VocaWorld, chapter 25 - Persiapan
Saat pulang sekolah hari itu, Miku, Gumi, Meiko dan Kaito sedang ada di ruangan klub. Tapi tiba-tiba speaker pun berbunyi.
"Kepada Miku, Gumi, Meiko dan Kaito, diharap menghadap wakil ketua OSIS di ruang serbaguna. Sekali lagi kepada Miku, Gumi, Meiko dan Kaito diharap segera menghadap wakil ketua OSIS di ruang serbaguna." kata orang lewat speaker itu.
"Ada apa lagi ini? Kenapa dia memanggil kita lagi?" ucap Kaito setelah mendengar pengumuman itu.
"Kalau begitu kita samperin aja biar jelas." sahut Meiko.
Lalu mereka berempat pun menuju ruang serbaguna. Dan mereka mendapati Luka sedang berdiri di dekat jendela.
"Megurine, ada apa tiba-tiba memanggil kami?" tanya Kaito.
"Jangan langsung marah, ayo duduk dulu." sahut Luka dengan santai.
Kemudian mereka berempat pun duduk dengan di kursi yg sudah di sediakan sebelumnya. Kemudian Luka menurunkan layar putih, dan menutup semua jendela dengaj tirai. Ruangan pun jadi gelap.
"Saat ini akan ku jelaskan mengenai semua hal yg berkaitan dengan dark sider menurut pengamatan dan penelitianku semalam." ujar Luka sambil menyalakan laptop dan menyambungkannya dengan proyektor.
"Kamu memanggil kami hanya untuk memberitahu kami hal itu?" tanya Meiko.
"Ini bukan hanya sekedar 'hanya', Meiko-chan. Kamu harus tahu betapa bahayanya dark sider ini, benarkan Gumi-chan?" jawab Luka dengan serius.
"Y-ya." sahut Gumi.
"Megurine-senpai, bagaimana kalau kita nonton drama 'Notice Me, Senpai' saja?" usul Miku tiba-tiba.
"Jangan bercanda, aku tak tertarik nonton drama." balas Luka sambil menatap tajam ke Miku.
"Ke-kecuali kalau judulnya, 'Notice Me, Kouhai'." sambung Luka sambil melirik ke arah lain.
"Oke-oke, ayo lanjutkan aja presentasinya." sahut Kaito.
"Baik, mari kita mulai dengan apa itu dark sider? Menurut arti katanya, dark sider artinya penggelap sisi. Bisa dibilang, dark sider adalah sesuatu yg membuat sisi gelap seseorang bangkit, atau mengendalikan seseorang melalui sisi gelapnya." jelas Luka memulai persentasinya.
"Oohh.. begitu rupanya. Pantas ada gadis yg tiba-tiba menyerangku dan saat kulumpuhkan, muncul dark sider dari dalam tubuhnya." ucap Miku.
"Tunggu, Megurine-san. Darimana kamu dapat istilah dark sider itu?" tanya Meiko.
"A.. itu.. dari sumber rahasia yg tak bisa disebutkan tentunya." jawab Luka sambil menggaruk pipinya dengan telunjuknya dan melirik ke arah lain.
"Luka-oneesama, selain bisa merasuk orang lain, mereka juga bisa menyerang langsung kan?" tanya Gumi.
"Ya, seperti yg kamu hadapi di atap." jawab Luka singkat saja.
"Lalu menurut jenisnya, yg kecil itu disebut minor. Ukurannya tidak jauh dengan manusia dewasa. Kalau ada minor pasti juga ada major. Kupikir major ini ukurannya pasti besar seperti raksasa." jelas Luka lagi menampilkan kemungkinan gambar major.
"Seperti nada saja minor dan major." ucap Kaito.
"Ya, memang dark sider itu hanya sekumpulan nada saja. Itu ditunjukkan dengan suara yg dikeluarkan saat ia dikalahkan, tepatnya saat menghilang." jawab Luka.
"Luka, disini yg bisa bertarung cuma Miku-chan dan Gumi-chan, kenapa harus mengumpulkan aku dan Kaito juga?" tanya Meiko.
"Aku tak tahu. Menurut sumber rahasiaku, aku harus mengumpulkan orang yg dekat dengan Gumi-chan dan Miku-chan juga. Dia bilang, teman dekat atau keluarga haruslah tahu tentang masalah yg dihadapi Miku-chan dan Gumi-chan." jawab Luka lagi.
"Aku yakin, dia pasti punya rencana tentang hal ini." ucap Luka dalam hati.
"Untuk saat ini hanya segitu saja. Karena informasi yg kudapat masih minim." ujar Luka sambil mematikan proyektor dan kemudian membuka kembali tirai.
"Bagaimana dengan Gakupo? Apa kita harus memberitahunya juga?" tanya Kaito.
"Gakupo? Siapa itu?" tanya Luka tampak tidak kenal.
"Eh, yg kemarin itu lho. Laki-laki berambut ungu dan memakai kimono." jelas Kaito.
"Hmm.. maksudmu laki-laki aneh yg sok keren itu? Tenang saja, menurut sumber rahasiaku dia sudah tahu sebagian. Karena dia sudah menyelidikinya sendiri. Ditambah, sepulang sekolah nanti, kemungkinan dia akan membahasnya denganmu." jawab Luka.
"Dari perkataanmu, sepertinya sumbermu bisa melihat masa depan." ujar Kaito.
"Aku juga berpikir begitu pada awalnya. Tapi, dia membantahnya. Dia mengatakan tak mungkin bagi manusia melihat masa depan. Mereka hanya bisa sekedar memprediksi saja." sahut Luka.
Kemudian mereka pun bubar, dan Luka menutup laptopnya dan mulai membereskan ruangan itu.
"Sudah selesai ya, mau aku bantu?" ujar Ray yg terlihat bersender di ambang pintu.
"Silahkan aja." sahut Luka.
Kemudian Luka dan Ray pun membereskan tempat itu bersama.
Di kediaman Gakupo malam harinya. Kaito dan Kamui sedang nonton TV bareng di ruang keluarga.
"Kaito-dono.." panggil Kamui.
"Ya, ada apa?" sahut Kaito.
"Saya sarankan Kaito-dono mulai berhati-hati saat ini kalau sedang ada di sekolah." ujar Kamui.
"Hah? Kenapa? Masalah makhluk hitam bernama dark sider itu kah?" tanya Kaito.
"Ya, itu salah satunya. Tapi saya merasakan ada kekuatan gelap yg lebih besar di sekolah Kaito-dono. Kekuatan yg sepertinya tak asing." jawab Kamui.
"Kekuatan gelap? Siapa?" tanya Kaito lagi.
"Maaf, saya tak begitu ingat." ujar Kamui.
Sementara itu di rumah Miku. Miku sekeluarga sedang nonton TV, dan Meiko sedang mencuci piring di dapur.
"Miku-nee, Meiko-nee, saat pulang sekolah tadi kami bertemu dengan kakak yg aneh." ucap Len.
"Kakak aneh? Maksudnya?" tanya Miku tidak mengerti.
"Yg tadi itu ya, iya tuh aku juga masih ingat. Dia tiba-tiba mengelus kepala kami dan berkata, 'Kalian sudah besar ya? Ku pikir, sebentar lagi adalah saatnya kalian untuk mekar.' begitu." sambung Rin.
"Hmm.. aneh banget. Apa kalian ingat ciri-cirinya seperti apa?" tanya Miku.
"Kalau tak salah dia berambut hitam." jawab Len.
"Dan memakai jaket hitam." tambah Rin.
"Mencurigakan banget. Jangan-jangan dia culik. Lain kali kalian hati-hati ya. Siapa tahu dia datang lagi." ujar Meiko dari dapur sedang mencuci piring.
"Iya, Meiko-nee.", "Baik, Meiko-neechan." sahut Len dan Rin.
"Tapi saat dia mengelus kepala ku, rasanya aku tenang banget. Sama sekali tak ada hawa jahat dari laki-laki itu." ujar Rin.
"Ya, aku juga." sahut Len.
"Mungkin itu hanya perasaan kalian saja." ujar Miku.
Rin dan Len hanya tertunduk saja tampak yakin dengan apa yg dirasakannya. Dalam bayangan mereka terlihatlah senyuman hangat laki-laki itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.