VocaWorld, chapter 24 - Cahaya Menembus Waktu

Pagi yg cerah di akademi Voca, saat ini adalah pergantian jam belajar. Di kelas 1-B, Miku dan Gumi sedang ngobrol sambil nunggu guru datang.
"Gumi-chan, kemarin drama nya seru banget ya?" ujar Miku.
"Jangan bilang itu drama 'Notice Me, Senpai' lagi." gerutu Gumi.
"Hmm.. memang kenapa? Kemarin kan episode nya seru banget. Walau Miki nya ternyata gak jadi ngajak Kaido-senpai kencan. Kapan sih Kaido-senpai bakal nyadar? Bikin greget aja.." ujar Miku.
"Hehe.. begitukah?" sahut Gumi sambil senyum kepaksa dan melirik ke arah lain.
Lalu tiba-tiba pintu kelas dibuka. Lalu masuk lah guru yg memakai kaca mata hitam, rambut ikal panjang dan memakai ikat kepala mirip rocker.
"Hallo everyone! Namaku Candil-sensei! Guru paling rock di akademi ini!! Yeah!!!" ujar guru yg bernama Candil itu dengan nada tinggi.
"Whoa.. apaan nih? Rasanya telingaku seperti terkena gelombang kejut." komentar salah seorang murid.
"Telingaku pengang." ucap murid yg lain.
Terlihat para siswa menutup telinganya.
"Ada apa dengan kalian!!?? Kalian baik-baik saja!!!? Woy!!!" tanya Candil-sensei masih dengan nada makin tinggi.
"Whooaaa.. telingaku?! Telingaku?!" ucap para murid.
"Ada apa dengan guru ini? Kenapa dia teriak-teriak terus?" ucap Miku bertanya-tanya.
"Aku tak tahu." sahut Gumi.
Namun Ray terlihat tenang-tenang saja. Dia hanya meletakan dagunya di meja malas-malasan. Ternyata dia memakai earophoid.
"Woy kamu yg duduk di belakang!!!" panggil Candil-sensei pada Ray.
Tapi Ray sama sekali tidak menghiraukan nya. Dia masih malas-malasan. Candil-sensei pun menghampiri meja Ray. Kemudian dia menggebrak meja, dan Ray pun akhirnya menoleh ke arah Candil-sensei.
"Oh anda sudah datang ya sensei." ucap Ray saat melihat ke arah Candil-sensei dan membuka earophoid nya.
"Kamu sedang apa hah!!!?" bentak Candil sensei dengan nada tinggi.
"Karena saya akan belajar penaikan nada bersama rocker terbaik, jadi saya pikir akan lebih bagus kalau saya mendengarkan lagu dengan nada tinggi untuk pemanasan." jelas Ray dengan nada datar.
"Bagus!!! Emang lagu apa yg kamu dengarkan?!!" tanya Candil-sensei.
"Judulnya She's Gone dari band Steel Heart." jawab Ray.
"Wah.. lagu kesukaan sensei tuh! Bagus!!! Nah kalian contohlah dia!!!" puji Candil-sensei pada Ray.
"Dia membuatnya lupa marah." ucap Miku dan Gumi dalam hati.
"Kalau begitu kita akan mulai pelajarannya!!!" ucap Candil-sensei.
"Sensei, bagaimana kalau anda berbicaranya pake nada rendah aja dulu. Kalau langsung pake nada tinggi, nanti bukan lagi penaikan nada. Yg ada malah penurunan nada." usul Ray.
"Oh iya, kamu benar juga. Baiklah kita mulai pelajarannya." terima Candil-sensei yg menggunakan nada rendah.
"Terima kasih, Ray-sama." ucap para murid yg lain dalam hati mereka.
"Di-dia membuat sensei melupakan amarahnya dengan pujian tak langsung. Ditambah dia juga membuat sensei mematuhinya. Siapa dia sebenarnya?" ujar Miku.
Dan pelajaran penaikan nada pun berlangsung dengan tenang.

Saat istirahat pun tiba, Dante pergi ke kelasnya Ray.
"Aniki!" panggil Dante sambil membuka pintu belakang kelas.
"Ada apa, Dante?" tanya Ray yg sedang duduk mendengarkan musik.
"Aniki, ini gawat." ucap Dante sambil beralih ke samping Ray.
"Apanya yg gawat?" tanya Ray lagi.
"Pokoknya kita keluar dulu." ajak Dante.
"Hah? Kenapa mesti keluar?" ucap Ray.
Dante pun menarik tangan Ray dan membawa Ray ke luar dari kelas. Dia pun membawanya ke brosur yg tertempel di depan kelas 1-C.
"Festival Musik Metal 'Darkness Surrounding Heaven' untuk band indie?!" ucap Ray.
"Ya, aku butuh uang buat daftarnya. Rencananya aku dan para senpai klub visual kei mau ikutan." ujar Dante.
"Ya ampun, kamu serius mau ikutan? Apa kamu pernah main bareng senpai mu sebelumnya?" tanya Ray.
"Belum sih. Tapi untuk seorang jenius sepertiku, mudah saja menyesuaikan diri dengan segalanya." jawab Dante dengan percaya diri.
Mendengar hal itu, Ray pun menepuk jidatnya.
"Ya ampun, dasar kamu ini. Apa yg sebenarnya ada di pikiranmu? Bukankah kamu harus tahu dulu mau mainkan lagu apa nanti. Kalau tidak tahu lagunya apa, melodinya entar gimana? Yg ada malah berantakan. Kalian harus menyelaraskan permainan kalian dulu sebelumnya. Kalau mau memainkan lagumu pun, setidaknya mereka harus tahu dulu bagaimana melodinya." jelas Ray.
"Oh.." ucap Dante, entah mengerti atau tidak.
Disaat seperti itu, Luka pun muncul.
"Wah.. Ray-kun kah. Kebetulan.." ucap Luka sambil tersenyum.
"Ada apa? Dari ucapanmu nampaknya kamu sedang mencariku, Megurine-san." sahut Ray.
"Seperti yg kuduga dari Ray-kun, kamu bisa menebak tujuanku hanya dari mendengar perkataanku." balas Luka mencondongkan tubunya menatap Ray.
"Jadi, ada apa?" tanya Ray dengan nada datar.
"Sebenarnya, aku mau mengajakmu untuk menjadi anggota OSIS. Karena, aku tahu Ray-kun belum gabung dengan klub apapun kan?" ujar Luka.
"Tunggu dulu! Aku takkan membiarkan Aniki untuk pergi bersamamu." protes Dante yg tiba-tiba berjalan ke depan Luka.
Namun Ray menghentikannya. Dia menghalangi dengan tangannya.
"Memangnya kenapa?" tanya Luka.
"Soalnya aku mau minta bantuan Aniki untuk membantuku. Kalau kamu mau tetap mengajaknya masuk OSIS, bayar dulu!" jawab Ray.
"Cuma itu? Tak masalah, aku akan menggaji Ray-kun 50.000 yen per bulan." terima Luka.
"50.000 yen??!!!" ucap Dante kaget.
"Apa kamu serius, Megurine-san? Bukankah itu berlebihan?" komentar Ray dengan nada datar.
"Ya. Soalnya aku membutuhkan orang yg cerdas seperti Ray-kun di OSIS." jawab Luka dengan wajah sedikit memerah.
"Ada apa dengan atmosfir ini? Ada apa antara wakil ketua OSIS dengan Aniki sebenarnya? Aku tak tahu mereka sudah seakrab ini." ujar Dante dalam hati.
"Begitukah? Baik, nampaknya aku tak punya pilihan selain menerima tawaranmu, Megurine-san." ucap Ray, menerima ajakan Luka masuk OSIS.
"Kalau begitu, pulang sekolah nanti kamu segera ke ruang OSIS. Aku menunggumu." suruh Luka.
"Ya, aku akan kesana." sahut Ray.
Kemudian Luka pun pergi, dan terlihat Dante masih bengong melihat ke akraban Ray dan Luka.
"Lihat, sudah kubilang kan kita akan dapat kerja hari ini." ucap Ray setelahnya.
"Eh, bukankah hanya Aniki yg dapat kerja?" sahut Dante.
"Dante, kamu juga kerja kan. Ingat, kamu harus latihan dengan senpai-mu untuk fetival nanti." tambah Ray.
"Hmm.. iya juga sih." sahut Dante.
"Kalau begitu, aku mau kembali ke kelas." ucap Ray sambil pergi kembali ke kelas.
"Kalau dipikir, Aniki ada benarnya juga sih. Tapi tunggu dulu, bukankah itu artinya dia bisa membaca masa depan?!!" ucap Dante dalam hatinya terkejut.
Ray hanya berjalan kembali ke kelas dengan senyuman di wajahnya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】