VocaWorld, chapter 31 - My Queen
Ray dan Luka ada di depan sebuah rumah kecil di lereng gunung. Di depan rumah itu ada kakek dan nenek duduk diatas kursi berhadapan.
"Apa maksudmu, Ray-kun?" tanya Luka pada Ray tak mengerti.
"Kakek Taka, nenek Toko, tolong mainkan sebuah lagu untuk kami." suruh Ray pada kakek nenek itu.
"Baik, Shiro-kun.." sahut kakek nenek itu.
Kemudian mereka pun memainkan sebuah musik spanyol menggunakan gitar dan marakas.
"Apa kamu sudah mengerti sekarang, Megurine-san?" tanya Ray sambil menghadap ke arah Luka.
"A-apa ini? Melodi ini, membuatku teringat akan sesuatu." ucap Luka dalam hatinya saat mendengar alunan musik itu.
"Ini adalah lagu pertama yg membuatku bisa melakukan elegant dance." ucap Luka yg teringat masa lalunya.
"Kenapa kamu menyuruh mereka memainkan itu, Ray-kun?" tanya Luka.
"Bukankah sudah jelas, inilah permintaanku padamu. Ajari aku melakukan elegant dance." jawab Ray.
"Ray-kun tidak bisa dance?" ucap Luka tak percaya.
"Ya, karena itu aku meminta kamu untuk mengajariku." jawab Ray lagi.
Ray pun menyodorkan tangannya. Luka pun menyentuh tangan Ray. Ray menarik tangan Luka hingga Luka sekarang berada dalam dekapan Ray.
"Nah, mari kita mulai." ujar Ray.
Luka pun memulai dengan dansa romantis dan dia memberikan instruksi untuk Ray. Dia menyuruh Ray melangkah dan bergerak sesuai perintahnya. Mereka berdansa berdua dibawah cahaya bintang diangkasa malam itu. Mereka terus berdansa seperti layaknya pasangan kekasih. Ray dan Luka kemudian berpisah dan berputar menjauh.
"Sekarang kita mulai dengan yg lebih cepat." ujar Luka.
Kemudian kakek Taka dan nenek Toko mempercepat alunan musik itu.
"Ray-kun, ikuti gerakanku. Aku akan memimpin dansa. Kamu cukup ikuti saja." suruh Luka sambil berputar mendekat ke arah Ray.
Ray pun mengikuti gerakan Luka. Mereka berdansa dengan cepat. Atau mungkin bisa disebut itu berdansa salsa.
"Ray-kun tipe orang yg belajar cepat ya. Cuma sekali lakukan, langsung bisa." ujar Luka sambil berdansa dengan Ray.
"Terima kasih. Aku tidak sehebat itu kok. Hanya saja aku sudah terbiasa menggerakan tubuhku sesuai dengan alunan nada." sahut Ray.
"Ray-kun, semakin aku melihatnya rasanya hatiku semakin tak karuan. Walaupun aku yg memimpin dansa ini, tapi rasanya dia yg lebih dominan dibandingkan aku." gumam Luka dengan malu-malu.
"Megurine-san, kamu tahu, sebenarnya ini pertama kalinya aku berdansa dengan perempuan. Lebih tepatnya, ini pertama kalinya aku berdansa." ujar Ray sambil tetap berdansa dengan Luka.
Luka hanya terdiam, ini pertama kalinya ia mendengar Ray berbicara tentang dirinya sendiri.
"Aku sangat senang karena ada yg mau mengajariku dance. Selama ini, aku hanya mengandalkan kemampuan otakku saja." sambung Ray.
"Kenapa? Kenapa kamu menceritakan itu padaku, Ray-kun?" tanya Luka.
"Because, you're my queen." jawab Ray sambil tersenyum.
"Aku takkan pernah menyembunyikan apapun darimu, Megurine-san." sambung Ray.
Mendengar hal itu jantung Luka langsung berdegup kencang.
"A-apa? Ray-kun takkan menyembunyikan apapun dariku? Apa maksudnya? Ini seperti dia menganggap aku ini sebagai istrinya. Tunggu, kenapa aku berpikirkan begitu? Ini malah seperti aku menginginkan jadi istrinya. Aaaahhh.." ujar Luka dalam hatinya.
Mereka pun terus menari hingga waktu menunjuk pukul 9 malam.
Setelah selesai berdansa, mereka pun duduk dekat kakek nenek yg memainkan musik untuk mereka.
"Tak kusangka belajar dance itu membutuhkan banyak tenaga." ujar Ray sambil duduk lalu mengeluarkan seplastik susu yg dibawa dari rumah Luka.
Ray kemudian menggigit bagian bawah sudut plastik itu dan menariknya hingga membuat lubang. Lalu ia meminumnya.
"Ray-kun, kamu terlalu bersemangat tadi. Aku benar-benar lelah mengikuti gerakanmu." gerutu Luka sambil mengelap keringatnya dengan tisue.
"Hehe.. mereka mirip pengantin baru yg baru selesai malam pertama." ucap kakek Taka dan nenek Toko.
"Hah.. apa maksudnya?" sahut Ray dan Luka sambil menatap tajam ke arah kakek nenek itu.
"Ray-kun, apa kamu beneran tak akan merahasiakan apapun dariku?" tanya Luka dengan malu-malu.
"Tentu saja." jawab Ray dengan santai.
"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Luka.
"Aku? Aku hanya manusia biasa. Sama sepertimu." jawab Ray.
"Bukan itu maksudku. Maksudku tuh kamu itu siapa? Kenapa bisa tahu tentang makhluk bernama dark sider itu?" tanya Luka dengan serius.
"Jawabannya sederhana, karena aku adalah orang yg selalu berurusan dengan hal tersebut." jawab Ray lagi.
"Hah?" ucap Luka tak mengerti.
"Kamu harus mencari tahu sendiri, Megurine-san. Kalau aku memberitahukan semuanya maka ini takkan menarik lagi kan?" sambung Ray.
"Kenapa sih kamu terus menyuruhku untuk melakukan semuanya sendiri. Harus berpikir sendiri. Harus mencari tahu semuanya sendiri. Padahal kamu bisa memberitahuku." kata Luka dengan nada marah.
"Karena, aku takkan selamanya ada disisimu, Megurine-san. Tak ada yg bisa mengetahui apa yg terjadi dimasa depan. Kita hanya bisa mengantisipasinya saja." jelas Ray sambil menghabiskan susunya.
"Kakek Taka, nenek Toko, apa kalian punya amplop dan kertas?" tanya Ray.
"Ada. Bentar nenek ambilkan dulu ya." jawab nenek Toko yg lalu pergi ke dalam rumah dan membawa beberapa amplop dan kertas.
Nenek toko pun memberikan semua amplop dan kertas itu pada Ray. Dan tidak lupa dengan pulpen nya juga.
"Kamu sedang menulis apa, Ray-kun?" tanya Luka penasaran.
Ray terlihat selesai menulis di kertas-kertas itu. Lalu memasukannya ke amplop-amplop yg ada dan merekatkannya.
"Tenang saja, aku sudah berjanji takkan merahasiakan apapun darimu. Hanya saja kamu harus mencari tahu sendiri." jawab Ray sambil menamai amplop-amplop itu.
"Ini, kamu boleh buka punyamu saat sampai rumah. Dan berikan sisanya pada orang yg namanya ada disitu. Untuk cara pakainya, tanyakan ke Hatsune-san." tambah Ray menyodorkan amplop-amplop itu pada Luka.
Luka pun menerimanya.
"Ayo kita pulang, ini sudah terlalu malam untuk seorang gadis berada di luar rumah." ujar Ray sambil berdiri.
"Eh, iya.." sahut Luka yg juga berdiri.
"Kakek Taka, nenek Toko, terima kasih atas bantuannya." ujar Ray.
"Ya, sama-sama Shiro-kun." sahut kakek Taka.
"Lain kali mampir lagi ya." tambah nenek Toko.
Ray dan Luka pun pulang. Ray mengantarkan Luka sampai depan gerbang. Saat Ray kembaki ke rumah danau, ia mendapati Dante sudah tertidur pulas. Dante tampak ngorok di kamarnya.
"Dia itu, kalau tidur kok kayak om-om." komentar Ray yg kebetulan lewat di depan kamar Dante.
Ray pun masuk ke kamarnya sendiri dan mulai tiduran. Rumah yg hanya punya 2 ruang ya itu kamar tidur semua itu tampak damai. Terlihat cahaya masuk ke dalam kamar dari luar.
"Megurine-san, maaf aku memaksamu untuk selalu berpikir sendiri. Tapi, kalau tidak begitu, maka kamu takkan pernah bisa mengerti." ujar Ray sambil tiduran menatap ke arah atap.
Sementara itu di kediaman Megurine, Luka yg penasaran pun membuka amplop yg betuliskan namanya.
"A-apa ini? Disini hanya tertulis sebuah kalimat. Apa maksudnya ini?" ujar Luka yg terkejut melihat isi amplop itu yg ternyata hanya kertas bertuliskan sebuah kalimat.
Dan yg tertulis diatasnya adalah, 'Elegant Queen'.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.