Memo, chapter 37 - Sudut Pandang
Arya diam di dalam kelas saat istirahat. Kedua temannya berdiri dari tempat duduknya karena hendak jajan ke kantin.
"Mau nitip tidak bro? Kita mau ke kantin nih?" tanya Fajar.
"Ah kalau gitu aku nitip doa saja ya." jawab Arya.
"Hah? Apaan tuh? Aku serius bro." sahut Fajar.
"Aku juga serius. Saat ini aku tidak ada uang, jadi.. ya puasa dulu lah." balas Arya.
"Oh.. ya udah. Kalau gitu kita ke kantin dulu ya?" ujar Fajar.
"Hah? Kita? Aku kan tidak ikut." kata Arya.
"Oh iya, maksudnya kami." sahut Fajar.
"Anak muda jaman sekarang sering tertukar antara 'kita' dan 'kami'. Padahal kan beda." komentar Arya.
"Sendirinya juga kan anak muda jaman sekarang." ujar Digna.
"Hei jangan lupa titipanku ya." sambung Arya.
"Lah yang doa tadi?" sahut Digna.
"Iya. Doa juga kan penting dalam kehidupan kita." jawab Arya.
"Ya-ya-ya.. terserahlah.." balas Digna.
Setelah Fajar dan Digna pergi, Shinta datang menghampiri Arya.
"Hai.. boleh aku ngobrol denganmu?" sapa Shinta.
"Hah?" sahut Arya.
"Haha.. seperti yang kuduga kau memang jantan sekali. Lihat saja kau kasar begitu pada perempuan dengan berkata 'hah' saat mereka menyapa." ujar Shinta.
"Memangnya kamu mau ngomong apa?" tanya Arya.
"Aku mau tanya saja, bagaimana caranya kamu bikin ketua OSIS sampai segitunya?" tanya Shinta.
"Bikin ketua OSIS gimana?" tanya balik Arya.
"Itu lho, dia jadi hormat banget ama kamu. Pasti kamu hebat banget sampai dia seperti itu." jawab Shinta.
"Ah pasti masalah yang kemarin lagi. Masih ada saja orang yang bahas masalah yang sudah lalu." pikir Arya.
"Tidak ada yang hebat kok. Aku cuma ngomong doang. Tidak pakai kekerasan atau apapun." jelas Arya.
"Ooooo.. cuma di omongin doang langsung takluk? Itu malah lebih hebat daripada yang aku duga." sahut Shinta terlihat semakin kagum.
"Eh.. perasaanku tidak enak nih.." gumam Arya.
"Kamu hebat banget. Pasti perkataanmu sangar banget hingga ketua OSIS jadi hormat padamu. Benar-benar lelaki sejati." sambung Shinta.
"Sudah kuduga.." ucap Arya dalam hati.
"Anu.. tapi sebenarnya perkataanku tidak sekasar itu kok padanya. Aku bicara biasa-biasa saja." ujar Arya mencoba meluruskan.
"Wah.. perkataan kasar yang menaklukan ketua OSIS dibilang biasa saja. Berarti kalau lagi sangar lebih kasar dari itu dong. Mantap!" balas Shinta sambil mengacungkan jempol.
"Kenapa jadi makin parah.." ucap Arya langsung down.
"Haha.. pokoknya kamu mantap banget dah. Aku jadi suka sama kamu." ujar Shinta lalu kembali ke tempat duduknya dengan penuh senyuman.
Arya baru sadar akan perkataan Shinta setelah beberapa menit kemudian.
"Tunggu sebentar, tadi dia bilang apa!!!?" ucap Arya dalam hati terkejut.
Tak lama kemudian Fajar dan Digna kembali dari kantin. Dan saat itu Arya masih dalam keadaan shock akibat perkataan Shinta.
"Dia kenapa?" tanya Digna.
"Mana aku tahu." sahut Fajar.
Catatan hari ini:
Setiap orang punya sudut pandang berbeda akan suatu masalah yang menyebabkan tanggapan yang berbeda pula.
"Mau nitip tidak bro? Kita mau ke kantin nih?" tanya Fajar.
"Ah kalau gitu aku nitip doa saja ya." jawab Arya.
"Hah? Apaan tuh? Aku serius bro." sahut Fajar.
"Aku juga serius. Saat ini aku tidak ada uang, jadi.. ya puasa dulu lah." balas Arya.
"Oh.. ya udah. Kalau gitu kita ke kantin dulu ya?" ujar Fajar.
"Hah? Kita? Aku kan tidak ikut." kata Arya.
"Oh iya, maksudnya kami." sahut Fajar.
"Anak muda jaman sekarang sering tertukar antara 'kita' dan 'kami'. Padahal kan beda." komentar Arya.
"Sendirinya juga kan anak muda jaman sekarang." ujar Digna.
"Hei jangan lupa titipanku ya." sambung Arya.
"Lah yang doa tadi?" sahut Digna.
"Iya. Doa juga kan penting dalam kehidupan kita." jawab Arya.
"Ya-ya-ya.. terserahlah.." balas Digna.
Setelah Fajar dan Digna pergi, Shinta datang menghampiri Arya.
"Hai.. boleh aku ngobrol denganmu?" sapa Shinta.
"Hah?" sahut Arya.
"Haha.. seperti yang kuduga kau memang jantan sekali. Lihat saja kau kasar begitu pada perempuan dengan berkata 'hah' saat mereka menyapa." ujar Shinta.
"Memangnya kamu mau ngomong apa?" tanya Arya.
"Aku mau tanya saja, bagaimana caranya kamu bikin ketua OSIS sampai segitunya?" tanya Shinta.
"Bikin ketua OSIS gimana?" tanya balik Arya.
"Itu lho, dia jadi hormat banget ama kamu. Pasti kamu hebat banget sampai dia seperti itu." jawab Shinta.
"Ah pasti masalah yang kemarin lagi. Masih ada saja orang yang bahas masalah yang sudah lalu." pikir Arya.
"Tidak ada yang hebat kok. Aku cuma ngomong doang. Tidak pakai kekerasan atau apapun." jelas Arya.
"Ooooo.. cuma di omongin doang langsung takluk? Itu malah lebih hebat daripada yang aku duga." sahut Shinta terlihat semakin kagum.
"Eh.. perasaanku tidak enak nih.." gumam Arya.
"Kamu hebat banget. Pasti perkataanmu sangar banget hingga ketua OSIS jadi hormat padamu. Benar-benar lelaki sejati." sambung Shinta.
"Sudah kuduga.." ucap Arya dalam hati.
"Anu.. tapi sebenarnya perkataanku tidak sekasar itu kok padanya. Aku bicara biasa-biasa saja." ujar Arya mencoba meluruskan.
"Wah.. perkataan kasar yang menaklukan ketua OSIS dibilang biasa saja. Berarti kalau lagi sangar lebih kasar dari itu dong. Mantap!" balas Shinta sambil mengacungkan jempol.
"Kenapa jadi makin parah.." ucap Arya langsung down.
"Haha.. pokoknya kamu mantap banget dah. Aku jadi suka sama kamu." ujar Shinta lalu kembali ke tempat duduknya dengan penuh senyuman.
Arya baru sadar akan perkataan Shinta setelah beberapa menit kemudian.
"Tunggu sebentar, tadi dia bilang apa!!!?" ucap Arya dalam hati terkejut.
Tak lama kemudian Fajar dan Digna kembali dari kantin. Dan saat itu Arya masih dalam keadaan shock akibat perkataan Shinta.
"Dia kenapa?" tanya Digna.
"Mana aku tahu." sahut Fajar.
Catatan hari ini:
Setiap orang punya sudut pandang berbeda akan suatu masalah yang menyebabkan tanggapan yang berbeda pula.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.