VocaWorld, chapter 18 - Cahaya dan Kegelapan

Terlihat asap menjulang tinggi dari arah jembatan. Lampu jalan yg ada di jembatan itu terlihat beberapa diantaranya ada yg pecah. Aspal jalan diatas jembatan terlihat mendidih dan ada api yg membakar diatasnya. Dan terlihat seorang gadis duduk terpaku di seberang api itu. Gadis berambut hijau dengan mata terbelalak kaget melihat melihat sosok laki-laki berambut keperakan dengan mata merah menyala.
"Di-Dia?!! Tatapan mata itu? Mata yg merah menyala dikegelapan. Ti-tidak mungkin.." ucap Gumi yg perlahan mundur dalam posisi duduk.
Lalu Gumi pun bangkit lalu berbalik dan lari sekuat tenaga. Gumi tampak ketakutan melihat sosok itu.
"Aniki, ada gadis berambut hijau melihat kita." ujar Dante yg dalam keadaan berubah.
"Biarkan saja." sahut Ray yg membelakangi Dante.
Wajahnya tertunduk dan gelap karena memakai tudung jaketnya.
"Ta-tapi Aniki.." ucap Dante.
"Tenang saja, Dante. Saat ini kita fokus saja pada pergerakan kita. Bergerak dibalik kegepalan." potong Ray.
Ray pun melanjutkan langkahnya, dan Dante mengikutinya di belakang.
"Tapi aku tak menyangka akan ada minor yg mengikuti kami dan muncul diantara kami dan gadis itu. Lagipula jarang sekali mereka bergerak sendiri seperti tadi." ujar Ray dalam hatinya.
Tepat sebelum ledakan di jembatan, setelah Ray dan Dante berpapasan dengan Gumi, muncul sosok hitam bermata satu yg Ray sebut minor. Minor tersebut muncul dari atas dan mendarat diantara Ray dan Gumi. Dante yg menyadari itu memberitahu Ray. Dan Ray memerintahkan untuk menyelesaikannya secepat mungkin. Lalu Dante berinisiatif menggunakan 'Devilish Slash'. Dan minor pun terbakar. Namun karena serang Dante terlalu kuat, sehingga terjadi ledakan. Gumi pun terlempar akibat ledakan itu. Ray sudah menduga itu, namun dia tak bisa melakukan apa-apa karena gadis itu sudah melihat Dante.
"Ya, tak apalah. Kami masih aman selama diriku masih tetap dibalik kegelapan." ujar Ray dalam hatinya.
"Tapi masih ada yg menggangguku. Minor tak mungkin bergerak sendiri. Apa mungkin.." pikir Ray sambil memegang dagunya.

Di kediaman Megurine, Luka terlihat masih memikirkan hubungan 3 kejadian ledakan misterius di Voca Town akhir-akhir ini.
"Dengan bukti yg ada saat ini, nampaknya masih belum cukup bagiku untuk mengungkap hubungan kejadian-kejadian ini." ujar Luka sambil menutup bukunya dan menaruhnya diatas meja.
Kemudian Luka pun pergi meninggalkan ruangan itu. Tiba-tiba jendela ruangan itu terbuka perlahan, dan terlihat sosok hitam bermata satu memasuki ruangan tersebut. Dia melihat ke arah buku catatan Luka dan hendak mengambilnya. Namun ada tangan yg tiba-tiba mencengkeramnya dan menarik paksanya ke luar.
"Sudah kuduga, kau ada disini." kata laki-laki berjaket biru yg menarik minor tadi.
Minor itu pun terlempar ke halaman belakang yg tidak lain adalah hutan.
"Kalian memang tidak pernah bergerak sendiri kecuali kalau memang kalian ditugas khususkan untuk merasuki seseorang. Dan tak mungkin kalian bergerak sendiri untuk menyerangku dan Dante, karena itu sia-sia. Jadi ada 2 kemungkinan. Pertama, kalian disuruh menyerang para singer berbakat. Kedua, kalian hanya memata-matai mereka." ujar Ray sambil terjun ke bawah lalu mendekati minor dengan perlahan.
"Dalam hal ini, kalian pasti hanya memata-matai mereka kan? Namun, nampaknya kalian terlalu ceroboh. Salah satu dari kalian muncul begitu saja dihadapanku dan Dante. Ya, walau bukan benar-benar dihadapanku sih, lebih tepatnya di belakang. Tapi, tetap saja, kesalahan sekecil apapun takkan luput dari mataku." ujar Ray sambil berjalan mendekati minor.
Ray pun mulai berlari ke arah minor, lalu seperti menghilang Ray tiba-tiba sudah ada di belakang minor itu dengan posisi seperti menebas dengan tangannya.
"Aku mungkin lemah dan belum memiliki Dance. Tapi dengan kecepatan ini, bahkan tanganku bisa membelah pohon." ucap Ray sambil menggerakan tangannya mendekati wajahnya.
Tangannya seperti sudah menggunakan teknik karate yg membelah batu bata. Dan sambil berdiri tegak, terlihat minor terbelah jadi 2 antara bagian atas dan bawahnya lalu hilang.

Di luar rumah Miku, Dante terlihat mencengkeram kepala minor dan berdiri diatas atap rumah orang.
"Aniki memang hebat, dia bisa tahu ada minor di rumah gadis kuncir 2. Ternyata, 'The White Light' bukan hanya julukan. Dia memang cahaya yg bisa memusnahkan segalanya." kata Dante sambil meremas kepala minor itu.
Minor itu pun pecah seperti gelembung dan menghilang.
"Terlalu mudah.. Aniki bilang ada 4 minor yg kemungkinan dikirim kemari. Tapi kenapa aku hanya disuruh membereskan satu saja. Yg tadi satu, yg dijembatan satu, yg diurus Aniki satu, berarti masih ada satu lagi dong. Apa jangan-jangan Aniki lupa? Ah tidak mungkin orang seperti dia bisa lupa." gerutu Ray dalam hatinya sambil jongkok.
Di kediaman Gakupo, terlihat ada minor juga disana. Dia terlihat sedang memperhatikan Kaito dan Kamui yg sedang nonton TV. Dibalik kegelapan, matanya yg lebar itu terus memperhatikan. Dari semak dia pun mendekati dojo dan masuk kedalam. Dia melihat sebuah katana terpajang disana. Saat minor itu hendak mengambilnya, tiba-tiba pintu dojo terbuka.
"Wah.. wah.. nampaknya ada tamu jam segini. Atau bisa dibilang tamu tak diundang." ujar sosok laki-laki berambut panjang yg tak lain adalah Kamui.
Kamui bersandar di ambang pintu.
"Apa anda pikir saya akan membiarkan anda menyentuh Enka begitu saja? Apalagi dengan mengendap-ngendap seperti itu, anda bisa dikatakan penyusup atau mungkin maling." ujar Kamui sambil tersenyum.
Mata lebar minor pun melirik ke arah Kamui. Kamui terlihat sudah memakan earophoid.
"Start up! System: On! Vocaloid mode: Ready!" ucap Kamui dan tubuhnya mulai bersinar ungu.
Minor itu pun hendak menyerangnya dengan tangan kanan. Namun Kamui menghilang, Kamui bergerak sangat cepat menyusup ke bawah lengan kanan minor itu. Lalu mengambil katana yg Kamui sebut Enka. Dan menebas minor tersebut dalam sekejap. Minor itu terbelah dan hilang.
"Gackpoid." ucap Kamui sambil menyarungkan Enka lagi.
Wujud Kamui berubah jadi seperti seorang samura dan rambutnya diikat kebelakang.
"Off." ucap Kamui yg kemudian berubah lagi seperti semula dan meletakan Enka di tempatnya.
Kamui pun kembali ke rumah dan menemui Kaito yg masih terlihat nonton TV.
"Eh, kenapa kau muncul disana?! Bukankah kau tadi ke toilet?" ucap Kaito yg melihat Kamui muncul dari luar lewat jendela lebar.
"Hmm.. sebenarnya tadi airnya mampet jadi saya buru-buru keluar dan pipis dibawah pohon. Sekalian menandai wilayah." jawab Kamui sambil duduk.
"Apa?! Anjing kah?!! Kenapa pipis dibawah pohon? Lagipula airnya tidak mungkin mampet. Sebelum kau kan aku dulu yg ketoilet!!" bentak Kaito.
"Mungkin tadi mampet karena *** nya Kaito-dono." ujar Kamui.
"Tidak mungkin lah! Orang tadi aku cuma pipis doang." jawab Kaito.
Kemudian mereka berdua pun ke toilet untuk memastikan dan sewaktu dicoba penyiramnya ternyata masih jalan. Kaito pun hanya bengong melihatnya. Lalu dia pun menoleh ke Kamui.
"Itu masih jalan." ujar Kaito sambil menunjuk WC itu.
"Te-he." ucap Kamui sambil melet.
"Jangan bercanda!!!" bentak Kaito sambil memukul Kamui dengan gerakan uppercut sehingga Kamui terjungkal ke belakang.
Kemudian Kaito pun pergi meninggalkan Kamui dan kembali nonton TV.
Sementara itu di tempat lain, di sebuah kamar yg gelap, terlihat ada seorang gadis yg bersembunyi di dalam selimut.
"Mata itu.. Mata itu.. Tidak mungkin.. Bukankah dia sudah mati?.. Bukankah dia sudah menghilang?.." ucap gadis yg tak lain adalah Gumi sambil gemetaran.
Dan terlihat dalam ingatan Gumi yg tampak agak buram, seorang anak laki-laki dengan senyuman menakutkan bermata merah menyala di selimuti api hitam dengan latar kota yg terbakar.
Di dekat jembatan dekat rumah Miku, terlihat Dante menunggu Ray dengan tatapan mata kosong.
"Dante, ayo kita pulang." ajak Ray yg ternyata sudah ada di hadapannya.
"Baiklah, Aniki." sahut Dante dan ekspresinya pun berubah semangat.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】