Memo, chapter 25 - Pulang Sekolah 2
Di ruang ekskul sastra, Arya berdiri dari duduknya. Dia mengambil tasnya yang tergeletak di sebelah tempat duduknya.
"Sudah mau pulang?" tanya Sindy.
"Iyalah.. lihat sudah jam berapa sekarang." jawab Arya sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 5 sore.
"Oh benar juga." sahut Sindy saat melihat jam dinding itu juga.
"Senior juga harusnya pulang kan? Bahaya jika pulang terlalu kemalaman." kata Arya sambil berjalan menuju ke arah pintu.
"Ya, sebentar lagi saja." balas Sindy yang sepertinya masih ingin membaca bukunya.
"Senior.." panggil Arya sambil menghentikkan langkahnya saat sampai di ambang pintu.
"Ya?" sahut Sindy.
"Berhati-hatilah.. jangan sampai membuat aku marah karena terjadi apa-apa pada senior." ujar Arya sambil menoleh.
"Kamu mau memarahiku, juniorku?" tanya Sindy.
"Tidak." sahut Arya sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan ekskul sastra.
"Jadi dia mau memarahi orang yang berbuat jahat padaku. Hmm.. dia jadi mirip seseorang." ujar Sindy dalam hatinya tampak sedikit kekecewaan tergambar diwajahnya.
Arya berjalan menuju ke gerbang depan sekolah. Dan dia pun dicegat oleh seorang maid berusia 20 tahunan.
"Tunggu sebentar anak muda." ujar pelayan perempuan itu.
"Ya ada apa, anak tua?" sahut Arya.
"Hah! Siapa yang kau bilang tua, sialan!" bentak pelayan yang kelihatannya adalah Ani itu sambil menjambak kerah baju Arya.
Orang-orang yang lewat dijalan langsung memperhatikan ke arah mereka berdua. Maid itu pun malu dan melepaskan Arya.
"Aku ada perlu denganmu jadi jangan membuatku kesal, anak muda." ujar pelayan itu.
"Sip, anak tua." sahut Arya.
"Cih, dia itu sengaja ya melakukan itu. Anak sialan." gerutu pelayan itu dalam hatinya dan nampak kesal.
"Sebenarnya siapa kamu?" tanya pelayan itu lebih mendekat ke Arya.
"Hah? Kamu ada perlu padaku tapi tidak tahu siapa aku? Bagaimana urusannya nih?" sahut Arya heran.
"Tidak-tidak.. aku tahu siapa kamu." balas pelayan itu.
"Lah kalau tahu kenapa mesti nanya barusan?" tanya Arya.
"Tidak-tidak-tidak.. aku memang tahu siapa kamu tapi aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya." jelas pelayan tersebut.
"Hah?" ucap Arya yang malah jadi bingung dengan penjelasan tadi.
"Aaaahhhh.. bagaimana caraku menjelaskannya!" ucap pelayan itu sambil kesal menjambak rambutnya sendiri
"Tunggu sebentar, rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya. Hmm.. kamu pelayan gadis itu kan?" ujar Arya mulai mengingat pelayan itu.
"Ya, aku memang maid nya nona Alice. Dan kamu? Kamu bukan pacarnya nona Alice kan?" jawab pelayan itu lalu bertanya balik.
"Eh, pacar? Kenal juga tidak kok sudah disebut pacarnya." sahut Arya.
"Begitu ya.. kalau begitu cobalah jauhi nona Alice. Aku tidak suka orang urakan dan mengesalkan sepertimu dekat-dekat dengan nona Alice." ujar pelayan itu lagi.
"Hah? Kamu serius?" tanya Arya.
"Apa wajahku ini nampak seperti sedang bercanda?" jawab pelayan itu menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Kemudian dia mempertegas wajah serius nya malah lebih terlihat seperti wajah kesal.
"Tunggu sebentar, ini mirip seperti di kartun apa gitu yang kuning-kuning." pikir Arya sambil tersenyum aneh.
"Pokoknya jangan coba dekat-dekat dengan nona Alice lagi." sambung pelayan itu lalu pergi.
"Kalau tidak salah namanya Ani kan? Dia terlihat lebih tua. Apa mungkin cuma perasaanku saja." gumam Arya melihat maid itu pergi menggunakan sepeda motor.
Catatan hari ini:
Perasaan marah itu tidak selalu beralasan buruk, tapi memang sebaiknya kita tahan dan tak perlu kita marah. Karena bagaimanapun walau alasannya tidak buruk tapi dampaknya lah yang akan buruk.
"Sudah mau pulang?" tanya Sindy.
"Iyalah.. lihat sudah jam berapa sekarang." jawab Arya sambil melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan jam 5 sore.
"Oh benar juga." sahut Sindy saat melihat jam dinding itu juga.
"Senior juga harusnya pulang kan? Bahaya jika pulang terlalu kemalaman." kata Arya sambil berjalan menuju ke arah pintu.
"Ya, sebentar lagi saja." balas Sindy yang sepertinya masih ingin membaca bukunya.
"Senior.." panggil Arya sambil menghentikkan langkahnya saat sampai di ambang pintu.
"Ya?" sahut Sindy.
"Berhati-hatilah.. jangan sampai membuat aku marah karena terjadi apa-apa pada senior." ujar Arya sambil menoleh.
"Kamu mau memarahiku, juniorku?" tanya Sindy.
"Tidak." sahut Arya sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan ekskul sastra.
"Jadi dia mau memarahi orang yang berbuat jahat padaku. Hmm.. dia jadi mirip seseorang." ujar Sindy dalam hatinya tampak sedikit kekecewaan tergambar diwajahnya.
Arya berjalan menuju ke gerbang depan sekolah. Dan dia pun dicegat oleh seorang maid berusia 20 tahunan.
"Tunggu sebentar anak muda." ujar pelayan perempuan itu.
"Ya ada apa, anak tua?" sahut Arya.
"Hah! Siapa yang kau bilang tua, sialan!" bentak pelayan yang kelihatannya adalah Ani itu sambil menjambak kerah baju Arya.
Orang-orang yang lewat dijalan langsung memperhatikan ke arah mereka berdua. Maid itu pun malu dan melepaskan Arya.
"Aku ada perlu denganmu jadi jangan membuatku kesal, anak muda." ujar pelayan itu.
"Sip, anak tua." sahut Arya.
"Cih, dia itu sengaja ya melakukan itu. Anak sialan." gerutu pelayan itu dalam hatinya dan nampak kesal.
"Sebenarnya siapa kamu?" tanya pelayan itu lebih mendekat ke Arya.
"Hah? Kamu ada perlu padaku tapi tidak tahu siapa aku? Bagaimana urusannya nih?" sahut Arya heran.
"Tidak-tidak.. aku tahu siapa kamu." balas pelayan itu.
"Lah kalau tahu kenapa mesti nanya barusan?" tanya Arya.
"Tidak-tidak-tidak.. aku memang tahu siapa kamu tapi aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya." jelas pelayan tersebut.
"Hah?" ucap Arya yang malah jadi bingung dengan penjelasan tadi.
"Aaaahhhh.. bagaimana caraku menjelaskannya!" ucap pelayan itu sambil kesal menjambak rambutnya sendiri
"Tunggu sebentar, rasanya aku pernah melihatmu sebelumnya. Hmm.. kamu pelayan gadis itu kan?" ujar Arya mulai mengingat pelayan itu.
"Ya, aku memang maid nya nona Alice. Dan kamu? Kamu bukan pacarnya nona Alice kan?" jawab pelayan itu lalu bertanya balik.
"Eh, pacar? Kenal juga tidak kok sudah disebut pacarnya." sahut Arya.
"Begitu ya.. kalau begitu cobalah jauhi nona Alice. Aku tidak suka orang urakan dan mengesalkan sepertimu dekat-dekat dengan nona Alice." ujar pelayan itu lagi.
"Hah? Kamu serius?" tanya Arya.
"Apa wajahku ini nampak seperti sedang bercanda?" jawab pelayan itu menunjuk ke arah wajahnya sendiri.
Kemudian dia mempertegas wajah serius nya malah lebih terlihat seperti wajah kesal.
"Tunggu sebentar, ini mirip seperti di kartun apa gitu yang kuning-kuning." pikir Arya sambil tersenyum aneh.
"Pokoknya jangan coba dekat-dekat dengan nona Alice lagi." sambung pelayan itu lalu pergi.
"Kalau tidak salah namanya Ani kan? Dia terlihat lebih tua. Apa mungkin cuma perasaanku saja." gumam Arya melihat maid itu pergi menggunakan sepeda motor.
Catatan hari ini:
Perasaan marah itu tidak selalu beralasan buruk, tapi memang sebaiknya kita tahan dan tak perlu kita marah. Karena bagaimanapun walau alasannya tidak buruk tapi dampaknya lah yang akan buruk.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.