VocaWorld, chapter 33 - Pelangi Setelah Badai
Langit di Voca town dipenuhi gelombang riak air. Miku dan Gumi yg sedang berjalan kaki pulang sekolah tak sadar akan hal itu. Mereka malah asik ngobrol.
"Gumi-chan kontrakannya kayak gimana sih?" tanya Miku yg penasaran.
"Hmm.. tak ada yg istimewa. Yg jelas sempit dan biasa aja. Cuma itu." jawab Gumi.
"Yah.. kok kamu betah tinggal di tempat itu?" tanya Miku.
"Ya tak apa kan? Yg penting kan bersih." jawab Gumi lagi.
"Iya juga sih." sahut Miku.
Tanpa mereka sadari, dari gelombang riak air diatas mereka keluar minor. Lalu minor itu mendarat di hadapan mereka. Miku dan Gumi pun terkejut melihatnya.
"Minor?! Tapi cuma satu, gampang.." ucap Miku saat melihatnya.
"Kamu salah, Miku-chan. Mereka ada dimana-mana." sahut Gumi yg melihat ke sekitar.
Ternyata di sekitar mereka sudah ada banyak minor. Banyak sekali, dari mulai di jalanan hingga ke atas gedung.
"Sebanyak ini? Bagaimana cara kita mengalahkannya?!!" ujar Miku sambil memegang kepalanya saking paniknya.
Ada ratusan minor yg menyebar di Voca town. Di atap gedung sekolah, Luka terlihat sangat terkejut melihatnya. Ray, Luka dan Kamui yg sedang berada di atap gedung sekolah melihat para minor dari kejauhan.
"Tadi apa yg kalian lihat sebenarnya? Kenapa makhluk-makhluk itu tiba-tiba muncul?" tanya Kamui yg kebingungan.
"Kamu tak bisa melihatnya? Tidak mungkin, tadi itu ada banyak sekali." ucap Luka tak percaya.
"Tentu dia takkan melihatnya. Hanya orang dengan kemampuan kontrol nada sempurna yg bisa melihatnya." jelas Ray yg kemudian berjalan meninggalkan atap.
"Hei, jangan kabur! Pertarungan kita belum selesai!" bentak Kamui yg kemudian mengejar Ray.
"Nampaknya aku juga harus menggunakan kekuatan earophoid. Tak ada cara lain." ujar Luka menyipitkan matanya.
Di tengah kota, Miku dan Luka kewalahan menghadapi minor yg segitu banyaknya.
"Ada berapa banyak sebenarnya mereka?" tanya Miku sambil menyerang minor-minor itu.
"Aku tidak tahu. Mereka seakan tak ada habisnya." jawab Gumi yg juga sambil bertarung.
"Dance: Rolling Girl!" teriak Miku sambil berputar dan melompat dan menghajar para minor yg melompat dari atap gedung ke arah mereka.
"Dance: Happy Rabbit!" teriak Gumi yg lalu berlari dan menendang semua minor yg ada di hadapannya.
Miku mendarat dan meneruskan putarannya dan menyerang para minor yg mendekati mereka. Sementara Gumi melompat melewati Miku dan menedang minor yg ada di belakang Miku. Miku dan Gumi bertarung saling menjaga belakang mereka. Orang-orang yg ada di sekitar itu terlihat panik dan berlarian kesana-kemari.
"Instrument: Rainbow Piano" ucap seorang gadis yg kemudian muncul piano berwarna pelangi di hadapannya.
Kemudian ia memainkan piano itu dan keluarlah cahaya kecil warna-warni dan menyebar ke seluruh kota. Cahaya itu membentuk peri-peri kecil yg disebut pixie. Semua peri itu masing-masing menyerang para minor. Minor yg masih diluar atau yg sudah merasuk, semuanya di serang. Layaknya ratusan roket, pixie itu menabrak minor-minor itu hingga hilang.
"Miku-chan, apa itu?" tanya Gumi saat melihat pixie-pixie itu.
"Aku tidak tahu. Tapi, mereka tampak indah." jawab Miku.
Gumi hanya mengangguk saja. Tidak berapa lama, semua minor dikota itu pun menghilang. Terlihat seorang gadis berambut pink berjalan menghampiri mereka. Dia memakai pakaian berwarna coklat dan membawa piano portable berwarna pelangi.
"Miku-chan, Gumi-chan, kalian baik-baik saja?" tanya gadis yg ternyata adalah Luka yg dalam keadaan berubah.
"Luka-oneesama?! Y-ya kami baik-baik saja." sahut Gumi kaget melihat Luka.
"Megurine-senpai, kamu bisa berubah juga?" ujar Miku terkejut.
"Kita bahas itu nanti, yg penting sekarang kalian selamat. Oh ya, kalian mau kemana?" sahut Luka yg kemudian bertanya.
"Kami sebenarnya mau ke kontrakannya Gumi-chan. Tapi tiba-tiba saja muncul minor." jawab Miku.
"Eh, kalian tidak melihat gelombang mirip riak air di langit?" tanya Luka.
"Tidak tuh. Kalau kamu Gumi-chan?" jawab Miku yg lalu bertanya ke Gumi.
"Aku juga tidak." jawab Gumi.
"Nampaknya mereka juga tidak bisa melihatnya. Berarti cuma aku dan Ray-kun yg bisa melihatnya. Seperti kata Ray-kun, aku memang punya kemampuan kontrol nada sempurna." gumam Luka mulai berpikir lagi.
"Ada apa, Luka-oneesama?" tanya Gumi.
"Tidak, tak apa kok. Kalau gitu aku pergi ya. Kalian hati-hati ya." jawab Luka yg kemudian pergi meninggalkan Miku dan Gumi.
"Ya." sahut Miku dan Gumi.
Luka pulang ke rumah jalan kaki. Luka yg sudah kembali ke wujud semula berjalan sambil menyilangkan tangan.
"Aku lihat, barusan Ray-kun juga bisa menggunakan kekuatan. Dia membuat keadaan sekitarnya jadi hitam putih. Bagaimana itu?" ucap Luka sambil mengingat-ngingat kejadian sebelumnya.
Saat ia baru saja berubah, Luka yg melompat dari atap gedung sekolah dan mendarat di gerbang di hadang oleh Ray. Dan Luka pun berhenti sejenak. Ray kemudian menyentuh bahu Luka menggunakan 'melody of silent'.
"Satu saran dariku, gunakanlah instrument. Munculkanlah pelangi setelah badai ini." ujar Ray yg kemudian melepaskan bahunya Luka dan melompat pergi. Tanpa membuang waktu, Luka kembali melanjutkan langkahnya walau ia belum mengerti maksudnya. Saat ia sampai di sebuah atap gedung, Luka pun berhenti.
"Hmm.. menggunakan instrument itu bagaimana caranya? Apa sama dengan menggunakan dancing acceleration?" pikir Luka.
"Instrument: Piano!" teriak Luka sambil bergaya.
Tapi tidak terjadi apa-apa. Luka pun memegang jidatnya seperti orang pusing, dan wajahnya kini pucat pasi saking malunya.
"Ke-kenapa tidak muncul? Apa Ray-kun menipuku?" ujar Luka dalam hatinya.
"Tunggu sebentar, Ray-kun tidak mungkin berbohong. Pasti dia memberikan petunjuk atau semacamnya." kata Luka sambil berpikir kembali.
Kemudian dia mengingat sesuatu.
"Oh iya, Ray-kun mengatakan tentang memunculkan sebuah pelangi atau semacamnya. Mungkin inilah petunjuknya." sambung Luka yg mengerti sesuatu.
"Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka saat itu.
Dan begitulah apa yg ada dalam ingatan Luka. Saat mengingat itu wajah Luka agak memerah karena malu. Saat sedang berjalan, kemudian ia bertemu dengan Ray lagi.
"Bagaimana? Berhasil kan?" sapa Ray.
"Ya, itu terlalu mudah. Lagipula bagaimana Ray-kun tahu bisa menggunakan instrument?" tanya Luka setelah menjawab.
"Tentu saja bisa, karena melodi biasanya berasal dari alat musik. Terutama yg paling dikuasai. Dan melodi yg ada di otak kita juga begitu." jelas Ray.
"Maksudmu, kita sering membayangkan musik dengan suara alat musik yg paling kita kuasai?" tanya Luka memastikan.
"Ya, bukankah saat menciptakan lagu juga gitu." jawab Ray.
Luka pun akhirnya mengerti. Ray tersenyum karena senang Luka mampu mengerti lebih cepat.
"Oh ya, Ray-kun.. ada hal yg sering menggangguku." ujar Luka dengan wajah memerah.
"Apa itu?" tanya Ray.
"Kenapa Ray-kun begitu baik padaku? Padahal yg aku tahu, Ray-kun tidak begitu akrab dengan yg lain. Malah jarang sekali bicara." tanya Luka.
"Bukankah sudah jelas?" jawab Ray sambil tersenyum.
Wajah Luka pun memerah saat mendengarnya. Dari kejauhan, terlihat Dante memperhatikan.
"Aniki, apa maksudnya ini?" ucap Dante dengan wajah kesal.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.