VocaWorld, chapter 11 - Angin Dingin
Pagi itu di kediaman tempat Kaito tinggal.
"Seorang samurai harus selalu sigap. Samurai harus bangun lebih cepat daripada terbitnya matahari." ucap laki-laki berambut ungu sambil duduk di depan dojo pagi-pagi buta.
Tampak Kaito keluar dari rumah nya.
"Oh Kaito-dono, anda sudah bangun." ucap laki-laki berambut ungu itu.
"Ya, tentu saja. Aku harus bangun pagi-pagi supaya tidak terlambat. Lagipula salah siapa yg merusak sepeda motorku.
" gerutu Kaito sambil menutup pintu depan rumah.
"Kaito-dono tak perlu khawatir, sebenarnya kemarin saya lupa memberi tahu. Saya telah membeli pengganti sepeda motor anda." sahut laki-laki berambut ungu itu.
"Wah.. benarkah? Kamu membelikanku motor." ucap Kaito tampak senang.
"Namaku Gakupo Kamui, sebagai samurai saya pasti akan selalu membayar setiap hutang saya. Kaito-dono bisa lihat sendiri di dalam dojo." jawab laki-laki berambut ungu yg ternyata bernama Kamui itu.
Kemudian Kaito pun melihat ke dalam dojo. Saat dia membuka pintu dojo, dia kaget bukan kepalang. Dia melihat sebuah sepeda berwarna pink dan ada gambar gadis berambut pink di tutup pelek nya.
"APA INI?!!" ucap Kaito saat melihat sepeda itu.
"Itu adalah kendaraan baru anda. Bagaimana? Bagus kan?" ujar Kamui dengan tenang.
"BAGUS JIDATMU!!! KU KIRA KAMU MEMBELIKANKU SEPEDA MOTOR!!" bentak Kaito.
"Tentu tidak, Kaito-dono. Saya tak mungkin membeli sesuatu yg tidak samurai banget." jawab Kamui sambil tetap duduk tenang.
"SAMURAI DARIMANANYA!! MANA ADA SAMURAI MENGENDARAI SEPEDA IMUT-IMUT SEPERTI INI! LAGIPULA APA DENGAN NAMA SEPEDA INI?!! TO LOVE YU? APAAN TUH?!!" pekik Kaito merasa semakin kesal.
"Hmm.. anda kuper sekali, Kaito-dono. Sepeda model seperti ini sedang laku-lakunya di pasaran. Saya mendapatkannya setelah tawar-menawar dengan penjualnya. Kalau tidak salah namanya Otakumi Otaku-dono. Dan akhirnya sepeda ini terjual dengan harga 9.999 yen saja dari harga awalnya 10.000 yen." jelas Kamui yg kemudian mengacungkan jempolnya.
"LAKU DIKALANGAN APA? PENYUKA ANIME KAH? LAGIPULA NAMA PENJUALNYA JUGA MENCURIGAKAN. DITAMBAH HARGANYA JUGA CUMA BERKURANG 1 YEN!!" bentak Kaito lagi.
30 menit kemudian..
"Sial, bicara denganmu menghabiskan banyak energi." ucap Kaito sambil tertunduk lesu di lantai.
"Kaito-dono, anda harusnya bisa lebih samurai banget. Selalu lakukan semuanya dengan kepala dingin." sahut Kamui yg terlihat tetap duduk tenang di depan dojo.
"Kepala dingin? Beku kali kamu mah. Otakmu sudah tak bekerja nampaknya." gerutu Kaito dalam hatinya.
"Baiklah, sekarang waktunya aku berangkat." ujar Kaito sambil bangkit.
"Whooaa... ini sudah pukul 7. Bisa-bisa aku terlambat nih. Kalau jalan kaki gak akan sempat. Kepaksa deh pakai sepeda ini." gerutu Kaito sambil melirik ke arah sepeda.
Kaito pun menuntun sepeda itu keluar dojo dan memakai sepatunya lagi.
"Aku berangkat." ujar Kaito sambil naik sepeda pink itu.
Kemudian dia pun menggowes sekuat tenaga dan melesat dengan kecepatan tinggi.
"Hati-hati dijalan." ucap Kamui.
Kaito mengayuh sepeda secepat yg ia bisa.
"Sial, kenapa rumah Gakupo mesti di lereng gunung. Jaraknya terlalu jauh dari sekolah. Ya, lagipula aku cuma numpang, mau bagaimana lagi." keluh Kaito dalam hatinya.
Dia terlihat bersepada menyusuri jalan yg berada di pinggiran sungai. Sementara itu Miku, Meiko, Rin, dan Len sedang berjalan menuju sekolah mereka.
"Miku-chan, sepertinya ada beda dengamu." ujar Meiko.
"Ya, Miku-nee nampaknya sudah gokil, daritadi senyum-senyum sendiri." tambah Len.
"Apa?! Siapa yg kau bilang gokil hah?!!" bentak Miku sambil menjitak Len.
"Aduh!" ucap Len kesakitan.
"Lalu kenapa Miku-chan tampak begitu semangat pagi ini?" tanya Meiko yg penasaran.
"E-eto.. se-sebenarnya ada orang yg kusukai di sekolah." ujar Miku malu-malu.
"Eh benarkah itu? Ternyata kuntilanak bisa jatuh cinta juga ya." ujar Len.
Tanpa menjawab Miku langsung saja menjitak Len lagi.
"Miku-neechan sedang jatuh cinta ama siapa?" tanya Rin.
"Sudahlah, jangan bahas itu. Lagipula kalian belum cukup umur untuk bahas cinta-cintaan." ucap Miku dengan wajah memerah karena malu.
"Awas!!!" teriak Kaito saat melihat Miku dan lainnya tiba-tiba muncul dari jalan di samping kiri pertigaan pinggir sungai itu.
"Kyaa!!" teriak Miku takut tertabrak.
Kemudian Kaito langsung membelokkan sepedanya ke arah sungai untuk menghindar. Dan hal itu pun membuat ia tercebur ke sungai tersebut.
"Hati-hati woy! Gak punya mata ya!!" bentak Miku yg tidak tahu kalau itu Kaito.
"Sepertinya aku kenal rambut biru itu. Tapi tak mungkin dia naik sepeda seperti itu." ujar Meiko dalam hatinya.
"Aduduh.. tadi hampir saja. Aku jadi basah deh." ucap Kaito yg muncul dari sungai.
Kemudian Kaito berjalan keluar dari dalam sungai tersebut sambil menuntun sepedanya. Dan ia pun duduk di pinggiran sungai sejenak sambil kesakitan.
"Ka-Kaito-senpai.." ucap Miku dalam hatinya saat menyadari kalau itu Kaito.
"Ternyata itu kau, Kaito." ucap Meiko menyapa Kaito.
"Oh, Meiko, Hatsune. Maaf, tadi aku hampir menabrak kalian." sahut Kaito saat menengok kebelakang dan melihat kalau orang yg hampir tertabrak olehnya adalah Miku dan Meiko.
"Ah, tak apa kok. Ini juga salah kami karena tidak tungak-tengok dulu." balas Miku.
"Miku-chan.." ucap Meiko saat mendengar perkataan Miku.
"Kaito-senpai tidak apa-apa?" tanya Miku.
"Ya, tak apa. Aku baik-baik saja." jawab Kaito sambil tersenyum.
"Ba-baguslah.." ucap Miku sambil malu melihat senyuman Kaito.
"Tapi mengejutkan juga kau menggunakan sepeda itu, Kaito. To Love Yu kah?! Hehe.." ujar Meiko sambil tersenyum mengejek.
"Jangan dibahas. Aku juga terpaksa memakainya." sahut Kaito tampak malu.
Dari atas jembatan, tampak Ray dan Dante sedang bersantai.
"Hooaamm.. Aniki, kenapa kita harus berangkat pagi-pagi? Lagipula kita juga tidak langsung ke sekolah dan malah diam disini." tanya Dante setelah menguap.
"Wah.. nampaknya ada pertemuan tak terduga. Ini semakin menarik. Nampaknya takdir semakin memihak pada kita." ucap Ray sambil melihat ke pinggiran sungai tempat Miku dan yg lainnya berada.
"Aniki membangunkanku pagi-pagi hanya untuk melihat hal itu?" tanya Dante saat melihat apa yg sedang dilihat Ray.
"Bukan hanya sekedar 'hal itu'. Karena ini juga akan berpengaruh pada masa depan kita, Dante." jawab Ray.
"Karena dia adalah kunci yg hilang dari semua ini." ujar Ray dalam hatinya sambil melihat ke arah Miku.
Meiko seperti merasakan sesuatu, kemudian dia menengok ke arah jembatan. Namun ternyata tidak ada apa-apa disana.
"Perasaan apa itu tadi? Rasanya seperti diterpa angin musim dingin. Apakah hal buruk akan terjadi?" gumam Meiko dalam hatinya merasa risau.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.