VocaWorld, chapter 26 - Mimpi Jadi Pahlawan

Di Voca town, tengah hari itu tampak sangat kacau. Kepulan asap terlihat di gedung-gedung dan orang-orang berlarian. Dari balik fatamorgana karena panasnya suhu siang itu banyak sekali minor yg sedang berjalan menuju ke tengah kota.
"Aaaaa.. tolong!" ucap orang-orang yg sedang berlari ketakutan.
Tiba-tiba ada yg melesat turun dan jatuh ke tengah-tengah kerumunan minor. Saking kerasnya sampai terjadi dentuman sehingga aspal retak dan beberap minor terhempas dan hilang.
"Apa itu tadi?" tanya salah seorang yg sedang berlarian yg melihatnya.
"Itu adalah pahlawan super, Miku Miku-nyan." sahut orang di sebelahnya.
Terlihat gadis berambut twintail berwarna hijau kebiruan berdiri diatas jalan aspal retak. Rambutnya tertiup angin dan dia berpose keren dg menaruh kedua tangannya di pinggulnya.
"Aku adalah sang pahlawan, putri ceria yg tersenyum seindah rembulan, Miku Miku-nyan!" ucap gadis itu yg ternyata adalah Miku yg dalam keadaan berubah.
"Kalian dark sider sebaiknya pergi tinggalkan kota ini, atau kalian akan berhadapan denganku." ujar Miku.
Tapi para minor itu tidak menganggapnya dan secara bersamaan menyerang Miku.
"Dance: Rolling Girl!" teriak Miku.
Kemudian Miku berdiri bertumpu pada kedua tangannya dan melakukan spin kick. Para minor yg menyerang pun terpental dan hilang. Kemudian Miku kembali berdiri dengan kakinya dan berputar lagi ke kiri lalu memukul dan menendang para minor itu. Satu persatu para minor menghilang terkena serangan Miku. Lalu sebagai serangan penutup Miku melakukan tendangan sambil berputar di udara. Miku berputar 2 kali saat melakukan tendangan itu, yaitu di udara dan di tanah. Hal itupun membuat hempasa angin yg kuat yg membuat para minor terhempas dan semuanya pun menghilang.
"Selesai." ucap Miku sambil melihat kedepan masih dalam pose setelah melakukan tendangan putar.
"Terima kasih Miku Miku-nyan, karena telah menyelamatkan kami dan kota kami." ucap orang-orang.
"Ya, itu sudah menjadi tugasku untuk melindungi kota ini dan orang-orang yg kusayangi." sahut Miku.
Kemudian Miku pun melompat pergi dari tempat itu. Dia melompat-lompat dari gedung ke gedung.
"Memang, menjadi seorang pahlawan itu menyenangkan." ucap Miku sambil memejamkan matanya karena bangga.
Tapi tiba-tiba dia tersandung antenna TV dan jatuh kebawah dari atas gedung.
"Mati dah! Gimana ini? Masa pahlawan mati kesandung antenna!!! Mak tolongin mak!!!" teriak Miku sambil jatuh ke bawah.
Kemudian Miku pun memejamkan matanya. Dan dia jatuh di ruang yg gelap. Ternyata Miku hanya jatuh dari ranjangnya. Miku pun mengankat kepalanya karena dia jatuh bertelungkup.
"Hanya mimpi ternyata. Kukira beneran.." ucap Miku.
"Miku-chan, sudah pagi! Ayo bangun!" panggil Meiko dari bawah.
"Ya, aku sudah bangun kok Meiko-san." sahut Miku sambil berdiri.
Miku pun turun ke bawah, dia berjalan dengan lesu karena mimpi tadi.
"Selamat pagi, Miku-neechan.", "Selamat pagi Miku-nee." ucap Rin dan Len yg tampak sedang bermain game.
"Selamat pagi. Tumben kalian udah bangun." ucap Miku.
"Hari ini hari minggu kan?" sahut Len.
"Len tiba-tiba bangunin aku pagi-pagi buat nyoba main game yg baru ia beli kemarin." sambung Rin.
"Game apa?" tanya Miku sambil melirik TV.
"Tekkin 5." jawab Rin dan Len bersamaan. (Plesetan dari 'Tekken')
"Player 2 Lose" terdengar suara game itu.
"Yeah, aku menang lagi!" ucap Len.
"Len mah curang, pake karakter yg jago terus." gerutu Rin.
"Haha.. aku mah jenius gitu lho, pake karakter apa aja pasti menang." ucap Len dengan sombong.
Rin hanya bisa manyun mendengar perkataan Len.
"Miku-chan, entar siang anterin belanja ya.." ucap Meiko sambil lewat di belakang mereka.
"Oke." terima Miku.
Sementara itu Luka terlihat sedang jalan-jalan di jalan yg ada di pinggir sungai.
"Harusnya dari kemarin-kemarin aku tanyakan alamat rumahnya. Sekarang aku jadi kesusahan nyarinya." ujar Luka sambil memegang dahinya.
Tak berapa lama, Luka pun lewat di depan sebuah rumah gaya jepang dan dan di sampingnya terlihat ada sebuah dojo.
"Hmm.. mungkinkah ini rumahnya?" ucap Luka sambil menengok ke dalam dari pagar tanaman yg tingginya sebahu nya.
"Permisi.." ucap Luka.
Kamui yg sedang duduk bersila di depan dojo pun mendengarnya. Dan dia pun menengok ke arah suara itu berasal. Dan dia melihat sosok gadis yg sangat cantik berdiri di depan gerbang masuk rumahnya. Gadis berambut pink yg dikenalnya. Kamui pun memakai sandalnya dan berjalan dengan gaya keren menuju ke arah Luka.
"Ya, ada yg bisa saya bantu, nona manis." ujar Kamui dengan tatapan keren.
Saat melihat ada Kamui, tatapan Luka pun berubah dingin.
"Maaf, nampaknya aku salah alamat." ujar Luka menatap dingin pada Kamui.
Kemudian Luka pun berpaling dan pergi. Tapi Kamui tiba-tiba menghadang Luka sambil berpose keren.
"Tunggu sebentar, nona manis. Biarkan saya menjamu anda sebentar di kediaman saya." ujar Kamui.
Luka tampak sedikit jengkel lalu kembali berjalan tanpa menghiraukan Kamui.
"Tunggu!" ucap Kamui sambil memegang tangan Luka.
Luka menoleh dengan tatapan membunuh.
"Jangan pernah memegang tanganku." kata Luka.
"Mati!" ucap Luka sambil menendang Kamui ke sungai.
"Hanya satu orang yg boleh menyentuh tanganku." ujar Luka sambil memegang tangan yg di sentuh Kamui.
Kamui bangun dan berjalan keluar dari sungai.
"Itu pasti saya, benarkan nona manis?" ucap Kamui dengan percaya diri.
Tiba-tiba sebuah batu melayang dan mengenai kepala Kamui. Kamui pun kembali jatuh ke sungai.
"Tentu saja bukan!" bentak Luka.
Kemudian Luka pun berjalan dengan kesal meninggalkan Kamui.
"Ray-kun, sebenarnya rumahmu tuh dimana sih? Dia hanya bilang kalau rumahnya ada di dekat hutan dan yg kulakukan hanya perlu menyusuri sungai. Atau jangan-jangan dia hanya memberi alamat palsu. Tidak, yg benar saja, masa aku harus nyanyi lagunya Ayu Ting Ting." gerutu Luka.

Siang harinya, Miku pergi mengantar Meiko berbelanja. Mereka pergi ke toko swalayan untuk membeli bahan makanan untuk nanti malam.
"Meiko-san, tumben ngajakin aku belanja." ujar Miku.
"Ya, memang kenapa? Seorang perempuan harus biasa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti ini." jelas Meiko.
Kemudian Miku pun mulai membayangkan dirinya menjadi ibu rumah tangga. Dia sedang memasak di dapur dan tiba-tiba Kaito memeluknya dari belakang.
"Lagi masak apa nih, darling?" tanya Kaito di dekat telinga Miku.
"Soto ayam spesial extra bawang daun, darling." jawab Miku.
Miku pun senyum-senyum sendiri saat membayangkannya.
"Kamu kenapa, Miku-chan?" tanya Meiko heran melihat Miku.
"Tidak, bukan apa-apa." jawab Miku menggelengkan kepala.
Mereka akhirnya selesai belanja.
"Miku-chan bawa sampai rumah ya, aku harus segera ke tempat kerja nih." ucap Meiko.
"Eh, aku yg bawa?" sahut Miku terkejut.
"Ya, itung-itung latihan lah. Sudah ya, bye.." ujar Meiko sambil berjalan meninggalkan Miku.
"Perlu bantuan?" ucap Ray tiba-tiba muncul di belakang Miku.
Miku pun menoleh dengan terkejut.
"Se-sejak kapan kamu disana?" tanya Miku.
"Baru saja. Kebetulan aku sedang jalan-jalan di sekitar sini." jawab Ray dengan tenang.
Tanpa terduga, terjadi ledakan dan terlihat sebuah mobil terlempar. Itu adalah ulah dark sider yg terlihat dari sisi lain ledakan. Dia berjalan menembus api. Namun ternyata bukan hanya satu, ada puluhan dark sider jenis minor.
"Minor?!" ucap Miku terkejut.
"Pergilah, akan ku jaga belanjaanmu." suruh Ray.
Miku pun berlari menuju ke arah para minor. Tiba-tiba Dante meluncur turun di depan Ray.
"Aniki, kenapa Aniki menarik mundur aku?" tanya Dante.
"Karena saat ini itulah yg diperlukan." jawab Ray sambil melihat ke arah Miku.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】