VocaWorld, chapter 12 - Earophoid

Ini adalah hari belajar pertama di akademi Voca. Wali kelas 1-B, Yoshino-sensei memasuki ruang kelasnya. Dia terlihat membawa sebuah headphone. Kemudian para murid pun berdiri dan memberi hormat lalu duduk lagi.
"Hari ini, sensei akan menjelaskan tentang ini." ucap Yoshino sensei sambil menunjukkan headphone yg ia bawa.
"Itu EAROPHOID kan? Memang nya ada apa dengan itu, kami sudah dijelaskan waktu SMP." sahut salah satu murid.
"Ya, memang. Tapi sebenarnya Earophoid juga punya kegunaan lain yg tak dijelaskan waktu SMP." jawab Yoshino-sensei.
"Eh apakah itu, sensei?" tanya Miku yg penasaran.
"Di SMP, kalian hanya tahu Earophoid hanya digunakan untuk mengingat lirik lagu dan melodi yg sedang atau akan kalian nyanyikan atau kalian ciptakan. Jadi semacam memori cadangan kalau-kalau kalian lupa. Tapi sebenarnya ada sistem lain dari Earophoid yg tidak kalian ketahui. Pertama, ada sistem 'Change Form', sebuah sistem yg memudahkan kita untuk mengganti kostum. Tapi hanya kostum yg original dan sesuai dengan jenis lagu yg kita ciptakan. Jadi kita tak bisa meniru kostum orang lain. Kedua, ada sistem 'Dance Acceleration'. Itu memudahkan kalian untuk melakukan dancing yg kalian kuasai, membuat tubuh kalian lebih energik dan pergerakan kalian lebih terasa ringan." jelas Yoshino-sensei.
"Wah.. begitu rupanya. Bagaimana cara kita mengaktifkan sistem itu?" tanya salah seorang murid, lalu diikuti oleh murid yg lain.
"Dengan perintah suara. Untuk mengganti kostum, kalian katakan 'Change Form', lalu sebutkan nama pakaiannya. Dan untuk melakukan Dancing, kalian katakan 'Dance' lalu sebutkan jenis Dancing yg kalian kuasai." jawab Yoshino-sensei.
Seisi kelas pun tampak senang mendengarnya, dan mereka terlihat saling mengobrol dengan temannya membicarakan Earophoid.
"Bagaimana kalau kita bagikan Earophoid nya?" ucap Yoshino-sensei.
"Eh, kita sudah punya, sensei." ucap salah seorang murid.
"Nah, yg akan dibagikan ini adalah versi terbaru. Earophoid v2.0, ini baru saja keluar kemarin. Bahkan belum di iklankan di TV." ujar Yoshino-sensei sambil menunjuk tulisan '2.0' di Earophoid yg ia pegang.
"Waaaahhhh.. benarkah sensei? Bukankah itu harusnya mahal?" tanya murid yg lain.
"Tentu, tapi biaya semuanya ditanggung sekolah. Jadi kalian bisa memilikinya. Jadi kalian hanya perlu bayar SPP saja." jawab Yoshino-sensei.
"Gumi-chan, kenapa kamu tampak khawatir?" tanya Miku yg melihat tingkah Gumi.
"Se-sebenarnya aku tidak bisa menggunakan Earophoid." jawab Gumi.
"Lho masa? Tapi itu yg ada di lehermu apa?" tanya Miku sambil menunjuk headphone di leher Gumi.
"I-Ini, sebenarnya sulit menjelaskannya." jawab Gumi tampak gugup.
Ray melirik kecil ke arah Miku dan Gumi. Ray melihat headphone Gumi yg tampak agak berbeda.
"Begitu rupanya." ucap Ray saat mengerti sesuatu.
"Bawa semuanya kemari!" suruh Yoshino-sensei pada seseorang yg ada di luar.
Lalu keluar lah 2 orang anggota OSIS membawa 2 kardus berisi Earphoid. Dan salah satu dari mereka adalah Luka. Hal itu pun membuat semua siswa disana tampak heboh.
"Whoa.. Luka-sama.." ucap para murid itu memanggil nama nya.
Luka pun membalas mereka dengan senyuman. Dan mereka pun makin heboh. Luka mulai membagikan Earphoid itu.
"Wah.. Ray-kun kah.." ucap Luka saat melihat kalau yg ada di baris terakhir meja dekat pintu itu adalah Ray.
"Oh.. Megurine-san. Kebetulan aku punya satu permintaan." sahut Ray.
"Siapa dia? Tampaknya dia kenal dengan Luka-sama." bisik seorang murid pada temannya.
"Tampaknya dia anak kurang ajar, terlihat dari gayanya yg sok keren." sahut temannya.
"Kita harus menjauhkannya dari Luka-sama." tambah temannya yg lain.
"Entah kenapa suasananya jadi tegang." gumam Ray.
"Permintaan apa?" tanya Luka sambil tersenyum.
Kemudian Ray pun membisikkan sesuatu pada Luka.
"Oh.. baiklah. Akan ku coba." ujar Luka.
"Baguslah kalau begitu. Kalau bisa, cepat." sahut Ray.
"Apa yg barusan dia bisikkan pada Luka-sama?!!" pekik salah seorang murid dalam hatinya.
"Jangan-jangan dia memberi sebuah ancaman, dan menyuruh Luka-sama melakukan hal-hal aneh." ujar temannya dalam hati.
Kemudian mereka membayangkan Luka menjerit ketakutan dan Ray yg tertawa licik.
"Kurang ajar!! Akan kubunuh orang itu!!" pekik mereka dalam hati.
Kemudian setelah Luka selesai membagikan semuanya, Luka menghampiri gadis berambut hijau, yaitu Gumi.
"Hai gadis manis, siapa namamu?" tanya Luka sambil tersenyum ramah.
"A-aku? Namaku Me-Megupo Gumi." jawab Gumi tampak gugup.
"Oohh.. Gumi-chan kah. Nama yg imut. Apa aku boleh pinjam itu?" ujar Luka sambil menunjuk headphone yg ada di leher Gumi.
"Bo-boleh. Untuk apa?" tanya Gumi sambil memberikan headphone nya.
"Ternyata benar kata Ray-kun, ini tipe khusus." gumam Luka dalam hati saat melihat-lihat headphone itu secara seksama.
"Nah, kamu akan segera mendapatkan v2.0 nya. Jadi apa boleh aku pinjam dulu beberapa hari?" pinta Luka sambil tersenyum.
"Ba-baik, Luka-senpai." sahut Gumi tampak malu.
Kemudian Luka membawa headphone itu keluar kelas.
"Luka-senpai itu baik banget ya. Dia juga cantik banget." ujar Miku heboh sendiri.
Gumi hanya mengangguk sambil tersenyum. Sementara Ray hanya memperhatikan mereka berdua dari bangkunya.

Siang harinya saat istirahat siang, Ray dan Dante tampak bertemu di atap gedung sekolah. Mereka mengenakan jaketnya.
"Dante, aku akan menjelaskan rencana kita nanti." ujar Ray.
"Oke Aniki." sahut Dante.
"Pokoknya, kali ini kau jangan sampai lupa bagian akhirnya." tambah Ray.
"Baiklah.." sahut Dante lagi.
"Saat ini kita harus bermain lebih bersih, karena saat ini akan banyak saksi mata kalau kita sampai melakukan kesalahan sedikit saja." jelas Ray sambil mendekati pagar kawat pembatas atap gedung sekolah.
Sementara itu Miku sedang makan ditemani oleh Gumi. Mereka makan di kelas mereka.
"Miku-chan dengar berita kemarin?" tanya Gumi.
"Berita apa?" sahut Miku.
"Itu lho, katanya ada ledakan misterius diatas Mall." jelas Gumi.
"Eh masa?!" ucap Miku kaget.
"Beneran. Nampaknya ada teroris di kota ini." ujar Gumi.
"Te-teroris?!" ucap Miku tampak takut.
"Kalian tak perlu takut. Mungkin saja itu hanya ledakan gas atau semacamnya." kata Ray yg tampak mengambil Earophoid miliknya.
"Hah! Kamu nguping obrolan kami? Itu tidak sopan, kau tahu!" ujar Miku tampak kesal.
"Maaf, aku tak bermaksud menguping. Aku hanya tak sengaja mendengarnya. Lagipula suara kalian terlalu keras untuk melakukan obrolan rahasia. Kalian mirip ibu-ibu yg sedang ngerumpi saat arisan." jelas Ray sambil berjalan ke luar kelas.
"Dia itu, setiap perkataannya selalu saja mengesalkan." ucap Miku yg terlihat kesal.

Saat pulang sekolah, tepat pukul 13.30, Ray dan Dante tampak bergegas pulang. Tapi tidak langsung ke rumah. Mereka tampaknya menuju ke tengah kota.
"Dante, ingat rencana kita." ujar Ray pada Dante yg berjalan di sebelahnya.
"Oke, Aniki." sahut Dante.
"Kita harus membereskannya sebelum ia sempat bernyanyi." tambah Ray.
Mereka pun berjalan cepat ke arah kota.
Sedangkan di tempat lain, terlihat Kaito sedang buru-buru ke parkiran sepeda.
"Aku harus buru-buru, sebelum ada yg melihat sepedaku." ujar Kaito.
"Kaito!" panggil Meiko yg tiba-tiba muncul.
"Whoaa.. Me-Meiko. Sedang apa kau disini?" tanya Kaito yg terkejut melihat Meiko.
"Maaf, maksudku abang ojek sepeda pink." kata Meiko.
"SIAPA YG KAU SEBUT ABANG OJEK SEPEDA!!!" bentak Kaito.
"Tapi wajahmu kayak tukang ojek." tambah Meiko.
"HAH! BERCANDA YA!! KAU PASTI BERCANDA KAN?!!" bentak Kaito lagi.
"Ayo bang, kita berangkat." ujar Meiko tampak tidak menghiraukan Kaito dan duduk di boncengan sepeda.
"AAAA..!! BICARA DENGANMU MEMBUATKU STRESS." ucap Kaito sambil memegangi kepalanya.
"Hey Kaito, kalau kau tak mau berangkat juga. Akan kusebarkan fotomu dan sepeda pink mu ini." ancam Meiko sambil memperlihatkan foto Kaito di HP nya yg sedang mengeluarkan sepeda pink nya.
"Whoooaaa.. jangan!!" ucap Kaito.
"Kalau begitu ayo jalan!!!" suruh Meiko.
"Baik, Meiko-sama..!!!" sahut Kaito sambil naik lalu mengayuh sepeda nya.
Kaito dan Meiko pergi ke tengah kota. Kemudian mereka pun berhenti di depan pasar swalayan, dan mereka pun belanja bahan masakan disana.
"Kenapa kamu menumpang hanya untuk ke pasar swalayan?" tanya Kaito yg mengantri kasir di belakan Meiko.
"Apa maksudmu? Tentu saja untuk ngirit biaya ongkos." jawab Meiko.
Jawaban itu pun membuat Kaito terkejut. Namun tiba-tiba seperti terdengar sebuah ledakan.
"Apa itu barusan?!" ucap Meiko dalam hatinya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】