LINE Dragon Fligh Story, chapter 23 - Putri Yang Jadi Ratu
Sang raja kerajaan Helen yang tampak sehat-sehat saja ternyata terbaring lemah diranjangnya. Dan Elli, putri satu-satunya hanya bisa melihat dan terdiam. Duran dan Rikka pun tak bisa ikut campur, karena semua itu hanya berupa kenangan. Elli dengan perlahan berjalan mendekati ayah nya itu.
“A-ayah..” panggil Elli dengan suara lemah dari samping ranjang.
Mata sang raja perlahan terbuka. Tampak senyuman melengkung diwajahnya.
“Ketahuan ya. Tapi tak apa, aku tahu lama kelamaan juga pasti akan ketahuan.” ujar sang raja.
“J-jadi ayah benar-benar.. sedang sakit?” tanya Elli.
Ayah Elli hanya tersenyum saat mendengar pertanyaan putrinya itu.
“Kenapa ayah merahasiakannya dariku?” tanya Elli lagi.
“Ayah.. sebagai seorang ayah.. tak mungkin membuat putrinya sedih. Setiap orang tua pasti ingin selalu melihat putrinya bahagia.” jawab ayah Elli.
“Tapi, bagaimana aku bahagia kalau melihat ayah sakit begini!” bentak Elli dengan air mata yang mulai menetes.
“Lihat? Hal seperti inilah yang ayah hindari. Ayah tak ingin melihat putri kesayangan ayah menangis.” jawab ayah Elli.
“Aku.. aku..” ucap Elli.
“Karena itu tetaplah tersenyum. Apapun yang terjadi, tetaplah bahagia tetaplah tersenyum. Jadilah orang berhati kuat. Ayah tak akan bisa tenang jika melihatmu menangis dan bersedih seperti ini.” lanjut ayah Elli sambil tersenyum.
“Baiklah.. ayah..” sahut Elli menghapus air matanya mencoba tersenyum.
“Elli..” ucap Rikka yang mengerti perasaan Elli.
“Jadi itu yang terjadi pada raja kerajaan Helen.” ujar Duran.
“Apa maksudmu?” tanya Rikka.
“Soalnya kerajaan Helen runtuh tepat setelah kematian rajanya.” jawab Duran.
Rikka terkejut mendengarnya. Elli saat itu memeluk erat ayahnya. Rikka melihat Elli dengan tatapan sedih setelah mendengar jawaban Duran.
Gambaran
kenangan loncat ke saat hari penobatan Elli. Elli dan ayahnya sedang ada di
beranda depan istana. Dibawahnya banyak sekali rakyat yang menyaksikan. Duran
dan Rikka berada dibelakang Elli dan ayahnya.
“Jadi seperti inilah pemandangan penobatan seorang ratu kalau dilihat dari sisi yang dilantik.” ujar Rikka.
“Aku tidak bisa melihat jelas aku ada dimana saat ini. Saat itu aku juga datang. Tapi aku tak melihat jelas siapa yang menjadi ratu karena sangat jauh.” kata Duran sambil meliha-lihat ke orang-orang dari pinggir beranda.
“Hey! Jangan berdiri disana! Kamu menghalangi mereka tahu!” ucap Rikka sambil menarik Duran.
“Haha.. tenang saja. Mereka kan tidak bisa melihat kita. Bahkan takkan terganggu sama sekali.” jawab Duran.
“Ta-tapi kan..” sahut Rikka.
“Kepada seluruh penduduk kerajaan Helen, terima kasih telah mau berkumpul di hari yang penting ini. Aku selaku raja, saat ini akan melantik seorang pemimpin baru untuk kerajaan ini. Dia adalah putriku satu-satunya. Putri yang cantik dan anggun. Namanya adalah Ellizabeth Starsilvern.” ujar ayah Elli dengan suara lantang.
Elli mulai maju kedepan dan memperlihatkan dirinya kepada orang-orang. Dia memakai pakaian cantik berwarna krem. Gaun yang sama dengan yang dipakainya saat pertama kali bertemua Rikka.
“Dan dengan ini, aku Halbert Starsilvern menyatakan kalau putriku yang selaku pewaris tahta tunggal ini menggantikanku sebagai pemimpin negara secara resmi. Mulai sekarang dia adalah ratu kalian. Sambutlah pemimpin baru kalian ini!” sambung sang raja.
Seluruh rakyat pun bersorak.
“Ellizabeth Starsilvern.. jadi itu nama asli putri Elli.” ujar Duran.
“Putri yang hilang..” tambah Rikka.
Sorakan rakyat yang menyaksikan masih terdengar jelas. Elli menunjukkan wajah yang ragu dan tak yakin akan dirinya. Tapi sentuhan halus tangan ayahnya dikepalanya menengkannya. Elli tersenyum membalas senyuman ayahnya.
“Sepertinya tidak akan terjadi hal buruk lagi setelah ini.” ujar Rikka.
“Salah. Justru setelah ini lah hal paling buruk akan terjadi.” sahut Duran dengan wajah tertunduk.
Rikka terkejut melihat ekspresi Duran saat itu.
“Jadi seperti inilah pemandangan penobatan seorang ratu kalau dilihat dari sisi yang dilantik.” ujar Rikka.
“Aku tidak bisa melihat jelas aku ada dimana saat ini. Saat itu aku juga datang. Tapi aku tak melihat jelas siapa yang menjadi ratu karena sangat jauh.” kata Duran sambil meliha-lihat ke orang-orang dari pinggir beranda.
“Hey! Jangan berdiri disana! Kamu menghalangi mereka tahu!” ucap Rikka sambil menarik Duran.
“Haha.. tenang saja. Mereka kan tidak bisa melihat kita. Bahkan takkan terganggu sama sekali.” jawab Duran.
“Ta-tapi kan..” sahut Rikka.
“Kepada seluruh penduduk kerajaan Helen, terima kasih telah mau berkumpul di hari yang penting ini. Aku selaku raja, saat ini akan melantik seorang pemimpin baru untuk kerajaan ini. Dia adalah putriku satu-satunya. Putri yang cantik dan anggun. Namanya adalah Ellizabeth Starsilvern.” ujar ayah Elli dengan suara lantang.
Elli mulai maju kedepan dan memperlihatkan dirinya kepada orang-orang. Dia memakai pakaian cantik berwarna krem. Gaun yang sama dengan yang dipakainya saat pertama kali bertemua Rikka.
“Dan dengan ini, aku Halbert Starsilvern menyatakan kalau putriku yang selaku pewaris tahta tunggal ini menggantikanku sebagai pemimpin negara secara resmi. Mulai sekarang dia adalah ratu kalian. Sambutlah pemimpin baru kalian ini!” sambung sang raja.
Seluruh rakyat pun bersorak.
“Ellizabeth Starsilvern.. jadi itu nama asli putri Elli.” ujar Duran.
“Putri yang hilang..” tambah Rikka.
Sorakan rakyat yang menyaksikan masih terdengar jelas. Elli menunjukkan wajah yang ragu dan tak yakin akan dirinya. Tapi sentuhan halus tangan ayahnya dikepalanya menengkannya. Elli tersenyum membalas senyuman ayahnya.
“Sepertinya tidak akan terjadi hal buruk lagi setelah ini.” ujar Rikka.
“Salah. Justru setelah ini lah hal paling buruk akan terjadi.” sahut Duran dengan wajah tertunduk.
Rikka terkejut melihat ekspresi Duran saat itu.
Sore hari di
istana kerajaan Helen semua nampak tenang. Elli disibukkan oleh ucapan selamat
dari para menteri dan para ksatria yang hadir. Moran pun tampak hadir disana.
Melihat ada Moran, Elli pun menghampirinya.
“Moran..” sapa Elli.
“Oh tuan putri, eh maksud saya yang mulia ratu.. selamat atas penobatannya.” ucap Moran.
“Te-terima kasih.. kenapa tidak panggil aku Elli saja.” pinta Elli.
“Maafkan saya yang mulia, itu tidak bisa. Saya akan terlihat tidak sopan dimata yang lain kalau saya memanggil dengan nama panggilan anda.” tolak Moran.
“Ngomong-ngomong dimana yang mulia Halbert?” tanya Moran.
“Ayah? Hmm.. aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya lagi setelah pelantikan itu. Mungkin beliau ada dikamarnya.” jawab Elli.
“Oh.. begitukah. Mungkin beliau sedang beristirahat saat ini karena kecapean.” sahut Moran.
“Maaf tuan putri, saya harus permisi dulu. Saya harus pulang saat ini. Saya sudah berjanji pada putri saya untuk langsung pulang setelah urusan saya disini selesai.” sambung Moran berpamitan pada Elli.
“Tunggu..” ucap Elli.
“Ada apa, yang mulia?” sahut Moran.
“A-aku.. aku..” jawab Elli tampak ragu dan malu.
Moran tersenyum dan kemudian berbalik menghadap Elli.
“Tenang saja.. saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Saya selaku seorang ksatria dari kerajaan Helen pasti akan melindungi anda jika sampai ada yang mengancam keselatan anda.” ujar Moran sambil memberi hormat dengan membungkukkan badannya.
Elli tampak sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian dia tersenyum. Moran berpamitan dan melanjutkan niatnya untuk pulang. Elli kemudian memutuskan untuk kembali kekamarnya setelah itu. Saat di perjalanan menuju ke kamarnya. Dia melihat beberapa orang nampak sibuk. Mereka berlarian melewati Elli.
“Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?” ucap Elli terlihat bingung.
Elli pun memutuskan untuk mengikuti mereka. Ternyata mereka menuju ke kamar raja Halbert. Elli ikut masuk kedalam, disana sudah banyak orang berkerumun. Dan salah satu dari mereka adalah seorang tabib kerajaan.
“Jangan bilang ini seperti yang kupikirkan.” ujar Rikka.
“Ya memang begitu..” sahut Duran.
Raja Halbert terlihat berbaring di kasurnya. Tidak bergerak sama sekali.
“..raja Halbert, meninggal dihari yang sama dengan pelantikan sang putri.” sambung Duran.
“Moran..” sapa Elli.
“Oh tuan putri, eh maksud saya yang mulia ratu.. selamat atas penobatannya.” ucap Moran.
“Te-terima kasih.. kenapa tidak panggil aku Elli saja.” pinta Elli.
“Maafkan saya yang mulia, itu tidak bisa. Saya akan terlihat tidak sopan dimata yang lain kalau saya memanggil dengan nama panggilan anda.” tolak Moran.
“Ngomong-ngomong dimana yang mulia Halbert?” tanya Moran.
“Ayah? Hmm.. aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya lagi setelah pelantikan itu. Mungkin beliau ada dikamarnya.” jawab Elli.
“Oh.. begitukah. Mungkin beliau sedang beristirahat saat ini karena kecapean.” sahut Moran.
“Maaf tuan putri, saya harus permisi dulu. Saya harus pulang saat ini. Saya sudah berjanji pada putri saya untuk langsung pulang setelah urusan saya disini selesai.” sambung Moran berpamitan pada Elli.
“Tunggu..” ucap Elli.
“Ada apa, yang mulia?” sahut Moran.
“A-aku.. aku..” jawab Elli tampak ragu dan malu.
Moran tersenyum dan kemudian berbalik menghadap Elli.
“Tenang saja.. saya yakin semuanya akan baik-baik saja. Saya selaku seorang ksatria dari kerajaan Helen pasti akan melindungi anda jika sampai ada yang mengancam keselatan anda.” ujar Moran sambil memberi hormat dengan membungkukkan badannya.
Elli tampak sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian dia tersenyum. Moran berpamitan dan melanjutkan niatnya untuk pulang. Elli kemudian memutuskan untuk kembali kekamarnya setelah itu. Saat di perjalanan menuju ke kamarnya. Dia melihat beberapa orang nampak sibuk. Mereka berlarian melewati Elli.
“Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu?” ucap Elli terlihat bingung.
Elli pun memutuskan untuk mengikuti mereka. Ternyata mereka menuju ke kamar raja Halbert. Elli ikut masuk kedalam, disana sudah banyak orang berkerumun. Dan salah satu dari mereka adalah seorang tabib kerajaan.
“Jangan bilang ini seperti yang kupikirkan.” ujar Rikka.
“Ya memang begitu..” sahut Duran.
Raja Halbert terlihat berbaring di kasurnya. Tidak bergerak sama sekali.
“..raja Halbert, meninggal dihari yang sama dengan pelantikan sang putri.” sambung Duran.
To be
continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.