VocaWorld, chapter 10 - Setelah Matahari Terbenam
Di dalam ruangan gelap apartement ketua OSIS tampak tubuh ketua OSIS tergeletak di dekat pintu kamarnya. Kepalanya menghadap ke arah keluar kamar itu.
"Ketua!" ucap Luka sambil menghampiri tubuh ketua OSIS.
"Sial, Dante nampaknya lupa perintah terakhirku." ujar Ray dalam hatinya.
"Ketua! Ketua!" panggil Luka sambil menggoyangkan tubuh ketua OSIS.
Ketua OSIS pun perlahan siuman.
"Megurine kah? Sedang apa kamu disini?" tanya ketua OSIS saat terbangun dan melihat Luka di hadapannya.
"Justru aku yg harus bertanya begitu. Kenapa kamu tidak ke sekolah? Dan kenapa tiduran di lantai dengan pakaian basah seperti ini?" tanya Luka.
"Ini tampak gawat, tapi kita dengarkan dulu apa jawaban ketua OSIS kita ini." gumam Ray dalam hatinya.
"Aku tak ingat apa-apa. Tapi rasanya aku kedinginan banget." jawab ketua OSIS.
"Jadi dia tak ingat. Baguslah.." ujar Ray dalam hatinya lega.
"Tunggu sebentar, jangan bilang kamu sedang sakit terus memaksakan diri untuk pergi sekolah dengan pakaian yg baru di cuci. Lalu kamu pingsan depan pintu." kata Luka.
"Hatchu!! Hehe.. nampaknya begitu." ujar ketua OSIS setelah terdengar bersin.
"Ya ampun, kamu itu menyusahkan saja. Kalau kamu sakit jangan memaksakan diri dan istirahat saja. Kirimkan email saja pada kami, anggota OSIS yg lain." gerutu Luka sambil membantu nya bangkit.
"Hehe.. maaf. Mungkin saat itu aku terlalu takut kamu akan mengambil jabatanku. Soalnya kamu terlalu berkuasa." sahut ketua OSIS.
"Terlalu berkuasa kah? Menarik." ucap Ray.
"Siapa dia?" tanya ketua OSIS.
"Oh.. dia anak kelas 1. Namanya Shiro Ray." jawab Luka.
"Salam kenal.." tambah Ray.
"Ya, salam kenal juga. Nampaknya kamu orangnya baik ya." sahut ketua OSIS sambil tersenyum.
"Oh terima kasih atas pujiannya." jawab Ray.
Kemudian tidak berapa lama mereka pun tampak keluar dari apartement ketua OSIS.
"Segitu aja nengoknya?" tanya Ray.
"Ya, aku sudah menyuruhnya untuk banyak istirahat. Dan aku juga sudah memasakkan bubur untuknya. Kukira itu juga sudah cukup. Lagipula ini juga tugas wakil untuk memastikan ketua nya baik-baik saja." jawab Luka.
"Begitu ya." sahut Ray sambil tersenyum.
Di tempat lain, Miku tampak sedang berjalan pulang sekolah.
"Aduh, hari pertama sudah cape banget. Tapi aku bersyukur, karena aku bertemu Kaito-senpai. Semoga besok lebih menyenangkan lagi. Dan bisa ketemu Kaito-senpai lagi, lalu berangkat bareng. Wah.. aku sudah tak sabar." ucap Miku.
"Miku-nee!", "Miku-neechan!" panggil Len dan Rin yg terlihat sedang melambaikan tangannya dari seberang jembatan.
Miku pun berlari menghampiri mereka.
"Rin-chan, Len-chan, kalian sudah pulang?" ucap Miku menyapa mereka.
"Iya. Ternyata SMP NicoNico pun punya fasilitas musik juga. Jadi kami bisa bernyanyi disana." jawab Rin.
"Iya, Miku-nee. Pokoknya mantap dah!" tambah Len.
"Wah.. baguslah kalau begitu." sahut Miku sambil tersenyum dan mengelus kepala Rin dan Len.
Kemudian mereka pun pulang ke rumah. Miku membuka kunci pintu rumah dan masuk ke dalam, karena dia yg pegang kuncinya.
"Meiko-nee belum pulang nampaknya." ucap Len saat melihat di dalam rumah masih gelap.
"Tentu saja, karena kakak yg pegang kuncinya saat ini. Dan mungkin juga Meiko-san memang sedang ada kegiatan klub." sahut Miku sambil menyalakan lampu.
Kemudian Rin menutup pintu depan, dan mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk ganti baju.
"Kamu jangan ikut masuk dulu, Len!" bentak Rin sambil mendorong Len keluar kamar.
"Ya ampun dah dia itu." ujar Len sambil tertunduk lesu.
Rin dan Len bergiliran untuk ganti baju. Lalu kemudian mereka ke ruang keluarga dan menonton TV. Tidak terasa waktu berlalu ternyata sudah petang. Dan matahari hampir terbenam.
"Meiko-nee lama banget dah." gerutu Len sambil nonton TV.
"Iya nih, aku udah lapar banget." tambah Rin sambil memegangi perutnya yg keroncongan.
"Karena Meiko-san belum pulang, bagaimana kalau aku saja yg masak." ujar Miku sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Nooo!!!" teriak Rin dan Len bersamaan.
"Eh, kenapa?" tanya Miku tampak bingung.
"Ti-tidak apa-apa." ujar Rin.
"Ya, kami hanya tak mau Miku-nee kecapean." tambah Len.
"Ah tak apa kok, saat ini kakak sedang bersemangat." ujar Miku, sambil memakai apron.
"Tidak boleh..!!!" teriak Rin dan Len lagi.
Miku tampak semakin bingung.
"Ano maksudku tak boleh ketinggalan drama, iya Miku-nee jangan sampai ketinggalan drama." ujar Len mencari alasan.
"I-iya. Sekarang kan jadwal tayang perdana drama baru. Kalau gak salah judulnya.. eto.. 'Notice Me, Senpai!', iya itu kalau gak salah." sambung Rin.
"Eh benarkah?" ucap Miku tampak tertarik karena mendengar judulnya.
"Tidak, aku harus membuatkan makanan untuk adik-adikku yg manis." ujar Miku sambil menggelengkan kepala.
"Nooo!!" teriak Rin dalam hatinya.
"I-ini tidak mungkin." begitu juga Rin.
"Aku pulang." ucap Meiko dari arah pintu depan.
"Terima kasih tuhan." ucap Rin dan Len dalam hati.
"Selamat datang, Meiko-sama!" ucap Rin dan Len sambil bersujud pada Meiko.
"Eh, apa maksudnya ini?!" kata Meiko yg terkejut.
"Jadi apa menu malam ini, Meiko-sama?" tanya Rin.
"Eto, mungkin kare." jawab Meiko.
"Kalau begitu silahkan lewat sini." ucap Len menunjukkan jalan menuju dapur.
"Ini apronnya." ujar Rin sambil membuka apron Miku dan memasangkannya ke Meiko.
"Ada apa dengan kalian ini? Ya ampun.." ucap Meiko tampak heran.
"Rin... Len..." panggil Miku dengan nada geram.
"Ayo Rin." ucap Len.
"Oke." sahut Rin.
Kemudian mereka membuat kuda-kuda bersiap melawan. Kagamine Twins VS Angry Miku. Miku tampak hendak menyerang.
"Maafkan kami!" ucap Rin dan Len sambil bersujud pada Miku.
"Kumohon.." sambung Len.
"Maafkan kami." tambah Rin.
Lalu mereka pun membuat mata berkaca-kaca dan pose yg imut. Akhirnya Miku pun tak tega.
"Baiklah, akan kakak maafkan. Tapi awas saja ya kalau nanti gitu lagi." ujar Miku sambil mengelus kepala Rin dan Len.
"Baik." sahut mereka berdua.
Sementara itu di kediaman tempat Kaito tinggal.
"Woy, mana makanannya?" tagih laki-laki berambut ungu yg terlihat memakai kimono.
"Ya ampun, bentar napa. Ini kan salahmu sendiri karena meminjamkan sepeda rusak. Makanya aku telat pulangnya." sahut Kaito dari dapur.
"Anda tidak samurai banget, Kaito-dono." ucap laki-laki berambut ungu.
"Kau diam saja!" bentak Kaito.
Ditempat lain, Ray dan Dante sedang memancing. Mereka sedang duduk di pinggiran teras rumah kayu kecil di tengah danau. Dan di sekitar mereka tampak banyak kunang-kunang bersinar.
"Kenapa kita memancing?" tanya Dante.
"Tentu saja untuk makan malam kita." jawab Ray.
"Kenapa mesti memancing?" tanya Dante lagi.
"Karena ini menyenangkan." jawab Ray lagi.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Dante lagi.
"Diamlah, Dante! Memancing butuh ketenangan." bentak Ray.
Kemudian suasana hening sejenak.
"Aniki, tentang pekerjaan kita, bagaimana selanjutnya?" tanya Dante.
"Ah itu, kita lakukan sambil jalan saja." jawab Ray.
"Kenapa begitu?" tanya Dante lagi.
"Dante.." ucap Ray sambil menatap tajam ke arah Dante.
"Ma-maaf." sahut Dante.
Suasana pun jadi sepi lagi.
"Ah sepi dah, daripada bosen mending dengerin radio aja dah." ujar Dante sambil menyalakan radio kecilnya.
Kemudian terdengar sebuah lagu, tampaknya itu sudah pertengahan lagu. Ray tampak menyadari sesuatu dalam lagunya. Saat lagunya selesai.
"Nah itulah lagu dari Eichi Sasaki. Bagaimana menurut kalian." ujar penyiar 1.
"Pasti bagus dong. Tentu, karena dia lulusan akademi Voca." ujar penyiar 2.
"Percaya atau tidak besok dia akan datang kesini dan akan menyanyi secara langsung." sambung penyiar 1.
"Ya, kalau kalian mau mendengar langsung, kalian bisa datang ke stasiun radio kami. Atau kalian juga bisa dengerin di radio kesayangan anda ini karena kami juga menyiarkannya secara LIVE." tambah penyiar 2.
"Jangan lupa ya, jam 2 siang nanti." ucap kedua penyiar itu bersamaan.
"Menarik." ujar Ray sambil tersenyum.
"Aniki, nampaknya kamu baru saja menemukan sesuatu yg menyenangkan." sahut Dante.
Dan malam itu pun berlalu dalam keheningan.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.