan pada Shiro-san. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk untuk mengalahkan dia." ujar Gumi kemudian keluar sambil membawa buku itu.
Gumi pun melompat pergi meninggalkan bangkai pesawat itu. Gumi pulang kembali ke rumah Miku. Sesampainya disana Gumi berpapasan dengan Miku.
"Oh Gumi-chan, habis darimana?" tanya Miku.
"Habis mengumpulkan informasi yang disuruh oleh Shiro-san. Untuk persiapan penyerangan kita berikutnya." jawab Gumi.
Miku dan Gumi masuk kedalam rumah. Didalam tidak ada orang karena yang lain belum pada pulang.
"Yang lain belum pada pulang ya?" tanya Gumi sambil membuka kulkas.
"Kelihatannya begitu." jawab Miku yang langsung duduk santai di sofa.
"Hmm.. sepertinya selain kita, yang lainnya masih ada di rumahnya Gaku-Gaku." ujar Gumi.
"Oh ya, ada yang membuatku penasaran. Kenapa Gumi-chan memanggil Gakupo-san dengan sebutan 'Gaku-Gaku'?" tanya Miku.
"Lho, Miku-chan tidak tahu? Bukankah 'Gaku-Gaku' terdengar imut. Seperti 'Waku-Waku' gitu kan. Iya kan?" jelas Gumi.
"Eh, imut darimananya? Tidak sesuai dengan orangnya tahu. Malah jadi terdengar aneh." sahut Miku.
"Miku-chan sendiri kenapa selalu memanggil Shiro-san dengan sebutan 'sialan' dan semacamnya?" tanya Gumi sambil duduk disebelah Miku.
"Kalau itu tentu saja karena dia selalu saja membuatku kesal. Entah disekolah atau dimanapun, dia selalu ngeselin." jawab Miku.
"Be-begitukah. Tapi dari yang kulihat, dia cuma membuat kesal padamu saja yang paling sering. Kalau pada yang lain sih jarang-jarang." ujar Gumi.
"Masa? Berarti kurang ajar banget tuh orang. Sebenci itukah dia padaku. Kurang ajar.." gerutu Miku dengan geram.
"Menurutku malah sebaliknya kayaknya." komentar Gumi dengan wajah datar.
Tidak lama kemudian, Meiko, Rin dan Len pulang bersama Kaito. Mereka terlihat membawa beberapa bahan masakan.
"Kami pulang.." ucap Meiko dan yang lainnya.
"Eh, dapat darimana tuh sayur-sayuran?" tanya Miku.
"Kayaknya mereka bawa dari tempatnya Gaku-Gaku." ujar Gumi memotong.
"Benarkah?" sahut Miku tidak percaya.
"Ya, ini kami bawa dari kulkasnya Gakupo. Aku juga sebenarnya heran kenapa samurai itu masih punya persediaan makanan yang cukup banyak." kata Kaito sambil meletakan tas plastik di atas meja.
"Sudah jelas kan karena dia selama ini selalu numpang makan disini setelah insiden kebangkitan Pangeran Kegelapan." ujar Gumi.
"Oh benar juga." ucap Kaito baru ingat kalau Kamui tidak bisa masak dan selama ini yang selalu masak adalah dia.
"Kami pulang.." ucap Ray bersama Luka yang baru pulang.
"Wah.. ada apa ini? Sepertinya meriah sekali." tanya Luka.
"Luka-tan! Itu dari rumah saya lho! Khusus buat Luka-tan!!" ucap Kamui tiba-tiba muncul.
"Muncul darimana tuh orang!!?" ucap Luka terkejut.
"Woy.. jangan masuk sembarangan. Jaga keseopananmu." gerutu Kaito.
"Tenang saja, saya sudah menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri kok." jawab Kamui sambil mengacungkan jempol.
"Justru itu lebih tidak sopan lho." balas Kaito.
"Ray-kun, katakanlah sesuatu supaya samurai itu jera." ujar Luka sambil menoleh ke arah Ray.
Namun Ray sudah tidak ada. Luka pun terheran dan menengok kanan kiri mencari-cari Ray.
Malam hari itu adalah malam hari penuh bintang. Ray terlihat sedang duduk diatas genteng sambil memperhatikan bintang yang bertaburan diatas langit.
"Terakhir kali aku melihat malam seperti ini adalah saat bersama Dante. Kira-kira sudah berapa lama ya itu berlalu." pikir Ray sambil menatap langit.
Sementara di tempat lain Dante juga terlihat sedang duduk diatas batu melihat ke arah langit. Terdengar suara hembusan angin dan suara ombak yang membentur bebatuan karang.
"Hachu!" tampak Dante bersin.
"Apa yang sedang tuan lakukan? Ini sudah hampir musim dingin malah main-main tengah malam di pinggir pantai." komentar June saat melihatnya.
"Sekali-kali lah biar terlihat keren gitu." sanggah Dante.
"Kalau masalah itu tuan tak perlu khawatir. Tuan Lucifer sudah sangat keren kok." sahut June.
"Be-begitukah.." ucap Dante malu-malu dipuji seperti itu.
"Tapi dari yang kuingat, terakhir kali aku menatap bintang seperti ini adalah saat bersama dengannya. Kira-kira sudah berapa lamakah itu?" gumam Dante sambil kembali melihat ke arah langit.
Pagi harinya, Ray sudah berada di teras pinggir rumah. Tampak Ray sedang menikmati teh hangat sambil memakan gorengan.
"Hoam.. aku masih ngantuk banget. Tapi malah kebangun karena kebelet pipis." gerutu Miku turun dari lantai 2.
"Harusnya kamu bersyukur karena masih bisa bangun, Hatsune-san. Karena itu, setidaknya.. besok pakailah kaos bertuliskan 'Aku suka kebelet pipis!'." ujar Ray.
"Yang benar saja! Aku tak mungkin melakukannya!" bentak Miku.
"Be-begitukah. Kalau begitu 'Kebelet pipis, I love you!' saja bagaimana?" tawar Ray.
"Itu sama saja kan?! Mana mungkin lah aku mengenakan kaos memalukan semacam itu! Dasar ngeselin!!" bentak Miku lagi karena kesal.
"Lah padahal menurutku kamu cocok mengenakan kaos seperti itu, Hatsune-san." kata Ray.
"Ngajak ribut nih orang pagi-pagi!!" ucap Miku dengan geram.
"Ada apa sih berisik banget pagi-pagi gini?" ujar Meiko yang baru bangun.
"Ini Meiko-san. Nih orang ngajakin aku ribut. Ngeselin dah." jelas Miku sambil nunjuk ke arah Ray.
"Kalian akrab banget ya." ucap Meiko sambil tersenyum kemudian pergi ke kamar mandi.
"Akrab darimananya!!!" bentak Miku.
Setelah beberapa saat, Miku tersadar akan sesuatu.
"Whoa! Aku lupa aku sedang kebelet pipis! Tunggu dulu Meiko-san! Aku duluan!! Sudah diujung nih!!!" ucap Miku sambil lari ke arah kamar mandi.
Ray hanya tersenyum sambil meminum tehnya. Tak lama kemudian Luka juga terlihat sudah bangun. Dia turun dari lantai 2 sambil mengucek-ngucek matanya.
"Selamat pagi, Megurine-san." sapa Ray sambil menoleh ke arah Luka.
"Selamat pagi, Ray-kun." sahut Luka.
Luka berjalan menghampiri Ray dan duduk disampingnya.
"Oh ya, kemarin Ray-kun pergi kemana? Ray-kun tiba-tiba menghilang. Bahkan tidak ikut makan malam." tanya Luka.
"Tidak kemana-mana kok." jawab Ray.
"Tidak mungkin tidak kemana-mana. Semalam aku cariin kemana-mana tidak ada kok." jelas Luka.
"Mungkin saja Megurine-san tidak menyadarinya kan?" balas Ray.
"Ray-kun ada sesuatu yang ingin aku tanyakan." ujar Luka.
"Apa itu?" sahut Ray.
"Kenapa Ray-kun masih memanggilku menggunakan nama margaku?" tanya Luka sambil menatap tajam.
"Entahlah.. karena kebiasaan mungkin." jawab Ray dengan asal-asalan.
"Ray-kun.." ucap Luka menekan Ray dengan tatapan tajamnya.
"Aahh.. baiklah. Se-sebenarnya.. aku masih agak malu kalau memanggilmu dengan nama depanmu." jelas Ray dengan sedikit malu-malu.
Melihat ekspresi malu-malu Ray membuat Luka ikut malu-malu juga. Wajah mereka pun jadi sama-sama memerah karenanya. Tanpa mereka ketahui ternyata Kamui memperhatikan mereka dari belakang.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.