Memo, chapter 30 - Aksi Reaksi
Arya ada di halaman belakang sekolah bersama 3 orang senior berpenampilan preman. Yang satu rambutnya terlihat diikat, yang satu berkulit sawo matang dan sangar, yang satu lagi nampak kasar dengan rambut cepak.
"Hari ini aku tidak membawa benda bulat itu, karena itu bolehkah aku pinjam modal dulu beberapa." ujar Arya.
"Hah? Benda bulat?" ucap senior berkuncir.
"Ya.. yang bening itu lho. Yang mainnya di adu gitu." jelas Arya.
"Kamu ini ngomong apa sih?" komentar senior sawo matang.
"Hah, kalian tidak tahu kelereng? Kasihan sekali. Masa kecil kalian pasti suram sekali." kata Arya dengan nada mengejek.
"Cih, orang ini benar-benar mengesalkan. Dia menganggap kita mengajaknya kemari buat main kelereng. Ayo hajar dia!" ucap senior berkuncir.
"Tunggu!" ucap Arya.
"Apa lagi?" tanya senior berambut cepak.
"Kalian mau menghajarku kan?" tanya Arya.
"Lah pake tanya." sahut senior berkuncir.
"Apa kalian yakin dengan itu?" tanya Arya lagi.
"Tentu saja kami yakin. Kau sudah melecehkan ketua, dan kau juga membuat kami kesal. Karena itu aku harus memberikan kau hukuman." jawab senior berambut cepak menunjuk wajah Arya.
"Karena itu, yakinkah para senior ini akan memukuliku dan mengeroyokku? Melakukan suatu hal yang kalian sebut 'menghukum' hanya karena sebuah berita yang kebenarannya masih samar?" ujar Arya menatap tajam pada ketiga senior itu.
Ketiga senior itu tersentak mendengarnya, dan langsung terdiam.
"Jika dipikirkan baik-baik, kalian juga tahu resikonya bukan. Kalau sampai kalian salah, maka bukan hanya kalian saja yang akan dirugikan. Dan karena kalian mengatakan melakukan semuanya karena ketua OSIS, maka reputasi ketua OSIS juga dipertaruhkan saat ini." sambung Arya dengan serius.
"Dia ada benarnya juga. Bagaimana ini?" tanya senior berambut cepak pada senior berkuncir.
"Cih, jangan terpengaruh oleh perkataannya. Dia hanya membual. Ayo hajar dia!" suruh senior berkuncir.
Ketiga senior itu pun bersiap melayangkan pukulan mereka ke arah Arya.
"Hentikan perbuatan kalian, dasar sampah!" bentak sosok perempuan yang duduk dibawah pohon.
Ketiga senior itu melihat ke arah datang nya suara tersebut. Ternyata disana ada Rere yang sedang duduk dibawah pohon sambil memakan roti.
"Itu Rere!?" ucap ketiga senior itu terlihat shock.
"Aku mencoba pura-pura tidak lihat sejak tadi. Tapi mendengar permasalahannya, dan kalian yang tak kunjung sadar, aku sepertinya terpaksa ambil bagian." ujar Rere menoleh ke arah Arya dan ketiga senior yang sekarang terlihat ketakutan itu.
"Ka-kami tidak mau berurusan denganmu." ujar senior berkuncir.
"Sebentar lagi bel tuh." ucap senior berkulit sawo matang.
"Benar juga, kita harus segera kembali ke kelas." sambung senior berambut cepak.
Kemudian ketiga senior itu pun pergi meninggalkan Arya.
"Terima kasih sudah membantuku." ujar Arya.
"Hah? Kenapa kamu berterima kasih? Aku hanya melakukan pekerjaanku sebagai anggota OSIS." sahut Rere sambil berdiri dari duduknya.
"Tapi.. aku tak menyangka kau bisa terlibat masalah seperti ini, bocah." ujar Rere lalu menghabiskan rotinya.
"Setiap orang selalu terlibat masalah. Yang berbeda hanya orang itu menyelesaikan masalah itu atau malah melarikan diri dari masalah tersebut." kata Arya.
"Kau tahu, kata-katamu itu seperti Mario Teguh." sahut Rere.
"Haha.. jangan samakan aku dengan om itu. Aku ini tidak sebijak dia. Kadang aku juga bisa pesimis." bantah Arya.
"Tapi, menurutku tidak begitu." balas Rere sambil tersenyum.
Arya sedikit kaget melihat Rere tersenyum. Saat itu Rere terlihat cantik dimata Arya.
Saat Arya benar-benar kembali ke kelasnya, di depan kelasnya terlihat ramai oleh para gadis.
"Ada apa lagi ini? Hari ini sepertinya benar-benar merepotkan." ujar Arya sambil mendekati kerumunan itu.
Arya berjalan menembus kerumunan itu dan masuk ke dalam kelas. Saat sudah masuk, Arya hanya bisa membuat ekspresi aneh. Soalnya saat itu ada ketua OSIS sedang duduk di tempat duduknya.
"Akhirnya kamu kembali juga. Kemana saja kamu ini?" sapa ketua OSIS yang duduk sambil menyangga dagu.
"Ma-maaf.. tadi aku mendapatkan sedikit masalah disana-sini." jawab Arya.
"Apa yang dilakukan ketua OSIS disini? Apa dia juga mau membalas dendam kepadaku? Benar-benar merepotkan dah." ujar Arya dalam hatinya lalu memegang jidatnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku kalau begitu. Aku kemari untuk meminta maaf padamu. Karena ulah ekskul jurnal reputasimu jadi tercoreng dan kamu jadi mendapat masalah. Mereka memang terlalu agresif dalam mencari berita." jelas ketua OSIS sambil berdiri.
"Memang itu sangat merepotkanku. Tapi menurutku ini bukan salah ekskul jurnal juga." ujar Arya.
"Lho, kenapa kamu malah membela mereka?" tanya ketua OSIS heran.
"Karena jika mereka tidak agresif dan peka pada mereka, maka mereka tidak akan produktif sebagai media informasi. Coba bayangkan, jika ada suatu hal yang bisa menjadi berita dan mereka malah ragu memberitakannya, maka takkan ada berita yang bisa mereka sampaikan." jelas Arya.
"Hmm.. kamu ada benarnya juga. Baiklah, karena kamu aku akan memaafkan mereka." ujar ketua OSIS.
"Hah, apa maksud senior?" tanya Arya yang jadi bingung.
"Kalau begitu aku mau kembali dulu.. sampai jumpa.." pamit ketua OSIS lalu keluar dari ruangan kelas.
"Dia tidak menjawabku." gumam Arya.
Arya melewati jam pelajaran siang dengan melamun. Meskipun nampaknya masalah pemberitaan itu sudah selesai, tapi masih ada yang mengganjal pikirannya. Dia merasa masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Tapi dia tidak tahu apa itu. Makanya dia sekarang berpikir keras memikirkan apa hal yang membuatnya resah itu.
"Hei bro, jangan melamun terus. Entar kesambet lho." ujar Fajar mengingatkan.
"Tak mungkin ada yang kesambet karena melamun. Kalau kesabet mah mungkin saja." sahut Arya.
"Tapi kan kalau melamun pikiranmu jadi kosong bro." balas Fajar.
"Tidak juga, justru kalau melamun itu pikiran penuh. Penuh oleh imajinasi atau penuh oleh permasalahan." sanggah Arya.
"Eh, ya kalau gitu.. hmm.. apa lagi ya.." ucap Fajar bingung harus membalas apa lagi.
"Tapi kenapa kamu melamun sepanjang pelajaran tadi?" tanya Digna.
"Lho, emang tadi pelajarannya panjang ya? Kupikir tadi kita sedang bahas aksi reaksi." tanya Arya.
"Tidak, maksudku bukan panjang yang itu." bantah Digna.
"Ya kita kan emang tidak sedang membicarakan 'itu', tapi kita sedang membicarakan pelajaran." sahut Arya.
"Itu tadi bukan itu yang 'itu', tapi itunya beda lagi." balas Digna mulai jengkel.
"Ya-ya.. aku tahu. Itu dan 'itu' itu berbeda dengan 'itu' yang 'itu'." jawab Arya.
"Jangan membuatku pusing dah! Sekarang aku jadi benci dengan kata 'itu'!" bentak Digna.
"Kenapa?" tanya Arya dengan wajah polos.
"Malah tanya kenapa!" ucap Digna dengan jengkel.
"Oh iya.. Arya, jika memang melamun itu banyak pikiran berarti harusnya tidak ada yang kesambet saat melamun dong. Hahaha.. sekarang aku pasti benar." ujar Fajar yang baru selesai berpikir dan terlihat yakin.
"Mudah saja, karena orang sering tertukar antara melamun dengan bengong." jawab Arya sambil berdiri mengambil tasnya.
"Aku mau ke ruang ekskulku. Sampai jumpa besok." pamit Arya.
"Dia benar juga?!" ucap Fajar kaget karena baru menyadarinya.
"Dia itu.. menyeramkan kalau diajak debat." pikir Digna melihat Arya hingga keluar dari kelas.
Catatan hari ini:
Kadang kita sering tertukar dalam mengertikan sesuatu. Jadi kita harus selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan tindakan, karena kita sadar kita tidak bisa 100% benar.
"Hari ini aku tidak membawa benda bulat itu, karena itu bolehkah aku pinjam modal dulu beberapa." ujar Arya.
"Hah? Benda bulat?" ucap senior berkuncir.
"Ya.. yang bening itu lho. Yang mainnya di adu gitu." jelas Arya.
"Kamu ini ngomong apa sih?" komentar senior sawo matang.
"Hah, kalian tidak tahu kelereng? Kasihan sekali. Masa kecil kalian pasti suram sekali." kata Arya dengan nada mengejek.
"Cih, orang ini benar-benar mengesalkan. Dia menganggap kita mengajaknya kemari buat main kelereng. Ayo hajar dia!" ucap senior berkuncir.
"Tunggu!" ucap Arya.
"Apa lagi?" tanya senior berambut cepak.
"Kalian mau menghajarku kan?" tanya Arya.
"Lah pake tanya." sahut senior berkuncir.
"Apa kalian yakin dengan itu?" tanya Arya lagi.
"Tentu saja kami yakin. Kau sudah melecehkan ketua, dan kau juga membuat kami kesal. Karena itu aku harus memberikan kau hukuman." jawab senior berambut cepak menunjuk wajah Arya.
"Karena itu, yakinkah para senior ini akan memukuliku dan mengeroyokku? Melakukan suatu hal yang kalian sebut 'menghukum' hanya karena sebuah berita yang kebenarannya masih samar?" ujar Arya menatap tajam pada ketiga senior itu.
Ketiga senior itu tersentak mendengarnya, dan langsung terdiam.
"Jika dipikirkan baik-baik, kalian juga tahu resikonya bukan. Kalau sampai kalian salah, maka bukan hanya kalian saja yang akan dirugikan. Dan karena kalian mengatakan melakukan semuanya karena ketua OSIS, maka reputasi ketua OSIS juga dipertaruhkan saat ini." sambung Arya dengan serius.
"Dia ada benarnya juga. Bagaimana ini?" tanya senior berambut cepak pada senior berkuncir.
"Cih, jangan terpengaruh oleh perkataannya. Dia hanya membual. Ayo hajar dia!" suruh senior berkuncir.
Ketiga senior itu pun bersiap melayangkan pukulan mereka ke arah Arya.
"Hentikan perbuatan kalian, dasar sampah!" bentak sosok perempuan yang duduk dibawah pohon.
Ketiga senior itu melihat ke arah datang nya suara tersebut. Ternyata disana ada Rere yang sedang duduk dibawah pohon sambil memakan roti.
"Itu Rere!?" ucap ketiga senior itu terlihat shock.
"Aku mencoba pura-pura tidak lihat sejak tadi. Tapi mendengar permasalahannya, dan kalian yang tak kunjung sadar, aku sepertinya terpaksa ambil bagian." ujar Rere menoleh ke arah Arya dan ketiga senior yang sekarang terlihat ketakutan itu.
"Ka-kami tidak mau berurusan denganmu." ujar senior berkuncir.
"Sebentar lagi bel tuh." ucap senior berkulit sawo matang.
"Benar juga, kita harus segera kembali ke kelas." sambung senior berambut cepak.
Kemudian ketiga senior itu pun pergi meninggalkan Arya.
"Terima kasih sudah membantuku." ujar Arya.
"Hah? Kenapa kamu berterima kasih? Aku hanya melakukan pekerjaanku sebagai anggota OSIS." sahut Rere sambil berdiri dari duduknya.
"Tapi.. aku tak menyangka kau bisa terlibat masalah seperti ini, bocah." ujar Rere lalu menghabiskan rotinya.
"Setiap orang selalu terlibat masalah. Yang berbeda hanya orang itu menyelesaikan masalah itu atau malah melarikan diri dari masalah tersebut." kata Arya.
"Kau tahu, kata-katamu itu seperti Mario Teguh." sahut Rere.
"Haha.. jangan samakan aku dengan om itu. Aku ini tidak sebijak dia. Kadang aku juga bisa pesimis." bantah Arya.
"Tapi, menurutku tidak begitu." balas Rere sambil tersenyum.
Arya sedikit kaget melihat Rere tersenyum. Saat itu Rere terlihat cantik dimata Arya.
Saat Arya benar-benar kembali ke kelasnya, di depan kelasnya terlihat ramai oleh para gadis.
"Ada apa lagi ini? Hari ini sepertinya benar-benar merepotkan." ujar Arya sambil mendekati kerumunan itu.
Arya berjalan menembus kerumunan itu dan masuk ke dalam kelas. Saat sudah masuk, Arya hanya bisa membuat ekspresi aneh. Soalnya saat itu ada ketua OSIS sedang duduk di tempat duduknya.
"Akhirnya kamu kembali juga. Kemana saja kamu ini?" sapa ketua OSIS yang duduk sambil menyangga dagu.
"Ma-maaf.. tadi aku mendapatkan sedikit masalah disana-sini." jawab Arya.
"Apa yang dilakukan ketua OSIS disini? Apa dia juga mau membalas dendam kepadaku? Benar-benar merepotkan dah." ujar Arya dalam hatinya lalu memegang jidatnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku kalau begitu. Aku kemari untuk meminta maaf padamu. Karena ulah ekskul jurnal reputasimu jadi tercoreng dan kamu jadi mendapat masalah. Mereka memang terlalu agresif dalam mencari berita." jelas ketua OSIS sambil berdiri.
"Memang itu sangat merepotkanku. Tapi menurutku ini bukan salah ekskul jurnal juga." ujar Arya.
"Lho, kenapa kamu malah membela mereka?" tanya ketua OSIS heran.
"Karena jika mereka tidak agresif dan peka pada mereka, maka mereka tidak akan produktif sebagai media informasi. Coba bayangkan, jika ada suatu hal yang bisa menjadi berita dan mereka malah ragu memberitakannya, maka takkan ada berita yang bisa mereka sampaikan." jelas Arya.
"Hmm.. kamu ada benarnya juga. Baiklah, karena kamu aku akan memaafkan mereka." ujar ketua OSIS.
"Hah, apa maksud senior?" tanya Arya yang jadi bingung.
"Kalau begitu aku mau kembali dulu.. sampai jumpa.." pamit ketua OSIS lalu keluar dari ruangan kelas.
"Dia tidak menjawabku." gumam Arya.
Arya melewati jam pelajaran siang dengan melamun. Meskipun nampaknya masalah pemberitaan itu sudah selesai, tapi masih ada yang mengganjal pikirannya. Dia merasa masih ada sesuatu yang belum terselesaikan. Tapi dia tidak tahu apa itu. Makanya dia sekarang berpikir keras memikirkan apa hal yang membuatnya resah itu.
"Hei bro, jangan melamun terus. Entar kesambet lho." ujar Fajar mengingatkan.
"Tak mungkin ada yang kesambet karena melamun. Kalau kesabet mah mungkin saja." sahut Arya.
"Tapi kan kalau melamun pikiranmu jadi kosong bro." balas Fajar.
"Tidak juga, justru kalau melamun itu pikiran penuh. Penuh oleh imajinasi atau penuh oleh permasalahan." sanggah Arya.
"Eh, ya kalau gitu.. hmm.. apa lagi ya.." ucap Fajar bingung harus membalas apa lagi.
"Tapi kenapa kamu melamun sepanjang pelajaran tadi?" tanya Digna.
"Lho, emang tadi pelajarannya panjang ya? Kupikir tadi kita sedang bahas aksi reaksi." tanya Arya.
"Tidak, maksudku bukan panjang yang itu." bantah Digna.
"Ya kita kan emang tidak sedang membicarakan 'itu', tapi kita sedang membicarakan pelajaran." sahut Arya.
"Itu tadi bukan itu yang 'itu', tapi itunya beda lagi." balas Digna mulai jengkel.
"Ya-ya.. aku tahu. Itu dan 'itu' itu berbeda dengan 'itu' yang 'itu'." jawab Arya.
"Jangan membuatku pusing dah! Sekarang aku jadi benci dengan kata 'itu'!" bentak Digna.
"Kenapa?" tanya Arya dengan wajah polos.
"Malah tanya kenapa!" ucap Digna dengan jengkel.
"Oh iya.. Arya, jika memang melamun itu banyak pikiran berarti harusnya tidak ada yang kesambet saat melamun dong. Hahaha.. sekarang aku pasti benar." ujar Fajar yang baru selesai berpikir dan terlihat yakin.
"Mudah saja, karena orang sering tertukar antara melamun dengan bengong." jawab Arya sambil berdiri mengambil tasnya.
"Aku mau ke ruang ekskulku. Sampai jumpa besok." pamit Arya.
"Dia benar juga?!" ucap Fajar kaget karena baru menyadarinya.
"Dia itu.. menyeramkan kalau diajak debat." pikir Digna melihat Arya hingga keluar dari kelas.
Catatan hari ini:
Kadang kita sering tertukar dalam mengertikan sesuatu. Jadi kita harus selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan dan tindakan, karena kita sadar kita tidak bisa 100% benar.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.