LINE Dragon Flight Story, chapter 17 - Naga Suci

Duran diburu oleh pasukan wyvern komandan Rath. Komandan pasukan wyvern terkuat di kerajaan Scarlet. Dia adalah ahli tombak terhebat di Arkanesia.
"Naga itu cepat sekali terbangnya?!" ucap salah seorang prajurit Rath.
"Terbang seperti elang, penguasa langit yang mampu melayang tanpa perlu mengepakan sayapnya." tambah Rath bersiap melamparkan javelin nya.
"Kita harus segera menghindar, nona Duran. Dia sudah mengunci kita." ujar Moonlight.
"Kalau begitu kita terbang rendah diantara pepohonan disana." sahut Duran.
Moonlight pun terbang ke arah hutan.
"Menggunakan pepohonan sebagai benteng. Cukup cerdik." puji Rath sambil membatalkan lemparan javelin nya.
"Semuanya! Lakukan formasi sangkar burung!" perintah Rath pada pasukannya.
Sementara Rath mengejar Duran dan Moonlight, pasukannya terbang mengelilingi area hutan itu.
"Dia hebat. Kita terjebak." ujar Moonlight menyadari formasi para wyvern itu.
"Terus kita harus bagaimana?" tanya Duran.
"Mana aku tahu. Harusnya nona yang menyusun rencana." jawab Duran.
"Lho kok aku? Aku kan masih polos." sahut Duran.
"Apa hubungannya menyusun rencana dengan polos!" bentak Moonlight.
"Hehehe.. soalnya aku juga bingung mesti apa." ujar Duran sambil tertawa bodoh.
"Begini nih kalau punya majikan sedikit sengklek otaknya." kata Moonlight dalam hatinya.
Dari atas, Rath melempar javelin ke arah Duran. Moonlight terbang menghindari lemparan javelin itu, dan mejauh dari Rath. Rath dan wyvern nya mengejar Duran dan Moonlight sambil mengambil javelin yang tertancap ditanah.
"Sepertinya kita tak punya jalan lain selain bertahan sampai ada seseorang datang membantu kita, nona." ujar Moonlight.
Duran mengambil pedang penembus perisai nya.
"Ayo kita lakukan, Moonlight." ujar Duran.
"Lakukan apa?" tanya Moonlight.
"Ultimate Strike!" jawab Duran.
"Jangan bercanda. Kita butuh jarak 1,5 KM untuk memulai teknik itu." kata Moonlight.
"Ya karena itu kita lakukan!" jawab Duran tampak yakin.
Moonlight pun menghela napasnya, dengan terpaksa dia menururi Duran.

Di tempat lain, Torn dan Bonar sedang bersembunyi di hutan. Torn tampak berdarah dan terluka parah. Sayapnya berlubang penuh luka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Bonar.
"Tenang saja, walau sayapku terluka aku masih bisa menggunakan kakiku untuk berjalan. Kita harus mendapatkan kembali tuan putri." ujar Torn berjalan menyusuri hutan.
"Sebaiknya jangan memaksakan diri. Kalau sampai tertangkap pasukan wyvern disini, bisa bahaya kan." ujar Bonar.
"Tapi kita harus segera menyelamatkan tuan putri!" sahut Torn.
"Iya baiklah. Tapi jangan sembarangan begitu. Kita harus sembunyi-sembunyi." ujar Bonar.
"Baiklah.." sahut Torn.
Sementara di istana kerajaan Scarlet.
"Di-dia!!?? Dia hidup lagi?!!" ucap Eve tampak terkejut.
Elli tampak lemas, tapi dia bernapas dan perlahan membuka matanya.
"A-aku.. rasanya seperti tertidur panjang.." ucap Elli yang bersandar lemah di tubuh Lithiana.
"Tenanglah. Jangan sampai hatimu goyah. Ada ibu disini." ujar Lithiana memeluk tubuh Elli.
"I-ibu.." ucap Elli sambil menangis.
Eve terlihat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sini, kemarilah mendekat ke ayah." ujar raja Redd sambil merentangkan tangannya.
"A-ayah.." ucap Elli melihat ke arah raja Redd.
"Kemarilah, biar ayah memelukmu, putriku." panggil raja Redd.
"Ayah!" ucap Elli sambil berlari ke arah raja Redd.
Elli pun memeluk raja Redd begitu erat.
"A-apa yang terjadi sebenarnya? Apa mereka benar ayah ibunya? Tapi dia tak mirip dengan satupun dari mereka." pikir Eve.
Lithiana melihat ke arah Elli. Ada yang aneh dengan tatapan matanya. Tatapannya tampak lesu.
"Ada dimana aku?" tanya Elli.
"Kamu ada di rumah, putriku." jawab raja Redd.
"Rumah?" ucap Elli seperti bingung.
"Yang mulia! Yang mulia!" panggil seorang prajurit masuk ke dalam ruangan itu dengan panik.
"Ada apa?" tanya raja Redd.
"Kami baru saja mendengar kabar. Katanya gunung greymount berubah jadi merah." ujar prajurit itu.
"Berubah jadi merah?! Kau jangan bercanda! Tidak mungkin sebuah gunung berubah warna dalam sekejap!" bentak raja Redd.
Ratu Lithiana tampak sangat terkejut mendengarnya.
"Saya tidak bohong yang mulia. Pasukan wyvern banyak yang ketakutan dan kembali kemari karena hal itu." jawab prajurit itu.
"Di-dia sudah bangun? Siapa yang bisa membangunkannya?" ucap ratu Lithiana dalam hatinya.

Merah, semuanya jadi merah. Danau, es, dan semua cahaya jadi merah. Membuat semua yang ada disana jadi semu merah. Hanya ada satu sosok putih bermata merah keluar dari danau. Sosok naga yang nampak anggun menatap mata D dengan tajam.
"Ternyata itu kamu. Sudah lama tidak bertemu, tuan A..", "Dimana Lithiana?" tanya D memotong perkataan naga itu.
Naga itu terdiam. Rikka sedikit terkejut D bisa berbicara dengan naga.
"Kamu mengerti bahasa naga?" tanya Rikka.
D menoleh ke arah Rikka.
"Apa kamu seorang dragon rider juga?" tambah Rikka.
"Tidak. Tapi dialah yang mengerti bahasa manusia. Dia adalah naga yang spesial." jawab D.
"Jadi dimana Lithiana sekarang? Jawab aku!" tanya D berpaling pada naga putih itu lagi.
"Dia ada di sebuah kerajaan baru di sebelah timur pegunungan ini." jawab naga itu.
"Kenapa dia kesana? Lalu siapa yang akan menjaga keseimbangan tempat ini kalau dia tidak ada." ujar D.
"Tuan, kenapa anda kembali?" tanya naga itu.
"Aku ingin meminta bantuannya memulihkan seseorang." jawab D.
"Jadi anda kemari hanya untuk memulihkan teman anda?" sahut naga itu.
"Teman katamu? Aku hanya bertemu dengan mereka diperjalanan. Itu saja." balas D.
"Begitu ya.. anda lebih memilih orang diluar sana daripada ratu penyendiri di tempat yang terisolasi seperti ini." tukas naga itu.
"Terserah kamu mau berpikir seperti apa tentangku. Aku tetaplah aku." sahut D.
D lantas berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu. Mata naga itu bersinar. Naga itu pun mengambil napas panjang.
"Jangan paksa aku memotong lehermu. Kamu akan membuat Lithiana sedih jika itu terjadi." ujar D sambil memegang gagang pedangnya.
"Tapi aku juga tidak akan memaafkan orang yang membuat dia sebegitu kesepian. Dan sekarang anda kembali, tapi hanya karena alasan untuk menyelamatkan orang lain." ujar naga itu.
"Itu bukan sekedar hanya. Karena dengan alasan itu, akhirnya aku jadi punya alasan untuk kembali kemari. Tempat ini tidak boleh diketahui orang luar. Karena itu aku tidak bisa sering kemari. Kamu mengerti kan?" jelas D.
"Jadi, anda juga selama ini.." kata naga itu terkejut.
"Ayo.. sebaiknya kita cepat-cepat menuju kerajaan Scarlet." ajak D pada Rikka.
"Tunggu aku!" ucap naga itu.
"Ada apa?" tanya D.
"Ijinkan aku memberikan sedikit bantuan." tawar naga itu.
Naga itu mengeluarkan seluruh bagian tubuhnya dari air. Dia berdiri dengan lembut dan anggun menunjukkan keindahannya. Para penduduk mulai berdatangan ke danau itu. Mereka melihat sosok naga suci itu dengan penuh kekaguman.
"Lebih cepat kesana dengan terbang daripada jalan kaki." sambung naga itu menunjukan sayapnya yang indah.
"Baiklah, kuterima tawaranmu itu." sahut D.
Di istana kerajaan Scarlet, tampak Bonar tergeletak lemas. Torn berdiri dihadapannya.
"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya. Perintah majikan harus selalu kupenuhi. Itulah janjiku sebagai royal dragon." ujar Torn.
"A-apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Duran pada Moonlight.
"Aku juga tidak tahu." jawab Moonlight.
Duran dan Moonlight hanya bisa melihat dari kejauhan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】