VocaWorld, chapter 147 - Darkness Fall
Ray segera pulang ke rumah danau karena khawatir dengan Dante. Saat dia sampai, ternyata Dante sudah tertidur di kamarnya.
"Dia sudah tidur kah? Sepertinya besok aku sudah harus menjelaskan semuanya padanya. Sudah tidak ada waktu lagi." ujar Ray dalam hatinya.
Ray kemudian masuk kedalam kamar nya dan tidur. Sepertinya dia juga sudah kelelahan setelah mengurus semua masalah di festival budaya selama 3 hari berturut-turut itu. Ditambah saat itu memang sudah hampir pagi. Ke esokan harinya di rumah Miku, terlihat Meiko seperti biasa dengan rajinnya menyapu dan membersihkan rumah. Tak lama kemudian Luka turun dari kamarnya dan menyapa.
"Selamat pagi, Meiko-chan." sapa Luka.
"Selamat pagi. Lho kok Megurine-san sudah bangun jam segini?" sahut Meiko heran.
"Bukannya sudah bangun sih, tapi aku memang tak bisa tidur. Semalam Ray-kun tiba-tiba saja menghilang." jawab Luka dengan wajah cemberut.
"Jadi dia meninggalkanmu kemarin? Pantas saja kamu langsung pulang bersama kami." balas Meiko.
"Aku sudah mengirim email padanya, tapi belum dijawab. Sepertinya dia masih tidur." ujar Luka.
"Ya kan mau bagaimana lagi, dia pasti kelelahan setelah mengurus semua hal dari persiapan hingga segala sesuatunya di festival kemarin." sahut Meiko.
"Ya, Meiko-chan ada benarnya juga." ujar Luka duduk dikursi sambil meletakan dagunya disandaran kursi dengan malas.
"Kalau kamu ngantuk kenapa tidak tidur saja dikamar?" tanya Meiko.
Tapi ternyata Luka sudah tertidur dengan posisi seperti itu dikursi.
"Sepertinya dia tidak bisa tidur itu karena terlalu memikirkan Shiro-san." ujar Meiko tersenyum melihat Luka yang tertidur.
Di rumah danau, Ray memang terlihat masih tertidur dengan pulasnya. Namun Dante sudah bangun dan berdiri disamping tempat tidur Ray.
"Bangun! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." suruh Dante.
Tapi Ray masih tertidur. Mungkin saking lelahnya dia jadi sangat lelap tidurnya. Karena kesal, Dante kemudian menendang meja tempat tidur Ray. Ray akhirnya terbangun karena getaran yang tercipta dari tendangan Dante.
"Oh Dante, selamat pagi.." ucap Ray yang mulai bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku tidak butuh ucapan selamat pagimu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." ujar Dante.
"Menanyakan apa?" tanya Ray yang matanya masih rapat.
"Apakah kamu masih ingat dengan janjimu saat itu?" tanya Dante.
Ray membuka matanya dan melirik ke arah Dante karena mendengarnya.
"Janji ya? Hmm.. aku tidak ingat aku masih punya janji padamu." jawab Ray.
Tampak Dante meremaskan kepalan tangannya.
"Sudah kuduga! Kau memang melupakannya! Sepertinya benar yang dibilang JB, kau hanya memanfaatkanku. Uluran tanganmu dan senyumanmu itu semuanya palsu. Janjimu hanya sampah, The White Light!" bentak Dante terlihat marah.
"Melupakan janjiku?" ucap Ray.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau merencanakan sesuatu! Dan itu pasti hanya untuk kepentinganmu saja kan?" tukas Dante dengan kesal.
"Apa maksudmu, Dante? Memang sejak kapan aku melakukan sesuatu hanya untuk diriku sendiri." sanggah Ray.
"Jangan banyak alasan! Aku sudah tak mempercayaimu lagi, The White Light." ujar Dante sambil menunjuk wajah Ray.
Gumi sedang berlari menyusuri jalan di pegunungan. Sepertinya dia sedang lari pagi.
"Sial, sejauh apapun aku berlari, tetap saja aku tak bisa melupakannya." gerutu Gumi sambil mengelap keringat diwajahnya.
"Apa semalam aku melakukan sebuah kesalahan? Entah kenapa dada ini rasanya sakit sekali." sambung Gumi sambil berhenti berlari dan beristirahat.
Gumi pun melihat ke arah pegunungan tempat rumah Ray dan Dante berada. Sementara itu di rumah danau, Ray terlihat berlari dan berguling menghindari sesuatu.
"Kau takkan bisa lari dariku, The White Light. Akan kubuat kau merasakan rasa sakit yang kuderita." ujar Dante yang sudah dalam keadaan berubah.
Dante melompat kemudian melancarkan sebuah pukulan. Ray kembali berguling untuk menghindar dan jembatan kayu penghubung rumah danau dengan daratan itu terlihat hancur. Dante yang tak puas dengan serangannya kemudian melompat ke air ke arah kanan Ray. Dengan kecepatan tinggi Dante melompat lagi dan kali ini berhasil memukul perut Ray. Ray terpental kebelakang dan terbanting-banting diatas permukaan air beberapa kali kemudian tenggelam.
"Takkan kubiarkan!" ucap Dante melompat ke tempat Ray tenggelam dan meraih baju Ray kemudian melemparnya ke atas.
Ray yang melambung tinggi kemudian dihantam lagi oleh Dante dengan kedua tangannya hingga jatuh menimpa rumah danau sampai rumah danau itu hancur berantakan dan tenggelam di tengah danau tersebut.
"Sudah selesai. Begitu mengecewakan. Tanpa kekuatanmu, kau begitu lemah, The White Light." ujar Dante mendarat di tepi danau.
"Da-Dante.." panggil seseorang dari arah reruntuhan rumah danau yang sebagian mengambang didanau itu.
"Apa? Ternyata kau masih hidup rupanya." ujar Dante garuk kepala dengan ekspresi bosan.
"Jangan teruskan lagi.. Dante.." ujar Ray.
"Hah? Kau bilang apa? Maaf.. dari sini tidak kedengaran.." sahut Dante.
"Kubilang jangan teruskan lagi, Dante!" bentak Ray terlihat marah.
"Oohh.. tak kusangka kau bisa marah juga." komentar Dante sambil tersenyum mengejek.
"Tentu saja aku bisa marah, Dante. Tapi.. kemarahanku ini semata-mata karena aku peduli padamu." jawab Ray yang berdiri diatas sebuah runtuhan kayu yang mengambang.
Dante terkejut saat itu Ray sudah dalam keadaan berubah.
"Apa mungkin kekuatannya kembali. Tapi tidak mungkin. Aku yakin kekuatannya sudah benar-benar habis. Dan dia juga belum bernyanyi sekalipun setelah itu." gumam Dante kebingungan.
Dante langsung berlari dan melesat ke arah Ray. Dante kembali memukulkan tangannya ke perut Ray, namun Ray bisa menghindar. Dante berbalik dan melancarkan tendangan, namun dengan mendongahkan tubuhnya kebelakang Ray kembali bisa menghindarinya. Berkali-kali serangan Dante bisa dihindari oleh Ray.
"Dance: Brutal.." ucap Dante mengaktifkan dance acceleration nya.
Menerima serangan yang membabi buta tanpa jeda sedikitpun dari Dante, akhirnya Ray kena juga. Sebuah pukulan uppercut yang kuat membuatnya terpelanting ke atas. Belum puas, Dante melompat dan memukul Ray dengan tangan sebelahnya lagi. Ray terpental secara horisontal ke bawah hendak menghantam permukaan air. Namun belum puas juga, Dante mengejar Ray dan melesakkan sebuah tendangan keras di perut Ray hingga Ray terpental sangat jauh menuju ke tepi danau. Tampak Ray sepertinya menghantam lereng pegunungan dengan sangat kuat.
"Masih belum!!!" ucap Dante melompat kebelakang dan mendarata diatas salah satu tiang penyangga rumah pohon yang masih berdiri.
"Set, Power: 100%!" ucap Dante mengubah power set earophoidnya.
Saat kekuatan penuhnya terbuka tampak air danau menjadi cekung karena tekanan kekuatannya. Dari bagian telinga earophoidnya ada api kemerahan menyala. Dan diantara dua besi mirip tanduk juga ada bola api kemerahan yang menyala-nyala.
"Instrument: Devil Bone Guitar!" tambah Dante mengeluarkan instrument nya.
"The earth would be fallen. And the heaven will become darkness." sambung Dante sambil memainkan beberapa nada dan mengacungkan gitarnya ke langit.
"Aku.. me-ngakuinya.. atas semua.." ucap Ray dengan lemah terkapar di kawah yang terbentuk dari hantaman tubuhnya.
"Darknes Fall." ucap Dante sambil memainkan sebuah nada dan mengayunkan ujung gitarnya kedepan.
Tiba-tiba semuanya jadi hening. Tidak ada satupun suara yang terdengar. Seluruh Voca Town jadi seperti kota tanpa suara. Luka yang tertidur langsung terbangun.
"Ray-kun?!" ucap Luka di dalam hati saat terbangun.
Gumi yang sedang lari pagi terlihat shock melihat ke arah langit. Sebuah garis hitam besar ditarik lurus menembus pegunungan. Garis yang mirip goresan tinta hitam dengan menggunakan kuas itu memanjang hingga ke ujung barat. Saat garis itu menghilang keheningan juga ikut lenyap.
"Apa itu barusan?!" ucap Gumi terlihat sangat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dante menyimpan lagi gitarnya dan melompat-lompat diatas air menuju ke tepian danau.
"Ah.. selamat tinggal.. Aniki.." ujar Dante berjalan dengan santai meninggalkan tempat itu.
Tampak dibelakangnya bagian lereng gunung yang tadi menjadi tempat Ray terhantam sudah lenyap menjadi sebuah celah.
Dante berjalan menuju menuruni pegunungan. Disana sudah ada June dan pesawatnya sudah menunggu.
"Pertarungan yang sangat bagus sekali, tuan Lucifer, Anda benar-benar menghajarnya tadi." puji June sambil memberi hormat.
"Sudahlah.. bawa saja aku pergi dari sini secepatnya." suruh Dante masuk kedalam pesawat.
"Baik, tuan." sahut June mengikuti dari belakang.
Dante akhirnya kembali duduk di singgasana itu setelah sekian lama. Dia menyalurkan kekuatan ke pesawat itu. Tenaga yang sangat terasa perbedaannya dengan yang disalurkan oleh June.
"To the Ark!" ucap June memberi perintah ke pesawat itu dan pesawat itu pun melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah barat.
"Selamat datang kembali, tuan muda Lucifer." ucap seorang gadis berambut ikal pirang yang berdiri diatap gedung.
Gadis itu tersenyum saat pesawat itu lewat tepat diatasnya. Di dalam pesawat, Dante duduk dengan malas di singgasana nya.
"Ayah anda pasti akan sangat bahagia saat tahu anda kembali ke pihak kami, tuan Lucifer." ujar June.
"Begitukah? Aku tak begitu peduli. Lagipula dia sebenarnya tidak terlalu membutuhkanku sebenarnya. Karena selama ini dialah yang menjadi sumber setiap dark sider." sahut Dante.
"Ya beliau memang sangat mengagumkan. Beliau bisa mengalahkan The White Light dengan mudah jika beliau mau turun tangan. Tapi beliau sudah pasti tak ingin mengotori tangannya dengan pekerjaan kasar seperti itu." balas June.
"Jadi, kamu sudah bertemu dengan ayah, JB?" tanya Dante.
"Ya, beliau sangat berkarisma. Tidak ada yang tidak hormat setelah melihatnya secara langsung." jawab June.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu berhati-hati, JB." ujar Dante.
"Tenang saja tuan, saya akan berhati-hati supaya tidak mengkhianati beliau." sahut June.
"Kau benar-benar tidak mengerti apapun ya, JB." balas Dante.
Pesawat singgasana Dante terlihat menuju ke sebuah pesawat raksasa yang melayang diatas batas awan.
"Jadi kita tidak langsung menemui ayah?" tanya Dante.
"Tidak, tuan. Beliau masih belum bisa lagi menyeberang kemari." jawab June.
"Begitu rupanya." sahut Dante.
Di tempat lain, di celah di lereng gunung yang terbuat akibat serangan Dante terlihat Ray terbaring dengan tanpa bergerak sedikitpun. Dan kemudian ada sosok yang menghampirinya. Walau yang terlihat hanya bayangannya saja.
To be continued..
"Dia sudah tidur kah? Sepertinya besok aku sudah harus menjelaskan semuanya padanya. Sudah tidak ada waktu lagi." ujar Ray dalam hatinya.
Ray kemudian masuk kedalam kamar nya dan tidur. Sepertinya dia juga sudah kelelahan setelah mengurus semua masalah di festival budaya selama 3 hari berturut-turut itu. Ditambah saat itu memang sudah hampir pagi. Ke esokan harinya di rumah Miku, terlihat Meiko seperti biasa dengan rajinnya menyapu dan membersihkan rumah. Tak lama kemudian Luka turun dari kamarnya dan menyapa.
"Selamat pagi, Meiko-chan." sapa Luka.
"Selamat pagi. Lho kok Megurine-san sudah bangun jam segini?" sahut Meiko heran.
"Bukannya sudah bangun sih, tapi aku memang tak bisa tidur. Semalam Ray-kun tiba-tiba saja menghilang." jawab Luka dengan wajah cemberut.
"Jadi dia meninggalkanmu kemarin? Pantas saja kamu langsung pulang bersama kami." balas Meiko.
"Aku sudah mengirim email padanya, tapi belum dijawab. Sepertinya dia masih tidur." ujar Luka.
"Ya kan mau bagaimana lagi, dia pasti kelelahan setelah mengurus semua hal dari persiapan hingga segala sesuatunya di festival kemarin." sahut Meiko.
"Ya, Meiko-chan ada benarnya juga." ujar Luka duduk dikursi sambil meletakan dagunya disandaran kursi dengan malas.
"Kalau kamu ngantuk kenapa tidak tidur saja dikamar?" tanya Meiko.
Tapi ternyata Luka sudah tertidur dengan posisi seperti itu dikursi.
"Sepertinya dia tidak bisa tidur itu karena terlalu memikirkan Shiro-san." ujar Meiko tersenyum melihat Luka yang tertidur.
Di rumah danau, Ray memang terlihat masih tertidur dengan pulasnya. Namun Dante sudah bangun dan berdiri disamping tempat tidur Ray.
"Bangun! Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." suruh Dante.
Tapi Ray masih tertidur. Mungkin saking lelahnya dia jadi sangat lelap tidurnya. Karena kesal, Dante kemudian menendang meja tempat tidur Ray. Ray akhirnya terbangun karena getaran yang tercipta dari tendangan Dante.
"Oh Dante, selamat pagi.." ucap Ray yang mulai bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku tidak butuh ucapan selamat pagimu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." ujar Dante.
"Menanyakan apa?" tanya Ray yang matanya masih rapat.
"Apakah kamu masih ingat dengan janjimu saat itu?" tanya Dante.
Ray membuka matanya dan melirik ke arah Dante karena mendengarnya.
"Janji ya? Hmm.. aku tidak ingat aku masih punya janji padamu." jawab Ray.
Tampak Dante meremaskan kepalan tangannya.
"Sudah kuduga! Kau memang melupakannya! Sepertinya benar yang dibilang JB, kau hanya memanfaatkanku. Uluran tanganmu dan senyumanmu itu semuanya palsu. Janjimu hanya sampah, The White Light!" bentak Dante terlihat marah.
"Melupakan janjiku?" ucap Ray.
"Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau merencanakan sesuatu! Dan itu pasti hanya untuk kepentinganmu saja kan?" tukas Dante dengan kesal.
"Apa maksudmu, Dante? Memang sejak kapan aku melakukan sesuatu hanya untuk diriku sendiri." sanggah Ray.
"Jangan banyak alasan! Aku sudah tak mempercayaimu lagi, The White Light." ujar Dante sambil menunjuk wajah Ray.
Gumi sedang berlari menyusuri jalan di pegunungan. Sepertinya dia sedang lari pagi.
"Sial, sejauh apapun aku berlari, tetap saja aku tak bisa melupakannya." gerutu Gumi sambil mengelap keringat diwajahnya.
"Apa semalam aku melakukan sebuah kesalahan? Entah kenapa dada ini rasanya sakit sekali." sambung Gumi sambil berhenti berlari dan beristirahat.
Gumi pun melihat ke arah pegunungan tempat rumah Ray dan Dante berada. Sementara itu di rumah danau, Ray terlihat berlari dan berguling menghindari sesuatu.
"Kau takkan bisa lari dariku, The White Light. Akan kubuat kau merasakan rasa sakit yang kuderita." ujar Dante yang sudah dalam keadaan berubah.
Dante melompat kemudian melancarkan sebuah pukulan. Ray kembali berguling untuk menghindar dan jembatan kayu penghubung rumah danau dengan daratan itu terlihat hancur. Dante yang tak puas dengan serangannya kemudian melompat ke air ke arah kanan Ray. Dengan kecepatan tinggi Dante melompat lagi dan kali ini berhasil memukul perut Ray. Ray terpental kebelakang dan terbanting-banting diatas permukaan air beberapa kali kemudian tenggelam.
"Takkan kubiarkan!" ucap Dante melompat ke tempat Ray tenggelam dan meraih baju Ray kemudian melemparnya ke atas.
Ray yang melambung tinggi kemudian dihantam lagi oleh Dante dengan kedua tangannya hingga jatuh menimpa rumah danau sampai rumah danau itu hancur berantakan dan tenggelam di tengah danau tersebut.
"Sudah selesai. Begitu mengecewakan. Tanpa kekuatanmu, kau begitu lemah, The White Light." ujar Dante mendarat di tepi danau.
"Da-Dante.." panggil seseorang dari arah reruntuhan rumah danau yang sebagian mengambang didanau itu.
"Apa? Ternyata kau masih hidup rupanya." ujar Dante garuk kepala dengan ekspresi bosan.
"Jangan teruskan lagi.. Dante.." ujar Ray.
"Hah? Kau bilang apa? Maaf.. dari sini tidak kedengaran.." sahut Dante.
"Kubilang jangan teruskan lagi, Dante!" bentak Ray terlihat marah.
"Oohh.. tak kusangka kau bisa marah juga." komentar Dante sambil tersenyum mengejek.
"Tentu saja aku bisa marah, Dante. Tapi.. kemarahanku ini semata-mata karena aku peduli padamu." jawab Ray yang berdiri diatas sebuah runtuhan kayu yang mengambang.
Dante terkejut saat itu Ray sudah dalam keadaan berubah.
"Apa mungkin kekuatannya kembali. Tapi tidak mungkin. Aku yakin kekuatannya sudah benar-benar habis. Dan dia juga belum bernyanyi sekalipun setelah itu." gumam Dante kebingungan.
Dante langsung berlari dan melesat ke arah Ray. Dante kembali memukulkan tangannya ke perut Ray, namun Ray bisa menghindar. Dante berbalik dan melancarkan tendangan, namun dengan mendongahkan tubuhnya kebelakang Ray kembali bisa menghindarinya. Berkali-kali serangan Dante bisa dihindari oleh Ray.
"Dance: Brutal.." ucap Dante mengaktifkan dance acceleration nya.
Menerima serangan yang membabi buta tanpa jeda sedikitpun dari Dante, akhirnya Ray kena juga. Sebuah pukulan uppercut yang kuat membuatnya terpelanting ke atas. Belum puas, Dante melompat dan memukul Ray dengan tangan sebelahnya lagi. Ray terpental secara horisontal ke bawah hendak menghantam permukaan air. Namun belum puas juga, Dante mengejar Ray dan melesakkan sebuah tendangan keras di perut Ray hingga Ray terpental sangat jauh menuju ke tepi danau. Tampak Ray sepertinya menghantam lereng pegunungan dengan sangat kuat.
"Masih belum!!!" ucap Dante melompat kebelakang dan mendarata diatas salah satu tiang penyangga rumah pohon yang masih berdiri.
"Set, Power: 100%!" ucap Dante mengubah power set earophoidnya.
Saat kekuatan penuhnya terbuka tampak air danau menjadi cekung karena tekanan kekuatannya. Dari bagian telinga earophoidnya ada api kemerahan menyala. Dan diantara dua besi mirip tanduk juga ada bola api kemerahan yang menyala-nyala.
"Instrument: Devil Bone Guitar!" tambah Dante mengeluarkan instrument nya.
"The earth would be fallen. And the heaven will become darkness." sambung Dante sambil memainkan beberapa nada dan mengacungkan gitarnya ke langit.
"Aku.. me-ngakuinya.. atas semua.." ucap Ray dengan lemah terkapar di kawah yang terbentuk dari hantaman tubuhnya.
"Darknes Fall." ucap Dante sambil memainkan sebuah nada dan mengayunkan ujung gitarnya kedepan.
Tiba-tiba semuanya jadi hening. Tidak ada satupun suara yang terdengar. Seluruh Voca Town jadi seperti kota tanpa suara. Luka yang tertidur langsung terbangun.
"Ray-kun?!" ucap Luka di dalam hati saat terbangun.
Gumi yang sedang lari pagi terlihat shock melihat ke arah langit. Sebuah garis hitam besar ditarik lurus menembus pegunungan. Garis yang mirip goresan tinta hitam dengan menggunakan kuas itu memanjang hingga ke ujung barat. Saat garis itu menghilang keheningan juga ikut lenyap.
"Apa itu barusan?!" ucap Gumi terlihat sangat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dante menyimpan lagi gitarnya dan melompat-lompat diatas air menuju ke tepian danau.
"Ah.. selamat tinggal.. Aniki.." ujar Dante berjalan dengan santai meninggalkan tempat itu.
Tampak dibelakangnya bagian lereng gunung yang tadi menjadi tempat Ray terhantam sudah lenyap menjadi sebuah celah.
Dante berjalan menuju menuruni pegunungan. Disana sudah ada June dan pesawatnya sudah menunggu.
"Pertarungan yang sangat bagus sekali, tuan Lucifer, Anda benar-benar menghajarnya tadi." puji June sambil memberi hormat.
"Sudahlah.. bawa saja aku pergi dari sini secepatnya." suruh Dante masuk kedalam pesawat.
"Baik, tuan." sahut June mengikuti dari belakang.
Dante akhirnya kembali duduk di singgasana itu setelah sekian lama. Dia menyalurkan kekuatan ke pesawat itu. Tenaga yang sangat terasa perbedaannya dengan yang disalurkan oleh June.
"To the Ark!" ucap June memberi perintah ke pesawat itu dan pesawat itu pun melesat dengan kecepatan yang luar biasa ke arah barat.
"Selamat datang kembali, tuan muda Lucifer." ucap seorang gadis berambut ikal pirang yang berdiri diatap gedung.
Gadis itu tersenyum saat pesawat itu lewat tepat diatasnya. Di dalam pesawat, Dante duduk dengan malas di singgasana nya.
"Ayah anda pasti akan sangat bahagia saat tahu anda kembali ke pihak kami, tuan Lucifer." ujar June.
"Begitukah? Aku tak begitu peduli. Lagipula dia sebenarnya tidak terlalu membutuhkanku sebenarnya. Karena selama ini dialah yang menjadi sumber setiap dark sider." sahut Dante.
"Ya beliau memang sangat mengagumkan. Beliau bisa mengalahkan The White Light dengan mudah jika beliau mau turun tangan. Tapi beliau sudah pasti tak ingin mengotori tangannya dengan pekerjaan kasar seperti itu." balas June.
"Jadi, kamu sudah bertemu dengan ayah, JB?" tanya Dante.
"Ya, beliau sangat berkarisma. Tidak ada yang tidak hormat setelah melihatnya secara langsung." jawab June.
"Kalau begitu, sebaiknya kamu berhati-hati, JB." ujar Dante.
"Tenang saja tuan, saya akan berhati-hati supaya tidak mengkhianati beliau." sahut June.
"Kau benar-benar tidak mengerti apapun ya, JB." balas Dante.
Pesawat singgasana Dante terlihat menuju ke sebuah pesawat raksasa yang melayang diatas batas awan.
"Jadi kita tidak langsung menemui ayah?" tanya Dante.
"Tidak, tuan. Beliau masih belum bisa lagi menyeberang kemari." jawab June.
"Begitu rupanya." sahut Dante.
Di tempat lain, di celah di lereng gunung yang terbuat akibat serangan Dante terlihat Ray terbaring dengan tanpa bergerak sedikitpun. Dan kemudian ada sosok yang menghampirinya. Walau yang terlihat hanya bayangannya saja.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.