VocaWorld, chapter 32 - Tanda Badai
Siang itu, saat istirahat siang di akademi Voca. Luka berjalan cepat menuruni tangga dan segera menuju ke kelas 1-B.
"Aku harus menanyakannya pada Miku? Apa maksudnya? Ray-kun itu, dia suka sekali membuatku memutar otak." gerutu Luka dalam hatinya sambil berjalan cepat.
Kemudian Luka pun masuk dari pintu depan dan menengok pada meja nya Ray.
"Dia tidak ada. Kemana dia?" ucap Luka yg melihat tak ada Ray disana.
Lalu ia melihat Miku dan Gumi sedang mengobrol.
"Apa harus kutanyakan saja? Tapi, bagaimana kalau dia menanyakan alasannya? Tak mungkin aku menjawab kalau Ray-kun memberi surat aneh dan aku tak tahu artinya." ujar Luka dalam hatinya bimbang.
Namun pada akhirnya Luka memberanikan diri dan menghampiri Miku.
"Mi-Miku-chan.. bisa bicara sebentar?" tanya Luka dengan sedikit malu.
"Luka-oneesama?" ucap Gumi terkejut melihat Luka.
"Megurine-senpai? Ada apa?" sahut Miku.
"Ada sesuatu yg ingin aku tanyakan." jawab Luka.
"Apa?" tanya Miku.
"Apa kamu tahu apa maksudnya, 'password: elegant queen'? tanya Luka.
"Password? Password game?" sahut Miku tak mengerti.
"Mana ku tahu, aku hanya mendapatkan surat dari seseorang." jawab Luka sambil memalingkan muka.
"Eh, apa Luka-oneesama yakin itu bukan surat iseng?" ujar Gumi.
"Tidak mungkin lah, dia bukanlah orang seperti itu." balas Luka dengan wajah memerah.
"Dia? Luka-oneesama kenal pengirim suratnya ya?" sambung Gumi.
"Ti-tidak kok, a-aku sama sekali tidak kenal. Beneran.." sahut Luka mengalihkan pandangannya karena malu.
"Tampak mencurigakan.." komentar Gumi.
"Lagipula Megurine-senpai, elegant queen itu apa? Sebuah gelar? Atau panggilan kah?" tanya Miku sambil mencoba berpikir.
"Kalau itu panggilan atau gelar, kenapa ada tulisan 'password' nya? Aku tak mengerti kenapa dia mesti memberi password? Aku tak butuh password, untuk apa? Aku.." ujar Luka yg kemudian menyadari sesuatu.
"Tunggu, Ray-kun menyuruhku menanyakan kepada Miku-chan. Dan Miku-chan juga pernah mengatakan kalau dia mendengar suara dikepalanya yg menyuruhnya melakukan sesuatu, dan kuduga sumber suara itu Ray-kun. Itu artinya, password itu.." pikir Luka.
"Miku-chan, beritahukan aku sesuatu!" suruh Luka.
"Ba-baik." sahut Miku.
"Aah.. cukup lama juga untuknya untuk bisa menyadari hal itu." ujar Ray memperhatikan dari luar kelas.
Ray terlihat bersandar di dinding dekat pintu belakang kelas. Dia kemudian tersenyum dan melangkah menuju ke tangga yg ada di sebelah kelas 1-B tersebut.
"Masih lama untukmu untuk bisa berhadapan denganku, My Queen." ujar Ray sambil berjalan menuju ke bawah.
Di kelas 2-C, Kaito yg sedang membaca buku dikejutkan oleh kedantang Kamui.
"Kaito-dono!" teriak Kamui memanggil Kaito.
"Kenapa kau kemari lagi, Gakupo!" bentak Kaito.
"Maaf-maaf, hanya saja saya merasa tidak tenang kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kaito-dono." jawab Kamui tampak khawatir pada Kaito.
"Hah? Tak perlu mengkhawatirkanku. Aku sudah bukan anak-anak lagi kan?" gerutu Kaito.
"Tapi, saya selalu menganggap anda orang yg spesial, Kaito-dono." jawab Kamui sambil menggenggam tangan Kaito.
"Ada apa ini? Gakupo-senpai punya hubungan dengan Kaito?" komentar gadis yg melihat hal itu.
"Aku tak menyangka Shion-san ternyata seperti itu." sahut yg disebelahnya dengan ekspresi shock.
"Wah.. aku juga tak menyangka." ujar gadis yg satunya lagi tampak malah terpesona.
Mendengar komentar mereka, Kaito langsung bangkit dari kursinya dan mundur ke belakang menjauhi Kamui.
"Hentikan Gakupo! Menjauh sana! Jangan dekat-dekat denganku." bentak Kaito.
"A-ada apa Kaito-dono?" tanya Kamui yg mencoba mendekati Kaito.
"Stop! Jangan mendekat lagi." teriak Kaito dengan ekspresi takut.
"Ada apa ini?" tanya Meiko yg baru sampai di kelas.
"Oh Meiko, kebetulan. Ayo ikut denganku!" ajak Kaito yg kemudian menarik Meiko keluar kelas.
"Eh, kemana? Aku baru juga sampai." tanya Meiko yg kebingungan.
Namun Kaito tak menjawab, dan dia hanya menarik Meiko.
"Ada apa ini? Dia tiba-tiba saja memaksaku untuk ikut dengannya." ujar Meiko dalam hatinya dengan wajah memerah.
Kemudian mereka pun berhenti di tangga. Kaito melepas tangan Meiko.
"Ada apa kamu menarik-narik tanganku, Kaito bego!" ujar Meiko dengan wajah kesal.
"Maaf, tapi terima kasih ya." ucap Kaito tampak lega.
"Eh, terima kasih? Terima kasih untuk apa?" gumam Meiko dalam hatinya.
"Kalau tak ada kau, mungkin aku tak bisa hidup lagi." sambung Kaito tampak malu-malu.
"A-apa? Kalau tak ada aku, Kaito tak bisa hidup? Apakah ini maksudnya, dia.. dia.." ujar Meiko dalam hatinya mulai menduga-duga.
"Kalau aku terus bersama si samurai bego itu, bisa-bisa aku dikira maho. Tapi, untung saja kamu segera datang sehingga aku bisa kabur. Terima kasih ya, Meiko. Dah.." jelas Kaito yg lalu pergi ke bawah meninggalakan Meiko.
Mendengarkan penjelasan Kaito, Meiko langsung bengong. Ia tak bisa berkata apa-apa karena kaget.
"Jangan bercanda!!! Apa yg ada dipikirannya!! Dasar Kaito bodoh!!!" pekik Meiko yg keluar logat premannya.
Saat pulang sekolah, cahaya matahari sore hari menerangi atap gedung sekolah akademi Voca. Disana ada Luka yg tampak bimbang.
"Ray-kun, sebenarnya siapa dirimu? Kenapa kamu bisa tahu hal yg seperti ini?" gumam Luka bertanya-tanya.
Dia terlihat bingung dan tak tahu harus bagaimana.
"Kenapa kamu murung begitu, Megurine-san?" tanya Ray yg tiba-tiba saja berada di sampingnya.
"Ray-kun?" ucap Luka yg terkejut melihat Ray.
"Bukankah kamu harusnya senang sudah mendapatkan jawaban yg kamu cari." ujar Ray.
"Iya sih, tapi aku.." sahut Luka.
Namun tiba-tiba Kamui muncul dan hendak memukul Ray. Ray bergerak secara reflek dan menghindari pukulan itu. Kamui pun hendak menyerangnya lagi. Namun Ray sudah tak ada di tempatnya tadi.
"Menghilang?! Kemana dia?" ucap Kamui terkejut.
"Nah, tuan samurai, bisakah kamu tenang sedikit." ujar Ray menyentuh bahunya dari belakang.
Kamui pun langsung menyikutnya. Namun Ray melompat kebelakang menghindarinya.
"Jangan pernah mendekati, Luka-tan!" bentak Kamui.
Dari belakang, Luka muncul dengan tatapan membunuh. Lalu dia memukul Kamui di kepala hingga jatuh tersungkur. Kepala Kamui nampak benjol.
"Jangan pernah panggil aku dengan panggilan aneh itu!" bentak Luka terlihat kesal.
"Ke-kenapa?" tanya Kamui.
"Itu memalukan tahu!" bentak Luka lagi.
Kemudian dia melihat ke arah Ray. Ray terlihat tersenyum. Luka semakin malu.
"Itu panggilan yg lumayan imut. Aku rasa itu cocok untukmu." ujar Ray sambil tersenyum pada Luka.
"Imut? Aku?" ujar Luka dalam hatinya.
"Lihat dia juga menyukainya, Luka-tan." kata Kamui yg mencoba bangun.
"Aku tak mau mendengarnya dari mulutmu!" ujar Luka yg kemudian menginjak-injak kepala Kamui.
Disaat seperti itu, Ray mendengar sesuatu.
"Bahaya. Ini terlalu banyak." ujar Ray sambil melihat ke langit sebelah barat.
Terlihat ada ratusan gelombang riak air di atas langit menyebar di seluruh Voca Town.
"Ada apa, Ray-kun?" tanya Luka sambil melihat ke arah yg sama dengan yg dilihat Ray.
Luka terkejut dengan apa yg dilihatnya. Dia belum pernah melihat fenomena seperti itu sebelumnya.
"Ada apa? Kalian terlihat seperti terkejut. Aku tak melihat apa-apa." ujar Kamui yg mencoba melihat ke arah yg sama.
Tapi dari sudut pandangnya tak terlihat ada apapun dilangit. Nampaknya hanya Ray dan Luka saja yg bisa melihatnya.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.