Memo, chapter 5 - MOS 2
Arya dan si mata sipit dipanggil ke depan oleh senior.
"Kalian tahu kesalahan kalian?" tanya senior laki-laki yang terlihat tegas itu.
"Ya." jawab Arya dan mata sipit.
"Apa?" tanya senior itu lagi.
"Lho senior tidak tahu? Terus kenapa manggil kami kemari? Aaahh.. kami balik aja ketempat duduk kalau gitu.." ujar Arya berjalan meninggalkan senior.
"Stop! Kalian itu memakai baju yang beda dengan yang lainnya. Makanya aku panggil ke depan." ucap senior itu.
"Itu tahu, terus tadi kenapa tanya?" sahut Arya.
"Kenapa aku seperti jadi orang bego nya disini?!!" ucap senior itu dalam hati merasa kesal.
"Sekarang kalian sudah tahu kesalahan kalian. Jadi, sebagai hukuman, kalian mesti push up 25 kali. Cepat lakukan!" suruh senior itu.
"25 kali?! Senior yakin? Itu terlalu mudah. Push up 25 kali cuma seperti cemilan malam bagiku." ucap si mata sipit dengan penuh percaya diri.
"Ooohh.. coba buktikan." sahut senior tersebut seperti penagih utang.
"Lihat ini!" ucap si mata sipit mengambil posisi hendak ber-push up.
Lalu dengan membuat wajah keren dan terlihat garang dia melakukan push up dengan kecepatan tinggi. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya. Padahal tangan dan kakinya cuma digetarkan saja.
"Apaan tuh! Itu cuma geter doang! Bukan push up itu mah!!" bentak senior itu mengomentari cara push up si mata sipit.
"Haha.. senior tidak tahu ya? Justru karena sangat cepat jadi terlihat hanya seperti bergetar!" jawab si mata sipit sambil tetap melakukan push up nya tersebut.
"Cepat darimana, sudah jelas itu cuma geter doang!" sahut senior itu.
"Ah senior gak seru nih. Mana humornya?" kata mata sipit sambil bangun dari push up nya.
"Aku sedang tidak mau bercanda, kau mengerti!" bentak senior itu kesal.
"Senior pasti jomblo!" ucap mata sipit dengan wajah serius.
"Darimana kau tahu?" tanya senior itu dengan ekspresi sama dengan mata sipit.
"Jelas sekali, karena senior tidak lucu." jawab si mata sipit.
"Baiklah, kamu cukup. Aku pusing denganmu. Sekarang kau yg terlihat culun disana. Ayo sekarang kamu push up!" ujar senior itu menunjuk Arya.
"Satu.. dua.." ucap Arya menghitung push up nya.
Kali ini beneran push up, Arya melakukan dorongan-dorongan ke atas dengan tangannya.
"Kamu sedang ngapain!?" tanya senior itu.
"Push up kan?" sahut Arya.
"Hah?" ucap senior yg malah terlihat bingung.
"Push itu apa?" tanya Arya.
"Dorong!" jawab senior itu.
"Lalu up?" tanya Arya lagi.
"Atas." jawab senior itu lagi.
"Kalau begitu push up.." tambah Arya.
"Dorong.. ke atas?" sambung senior itu.
"Tepat sekali!" sahut Arya.
"Hmm.. dia ada benarnya juga." kata senior tomboy.
"Ya, bisa diterima logika." sambung Sindy.
"Kenapa kalian malah membelanya, Sindy, Rere?" tanya senior yg merasa dikhianati itu.
"Lah emang yang bener menurut senior bagaimana?" tanya Arya.
"Begini nih perhatikan!" ucap senior itu sambil tengkural dilantai bersiap push up.
"25 kali kan?" kata Arya.
"Iya ini juga 25 kali." sahut senior itu lalu memulai push up nya.
Setelah beberapa lama melakukan push up, senior laki-laki itu tiba-tiba berhenti.
"Tunggu sebentar, kenapa malah aku yg push up!!" ucap senior itu baru sadar.
Rere dan Sindy tertawa kecil sambil menutup mulutnya melihat temannya dikerjai oleh junior.
"Sial, gara-gara dia aku jadi ditertawakan." gerutu senior itu dalam hati.
"Sudah kalian kembali duduk saja sana! Aku pusing lihat kalian disini!" suruh senior itu.
"Terima kasih.." ucap Arya.
Arya dan si mata sipit pun kembali duduk.
Rere dan Sindy masih mentertawakan senior laki-laki itu.
"Sudah, kalian berhentilah tertawa!" ucap senior laki-laki itu malu.
"Tapi Fian, bukankah tadi baru 10. Ayo, 15 kali lagi." goda Rere.
"Ogah banget dah.." tolak Fian lalu keluar ruangan.
Catatan hari ini:
Kadang otak bisa mengalahkan otot. Berhati-hatilah pada orang yang kamu anggap bodoh. Karena bisa jadi otak mereka lebih hebat daripada otot diseluruh tubuhmu.
"Kalian tahu kesalahan kalian?" tanya senior laki-laki yang terlihat tegas itu.
"Ya." jawab Arya dan mata sipit.
"Apa?" tanya senior itu lagi.
"Lho senior tidak tahu? Terus kenapa manggil kami kemari? Aaahh.. kami balik aja ketempat duduk kalau gitu.." ujar Arya berjalan meninggalkan senior.
"Stop! Kalian itu memakai baju yang beda dengan yang lainnya. Makanya aku panggil ke depan." ucap senior itu.
"Itu tahu, terus tadi kenapa tanya?" sahut Arya.
"Kenapa aku seperti jadi orang bego nya disini?!!" ucap senior itu dalam hati merasa kesal.
"Sekarang kalian sudah tahu kesalahan kalian. Jadi, sebagai hukuman, kalian mesti push up 25 kali. Cepat lakukan!" suruh senior itu.
"25 kali?! Senior yakin? Itu terlalu mudah. Push up 25 kali cuma seperti cemilan malam bagiku." ucap si mata sipit dengan penuh percaya diri.
"Ooohh.. coba buktikan." sahut senior tersebut seperti penagih utang.
"Lihat ini!" ucap si mata sipit mengambil posisi hendak ber-push up.
Lalu dengan membuat wajah keren dan terlihat garang dia melakukan push up dengan kecepatan tinggi. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya. Padahal tangan dan kakinya cuma digetarkan saja.
"Apaan tuh! Itu cuma geter doang! Bukan push up itu mah!!" bentak senior itu mengomentari cara push up si mata sipit.
"Haha.. senior tidak tahu ya? Justru karena sangat cepat jadi terlihat hanya seperti bergetar!" jawab si mata sipit sambil tetap melakukan push up nya tersebut.
"Cepat darimana, sudah jelas itu cuma geter doang!" sahut senior itu.
"Ah senior gak seru nih. Mana humornya?" kata mata sipit sambil bangun dari push up nya.
"Aku sedang tidak mau bercanda, kau mengerti!" bentak senior itu kesal.
"Senior pasti jomblo!" ucap mata sipit dengan wajah serius.
"Darimana kau tahu?" tanya senior itu dengan ekspresi sama dengan mata sipit.
"Jelas sekali, karena senior tidak lucu." jawab si mata sipit.
"Baiklah, kamu cukup. Aku pusing denganmu. Sekarang kau yg terlihat culun disana. Ayo sekarang kamu push up!" ujar senior itu menunjuk Arya.
"Satu.. dua.." ucap Arya menghitung push up nya.
Kali ini beneran push up, Arya melakukan dorongan-dorongan ke atas dengan tangannya.
"Kamu sedang ngapain!?" tanya senior itu.
"Push up kan?" sahut Arya.
"Hah?" ucap senior yg malah terlihat bingung.
"Push itu apa?" tanya Arya.
"Dorong!" jawab senior itu.
"Lalu up?" tanya Arya lagi.
"Atas." jawab senior itu lagi.
"Kalau begitu push up.." tambah Arya.
"Dorong.. ke atas?" sambung senior itu.
"Tepat sekali!" sahut Arya.
"Hmm.. dia ada benarnya juga." kata senior tomboy.
"Ya, bisa diterima logika." sambung Sindy.
"Kenapa kalian malah membelanya, Sindy, Rere?" tanya senior yg merasa dikhianati itu.
"Lah emang yang bener menurut senior bagaimana?" tanya Arya.
"Begini nih perhatikan!" ucap senior itu sambil tengkural dilantai bersiap push up.
"25 kali kan?" kata Arya.
"Iya ini juga 25 kali." sahut senior itu lalu memulai push up nya.
Setelah beberapa lama melakukan push up, senior laki-laki itu tiba-tiba berhenti.
"Tunggu sebentar, kenapa malah aku yg push up!!" ucap senior itu baru sadar.
Rere dan Sindy tertawa kecil sambil menutup mulutnya melihat temannya dikerjai oleh junior.
"Sial, gara-gara dia aku jadi ditertawakan." gerutu senior itu dalam hati.
"Sudah kalian kembali duduk saja sana! Aku pusing lihat kalian disini!" suruh senior itu.
"Terima kasih.." ucap Arya.
Arya dan si mata sipit pun kembali duduk.
Rere dan Sindy masih mentertawakan senior laki-laki itu.
"Sudah, kalian berhentilah tertawa!" ucap senior laki-laki itu malu.
"Tapi Fian, bukankah tadi baru 10. Ayo, 15 kali lagi." goda Rere.
"Ogah banget dah.." tolak Fian lalu keluar ruangan.
Catatan hari ini:
Kadang otak bisa mengalahkan otot. Berhati-hatilah pada orang yang kamu anggap bodoh. Karena bisa jadi otak mereka lebih hebat daripada otot diseluruh tubuhmu.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.