VocaWorld, chapter 14 - Dialah Orangnya

Satu hari setelah ledakan yg terjadi di stasiun radio, terjadi 2 ledakan lagi. Pertama di studio rekaman, dan kedua di tempat pembuatan dan pembanyakan CD. Dan hal itu pun menjadi topik berita minggu itu. Dan sampai saat ini sama sekali belum diketahui apa penyebabnya. Diduga itu diakibatkan oleh kebocoran gas. Akhir pekan ini tepatnya hari jum'at, di akademi Voca pun gempar membicarakan hal itu.
"Gumi-chan tahu tentang ledakan misterius di beberapa tempat beberapa hari ini?" tanya Miku pada Gumi yg sedang berjalan di sampingnya.
"Iya. Aku melihatnya diberita. Memangnya kenapa?" jawab Gumi yg lalu bertanya balik.
"Kata Meiko-san itu serangan teroris lho." jawab Miku.
"Eh benarkah? Tapi kata berita di TV sih katanya ledakan gas. Jadi mana yg benar nih?" ujar Gumi bertanya-tanya.
"Hey Aniki, kenapa kau mengikuti mereka berdua terus?" tanya Dante berbisik pada Ray.
"Aku tidak sedang mengikuti. Aku hanya memperhatikan. Sama seperti melihat bintang di langit malam. Kamu tak bisa menggapainya walau terpesona." ujar Ray.
"Seperti biasa, kata-katamu itu selalu terdengar bagus." komentar Dante.
Saat itu Dante dan Ray terlihat berjalan di belakang Miku dan Gumi dengan jarak sekitar 10 meter.
"Tapi kalau dipikir-pikir ada sesuatu yg aneh juga sih. Katanya artis yg jadi korban ledakan di stasiun radio entah kenapa bisa ada di rumah sakit dalam keadaan hilang ingatan." ujar Gumi.
"Ya, kalau tak salah namanya Eichi Sasaki. Lulusan akademi Voca kan?" sahut Miku.
"Iya, aku dengar sih begitu. Memang agak aneh juga." balas Gumi.
Miku dan Gumi terlihat selesai menaiki tangga dan hendak masuk ke kelas mereka.
"Hey Aniki, nampaknya mereka sedang membicarakan kita." ujar Dante sambil ngintip di dekat tangga.
"Aniki.. eh, pergi kemana dia?" panggil Dante pada Ray yg ternyata sudah tak ada di sampingnya lagi.

Sementara di kelas 2-C, Meiko tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia melihat ke jendela sambil menyangga dagu.
"Ada apa dengan Meiko, dia tampak murung beberapa hari ini?" gumam Kaito saat menoleh ke arah Meiko.
Kaito saat itu memang sedang membaca buku. Tiba-tiba pintu kelas dibuka, suara nya cukup keras sehingga membuat semua orang menengok ke arah pintu, kecuali Meiko. Dan terlihatlah sosok laki-laki berambut ungu panjang memakai kimono berwarna biru tua dan putih sedang berdiri sambil gaya dan menggigit bunga mawar.
"Yo Kaito-dono.." ucap laki-laki yg ternyata adalah Kamui.
Perempuan di kelas dan di lorong pun langsung pada heboh, kecuali Meiko yg sedang merenung.
"Bukankah itu Gakupo-senpai?" ujar salah seorang siswi.
"Iya, dia ganteng banget ya." sahut temannya.
"Katanya dia juga salah satu lulusan terbaik akademi Voca." ujar siswi yg lain.
"Wah.. hebat.." sahut siswi yg lainnya lagi.
"Apa yg kau lakukan disini, Gakupo?" tanya Kaito.
"Saya hanya ingin memeriksa apakah anda baik-baik saja, Kaido-dono." jawab Kamui sambil berjalan ke arah meja Kaito dengan penuh pesona sambil memegang bunga mawarnya.
"Hah?" ucap Kaito.
"Namun nampaknya saya terlalu khawatir. Kelihatannya anda baik-baik saja." ujar Kamui sambil membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Kaito memegang bunga mawar dan dipukulkan ke wajah Kaito.
"Gakupo!" teriak Kaito sambil memukul Kamui.
"Itu sakit, Kaito-dono." ujar Kamui sambil memegang pipinya.
"Jangan melakukan hal yg aneh. Itu menjijikan tahu!" bentak Kaito.
"Apa maksud anda? Bukankah ini sama seperti saat di rumah?" sahut Kamui yg tampak biasa saja.
Kaito tampak kesal mendengar hal itu. Tapi para siswi yg menyaksikan terlihat senang. Namun tiba-tiba Kamui seperti merasakan sesuatu dan langsung menoleh ke arah pintu depan. Namun disana tak ada apa-apa, hanya kerumunan siswi.
"Aku merasa seperti ada yg sedang memperhatikanku. Apa hanya perasaanku saja." ujar Kamui dalam hatinya.
Di lorong tepat di samping pintu depan kelas 2-C, Ray sedang berdiri bersandar.
"Tadi itu hampir saja. Ini baru pertama kali nya ada yg bisa menyadari keberadaanku saat melakukan stalking." ujar Ray dalam hatinya.
"Wah.. Ray-kun kah.. sedang apa di lorong kelas 2?" ucap Luka yg kebetulan lewat.
"Megurine-san? Oh iya, aku hanya sedang bosan. Jadi aku jalan-jalan sedikit. Lalu menemukan sesuatu yg menarik di sana." jawab Ray sambil menunjuk ke arah kelas 2-C.
"Memang disana ada apa?" tanya Luka.
"Ya bisa dibilang, ada 2 pangeran yg saling bertemu lalu membuat pertemuan mengejutkan. Aku sarankan kamu siapkan kamera." jawab Ray sambil tersenyum lalu berjalan pergi.
Luka pun penasaran lalu melihat ke dalam kelas 2-C.
"Lebih baik aku pergi saja dah, disini bikin aku pusing." gerutu Kaito sambil bangkit dari tempat duduknya.
Namun saat hendak melangkah, dia tersandung mejanya.
"Kaito-dono!" ucap Kamui sambil menangkap tubuh Kaito.
Para siswi itu makin heboh saat itu. Itu dikarenakan Kamui yg saat itu mendekap tubuh Kaito yg hampir terjatuh.
"Wah.. nampaknya ada kejadian menarik disini." ujar Luka sambil tersenyum.
"Whoaa.. Megurine!" teriak Kaito saat menyadari kehadiran Luka.
Tapi tiba-tiba terdengar suara kamera. Ternyata saat itu Luka sedang memegang kamera lalu memotret Kamui dan Kaito.
"Pose bagus, Kaito-kun!" ucap Luka setelah memotret.
"Whooaaa.. apa yg kau lakukan Megurine?!!" teriak Kaito sambil melepaskan diri dari Kamui.
"I-ini tidak seperti yg kalian lihat! Aku masih normal." ujar Kaito.
"Tenang saja, Kaito-kun. Foto ini pasti akan dicetak dalam kualitas terbaik." sahut Luka sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
Kemudian Luka berjalan keluar dari kelas tersebut.
"Nooo...!!! Hidupku berakhir sudah!!!" teriak Kaito.
Sementara Kamui masih terpaku setelah melihat senyuman Luka.
"Ini pertama kalinya aku melihat senyuman seindah itu." ucap Kamui dalam hati.

Istirahat siang sudah berakhir, dan bel masuk pun berbunyi. Kali ini kelas 1-B adalah pelajaran praktek menyanyi. Dan dibimbing oleh wali kelas mereka Yoshino-sensei.
"Sekarang adalah pelajaran praktek menyanyi. Coba diantara kalian adakah yg mau coba menyanyi di depan?" tanya Yoshino-sensei.
"Aku!" teriak Miku sambil mengacungkan tangannya.
"Mi-Miku-chan?" ucap Gumi saat melihat Miku.
"Oke maju kesini." suruh Yoshino-sensei.
Miku pun maju ke depan kelas.
"Jadi silahkan bernyanyi." pinta Yoshino-sensei.
"Start up! Vocaloid system: on! Cheers!" ucap Miku.
Kemudian Miku berubah. Dia mengenakan pakaian hijau biru tanpa lengan, memakai dasi, mini skirt hitam, dan stocking hitam diatas lutut.
"Oke, sekarang aku akan menyanyikan laguku yg berjudul, World is Mine." ujar Miku.
Kemudian dia pun menyanyikan lagu itu sambil melakukan dance.
"Ternyata benar dugaanku, dia adalah orangnya." ujar Ray sambil melihat Miku dan tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】