VocaWorld, chapter 139 - Festival Budaya (Penerimaan)

Kaito masuk ke WC, dia menghampiri wastafel dan melihat bayangan wajahnya di cermin. Terlihat telinga kucing yang dipakainya yang berwarna biru itu dilepasnya saat ia membasahi kepalanya dengan air. Kaito membasuh rambut dan muka nya.
"Apa-apaan Meiko itu? Kenapa dia begitu marah aku memakai ini? Padahal aku dapat saran katanya telinga kucing pantas untukku." ujar Kaito memperhatikan nekomimi yang sedang ia pegang.
Lalu tiba-tiba Kaito memegangi perutnya.
"Sial, kenapa aku tiba-tiba mules? Pasti karena semalam kebanyakan makan es krim nih." ujar Kaito menahan sakit diperutnya.
Kaito pun segera masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Kaito nampaknya lupa dengan nekomimi-nya dan tergeletak di depan wastafel. Tidak berapa lama masuk seseorang kedalam toilet dan menukar bando telinga kucing itu dengan yang telinga anjing. Orang itu pun keluar lagi dari WC dan membuang bando itu ke tempat sampah. Tidak berapa lama, datang Luka dan mengambil bando itu.
"Ini kan, nekomimi?" ucap Luka saat mengambil apa yang dibuang orang tadi.
Di kelas 2-C, Meiko terlihat kesal menunggu kembalinya Kaito.
"Kemana si Kaitobego itu!? Kabur beneran nih dia! Awas saja kalau ke kelas Miku-chan. Aku pites nanti dia!" gerutu Meiko dengan muka preman nya.
"Yo Meiko!" sapa Kaito.
"Kaitobego! Kemana saja ka.." ucap Meiko tercengang karena sesuatu.
Ternyata Kaito saat itu memakai bando telinga anjing atau inumimi berwarna biru dan ekspresinya pun ekspresi tak berdosa ala anjing.
"Ka-Kaito.." ucap Meiko masih terkejut melihat Kaito saat itu.
"Ada apa?" tanya Kaito.
"Ti-tidak jadi deh." sahut Meiko.
"Hmm.. kau ini bikin bingung orang aja, Meiko." gerutu Kaito.
"Ke-kenapa dia tiba-tiba ganti pakai telinga anjing?" ucap Meiko dalam hati sambil melihat ke arah lain dengan wajah yang memerah.
"Sepertinya dia masih marah.." pikir Kaito.
"Ah Meiko.." panggil Kaito sambil menggaruk kepala.
Meiko menoleh ke arah Kaito.
"Maaf kalau aku membuatmu kesal tadi. Aku tidak tahu kau ingin aku memakai telinga anjing. Maafkan aku ya! Please!" ucap Kaito sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
"Eh?! Dia meminta maaf!?" ucap Meiko dalam hatinya dengan terkejut.
"Y-ya sudah.. tak apa kok." jawab Meiko dengan sedikit terbata-bata.
"Beneran? Kau memaafkanku?" tanya Kaito.
"Iya! Dan sekarang cepat sana kembali ke tempatmu!" suruh Meiko dengan wajah yang tampak merah.
"Baik!" sahut Kaito lalu berlari ke pintu depan.
"Oohh.. jadi itu maksudnya. Kamu memang mengagumkan, Ray-kun." ujar Luka yang memperhatikan dari kejauhan.

Dikelas 1-B, Len, Rin bersama dengan Kamui sedang mengantri untuk dapat giliran masuk. Saat itu nampaknya kelas 1-B mengadakan rumah hantu, dan ketua kelas bersama wakilnya bertugas sebagai pintu masuk dan pintu keluar.
"Lama sekali. Niat tidak sih buka rumah hantu.." gerutu Kamui.
"Samurai-nii, dimana-mana rumah hantu tidak ada yang cepat." ujar Len.
"Entar kalau cepat, didalamnya jadi terlalu ramai. Kalau ramai ya mana serem." sambung Rin.
"Benar juga. Anak jaman sekarang memang pintar ya." ucap Kamui.
"Bukan aku yang pintar, tapi kakak yang bego." ujar Rin dan Len dalam hati mereka sambil menatap sayu.
"Oke sekarang giliran kalian!" ucap ketua OSIS pada Kamui, Rin, dan Len.
"Yeah! Akhirnya masuk juga!" ucap Rin dan Len.
"Dasar anak kecil." ucap Kamui dengan ekspresi biasa saja.
"Padahal yang daritadi paling nungguin kan dia." ujar Rin dan Len dalam hati.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Mereka menyusuri lorong gelap dan sampai di tempat pertama. Tempat itu seperti toko bunga. Bunga yang tampak basah oleh sesuatu yang merah itu menghiasai tempat itu.
"Aku suka sekali bunga yang berwarna merah. Merah adalah warna yang indah." ucap seorang gadis yang sedang berjongkok membelakangi Rin dan Len juga Kamui.
"Ya merah itu indah aekali , seperti anda nona." ujar Kamui sambil mengeluarkan kilauan misterius.
"Baguslah kalau kamu setuju denganku. Berarti kamu tidak keberatan kan.." ujar gadis itu sambil berbalik dengan perlahan.
Terlihatlah dengan jelas perut gadis itu yang robek, ususnya keluar dan berdarah, dan sebuah ember penuh dengan cairan merah. Wajah Rin dan Len berubah jadi pucat.
"Jangan-jangan warna merah ditanaman itu.." ucap Len.
Gadis itu tersenyum menyeringai.
"Whooaaaa!!!" teriak Rin dan Len lalu kabur.
Kamui hanya terdiam. Wajahnya tampak pucat pasi dan sedikit membiru.
"Samurai-nii kenapa diam saja? Ayo!" ucap Len menarik lengan baju Kamui.
Mereka berlarian dan sampai di tempat selanjutnya. Tempat yang sepertinya adalah ruangan rawat rumah sakit. Dan disana ada pasien yang sedang terbaring.
"Kalian keluarganya? Kuharap kalian sudah siap dengan semua ini. Saya akan melakukan operasi dengan segera." ujar seorang dokter berjalan melewati Rin, Len dan Kamui menuju ke ranjang operasi.
Dokter itu mulai mengeluarkan sebuah pisau operasi. Nampak perut pasien yang masih bernafas itu dibelahnya. Dia mengeluarkan satu-persatu organ yang ada didalam dan melemparnya ke segala arah dengan ekspresi yang terlihat seperti orang gila.
"Aku tidak melihat apapun.. aku tidak melihat apapun.." ucap Kamui.
"Ya iyalah tidak lihat, kakak merem gitu!" sahut Rin dan Len.
"Ini tangkap!" ucap dokter itu
Kemudian sebuah organ tubuh jatuh di kedua telapak tangan Kamui. Wajah Kamui langsung membiru saat melihat kalau yang ada ditangannya itu adalah jantung yang masih berdetak.
"Kyaa!! Ini ambil!" ucap Kamui memberikan jantung itu ke Len.
"Kenapa malah diberikan kepadaku?! Ini Rin!" ucap Len melemparkan ke Rin.
"Kya! Kok malah dikasih ke aku? Kyaa!!" ucap Rin terlihat jijik dan melemparkannya ke arah dokter.
Dokter itu menghindarinya dengan tenang. Kemudian dokter itu mengambil sesuatu dari bawah ranjang operasi. Itu adalah gergaji mesin kecil. Dokter itu menyalakan gergaji mesin itu.
"Apa lagi sekarang!!!?" ucap Rin, Len dan Kamui.
Tapi beberapa saat kemudian dokter itu mengerang dan menjatuhkan gergaji mesin itu. Lampu berkedip-kedip beberapa kali lalu kemudian mati.
"Pe-perasaanku tidak enak nih." ujar Len di dalam kegelapan.
"Iya.. a-aku juga.."  sahut Rin.
Kamui hanya diam saja.
"Samurai-nii kenapa nih diam aja?" tanya Len.
"Ka-ka-kalian tidak usah takut. Saya sebagai samurai pasti akan me-melindungi kalian." ujar Kamui dengan sedikit terbata-bata.
"Bilangnya tidak usah takut, tapi sendirinya seperti yang ketakutan." komentar Rin.
Lampu pun menyala lagi secara tiba-tiba dan disana tergeletak dokter dengan pisau menancap di punggungnya.
"Whoaaa!!!" teriak mereka bertiga.
Lampu mati lagi dan hidup lagi. Dan sosok seorang suster sedang mengambil pisau dari tubuh dokter itu terlihat jelas oleh mereka bertiga.
"Ooooooo...!!!" teriak Kamui dan Len bersembunyi dibalik Rin.
"Hei! Kenapa kalian malah bersembunyi di aku? Laki-laki macam apa kalian!" bentak Rin.
Lampu mati lagi, dan saat hidup lagi suster itu tampak sedang ngesot dan hanya beberapa langkah dari Rin, Len, dan Kamui. Dengan senyuman gila, suster itu semakin mendekat dengan pisau berlumuran darah dilengannya.
"Suster ngepot!" sebut Len dan Kamui menunjuk ke arah suster itu.
"Ngesot!" sahut hantu suster itu.
Mereka bertiga yang sudah tak tahan pun kembali berlari keluar dari sana. Mereka bertiga sepertinya tidak kuat pada setiap scene menakutkan rumah hantu itu hingga akhirnya sampai di dekat pintu keluar. Di kain sebelah kanan mereka ada tulisan EXIT dengan gambar kelinci berdarah memegang tulisan itu.
"Sepertinya ini jalan keluar nya." ujar Len.
"Lihat kan, tidak ada yang perlu kalian takutkan kalau ada saya." ujar Kamui sambil keluar duluan.
"Padahal diantara kita, dialah yang paling ketakutan." kata Rin dan Len dalam hati sambil menyusul Kamui.
Saat keluar mereka bertemu dengan Luka.
"Luka-tan!" ucap Kamui hendak memeluk Luka.
Luka kemudian membanting Kamui keluar jendela.
"Eehh?!! Dia bisa mati tuh!" ucap Len kaget.
"Luka-neesan.. mana Ray-niichan?" tanya Rin.
"Justru itu, aku kemari mencarinya. Kalian tidak melihatnya?" tanya balik Luka.
Rin dan Len saling bertatapan sejenak kemudian menggelengkan kepalanya kearah Luka.

June sampai di depan akademi Voca. Dia memakai kostum rubah api. Dari lubang mulutnya, mata sipit June melihat ke seluruh bagian akademi Voca.
"Wah.. banyak banget gadis cantik, sayang banget mesti nyamar pakai kostum maskot begini. Jadi kegantenganku tidak kelihatan." gerutu June.
June berjalan masuk kedalam dan menyusuri koridor kelas. Namun dia dihentikan oleh anggota OSIS.
"Maaf, kenapa kamu mengenakan pakaian seperti? Bisa perlihatkan siapa dirimu?" pinta anggota OSIS.
"Hehehe.. maaf. Sebenarnya.." sahut June dengan grogi.
"Bagaimana aku harus menjawabnya. Tunggu, sepertinya dia pernah mengatakan tentang hal ini juga." ujar June dalam hatinya.
"Sebenarnya.. saya disuruh oleh kelas 2-C sebagai Secret Path Challenge." jawab June.
"Oh.. baiklah kalau begitu. Silahkan.. maaf sudah menahan anda." kata anggota OSIS itu.
"Ya, tidak apa-apa. Saya orangnya tampan dan baik hati." sahut June sambil lewat.
June berjalan menaiki tangga ke lantai 2. Dan tak lama dia bertemu dengan Ray.
"Hebat sekali, sepertinya perasaanku memang tidak salah. Dia memang ada disini." ucap Shiro Ray menghalangi jalan June.
"The White Light!?" ucap June kaget melihat Ray.
"Pasti dia yang memberikan instruksi padamu kan?" tanya Ray.
"Darimana kau tahu?" tanya balik June.
"Jangan sinis begitu. Aku akan membiarkanmu masuk tanpa kostum itu kalau kamu mau menjawabku." jawab Ray.
"Be-benarkah?" ucap June.
"Aku tak mungkin berbohong." sahut Ray.
"Ya, dialah yang menyuruhku, memberikan instruksi padaku, dan sebagainya." jelas June.
"Tuh, gampang kan. Cuma jawab gitu aja. Sekarang kamu boleh lepaskan pakaian maskot musangmu itu. Aku akan menjaminmu selama kamu ada disini.. untuk hari ini." ujar Ray.
"Hahaha.. kau baik juga ternyata. Baiklah.. lagipula aku sudah gerah nih." sahut June melepaskan pakaian maskot itu.
June pun berjalan menyusuri lorong dengan santai. Ray memanggil petugas OSIS yang dibawah dan memberikan pakaian maskot itu padanya.
"Bakar itu dibelakang." pinta Ray.
"Hah? Dibakar?" tanya anggota OSIS bingung.
"Iya. Dan jangan tanyakan alasannya. Cukup bakar saja." kata Ray dengan wajah serius.
"Baiklah." terima anggota OSIS tersebut.
Setelah anggota OSIS itu pergi Ray menyusul June dan mengikutinya dari belakang.
"Bermain othello memang menyenangkan." ujar Ray dalam hatinya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】