Memo, chapter 36 - PR
Di kelas X-1 terlihat tegang semuanya. Tidak lain karena saat ini adalah pelajaran matematika.
"Bro, gimana nih bro? Aku belum ngerjain nih, gimana dong?" tanya Fajar pada Arya.
"Ya mau bagaimana lagi. Sekarang kan sudah terlambat mau ngerjain disini juga." jawab Arya.
"Yah.. bantuin dong. Oh ya, kamu juga belum kan? Hehehe.. berarti aku ada temannya dong." ujar Fajar.
"Kata siapa? Aku sudah kok. Meskipun harus menyusahkan 2 orang perempuan." sahut Arya.
"Hah? Menyusahkan 2 orang perempuan? Hmm.. maksudmu ibumu dan kakak perempuanmu ya?" tanya Fajar.
"Bukan. Aku tak punya kakak perempuan. Dan juga ibuku kan tidak ada dirumah karena aku tinggal sendirian." jawab Arya sambil tetap melihat ke depan.
"Hah?! Terus 2 orang perempuan itu siapa dong!?" ucap Fajar terkejut.
"Fajar.. jangan berisik. Apa kamu sudah mengerjakan PR mu?" tanya guru matematika yang sedang duduk di mejanya.
Yang lain terlihat mengumpulkan PR di meja guru matematika itu.
"Su-sudah kok pak.. tapi.." jawab Fajar sedikit panik.
"Tapi apa?" tanya guru matematika itu lagi.
"PR ku dibikin buat bungkus bala-bala pak." jawab Fajar asal-asalan.
"Hah? Apaan? Alasan macam apa itu? Tidak mungkin ada kertas yang masih di pakai malah dijadikan bungkus gorengan." komentar Arya.
"Oohh.. begitukah. Kalau begitu tidak apa-apa." sahut guru matematika.
"Eehhh?!! Dia percaya?!!" ucap Arya terkejut.
"Haha.. lihat. Alasanku selalu berhasil kan. Hahaha.." ujar Fajar pada Arya dengan suara pelan supaya tidak terdengar oleh guru.
"Yang benar saja. Itu alasan paling tidak masuk akal." sahut Arya.
"Dan fajar, ingat ini baik-baik. Kamu harus mengumpulkan PR mu besok ke meja bapak. Tapi.. nilai mu akan dikali setengah." sambung guru matematika sambil menyipitkan matanya.
"Di-dikali setengah!!??" ucap Fajar dengan kaget.
"Haha.. sudah kuduga, tak mungkin alasan semacam itu dipercaya begitu saja kan." ujar Arya.
Catatan hari ini:
Berbohong itu memang kadang bisa menyelamatkanmu saat ini tapi sudah pasti akan mencelakakanmu dilain waktu.
"Bro, gimana nih bro? Aku belum ngerjain nih, gimana dong?" tanya Fajar pada Arya.
"Ya mau bagaimana lagi. Sekarang kan sudah terlambat mau ngerjain disini juga." jawab Arya.
"Yah.. bantuin dong. Oh ya, kamu juga belum kan? Hehehe.. berarti aku ada temannya dong." ujar Fajar.
"Kata siapa? Aku sudah kok. Meskipun harus menyusahkan 2 orang perempuan." sahut Arya.
"Hah? Menyusahkan 2 orang perempuan? Hmm.. maksudmu ibumu dan kakak perempuanmu ya?" tanya Fajar.
"Bukan. Aku tak punya kakak perempuan. Dan juga ibuku kan tidak ada dirumah karena aku tinggal sendirian." jawab Arya sambil tetap melihat ke depan.
"Hah?! Terus 2 orang perempuan itu siapa dong!?" ucap Fajar terkejut.
"Fajar.. jangan berisik. Apa kamu sudah mengerjakan PR mu?" tanya guru matematika yang sedang duduk di mejanya.
Yang lain terlihat mengumpulkan PR di meja guru matematika itu.
"Su-sudah kok pak.. tapi.." jawab Fajar sedikit panik.
"Tapi apa?" tanya guru matematika itu lagi.
"PR ku dibikin buat bungkus bala-bala pak." jawab Fajar asal-asalan.
"Hah? Apaan? Alasan macam apa itu? Tidak mungkin ada kertas yang masih di pakai malah dijadikan bungkus gorengan." komentar Arya.
"Oohh.. begitukah. Kalau begitu tidak apa-apa." sahut guru matematika.
"Eehhh?!! Dia percaya?!!" ucap Arya terkejut.
"Haha.. lihat. Alasanku selalu berhasil kan. Hahaha.." ujar Fajar pada Arya dengan suara pelan supaya tidak terdengar oleh guru.
"Yang benar saja. Itu alasan paling tidak masuk akal." sahut Arya.
"Dan fajar, ingat ini baik-baik. Kamu harus mengumpulkan PR mu besok ke meja bapak. Tapi.. nilai mu akan dikali setengah." sambung guru matematika sambil menyipitkan matanya.
"Di-dikali setengah!!??" ucap Fajar dengan kaget.
"Haha.. sudah kuduga, tak mungkin alasan semacam itu dipercaya begitu saja kan." ujar Arya.
Catatan hari ini:
Berbohong itu memang kadang bisa menyelamatkanmu saat ini tapi sudah pasti akan mencelakakanmu dilain waktu.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.