VocaWorld, chapter 22 - Mengerti

Di depan kelas 1-C, tepatnya kelas nya Dante, Ray tampak sedang ngobrol dengan Dante. Ray bersandar di dinding dekat jendela, dan Dante sedang tertunduk lesu menghandap dinding.
"Ah.. bagaimana ini? Aku harus tugas praktek menyanyi besok. Aku sudah janji untuk menunjukkan kemampuanku." gerutu Dante.
"Bukannya bagu? Katanya kamu mau mengalahkan Kaito." sahut Ray.
"Tapi aku gak tahu mesti bawain lagu apa? Aniki, tolong buatin lagu untukku." pinta Dante.
"Setahuku, tak perlu lagu ciptaan sendiri kok. Kamu coba saja nyanyikan lagu orang lain." jawab Ray.
"Hmm.. begitukah? Mungkin bisa kucoba." sahut Dante.
Lalu tiba-tiba lewatlah gadis berambut hijau biru lari menaiki tangga. Ray dan Dante melihatnya walau sekilas.
"Kenapa dia?" tanya Dante.
"Salah paham. Biasanya itu yg terjadi kan?" jawab Ray.
Miku terus naik ke atas dan dia berpapasan dengan Gumi dan Kamui.
"Miku-chan?" ucap Gumi saat melihat Miku melewatinya tanpa berkata apa-apa.
Kamui terlihat curiga telah terjadi sesuatu, itu terlihat dari ekspresinya yg tiba-tiba berubah. Sementara, Miku terus saja naik dan akhirnya sampai diatap. Dengan setengah menangis, dia kemudian berjongkok disamping pintu.
"Kenapa aku yg dituduh melalukan peledakan itu? Kenapa? Apa karena kekuatan ini? Apa seharusnya aku tidak mendengarkan suara itu?" ujar Miku sambil menangis.
Tanpa Miku sadari, ternyata di sekeliling Miku telah berdiri banyak sekali Minor. Atap gedung sekolah yg lumayan luas itu dipenuhi oleh para Minor. Salah satu Minor mendekati Miku. Lalu dia terlihat hendak menyentuh Miku. Miku yg baru tersadar, berusaha menghindar dengan berguling ke depan.
"Ke-kenapa mereka ada disini? Apa mereka mengincarku? Darimana mereka tahu aku disini?" ucap Miku dalam hati.

Di ruang OSIS, Luka, Meiko, dan Kaito masih duduk dan terdiam.
"Megurine-san, kau tak seharusnya menyalahkan Miku-chan. Dia tak mungkin yg melakukan peledakan itu." ujar Meiko.
"Apa maksudmu?" tanya Luka.
"Memangnya bagaimana caranya dia melakukannya? Dia tak mungkin merakit bom." jawab Meiko.
"Dia memang tak mungkin merakit bom. Tapi dia memiliki kekuatan." balas Luka.
"Kekuatan? Kekuatan apa? Aku lebih tahu tentang Miku-chan lebih dari siapapun. Akulah yg merawatnya sejak kecil. Miku-chan memang agak bodoh dan ceroboh, tapi dia tak mungkin melakukan tindakan sejahat itu." jelas Meiko dengan menahan tangis.
Luka hanya terdiam mendengarnya.
"Megurine, percayalah pada yg Meiko katakan. Dia tak mungkin berbohong. Aku tahu dia tak mungkin berbohong. Walau kadang Meiko tak jujur dengan perasaan nya, tapi.. dia bukanlah tipe yg menutupi kesalahan dengan kebohongan." sambung Kaito sambil berdiri.
"Ka-Kaito.." ucap Meiko terkejut melihat Kaito.
"Mereka tampak yakin. Tapi tunggu, itu berarti ada yg salah dengan penalaranku." gumam Luka sambil memegang dagunya.
"Tunggu sebentar, apakah mungkin maksudnya aku harus berada di sisi Miku-chan itu bukan berarti aku harus mengawasinya. Tapi, aku harus menjaganya. Aku harus berada di sampingnya dan melindunginya, apapun yg terjadi." ujar Luka tampak terkejut.
"Tapi kalau begitu yg lainnya itu.." pikir Luka lagi.
"Meiko-chan, Kaito-kun, kita harus menemukan Miku-chan." suruh Luka.
"Kenapa? Kamu mau menuduhnya lagi yg bukan-bukan." sahut Meiko.
"Tidak, nampaknya tadi aku salah paham padanya." jawab Luka sambil tersenyum.
Kemudian mereka bertiga pun berlari keluar dari ruang OSIS. Mereka pun hendak ke kelasnya Miku. Luka pun melihat ada Ray di depan kelas 1-C.
"Ray-kun, apa kamu melihat Miku-chan?" tanya Luka.
"Kemungkinan, dia ada di atap. Namun sebaiknya kamu cepat kesana. Karena disana kamu akan menemukan jawaban yg kamu cari." jawab Ray sambil tersenyum.
"Oke, kita ke atap." ujar Kaito.
Kemudian Meiko dan Kaito pergi ke atap. Luka menatap Ray sebentar, baru kemudian menyusul Meiko dan Kaito.
"Ada apa dengan mereka? Main kejar-kejaran?" ucap Dante yg bingung.
"Tak tahu juga. Mungkin mereka terlalu banyak nonton drama." sahut Ray.

Di atap, Miku terlihat dalam mode perubahan. Dia sedang menghindar dari serangan-serangan Minor.
"Dance: Rolling Girl" ucap Miku melakukan Dance.
Dia berputar ke kiri lalu menyiku minor yg ada disamping nya, memukul yg ada di depannya, dan menendang yg ada disamping kanan nya. Ke 3 minor itu pun menubruk temannya dan menghilang lah 6 minor sekaligus. Tapi sisa mereka masih banyak. Ada 2 diantaranya yg menyerang Miku bersamaan dari samping, Miku pun melanjutkan putarannya dan menghindar, dan ke 2 minor itu pun saling bertubrukan dan hilang. Kemudian Miku terus menyerang minor yg lain sambil berputar dan banyak minor yg hilang terkena serangan, lalu Miku melakukan serangan terakhirnya dengan menendang kaki minor di sekelilingnya dengan berputar. Para minor itu pun menghantam lantai dan menghilang.
"Sial, masih banyak tapi aku sudah kehabisan tenaga." ujar Miku tampak kelelahan.
Lalu semua minor di sekelilingnya pun menyerangnya bersamaan.
"Aku sudah tak bisa lagi melakukan Dance. Tubuhku terlalu lelah dari tadi terus berputar-putar." ujar Miku sambil menutup matanya.
Kemudian tepat sebelum para minor menyentuhnya, muncul gadis berambut hijau dengan pakaian serba hijau muncul dalam sekejap memeluk Miku lalu membawa Miku menghilang. Para minor itu pun bertubrukan dan langsung menghilang.
"Gerakanmu sangat cepat seperti biasa, Megu." puji Kamui yg dalam mode perubahan.
"Enka mu kemana, Gaku-Gaku?" tanya Gumi yg juga dalam mode perubahan.
"Aku lupa membawanya." jawab Kamui.
Miku membuka matanya, dan melihat sosok laki-laki dan perempuan berdiri di depannya.
"Kamu duduk saja disana, Miku-chan. Serahkan mereka pada kami." ujar Gumi sambil memakan goggle nya.
"Megu, rasanya ada yg beda denganmu." ujar Kamui.
"Apa?" tanya Gumi.
"Aku tak ingat." jawab Kamui.
"Dasar kau ini." sahut Gumi.
Kemudian Kamui lari menuju gerombol para minor itu, sedangkan Gumi bergerak sangan cepat.
"Dance: Happy Rabbit" ucap Gumi sambil menendang salah satu minor.
Tendangan ke samping itu sangat kuat dan bahkan minor yg di sampingnya lagi ikut terseret dan ketiganya terpental dan menabrak pagar pembatas lalu hilang. Gumi menghilang lagi dan menyerang yg ada di belakangnya, lalu menghilang lagi dan menyerang yg ada di depan. Serangan-serangan Gumi sangat cepat. Sementara itu Kamui tampak hanya seperti melakukan gerakan karate, karena dia tidak bawa enka. Dalam waktu sebentar saja, semua minor pun lenyap. Saat ini Gumi dan Kamui saling membelakangi.
"Sudah lama sejak kita tak bertarung bersama lagi." ujar Kamui sambil berbalik melihat Gumi.
"Ya." sahut Gumi.
"Oh iya, aku baru ingat. Warna pakaianmu tampak berbeda. Kenapa sekarang kamu memakai pakaian serba hijau gitu?" tanya Kamui.
"Itu karena, aku tak ingin ada yg mengenaliku saat berubah." jawab Gumi.
"Aku terlalu cemas, dia akan kembali." sambung Gumi sambil membayangkan sosok anak laki-laki dari balik api dengan mata merah menyala.
Tiba-tiba Luka, Meiko dan Kaito muncul. Mereka pun menghampiri Miku.
"Ada apa ini?" tanya Meiko.
"Tampaknya kalian baru saja bertempur disini." ujar Luka sambil tersenyum.
Terlihat lantai atap beberapa retak dan pagar pembatas beberapa lagi ada yg bengkok.
"Bisa kalian jelaskan apa yg terjadi?" pinta Luka.
Kamui terpesona melihat senyuman indah Luka.
"Kalian punya kekuatan kan? Aku sudah tahu semuanya. Jadi tolong bagaimana kalian bisa punya kekuatan!" suruh Luka, tatapan matanya berubah tajam.
"Itu karena kami memiliki earophoid tipe khusus ini. Earophoid tipe khusus disebut tipe khusus bukan hanya karena menyesuaikan dengan kemampuan si pemakai. Tapi juga tak ada power lock seperti tipe original." jelas Gumi.
"Tapi Miku-chan hanya punya tipe original. Bagaimana kamu menjelaskannya?" tanya Luka lagi.
"Aku juga tak mengerti. Saat melihat dia berubah dan menyerang monster itu pertama kalinya pun, aku terkejut." jawab Gumi.
"Sudah kubilang, aku mengikuti perintah suara di kepalaku. Dia memberitahuku cara membuka power lock." sambung Miku.
"Suara dikepala itu bukan bohong ya? Apakah kamu punya kepribadian ganda?" ucap Luka.
"Setahuku, Miku-chan tidak seperti itu." sahut Meiko.
"Apakah itu dari earophoid nya?" tanya Kamui.
"Itu tak mungkin, karena aku yakin earophoid nya sama dengan yg lainnya. Aku sendiri yg memastikannya saat membagikannya." sahut Luka.
"Tapi rasanya itu bukan suaraku, juga bukan suara kalian. Namun aku seperti mengenal suara itu." tambah Miku.
Luka seperti menyadari sesuatu saat mendengar pernyataan Miku barusan.
"Ada apa Megurine-san?" tanya Meiko.
"Tidak, tak ada apa-apa." jawab Luka.
"Apakah ini semua perbuatan dia?" ujar Luka dalam hati.
"Miku-chan, maafkan aku ya. Aku sudah salah paham." ucap Luka.
"Ya, aku juga minta maaf. Karena tak menjelaskannya sejak awal." sahut Miku.
"Kalau begitu ayo kita kembali ke kelas. Bentar lagi masuk." ujar Luka.
Kemudian mereka pun menuju ke kelas mereka. Meiko membawa kotak makan yg tergeletak dekat Miku. Mereka berjalan menuruni tangga.
"Hey, kenapa kamu mengikutiku?" tanya Luka pada Kamui.
"Karena aku ingin tahu jalan menuju hatimu." ucap Kamui dengan wajah sok keren.
"Pulang sana!" bentak Luka sambil menendang Kamui ke bawah tangga.
Tak lama bel masuk pun berbunyi. Saat melihat Miku dan Gumi masuk ke kelas tepat waktu, Ray hanya tersenyum.
"Kurasa sudah hampir saatnya." ucap Ray.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】