VocaWorld, chapter 13 - Serangan Misterius

Ray dan Dante sedang berjalan cepat ke arah pusat kota. Mereka tampak memakai Earophoid mereka dan hendak melakukan perubahan. Mereka kemudian masuk ke sebuah gang sempit.
"Start up!", "Start up!" ucap Ray dan Dante bersamaan.
"Vocaloid system: on! Power: 100%", "Vocaloid system: on! Power: 50%" ucap Ray dan Dante lagi bersamaan, dan earophoid mereka mulai bercahaya.
"Shining!", "Let's rock!" ucap mereka lagi.
Kemudian tubuh Ray mulai bercahaya dan seluruh pakaiannya berubah. Sementara Dante tampak seperti terbakar dan kemudian berubah juga. Ray mengenakan jaket biru dengan motif kilat putih, sementara Dante mengenakan jaket merah dengan motif api hitam.
"Aniki! Kenapa kamu juga berubah? Kupikir Aniki tak akan ikut dalam pekerjaan kasar." tanya Dante pada Ray yg berdiri di sebelahnya.
"Tenang saja, aku takkan mengambil pekerjaanmu. Aku hanya akan memastikan kamu bisa masuk ke tempat dimana target kita berada." jawab Ray.
"Tapi kupikir Aniki tak bisa menggunakan kekuatan itu terlalu lama." ucap Dante.
"Ya, karena itu kita harus bergegas, Dante. Waktu kita hanya 10 menit." ujar Ray sambil jalan duluan keluar dari gang.
"Aku akan menggunakan Melody of Silent selama 5 detik, kamu bersiaplah." sambung Ray.
"Baiklah, Aniki. Jadi mana gedung target kita?" tanya Dante.
"Di sebelah kiri kita, tepat di seberang jalan." jawab Ray sambil menunjuk ke arah sebelah kirinya.
"Stasiun Radio? Bukankah itu terlalu kecil untuk konser?" ucap Dante tak percaya saat melihat ke arah kiri hanya melihat sebuah stasiun radio.
"Konsernya diadakan di belakang stasiun Radio itu, tepatnya di sebuah lapangan sepak bola." jelas Ray.
"Ohh.. begitu ya." sahut Dante baru mengerti.
Kemudian mereka melanjutkan langkah mereka dan sampai di depan stasiun Radio.
"Baiklah, sekarang!" ucap Ray menyuruh Dante untuk bergerak masuk ke stasiun Radio.
Lalu dari tubuh Ray muncul seperti gelombang lingkaran dan seketika semua terlihat menjadi hitam putih, kecuali Ray dan Dante. Dante pun melesat masuk dan tampak orang-orang dan alam di sekitar seperti hanya kehampaan. Mereka tak menyadari Dante masuk. Dan dalam 5 detik, Dante sudah ada di dalam stasiun Radio.
"Baiklah, sekarang saatnya beli koran atau majalah sambil menunggu." ucap Ray yg kemudian tampak kelelahan.
Suasana di sekitar pun kembali seperti semula.
"Sekarang saatnya aku mencari toilet." ujar Dante yg kemudian mencari toilet.
Saat ia menemukannya, dia langsung masuk. Dia pun masuk ke salah satu toilet, dan menunggu seseorang datang.
"Ah, sial tuh rujak pedes banget dah." ucap salah seorang office boy yg terburu-buru masuk toilet sambil memegangi perutnya.
Office boy itu pun masuk ke bilik di sebelahnya Dante. Dante pun kemudian memukul menembus bilik itu dan mengenai wajah office boy tersebut. Office boy itu pun pingsan. Kemudian Dante masuk kebilik itu dan mulai memakai pakaian office boy itu. Dan sekarang office boy itu pun hanya memakai kolor saja. Dan Dante pun memakai topi office boy itu juga.
"System: off!" ucap Dante sambil memakai topi dan melepaskan earophoid.
Lalu Dante pun menutup lagi pintu bilik itu. Ia pergi meninggalkan toilet. Dengan menyamar jadi office boy, dia bisa leluasa mencari dimana targetnya.
"Eichi-san, tunggu sebentar ya. Saya mau ketoilet dulu." ujar tukang rias di ruang ganti.
"Baik." sahut Eichi dengan nada datar.
Kemudian tukang rias itu pun keluar ruangan tersebut.
"Akhirnya ketemu juga. Let's Rock!" ucap Dante yg kemudian pakaiannya terbakar dan dia kembali berubah dengan jaket merah nya.
"Dance: Brutal" ucap Dante yg kemudian menyerang Eichi.
Dante mencoba memukul Eichi namun malah menghantam kaca karena Eichi mengelak. Dante tersenyum dan dalam sekejap sikut Dante mengenai wajah Eichi. Dan ia pun terpental dan menjebol tembok dibelakangnya.
"Haha.. ayolah, kupikir kau akan memberikanku sedikit hiburan." ujar Dante dengan sombongnya.
Namun Eichi tampak masih berdiri dan ia tak apa. Dia ternyata memakai earophoid nya sebelum terkena serangan sikut Dante.
"Kelihatannya kau masih bisa me.." ujar Dante, namun sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya dia terkena serangan Eichi. Dan terjadi dentuman yg cukup keras akibat serangan tersebut. Akibatnya hal itu membuat seluruh orang di stasiun radio tersebut menyelamatkan diri mereka keluar karena mengira itu adalah ledakan gas.
"Lumayan, inikah kekuatan lulusan akademi Voca. Namun sayang sesuai petunjuk Aniki, aku sudah satu langkah di depanmu." ujar Dante yg ternyata menahan tendangan Eichi dengan kepalan tangan kanannya.
Ternyata Dante sudah mengeluarkan instrument nya. Dan kepalan tangan itu adalah untuk memegang leher gitar nya.
"Devilish Slash!" teriak Dante.
Dan seketika terjadi ledakan yg cukup hebat di stasiun radio itu. Ray tampak santai membaca koran, sedangkan tukang koran lari terbirit-birit karena takut terkena ledakan.
"Ah nampaknya sudah selesai." ucap Ray sambil menutup korannya.
Bersamaan dengan itu, tubuh Eichi pun jatuh tepat pada dagangan koran. Nampaknya tubuh itu terlempar terkena serangan Dante.
"Dante, kerja bagus." puji Ray yg menyadari Dante sudah ada di belakangnya.
Dante berjalan santai menghampiri Ray.
"Terima kasih, Aniki." sahut Dante.
"Jadi, sekarang apa yg harus kita lakukan padanya?" tanya Dante sambil melihat ke arah tubuh gadis yg tergeletak di hadapannya.
"Ah aku punya ide bagus." jawab Ray.
Kemudian Ray dan Dante pergi sambil membawa Eichi. Dante memanggul Eichi dan melompat dengan kecepatan tinggi bersama Ray.

Sementara, Meiko dan Kaito yg ada di pasar swalayan terkejut mendengar ledakan. Mereka pun segera bergegas berlari ke arah kepulan asap di langit setelah selesai membayar kasir.
"Kaito, sepedamu!" ucap Meiko pada Kaito.
"Eh iya lupa." sahut Kaito yg berbalik dan segera mengambil sepeda.
Meiko duluan menuju ke tempat ledakan yg ia dengar. Tepatnya ke stasiun radio. Dan terlihat stasiun Radio itu sudah terbakar, namun tampaknya orang-orang didalamnya selamat karena telah keluar sebelum ledakan.
"Apa yg sebenarnya terjadi?" ucap Meiko bertanya-tanya dengan mata terbuka lebar karena tak percaya dengan apa yg dilihatnya.
"Tidak tahu neng." jawab seseorang disampingnya yg cuma pake kolor.
"Kyaa?!!! Kenapa anda cuma pake kolor?" tanya Meiko sambil memukul wajah orang itu.
Dan orang itu pun wajahnya makin bengep.
"Saya sebenarnya office boy di stasiun radio itu. Tapi saat ke toilet tiba-tiba ada yg mukul dari samping sampai saya pingsan. Terus saya kebangun karena bunyi ledakan, dan bergegas keluar. Dan stasiun radio itu pun meledak dan terbakar." jelas orang itu sambil menunjuk wajahnya.
"Ini aneh, kenapa stasiun radio bisa meledak sendiri? Kalau ini ledakan gas, kenapa juga ada korban yg diserang?" pikir Meiko.
"Meiko!" panggil Kaito dari belakang.
Meiko pun berbalik ke arah Kaito.
"Bagaimana?" tanya Kaito.
"Terjadi ledakan misterius lagi, kali ini di stasiun radio. Dan sekarang ada korban yg mengaku diserang di toilet." jelas Meiko.
"Hmm.. begitu kah? Kalau begitu kita harus cepat pulang. Nampaknya disini berbahaya." ujar Kaito.
"Hey abang ojek sepeda pink? Boleh numpang lagi?" tanya Meiko.
"Sudah kubilang, jangan panggil abang ojek lagi!" bentak Kaito.
"Jadi, tidak boleh nih aku numpang sampai pertigaan dekat rumahku?" ucap Meiko.
"Bukannya gak boleh." sahut Kaito sambil menaruh belanjaan nya di keranjang dan lalu menaiki sepeda nya.
"Ayo naik." ucap Kaito tanpa menengok ke belakang.
Meiko pun mengangguk sambil tersenyum lalu naik sepeda itu. Meiko duduk menyamping memangku belanjaannya dan memeganginya dengan tangan kiri, sementara merangkul Kaito dengan tangan kanannya. Kemudian Kaito mulai mengayuh sepeda itu.
"Sudah jam berapa ini?" tanya Kaito.
"Hmm.. mungkin sudah jam 2 siang." jawab Meiko.
"Oh ya, sudah berapa lama ya sejak kita terakhir kali belanja bersama seperti ini?" tanya Meiko sambil menatap langit.
"Hmm.. mungkin saat kelas 1. Sebelum libur musim dingin." jawab Kaito.
"Kaito.." panggil Meiko.
"Ya." sahut Kaito.
"Tak sangka ya, kita bisa satu kelas lagi." ujar Meiko.
"Ya, aku juga tak menyangka bisa sekelas lagi dengan nenek sihir Meiko." sahut Kaito.
Mendengar itu, Meiko pun jadi kesal dan lalu mencubit Kaito dengan keras.
"Adudududuh.. sakit tahu." ucap Kaito kesakitan.
"Huh memangnya aku peduli. Ayo gowes lebih cepat, abang ojek sepeda pink!" suruh Meiko sambil memalingkan muka.
"Hah sudah kubilang kan aku bukan tukang ojek!" bentak Kaito.
"Dasar Kaito bodoh." ucap Meiko dengan nada pelan.
"Hah, kau ngomong apa?" tanya Kaito.
"Tidak, bukan apa-apa." jawab Meiko.
Tidak berapa lama mereka pun sampai di pertigaan dekat rumah Meiko yg dekat dengan jembatan.
"Sudah sampai nih." ucap Kaito.
Meiko pun turun dan berjalan menjauhi Kaito.
"Eh, itu saja? Setidaknya ucapkanlah terima kasih." ujar Kaito.
"Ya, terima kasih banyak, Baka Kaito!" ucap Meiko dengan nada kesal.
"Ada apa dengan mu sebenarnya. Ya ampun.." ucap Kaito yg lalu mengayuh sepeda nya lagi.
Lalu Meiko pun melanjutkan langkahnya. Meiko tampaknya masih memikirkan tentang ledakan misterius itu.
"Setelah sampai ke rumah, aku akan mengatakan hal ini kepada Miku-chan, Rin-chan, dan Len-chan. Aku harus memperingatkan mereka." ujar Meiko sambil berjalan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】